Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 45


__ADS_3

Sella menyesap jus jeruk di gelasnya dengan perasaan gelisah. Netranya menatap tak berkedip kearah Jelita dan Boy, yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.


Boy datang kekampus beberapa saat yang lalu. Memaksa untuk bicara kepada Jelita. Awalnya Jelita tak menaggapi. Tapi sikap memaksa Boy yang mengundang perhatian orang di sekitar mereka, membuat Jelita menyerah.


"Ingin bicara apa?" tanya Jelita tanpa menatap lawan bicaranya.


Boy tak menyahut, dia menatap wajah Jelita lekat-lekat. Boy duduk dengan jarak cukup jauh dengan Jelita. Ini juga atas kemauan Jelita, takut orang salah tanggap, katanya.


"Kalau kau tidak bicara, aku akan pergi." ujar Jelita lagi. Kali ini dia beralih menatap Boy.


Melihat Jelita mengalihkan pandangan kearahnya, senyum Boy mengembang sempurna. "Apa kabar lelaki berhati kejam itu. Apa dia baik-baik saja?" tanya Boy dengan seringai dibibirnya.


Jelita mengenyit, tak paham dengan ucapan Boy. Siapa yang dimaksud Boy dengan lelaki kejam. "Bicaramu tak jelas Boy. Kalau tidak ada hal penting lebih baik aku pergi." ucap Jelita sembari beranjak bangkit.


"Tunggu Je!" seru Boy menghentikan langkah Jelita.


"Bicaralah, jangan berbelit-belit." ucap Jelita tegas.


"Kau harus tau seperti apa lelaki yang menjadi suamimu. Dia lelaki kejam tak memiliki hati Je."


ucap Boy berat dan dalam.


"Apa maksud perkataanmu? Kau terdengar seperti sedang mabuk Boy, ucapanmu terdengar ngelantur." ucap Jelita, sembari menatap Boy dengan tatapan kesal.


Boy menatap Jelita dengan tatapan dalam. Dia masih memiliki segala rasa cintanya pada Jelita, sampai detik ini. Hatinya masih saja bergetar saat menatap wajah cantiknya.


"Aku sedang membicarakan suamimu tercinta Je. Dia sudah berhasil menghancurkan hidupku. Membuatku kehilangan segalanya. Cintaku, juga hartaku." ucap Boy dengan suara dalam. Netranya masih memindai wajah Jelita dengan sangat teliti. Seakan tak ingin melewatkan sesentipun luput dari tatapan matanya yang tajam.


"Omong kosong apa ini boy?" sentak Jelita. Dia tidak suka ucapan Boy yang memojokkan suaminya.


"Ini bukan omong kosong Je! Kami terpaksa harus meninggalkan kota ini karena ulah Evan. Dengan licik dia mengambil alih perusahaan. Membuat keluargaku tak lagi punya muka tinggal dikota ini." jelas Boy.

__ADS_1


Jelita terdiam, dia bisa melihat kejujuran pada tatapan Boy. Berita kepindahannya dari kota ini, membuat Jelita sedikit percaya ucapan Boy.


"Maaf Boy, aku harus pergi sekarang." ujar Jelita sembari beranjak meninggalkan Boy ditempatnya.


Boy tak mencegah Jelita, dia hanya menatap kepergian Jelita dengan perasaan tak menentu. Sementara Jelita merasakan hal yang sama. Perkataan Boy membuatnya gelisah.


Jelita berjalan dengan langkah lebar masuk kedalam kelas. Ucapan Boy tadi masih terngiang ditelinga Jelita. Benarkah Evan melakukan hal sekejam itu pada Boy. Apa alasannya?


****


Jelita menunggu kepulangan Evan dengan perasaan gelisah. Entah bagaimana caranya bicara pada Evan tentang perkataan Boy siang tadi.


Derap langkah Evan terdengar memasuki apartemen. Jelita sudah menyambutnya di ruang tengah, memeluk tubuh Evan yang datang mendekat kearahnya. Aroma maskulin yang meruar dari tubuh Evan begitu menenagkan hatinya.


"Masih belum tidur sayang?" tanya Evan sembari mengecup lembut puncak kepala Jelita.


"Belum, nunggu mas." sahut Jelita sembari mengiringi langkah Evan masuk kedalam kamar.


"Aku sudah mandi dikantor tadi sayang, mau langsung tidur saja." sahut Evan sembari membuka kancing jasnya. Jelita mendekat, lalu membantunya melepas satu persatu kancing jas dan kemeja putihnya.


"Bagaimana temu kangenmu tadi dengan Boy," tanya Evan. Jelita seketika membeku, berdiri kaku ditempatnya. Dia tak melakukan apapun dengan Boy. Tapi pertanyaan Evan mendadak menimbulkan perasaan bersalah disudut hatinya.


Perlahan dia mengakat wajahnya menatap netra kelam milik suaminya. "Dia mengatakan hal tak baik tentang mas." sahut Jelita ragu. Evan menatap Jelita lekat.


"Ambilkan baju tidurku," titahnya sembari memberikan baju kotornya pada Jelita. Jelita meraih baju kotor Evan lalu beranjak menuju lemari pakaian.


"Ini mas."


"Terimakasih sayang."


Saat Evan memakai bajunya. Jelita naik ketempat tidur berbaring disana. Pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Evan, menguap sudah. Dia tak punya nyali menanyakannya.

__ADS_1


Evan naik ketempat tidur, ikut berbaring disamping Jelita. Memiringkan tubuhnya, lalu merengkuh tubuh Jelita dengan lembut.


"Aku melakukannya bukan tanpa alasan sayang. Aku bukan manusia picik yang tak memiliki hati." bisik Evan lembut.


Jelita menengadah, menatap wajah Evan lekat-lekat. "Katakan padaku alasannya. Aku ingin tau bukan karena masih ada rasa. Aku hanya ingin memastikan kalau ucapan Boy salah."


"Ceritanya terlalu panjang sayang. Tapi singkatnya, dia berniat mencurangi kamu. Dia berniat menjebakmu sayang, agar aku meninggalkan mu. Jangan tanya dari mana aku tau. Aku sudah pernah bilang, aku menempatkan orangku pada semua musuhku. Itu juga berlaku pada Boy. Semua yang berhubungan dengamu, aku sungguh tak memiliki toleransi tinggi." jelas Evan dengan ekspresi yang begitu tenang.


Entah sikapnya ini salah, tapi dia memang merasa senang Evan mampu melindungi dirinya. Walau caranya sedikit ekstrem.


"Tapi kenapa harus menhancurkan prusahaan keluarganya?" tanya Jelita lagi.


"Aku tidak menhancurkannya sayang. Perusahaannya mengalami krisis karena sekandal ayahnya. Aku mengakuisisi perusahaannya. Tapi Boy menyangka, sekandal ayahnya adalah ulahku." jelas Evan lagi.


Jelita mengangguk pelan. Dia percaya semua ucapan Evan adalah benar. Dia tau Evan tak mungkin bertindak sembarangan.


"Sudah merasa tenang sekarang?" tanya Evan sembari mencium ubun-ubun Jelita.


"Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin mas melakukan tindakan keji." ujar Jelita. Jemari mungilnya mengusap lembut wajah Evan. Evan menagkap jemari itu, mengecupnya lembut.


"Aku tidak pernah salah paham padamu sayang. Aku memahamimu dengan baik. Dari ujung rambutmu, sampai ujung kakimu aku memahaminya." ucap Evan. Jemarinya kokohnya menyusup kemalik baju longgar Jelita. Menjamahi tubuh mulus itu tak tersisa.


"Ihh keman tangan mas pergi?!" sentak Jelita sembari memukul jemari Evan yang menjamahi tubuhnya. Evan terkekeh, tapi tetap meneruskan aksinya.


"Apa sayang lelah hari ini?" tanya Evan dengan tatapan berkabut. Dia sudah mulai berhasrat, melihat itu Jelita bisa apa?


Menit berikutnya, atmosfer dikamar mereka berubah hangat. Hangat oleh de sah dan rintih keduanya. Sesekali terdengar pekik manja Jelita. Evan menyukainya, setiap de sah dan rin tih Jelita membuatnya semakin berhasrat. Melambungkan angannya, menimbulkan sensasi yang tak mampu dijabarkan dengan kata. Maka men desahlah Jelia..


Berdua mereka berpacu dengan penuh gairah, berlomba untuk saling mendahului, mencapai puncak kenikmatan dunia yang tiada tara. Setiap sentuhan begitu penuh rasa, setiap ******* meremangkan bulu roma. Hasrat yang menggebu melepas candu. Aroma tubuh yang meruar, tetes keringat sebagai bentuk betapa dahsatnya mermaian mereka. Semua demi melepas hasrat meraih kenikmatan syurga dunia.


To be continuous.

__ADS_1


__ADS_2