
Kamar mewah Jelita tak lagi sepi saat Evan tidak dirumah. Tangis Alena menggema memenuhi ruang kamar. Umurnya baru dua bulan, tapi tumbuh begitu menggemaskan. Dia bahkan sudah pandai merespon Jelita saat mengajaknya bicara.
"Perlu saya bantu nyonya?" tanya baby sitter yang berdiri dibelakang Jelita. Saat ini Jelita tengah memandikan Alena.
"Tidak usah, dia belum rewel dimandikan. Nanti kalau dia udah rewel, baru kamu yang mandikan." sahut Jelita tanpa berpaling dari memandikan Alena.
"Ana, mandi yang bersih ya sayang, bentar lagi papa pulang." ujar Jelita pada Alena dan ajaibnya Alena merespon ucapannya. Jelita tertawa lucu, Alena sungguh menggemaskan.
"Kau memang putri Evan, Ana. Baru berapa bulan usiamu tapi sudah secerdas ini." puji Jelita.
"Ada apa menyebut namaku." tanya Evan, tiba-tiba sudah berdiri diambang pintu kamar mandi. Jelita berpaling sekilas lalu kembali focus memandikan Alena.
"Udah pulang mas?"
"Iya sayang." sahut Evan, lalu beranjak mendekat. Dia mengisyaratkan baby sitternya untuk keluar.
"Berikan padaku." pinta Evan saat Jelita mengangkat tubuh Jevana dari ember mandinya.
Evan menerima tubuh Alena lalu membalutnya dengan handuk, lalu membawanya ke atas ranjang.
"Dingin sayang." tanya Evan pada Alena. Lagi-lagi gadis kecil itu merespon ucapan papanya membuat Evan gemas. Dengan cekatan Evan membaluri tubuh putrinya dengan minyak telon sebelum memakaikannya baju. Sementara Jelita membantu memakaikan kaus kaki.
Setela selesai memakaikan baju, Evan mengendong putrinya dengan terampil dan luwes tak terlihat kaku sama sekali.
"Sudah cantik anak papa." pujinya sembari mendaratkan ciu man-ciu man kecil di pipi Alena. Wangi khas bayi yang meruar dari tubuh Alena membuat perasaan nyaman seketika dirasakan Evan. Dia menyukai wangi ini, membuatnya enggan melepas Alena dari gendongannya. Sementara Jelita sibuk membereskan handuk sisa mandi Alena.
__ADS_1
Evan membawa Alena ke balkon kamarnya, menikmati udara sore yang masih menyisakan kehangatan sinar mentari. Evan duduk di sofa berukuran panajang, sembari memangku Alena.
Seakan tau papanya membawanya bersantai, Alena terlihat begitu tenang dipangkuan Evan. Tak lama Jelita menyusul keduanya duduk di samping Evan.
"Gak dingin dia mas?" tanya Jelita sembari menyentuh tubuh Alena.
"Gak sayang, udaranya masih lumayan hangat." sahut Evan.
Jelita senyum sendiri melihat Alena yang terlihat begitu Anteng di pangkuan papanya. "Anteng kamu ya, nanti kalau papamu gak sempat pulang buat manguin kamu. Kamu gak boleh rewel ya." ujar Jelita sembari melirik Evan. Evan menanggapinya dengan senyum tipis dibibirnya, dengan lembut dia memindai wajah ayu istrinya. Hatinya berdetak kencak melihat bibir merah istrinya. Sudah lama Evan tidak melihat Jelita memakai pemerah bibir, tapi sore ini Jelita memakainya.
Sudah lewat edah memang, tapi dia belum berani melakukan hubungan suami istri, hasratnya bukan tak perna datang mendera. Dia saja yang berusaha menahannya. Menyaksikan perjuangan istrinya melahirkan membuatnya takut melakukannya, takut menyakiti istrinya.
Tapi hari ini, melihat Jelita merias diri dengan begitu elok. Keinginan Evan tiba-tiba datang.
"Dia tidur mas," bisik Jelita membuyarkan angan Evan. Evan beralih pada Alena dipangkuannya, benar saja Alena terlihat sudah tertidur nyenyak.
Evan beralih menatap Jelita sekilas, lalu kembali menatap Alena yang terlelap dipangkuannya. "Nyonya Jelita, menurutmu lebih berharga waktuku ditempat kerja daripada bersama Alena?" tanya Evan tanpa berapling, jemarinya mengusap pipi Alena dengan gerakan halus. Jelita tak menyahut, menurutnya tentu saja lebih berharga bersama Alena. Tapi sebagai pemimpin perusahaan dia tak memiliki banyak waktu bersantai.
Evan kini beralih menatap Jelita, memindai wajah Jelita dengan seksama. "Jangan takut, pekerjaanku sudah ada yang handle. Kamu tau sayang, tumbuh besar tanpa kasih sayang kedua orang tua bagaimana rasanya?" tanya Evan dengan suara lembut, Jelita menggeleng pelan.
"Aku sudah tau bagaimana rasanya. Jadi anakku tidak boleh merasakan apa yang aku rasakan. Mereka harus tumbuh berkat kasih sayang kita, bukan baby sitter, atau bibik dirumah kita. Mereka tumbuh dengan cepat, aku tidak mau kehilangan momen itu sedetikpun. Perusahaanku bisa berkembang dengan bantuan orang-orangku. Tapi anakku harus berkembang dengan bimbinganku, bukan orang lain." ujar Evan mengandung penegasan. Jelita tak dapat berkata-kata, hal ini tentu saja juga menjadi keinginan terbesarnya. Evan memiliki pemikiran yang sama tentu saja membuatnya terharu.
"Sudah mulai dingin, ayo masuk." Ajak Evan lalu bangkit perlahan, takut gerakannya mengejutkan Alena.
Dengan lembut dan sangat terampil Evan memindahkan tubuh Alena kedalam box bayi. Lalu menutup tubuh mungil itu dengan selimut sebatas dada. Senyum Alena tampak merekah sempurna dalam tidurnya. Melihat itu Evan ikut tersenyum.
__ADS_1
Sehabis itu dia pun pergi mandi, sementara Jelita menyiapkan makan malam untuk mereka. Tentu saja bukan dia yang masak, dia hanya membantu bibik menyiapkan hidangan di meja makan. Evan tak pernah menuntut Jelita memasak untuk dia. Bahkan Evanlah yang sering memasak untuk Jelita.
Selesai makan malam, sejenak mereka bersantai di ruang keluarga lalu beranjak ke kamar.
Evan duduk bersandar di bahu tempat tidur, sembari berkutat dengan laptop. Sementara Jelita berbaring disampingnya sembari bermain hp. Sesekali tawa pelan terdengar keluar dari bibir mungilnya, Suara merdunya membuat telinganya tergelitik oleh suara merdunya. Dia yang sudah lama dahaga, tiba-tiba menginnginnya.
Evan menutup laptopnya, meletakkan benda persegi itu di atas nakas. Lalu bergeser kesebelah Jelita,berbaring disampingnya.
"Sudah selesai ?" tanya Jelita. Evan mengangguk lalu meraih tubuh Jelita kedalam rengkuhannya. Dia tidak ingin bertanya apakah Jelita sudah siapa atau belum melakukannya. Sikap dan gestur Jelita sudah mengatakan segalanya.
Terbukti pikiran Evan benar adanya, Jelita menyambut setiap sentuhan erotis Evan. Seperti Evan, dia juga merindukan keintiman ini.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi keduanya untuk menuntaskan hasrat terpendam mereka. Kondisi Jelita yang belum sembuh seutuhnya membuat Evan tak berani bermain nakal. Dia hanya butuh mdnyalurkan hasratnya dan tak berani ambil resiko menyakiti istrinya.
"Maaf sayang, aku membuatmu lelah." bisik Evan dengan peluh yang masih membasahi tubuhnya.
Jelita menatap Evan sembari menggeleng pelan. "Tidak apa, mas sudah hebat bisa berpuasa selama itu." Evan terkekeh, lalu mengecup puncak kepala Jelita. "Demi kamu sayang, aku rela puasa." sahut Evan.
"Terimakasih." ujar Jelita sembari memeluh tubuh Evan.
Jelita terlelap di samping Evan,setelah aktivitas panas mereka. Evan membelai pipi cabi Jelita dengan lembut, sudah dua bulan pasca melahirkan, tubuh Jelita masih terlihat cabi. Tapi Evan tak pernah memikirkan perubahan bentuk tubuh Jelita. Baginya Jelita tetaplah istrinya yang cantik.
Evan kembali membuka laptopnya, menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dia sengaja bekerja dikamarnya bukan di ruang kerja. Dia takut kalau Alena terbangun sementara Jelita tertidur nyenyak.
Dia baru istrahat saat jam menunjukkan pukul dua dini hari. Demi orang tersayang dia rela istrahat hingga menjelang subuh.
__ADS_1
To be continuous