
Bulan-bulan ini adalah bualan terberat Jelita. Dimana dia harus menyusun skripsi yang menyita lebih banyak wantunya juga Alena yang semakin pintar dan mulai banyak maunya.
Beruntung dia memiliki suami Evan yang menjadi nara sumber dari bahan sekripsinya. Jelita tak perduli dia memanfaatkan pengaruh Evan dalam menyelesaikan skripsinya.Dia tidak sabar ingin segera wisuda agar bisa mendampingi Evan bekerja.
Hari ini hari minggu, Jelita ada janji dengan Sella dan Anita sedang Kinan ada pertemuan keluarga dengan calon suaminya.
Jelita datang bersama Alena dan baby sitternya. Jelita membawa Alena karena mereka janjiannya di mall. Sella merasa bosan dan ingin berbelanja, sementara Anita cuma ingin makan dan ngumpul. Mereka jarang ngumpul akhir-akhir ini karena kesibukan masing-masing. Sella sudah bekerja diperusahaan papanya begitu juga Anita. Sementara Jelita sibuk menyusun skripsinya.
Ketiganya memilih makan siang di cafe tak jauh dari arena bermain anak agar mereka bisa memantau Alena bermain.
"Sudah ada kabar dari Jaka kapan dia pulang?" tanya Anita disela makan siang mereka. Sella menggeleng. Sudah satu bulan ini kami jarang komunikasi. Dia menghubungiku saat aku sudah tidur dan sebaliknya. Dia benar-benar sibuk belakangan ini." keluh Sella.
Mendengar itu Jelita mendesah berat. Apa bedanya dengan dia, kesibukan mereka hanya mempertemukan mereka ditempat tidur, itupun kalau masih punya energi untuk bercinta atau malah cuma tidur hingga pagi.
"Kamu juga?" tebak Anita pada Jelita. Jelita mengangguk berat.
Anita menarik napas dalam. Berumah tangga tak seindah pacaran. "Kalau suamimu tidak punya waktu luang, kenapa tidak kau saja yang meluangkan waktu. Datang kekantornya bawakan dia makan malam atau makan siangnya saat dia tidak ada janji dengan klien." ujar Anita memberi saran.
Jelita terlihat berpikir, benar juga kenapa tidak dia yang meluangkan waktu. Sebenarnya ide ini pernah terpikir olehnya tapi dia takut malah menggangu kesibukan Evan.
"Kadang kepikiran juga, tapi takut malah ganggu kesibukan Evan." ujar Jelita ragu.
"Bukannya Evan memintamu jadi Asistennya agar hanya kamu yang melayani kebutuhanya setiap hari?" tanya Anita, Jelita mengangguk.
"Tapi kamu masih bilang kedatangan kamu ganggu Evan. Aduh Jelita bodohnya kamu. Istri lain maunya ngintilin suaminya loh." dengus Anita kesal. Sementara Jelita cuma nyengir.
Sepulang dari mall bersama temannya Jelita meminta bik Sumi menyiapkan bekal makan malam untuk Evan.
Menjelang makan malam Jelita diantar supirnya berangkat kekantor Evan. Tak banyak karyawan yang tinggal untuk lembur, hanya beberapa saja termasuk Evan.
Kedatangan Jelita di sambut Sekretaris Evan. "Selamat malam nyonya."
"Malam, tuan Ada?"
"Ada diruangannya bersama asisten pribadinya nyonya."
__ADS_1
"Baiklah terimakasih."
Jelita mengetuk pintu beberapa kali. "Masuk." terdengar suara berat Evan mepersilahkan masuk.
Jelita masuk dengan membawa kotak bekal ditangannya. Evan yang tak menduga itu adalah Jelita tampak termangu menatapnya. "Sayang." ujarnya dengan mata membesar. Sementara Jelita cuma tersenyum.
"Nyonya." sapa pria muda di sebelah Evan yang tak lain asisten pribadi Evan. Jelita mengangguk pelan.
"Tumben datang," ujar Evan sembari bangkit dari kursinya mendatangi Jelita yang sudah duduk cantik di atas sofa.
"Kangen." sahutnya tanpa suara, hanya mengunakan gerakan bibirnya. Evan terkekeh senang. Lalu meminta asistennya makan malam diluar.
"Bawa apa ini?" tanya Evan sembari menatap bingkisan yang dibawa Jelita.
"Bekal makan malam mas," sahut Jelita sembari membuka kotak makan yang dia bawa satu persatu. Seketika aroma sedam memenuhi ruang kerja Evan.
Evan menatap Jelita dengan binar dimatanya, lelahnya seharian hilang oleh kedatangan Jelita. Melihat dia menata makan malamnya dimeja, membuat hatinya menghangat. Jelita terlihat begitu manis dan menggemaskan.
"Mau langsung makan?" tanya Jelita sembari beralih menatap Evan yang masih tak lepas menatapnya. Mereka seperti pasangan yang tak bertemu bertahun-tahun dan sedang meluapkan rasa rindu. Evan hanya mengangguk sebagai jawaban dari kata iya.
Jelita hanya menyiapkan satu piring untuk mereka. "Kok cuma satu sayang?" tanya Evan heran.
"Mana mungkin aku keberatan, aku rindu perlakuanmu yang seperti ini," bisik Evan haru. Tiba-tiba dadanya dipenuhi rasa haru, dia benar-benar rindu perlakuan manja dari Jelita. Tapi kesibukan membuat dia tak ingin banyak menuntut.
Malam ini makan malam Evan yang istimewa, Jelita menyuapinya hingga selesai. Selesai makan malam Jelita tidak langsung pulang. Dia menemani Evan hingga selesai bekerja dibantu Jelita dan Asisten pribadinya Evan pulang lebih cepat dari seharusnya.
Mobil Evan melaju cepat, didalam terlihat Evan duduk bersandar dibahu Jelita. Dia bahkan terlihat tertidur dengan nyenyaknya tanpa terganggu oleh guncangan yang sesekali terasa.
Jelita membangunkan Evan saat mobil mereka tiba di depan Mansion. "Maaf akau ketiduran sayang."
"Gak apa mas, kamu terlalu lelah butuh istirahat." sahut Jelita sembari membelai wajah suaminya.
"Ayo turun, lanjut istrahat dikamar." ujarnya lagi sembari menggandeng lengan suaminya keluar dari mobil.
Sebelum kekamarnya Jelita mampir dulu kekamar Alena. Sementara Evan langsung kekamar tidur mereka. Dia tidak menemui Alena sebab dia tidur bersama baby sitternya.
__ADS_1
Jelita mengetuk pintu kamar Alena pelan, tak berapa lama pintu dibuka oleh baby sitter Alena.
"Apa dia rewel saat mau tidur?" tanya Jelita sembari membelai tubuh mungil yang berbaring tertutup selimut.
"Tidak nyonya, dia tidur saat saya bacakan dongeng."
"Ooo baguslah. Ya sudah tidurlah lagi. Kalau dia rewel tengah malam bangunkan saya." ujar Jelita sembari menepuk lembut bahu baby sitternya.
"Baik nyonya."
Saat Jelita masuk kamar Evan sudah berbaring di tempat tidur sembari bermain ponsel. Jeluta membersihkan diri dulu lalu berganti baju, baru menyusul Evan naik ketempat tidur.
Evan meletakkan ponselnya dinakas begitu Jelita berbaring di sisinya. Memeluk tubuh itu sembari terpejam.
"Jaka akan pulang minggu ini," ujar Evan dengan suara pelan. Matanya masih terpejam, menikmati hangatnya tubuh Jelita.
"Benarkah? Aku akan beritahu Sella, dia pasti senang," sahut Jelita bersemangat.
Evan membuka matanya menatap istrinya yang penuh semangat. "Jangan, Jaka ingin mengejutkan Sella."
"Ooo."
"Dia aku tempankan disalah satu prusahaan di kota B sebagai wakil derektur disana." ujar Evan memberitahukan rencananya pada Jelita. Bagaimanapun perusahaan ini miliknya juga.
"Apa kau tidak keberatan?" tanya Evan.
"Tentu tidak. Mas menujuk Jaka pasti sudah melalui pertimbangan yang matang. Aku percaya pada semua keputusanmu mas."
"Terimakasih sayang. Dengan adanya Jaka membantu memegang sebagian perusahaan aku bisa memiliki banyak waktu luang. Kesibukan seperti ini aku tidak menginginkannya. Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alena dan anak kita yang lain." lirih Evan.
"Anak yang lain? Aku belum siap mas, ngurus Alena aja susah begitu repot."
Evan terkekeh sembari memeluk erat tubuh Jelita." Tidak sekarang sayang. Tiga-tiga tahun lagi setelah aku mendapatkan beberapa orang seperti Jaka yang bisa aku percaya memegang sebagian prusahaan kita." ujar Evan.
"Kalau itu aku setuju, setidaknya Alena sudah paham akan kehadiran adiknya." sahut Jelita.
__ADS_1
Evan tersenyum mendengar jawaban Jelita. Dengan penuh kasih sayang dia mencium puncak kepala Jelita penuh kasih sayang. Malam ini dia hanya ingin memeluk tubuh Jelita sampai pagi, tak ingin melakukan hal lain. Dia terlalu lelah dan tak mampu melakukan adegan panas dengan istrinya.
To be continuous