Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 51


__ADS_3

Evan benar-benar mengosongkan jadwal pekerjaannya hari ini. Setelah barang sampai di mansion, Evan dan beberapa orangnya mulai mendekor kamar putri mereka.


Memindahkan barang-barang yang dibeli Jelita, menatanya sedemikian rupa. Menjelang malam, semua barang sudah tersusun rapi ditempat yang semestinya.


Jelita berdiri di ambang pintu, netranya memindai seluruh ruang kamar. Kamar kosong, yang tadinya bernuansa putih. Kini berubah menjadi lebih terang, oleh warna pink yang dominan.


"Bagaimana sayang? Sudah sesuai dengan seleramu?" tanya Evan. Netranya ikut memindai seluruh ruang kamar.


"Iya mas," sahut Jelita, tanpa beralih pandang. Dia masih terpaku pada pernak pernik menggemaskan yang menghiasi kamar calon bayinya.


Evan seakan tak sabar menunggu bayinya lahir. Dia berharap, kehadiran bayinya dapat mengikis kesedihan Jelita karena kepergian papanya.


"Sudah hampir malam, ayo mandi sayang. Aku juga sudah lapar." Evan melingkarkan tangannya kepinggang Jelita membawanya menuju kekamar.


Di kamar mandi, Evan melucuti baju Jelita satu persatu, menggantinya dengan kain tipis sebagai penutup. Membuat tubuhnya yang semakin bulat tak terekspose jelas. Jelita tak memiliki kepercayaan yang tinggi dengan bentuk tubuhnya saat ini. Pipinya bertambah cabi, seiring dengan bobot tubuhnya yang bertambah berat. Evan memandikan Jelita dengan sentuhan lembut, penuh kasih sayang. Melihat tubuh mulus istrinya basah kuyup membuat hasratnya meronta. Tapi Evan selalu berusaha menekannya dengan sekuat tenaga. Dia selalu hilang kendali saat bercinta dengan Jelita, dia takut hal ini akan menyakiti bayi mereka.


Tapi sikap Evan justru di artikan lain oleh Jelita. Dia berpikir bentuk tubuhnya ini, membuat Evan kehilangan naf su terhadapnya.


"Pakai handukmu, keringkan tubuhmu dengan baik, agar tidak masuk angin. Aku mandi dulu." Evan memakakan handuk ketubuh Jelita lalu membimbingnya keluar kamar mandi. Sementara dia kembali kedalam kamar mandi menuntaskan mandinya.


Jelita mengeringkan tubuhnya sembari menatap bayangannya dirinya di cermin. Tubuhnya tak lagi ideal sepeeti dulu. Pipinya telihat cabi, dada dan bo kong juga terlihat tambah melar. Membuat Jelita mengukir senyum terpaksa dibibirnya. Lalu tatapanbya tertuju pada perutnya yang membuncit. "Demi kamu sayang, mama rela memiliki tubuh tambun begini. Papa mu bahkan tak berhasrat melihat mama." gumam Jelita sembari menyentuh perutnya dengan usapan lembut. Seperti mengerti ucapan Jelita, bayinya bergerak pelan di perutnya. Membuat Jelita tertawa senang.


Jelita sudah selesai memakai baju saat Evan keluar kamar mandi. Tubuh kekar yang memperlihatkan garis otot yang berbentuk sempurna itu membuat netra Jelita tak berkedip. Ini bukan pertama kali dia melihat bentuk tubuh Evan. Tapi tetap saja melihatnya membuat dia terpana.


Sementara Evan bersikap seakan tak melihat pandangan Jelita pada bentuk tubuhnya. Dia berlalu begitu saja melewati Jelita pergi keruang ganti.


Bibir Jelita mengerucut, dia kesal pada Evan yang sudah tak peka.Tak mampu membaca gesturnya.


Setelah makan malam Evan membawa Jelita bersantai ke taman belakang. Menikmati sejuknya hembusan angin malam, di bawah sinar bulan yang hampir sempurna.


"Aku sudah cari baby sitter untuk anak kita. Ada beberapa yang terlihat cocok. Yang di sodorkan pihak penyalur. Tapi aku masih belum menentukan siapa. Apa kau bisa bantu sayang?" tanya Evan.


Jelita yang tengah bersandar di pundak Evan menengadah menatap Evan. "Anak kita belum lahir, kok mas sudah cari baby sitter untuk anak kita."


"Tidak apa sayang. Begitu dia lahir kita terlalu sibuk untuk meneliti baby sitter kita dengan seksama. Aku tidak ingin membuat lesalahan walau sedikit saja."


"Hmmm, mas masih Evan yang penuh kewaspadaan. Bukankah musuhmu sudah takluk semua."


"Musuh di luar walau bahaya masih bisa diwaspadai. Tapi musuh didalam, bisa sangat berbahaya. Sayang mau, suami tampanmu ini jatuh ditangan baby sitter anakmu?"


"Cih, kalau mas benar-benar mampu melakukan hal sekotor itu, aku tidak akan menahanmu mas. Aku tidak akan menyia-nyiakan hidupku untuk lelaki seperti itu!" sungut Jelita dengan wajah cemberut.


Evan terkekeh. Dengan lembut dia melabuhkan kecupan dipuncak kepala Jelita. "Aku tidak akan melakukannya sayang. Jelita Sasongko adalah wanita satu-satunya dalam hidupku. Aku akan mencintaimu, seperti papa mencintai mamamu. Membawa cintanya sampai akhir hidupnya."


Hati Jelita menghangat. Semoga apa yang diucapkan Evan benar-benar terbukti. Hanya Evan tempatnya bersandar saat ini. "Terimakasih," bisik Jelita lirih.


"Terimakasih untuk apa?"


"Untuk mas yang mencintaiku begitu dalam. Aku bahkan pernah meragukan mas dulu. Tapi mas membalasnya dengan cinta yang begitu besar." lirih Jelita penuh haru.

__ADS_1


"Benar! Sayang sangat jahat waktu itu. Menganggapku lelaki tak berguna. Nona Jelita, apa anda masih ingat bagaimana mata indah ini menatapku?" ujar Evan dengan tatapan bernada protes.


Jelita tertawa geli. Tentu saja dia ingat, bagaimana bencinya dia pada Evan saat itu. Tapi sekejap kemudian hatinya luluh oleh pesona Evan. Bahkan dengan gampangnya melupakan Boy yang sudah menemaninya selama setahun.


Melihat tawa Jelita, hati Evan menghangat. Dia sangat suka melihat tawa menghiasi wajah istrinya. Cantik dan menyejukkan hati.


"Ayo masuk. Ini sudah terlalu malam, udaranya sudah sangat dingin." ujar Evan sembari membimbing Jelita bangkit, membawanya masuk kedalam.


*****


Evan terlihat sibuk siang ini. Berkas terlihat menumpuk di meja kerjanya. Sementara dia harus menemani Jelita cek ke Dokter. Pagi tadi Jelita sudah mengeluarkan bercak darah sebagai tanda akan melahirkan. Tapi dia belum merasakan sakit sedikitpun. Setelah menelpon Dokter yang biasa memeriksa kandungan, Jelita disarankan untuk cek siang ini.


Tok!


Tok!


"Masuk!" titah Evan saat mendengar suara ketukan dipintu. Pintu terbuka, tampak sekretarisnya masuk kedalam.


"Ada apa?" tanya Evan dengan ekspresi datar.


"Diluar ada wanita yang mengaku mengenal bapak, dia memaksa ingin bertemu bapak." lapor sekretaris Evan dengan ekspresi takut takut. Dia tau betul, saat sibuk begini dia tak suka diganggu dengan hal sepele.


"Kalau bukan masalah pekerjaan, suruh dia pulang!" tegas Evan.


"Maaf pak, katanya dia teman panti asuhan bapak." terang sekretaris itu setengah gugup.


Hening sesaat, Evan mencoba berpikir. Dia hanya dekat dengan satu wanita saat dipanti. Tapi sudah lama lost contact.


"Benar pak."


"Baiklah suruh dia masuk."


"Baik pak."


Tak lama sosok wanita muda seumuran Evan masuk bersama sekretatis Evan. Evan terpana oleh sosok anggun dihadapannya. Gadis tomboy yang sangat berisik dan selalu mengganggu ketenganntanya dulu, tak disangka tumbuh dengan begitu sempurna dan mempesona.


"Hay." sapanya canggung.


Evan tersadar,. "Oh, silahkan duduk." titahnya sedikit gugup.


"Arimbi?" tanya Evan memastikan.


"Iya Van," sahut Arimbi malu-malu. Sikap berbanding terbalik dari masa remajanya dulu.


"Dari mana kau tau aku bekerja disini?" tanya Evan. Netranya tak lepas dari sosok Arimbi. Bayangan kebersamaan mereka dulu seketika terlintas di pikirannya. Dulu bersama Arimbi hatinya terasa nyaman.


"Aku melihatmu dimajalah bisnis. Lalu mencari tau tentangmu di internet dan ketemu," jelas Arimbi sembari mengulas senyum indah dibibirnya.


"Kau masih mengenaliku?" tanya Evan tak percaya. Sebab mereka berpisah saat kelulusan SMP.

__ADS_1


"Tentu saja, tak banyak yang berubah pada dirimu. Kecuali postur tubuh dan wajahmu yang bertambah tampan," sahut Arimbi. Bola matanya yang indah menatap lekat sepasang mata tajam milik Evan.


"Kau juga bertambah cantik. Kemana perginya sikap tomboymu dulu?" ujar Evan. Tubuh kurus Arimbi kini menjelma bak model kelas dunia, tinggi, langsing.dan berisi.


Arimbi tertawa sembari menutupi separuh wajahnya dengan telapak tangan. Gestur yang sangat sempurna.


Obrolan berlanjut mengenang masa-masa biru putih yang konyol. Sesekali terdengar tawa mereka menembus ruang kerja Evan. Hal ini menimbulkan rasa heran bagi karyawan yang kebetulan mendengarnya. Evan tak pernah bersikap secair itu kecuali pada istrinya.


Keheranan juga menghampiri pikiran Jelita yang berdiri diambang pintu. Dia sudah menyentuh handle pintu, tapi urung untuk masuk. Tawa Evan dan seorang wanita membuatnya tertegun ditempatnya.


Jelita membuka pintu, lalu masuk perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada sosok yang membuat hatinya panas terbakar. Sosok yang mampu membuat tawa Evan membahana.


Keceriaan Evan langsung hilang, saat matanya membentur wajah masam Jelita. Seakan dia baru tersadar dari bius Arimbi.


"Sayang, kenapa tidak menelpon?" Evan bergegas bangkit menyongsong Jelita yang masih mematung di tempatnya. "Takut ngerepotin mas," sahut Jelita datar. Netranya tak lepas dari sosok Arimbi yang juga menatap kearahnya. Evan membawanya duduk di sofa, tepat didepan Arimbi.


"Oh ya sayang. Kenalkan, ini Arimbi, temanku waktu dipanti dulu. Arimbi ini Jelita istriku." ujar Evan. Memperkenalkan keduanya. Arimbi mengulurkan tangannya dengan sikap ramah.


"Arimbi."


"Jelita," sahut Jelita datar. dia mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Arimbi. Dia sungguh tak mampu menyembunyikan perasaan kesalnya. Dia tak rela ada wanita lain yang mampu membuat sikap dingin Evan mencair.


Evan melihat jam di pergelangan tangannya. "Arimbi maaf, aku bukan bermaksud mengusirmu. Tapi kami akan pergi ke luar, tidak apakan kalau kau pulang sekarang." ujar Evan.


"Tentu saja tidak. Kita masih bisa ketemu lain kali," sahut Jelita dengan gestur yang begitu lembut. Jelita membulatkan matanya mendengar itu. Bertemu lain kali...?


"Oh ya van, boleh aku minta nomor hp mu?" sambungnya. Jelita menatap Evan yang sedang menatap kearah Arimbi. "Maaf, aku tidak memberikan nomor hp ku pada teman wanitaku. Kecuali dia rekan bisnisku. Maaf sekali Arimbi." sahut Evan tak enak hati.


"Oh tidak apa Van. Aku menghargai sikapmu. Kalau begitu aku pemisi dulu, nyonya Jelita dan kau Evan." pamitnya sembari beranjak berdiri.


"Silahkan." sahut Jelita dengan senyum yang dipaksakan.


Ruang kerja Evan mendadak sunyi begitu Arimbi pergi.


Evan memindai wajah dingin Jelita dengan senyum dibibirnya. Mendung terligat menutupi bola mata Jelita. Sikap hangat Evan pada wanita itu membuatnya ingin menangis. Dia tak pernah melihat Evan berlaku hangat pada wanita selain dirinya. Tiba-tiba melihat adegan itu, hatinya tak terima.


Senyum Evan hilang seketika, saat bulir bening mulai menetes disudut mata istrinya. Dia tak menduga Jelita akan benar-benar menagis.


Evan meraih tubuh Jelita kedalam pelukannya. "Bodoh, kenapa kau menangis." bisik Evan. Bukannya diam, Jelita menangis semakin kencang.


Evan tak lagi bicara, hanya sentuhan-sentuhan lembut yang dia berikan untuk menenagkan Jelita.


"Sayang tidak suka Arumi?" tanya Evan ,saat tangis Jelita telah berhenti. Netranya menatap manik hitam Jelita. Jelita tak menyahut, hanya anggukan kecil yang dia berikan sebagai jawaban.


"Dia teman kecilku, dulu bersama dia aku mampu tertawa lepas." jelas Evan. Jelita menarik napas berat, lalu melepas pelukan Evan ditubuhnya.


"Sayang.."


"Kita pergi sekarang." potong Jelita sembari beranjak bangkit. Lalu melangkah keluar ruang meninggalkan Evan yang langsung menyusul langkah Jelita.

__ADS_1


To be continuous.


__ADS_2