Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 38


__ADS_3

Siang ini kantor cabang di kota B mengalami kekacauan. Data pemenangan terder bocor ketangan lawan. Membuat kantor cabang mengalami gagal terder.


Saling tuduh dan saling curiga terjadi di divisi yang menangani berkas tender. Selain itu mereka juga harus mereguk rasa kecewa yang mendalam. Kerja keras siang malam di curi orang. Dan ini pertama kali terjadi di perusahaan mereka.


Evan mengumpulkan semua orang yang terlibat pada pemenagan terder di ruang rapat. Wajah-wajah lesu tak bersemangat tegambar jelas di ruangan ini.Kecewa dan marah tak tau harus dilampiaskan pada siapa.


"Aku datang jauh-jauh dari kota A, hanya untuk melihat kegagalan yang kalian tuai?" tanya Evan sembari menatap karyawannya satu persatu. Wajah penuh rasa bersalah mereka tunjukkan pada Evan, walau sepenuhnya bukan salah mereka.


"Maaf pak, Kali ini Kami membuat bapak datang dengan sia-sia. Kami pasti menyelidiki kasus kebocoran data ini. Semua benar-benar diluar prediksi kami. Selama ini, yang kami tahu tidak ada penghianat dalam tim kami. Tidak tahu silap kami dimana data bisa bocor ke tangan lawan. Kedatangan bapak kali ini bebuah kecewa. Kami minta maaf." ujar kepala tim merasa sangat bersalah. Sudah bertahun dia bekerja di prusahaan ini, tapi baru kali ini ada kebocoran informasi begini.


Evan yang datang bersama Leni kekantor cabang harus menuai kecewa dan malu. Saat proposal tendernya sama persis dengan lawannya. Sayangnya pihak lawan mendapat kesempatan peresentasi lebih dulu ketimbang perusahaannya. Bisa di tebak apa yang terjadi. Bisik-bisik tak sedap menerpa prusahaan mereka, bahwa mereka menjiplak ide pun terdengar. Evan masih masih diam menatap seluruh kariawannya.


Dia paham kinerja mereka seperti apa, juga kesetiaan yang selama ini mereka tunjukkan tak bisa diragukan. Dia marah tapi bukan pada timnya, tapi pada seseorang yang sudah lancang membocorkan data prusahaan.


Evan mendesah berat, melihat wajah lesu dan kecewa para karyawan diruanggan ini membuat Evan tak tega. Mereka rela lembur sampai tengah malam demi proyek ini, tapi karena perbuatan jahat seseorang mereka harus menuai rasa kecewa. Bonus yang sudah didepan mata lenyap seketika.


"Ini adalah kerja sama tim, jadi segala yang terjadi juga tanggung jawab dari tim.Sebelum masalah ini jelas dan dalangnya tertangkap, untuk sementara kepala tim ini saya skors. Sebab kelalaian kalian semua perusahaan menuai kerugian." ujar Evan tegas.


Masing-masing dari mereka memandang kepala tim, yang tampak pasrah dengan keputusan Evan. Keputusan Evan sudah sesuai dan benar, dia tidak dapat mengelak. Dia hanya berharap dalang dibalik kebocoran informasi ini bisa terungkap.


Evan kembali ke kota A malam itu juga bersama dengan Leni. Mereka berada di mobil yang melaju kencang saat ini. Jalanan yang sepi karena sudah tengah malam, membuat supir leluasa melajukan mobilnya tanpa kendala.


"Leni, kau selidiki kasus bocornya data perusaan cabang. Aku beri kamu waktu tiga hari, untuk melakukannya." titah Evan dengan tegas.


"Baik pak, akan saya usahakan."


"Hemm."


Perjalanan mereka masih tersisa tiga jam lagi. Mungkin menjelang subuh mereka baru sampai. Evan merogoh saku jasnya, sebab ponselnya terasa bergetar. Sementara Leni tampak menyandarkan kepalanya pada jok mobil, menyetel jok ke posisi yang lebih nyaman, untuk tidur.


Pesan masuk dari Jelita bertanya kabar. (Sedang apa mas?) Evan tersenyum lalu melakukan panggilan video.

__ADS_1


"Belum tidur?" tanya Evan begitu panggilannya tersambung. Terlihat Jelita yang tengah berbaring dilatas tempat tidur dilayar ponselnya.


"Kok gelap, dimana?" tanya Jelita curiga.


"Di mobil sayang, udah arah pulang." Jelas Evan sembari menghidupkan lampu mobil.


"Pulang? kenapa gak nginap disana aja mas. Udah jam berapa ini? Nyetir malem-malem bahaya loh mas." ujar Jelita merasa khawatir.


"Supir udah istrahat seharian sayang. Dia nyetir dalam kondisi fit kamu tenang aja." sahut Evan meyakinkan.


"Terus Leninya mana?" selidik Jelita. Evan mengarahkan kameranya kesamping memperlihatkan sosok Leni yang sedang tertidur.


"Jangan lirik-lirik dia kamu mas!" sungut Jelita dengan wajah manyun. Evan kembali tersenyum, dasar si pecemburu.


"Iya sayang," sahut Evan patuh.


"Iya, iya! nanti kamu lirik juga." sungut Jelita lagi.


"Awas jangan nempel-nempel." pesan Jelita.


"Baik buk bos. udah ya sayang."


"Iya mas."


Evan memutus panggilan sambil senyum-senyum sendiri. Bagaiman dia tidak melirik atau menatap Leni, mereka satu mobil dengan jarak yang begitu dekat. Walau begitu sungguh Evan tak memiliki ketertarikan pada Leni sesikitpun.


***


Jelita menggeliat pelan. Perasaan hangat dan nyaman terasa menjalari punggungnya. Dia merasakan dekapan Evan, hangat ini, aroma ini, adalah milik suaminya.


Perlahan Jelita membuka matanya yang terasa berat. Senyumnya langsung merekah saat melihat jemari kokoh Evan memeluk pinggangnya erat. Entah jam berapa dia pulang Jelita tak menyadarinya.

__ADS_1


Dia yang masih begitu menagntuk ingin kembali tidur. Tapi gerakan halus Evan pada ceruk lehernya membuat bulu kuduknya meremang. Dia menggeliat halus. Geliat yang mampu membangunkan milik Evan yang tengah tertidur lelap.


"Kau masih begitu sensitif sayang." bisik Evan dengan suara parau. Sementara jemarinya sudah menyusup dibalik baju tidur Jelita. Menyentuh dua benda kenyal yang tegak menantang. Jelita melenguh ditengah rasa kantuk yang berangsur menghilang.


Evan menyukai setiap gestur Jelita saat Evan menyentuh area sensitifnya. Ekspresi manja penuh gairah itu membuat Evan tak mampu menahan diri. Bahkan cenderung hilang kendali. Seperti pagi buta kali ini. Geliat lembut Jelita membuat juniornya bangun tiba-tiba. Memaksanya melampiaskan gejolak hasrat yang sudah menjalari aliran darahnya.


Desah yang begitu seksi terdengar memenuhi ruang kamar ini. Saat tubuh kekar Evan berpacu dengan gerakan cepat diatas tubuh polos Jelita. Tubuh Jelita menegang saat gerakan Evan semakin buas dan tak terkendali dia bahakan terpaksa menggigit bibirnya kuat menahan jeritan penuh kenikmatan dari bibir mungilnya..


Tubuh Jelita terkulai setelah melakukan pelepasan. Sementara Evan masih terus berpacu diatasnya dengan hasrat yang memuncak. Sesaat kemudian Evan juga terkulai diatas tubuhnya.


"Lelah sayang," bisik Evan dengan napas yang masih belum stabil.


"Hemm." guma Jelita pelan. Entah mengapa akhir-akhir ini dia merasa staminanya menurun. Dia merasa tak mampu mengimbangi permainan Evan diatas ranjang.


"Sayang aku merasa fisikmu sedikit lemah akhir-akhir ini. Apa tidak sebaiknya periksa kedokter. Mungkin dokter bisa memberimu suplemen atau sejenisnya." ujar Evan


"Kamu bener mas, gak tau udah seminggu ini bawaan lemes sama ngantuk." keluh Jelita dengan suara pelan.


"Pulang kuliah aku temani kamu ke dokter ya sayang. Takutnya kamu kenapa-napa lagi." ujar Evan sembari mengecup lembut puncak kepala istrinya


"Aku cuma lemes aja kok mas, gak ngerasa sakit. Tapi gak apa juga pergi kedokter. Dokter pasti punya solusinya. Aku gak mau gara-gara aku gak fit di ranjang kamu ngelirik wanita lain." ujar Jelita sembari melirik Evan disampingnya.


"Kamu ini, kapan kamu bisa berpikir kalau suamimu ini lelaki setia hemm." ujar Evan sembari mengigit kecil daun telinga Jelita.


"Auww sakit tau!" Sentak Jelita sembari memukul lengan Evan.


"Itu hukuman mu sayang. Ayo mandi sudah pagi nanti telat ngantor." ujar Evan. Lalu membopong tubuh istrinya membawanya kekamar mandi.


Jerit manja Jelita kembali terdengar saat Evan kembali menjaili tubuh istrinya. Pagi yang dingin berubah hangat oleh kemesraan mereka.


To be continuous.

__ADS_1


__ADS_2