Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 41


__ADS_3

Di ruang private room sebuah Club malam di kota B. Sedang ada pertemuan tersembunyi. Ruang ekslusif itu di hadiri lima orang. Terdiri dari tiga wanita dan dua pria.


Tiga wanita itu tak lain Kiara, Lina dan Klarisa. Dua lelaki yang menyertai mereka adalah dua sepupu Jelita.


Persekutuan yang di prakarsai ole Kalista tentunya. Ambisinya masih begitu besar mendapatkan Evan membuatnya memiliki ide gila.


"Apa tidak beresiko mengundang Leni ikut dalam pertemuan kali ini?" tanya Kiara pada yang lain.


"Justru dialah kunci segala usaha kita. Tanpa mendengar langsung dari dia secara detail langkah Evan tak kan terbaca oleh kita." sahut salah satu sepupu Jelita.


"Tapi Evan sangat hati-hati dan waspada. Kalian sudah bertindak terlalu banyak, kalau Evan masih belum membaca situasinya, ni mencurigakan. Aku kenal Evan dengan baik, aku khawatir ini jebakan." Kiara memang merasa curiga dengat gelagat Evan yang seperti membiarkan masalah berkembang sejauh ini.


"Kau terlalu memandang tinggi sosok Evan. Dia tak sehebat itu tanpa Sasongko. Dia mampu membusungkan dada karena lelaki tua itu yang menyokongnya. Tanpa sokongan dari orang tua itu aku yakin dia mudah di tumbangkan." sahut sepupu Jelita yang satunya.


"Kau salah Daren. Evan bukan lelaki sembarangan. Aku sudah mengikuti dia cukup lama. Aku tau bagaimana karakter dia dengan jelas. Aku merasa dia sedang memantau kita saat ini." sanggah Kiara. Dia merasa ada yang tak beres dengan gelagat Evan.


"Kamu salah Kiara. Evan tidak mencurigai kita, dia percaya dengan hasil penyelidikanku. Aku yakin itu, aku bisa melihat dari reaksinya saat menyerahkan bukit-bukti padanya." sela Leni dengan percaya diri.


Kiara menyunggingkan senyum tipis dibibirnya. "Evan itu sangat teliti dan memiliki tingkat kewaspadaan sangat tinggi itu yang aku tau. Tapi semua terserah kalian. Jangan menyesal bila nanti ucapanku benar. Dan Evan bisa berubah sangat berbahaya saat dia tak lagi mampu menolerir tindakan lawannya." ucap Kiara menasehati.


Tapi sepertinya mereka tak mendengarkan ucapan Kiara. Mereka yakin Evanlah yang kini masuk dalam perangkapnya. Apa lagi Evan telah kehilangan beberapa persen sahamnya. Andai dia sehebat itu, dia tak mungkin bisa kecolongan sampai harus menjual sepuluh persen saham perusahaan.


Mereka sudah tak sabar menunggu rapat dewan direksi beberapa hari lagi. Daren dan saudaranya susah menghasut beberapa dewan direksi, walau hanya segelintir orang saja. Selebihnya lebih memilih tetap berdiri di belakang Evan.


****


Sementara itu di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota A. Tampak Evan sedang mengekori langkah Jelita yang sedang berburu makanan. Entah kenapa beberapa hari ini Jelita terlihat sedikit suka jajan dari pada makan nasi. Seperti hari ini dia ingin makan di luar, tapi bukan nasi yang di cari. Melainkan cemilan dari bahan pisang yang lagi viral. Beberapa makanan yang berseliweran di beranda akun media sosialnya membuat dia tak bisa menahan diri untuk mencicipinya.


"Sayang aku ingin itu," Jelita mengarahkan telunjuknya ke sebuah gerai yang menjual olahan pisang berbagai varian, yang lagi ramai oleh pengunjung yang antri. Evan menatap antrian dengan helaan napas panjang. Mana mungkin dia tega membiarkan Jelita antri disana.


"Tunggulah disini, cari tempat yang duduk yang nyaman. Aku akan belikan untukmu." Evan membawa tubuh Jelita ke sebuah kursi kosong. Lalu pergi ke antrian yang sudah mulai berkurang.


Cukup lama juga Evan antri, baru terlihat dia datang dengan tangan penuh. Evan menata lima bungkus pisang dengan berbagai macam varian yang dia beli tadi.

__ADS_1


"Sayang, kenapa beli sebanyak ini?" tanya Jelita sembari menatap lima bungkus pisang di depannya.


"Aku lupa tanya sayang mau beli yang varian apa, jadi aku beli semua aja." jawab Evan sembari menarik kursi duduk di samping Jelita.


"Makanlah selagi hangat," ujar Evan sembari membuka satu bungkus pisang goreng berbalut coklat dan taburan keju diatasnya. Memotongnya jadi potongan kecil. Lalu menyuapkannya kemulut Jelita.


"Aaa." Evan menyodorkan potongan pisang.


Baru satu suapan ponsel Evan berdering nyaring. pada layar tertera nama orang suruhannya.


"Ada apa?" tanya Evan dengan suara beratnya.


"Tuan, seperti dugaan tuan. Mereka semua bertemu di kota B." tutur suara di ujung telpon.


"Kau sudah dapat detail rencana mereka?" tanya Evan sembari menyuapi Jelita. Sementara Jelita sembari makan dia mendengarkan dengan seksama percakapan suaminya. Walau hanya perkataan suaminya saja yang mampu dia dengar.


"Sudah tuan. Sudah saya kirim datanya ke tuan."


"Bagus. Oh ya aku mau masalah di pulau D rampung sebelum rapat dewan direksi. Kau bisa mengatasinya kan?"


"Bagus. Setelah masalah ini selesai, kau boleh mengajukan cuti, bawalah keluargamu pergi berlibur. Perusahaan akan menanggung biayanya. Ini juga berlaku untuk bawahanmu yang ikut menagani masalah ini. Anggap itu sebagai bonus.ujar Evan. Hening sesaat.


"Kami pastikan misi ini berjalan sesuai yang tuan inginkan. Kami juga menatikan bonus yang tuan janjikan." ucap pria itu dengan suara pelan diakhir kalimat.


"Bagus, tunggu saja setelah selesai. Kalian pasti dapatkan bonus yang aku janjikan. Sudah dulu, aku sedang menemani nyonya makan."


"Baik tuan."


Evan memutus panggilan. Meletakkan ponselnya di atas meja, meraih selembar tisu. Lalu menyaka sisa coklat disudut bibir Jelita.


"Masalah peusahaan?" tanya Jelita penasaran. Evan mengangguk sembari menatap lembut wajah istrinya.


"Sudah memiliki bukti penghianatan mereka?" tanya Jelita lagi. Evan kembali mengangguk.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi, kenapa belum bertindak?" ujar Jelita geram.


"Ibu hamil harap sabar. Ini belum saatnya." sahut Evan sembari mengusap puncak kepala Jelita dengan lembut.


"Masih mau lagi?" tanya Evan. Jelita menggeleng. "Kenyang." sahutnya.


"Ya sudah, sisanya kita berikan pada anak di lampu merah saja." ujar Evan, sembari mengemasi bungkus pisang yang sudah terbuka.


Setelah selesai Evan memberikan bungkusan itu pada anak buahnya, untuk dibeikan nanti dilampu merah.


"Sayang mau pulang atau ingin melakukan sesuatu. Mumpung aku lagi kosong jadwal hari ini." Evan sengaja mengosongkan jadwal, karena itu juga alasan dia memberi cuti pada Leni.


"Kalau.." Jelita menjeda kalimatnya sembari menatap Evan dengan tatapan ragu.


"Kalau?" tanya Evan mengulang kalimat Jelita dengan dahi berlipat.


"Kalau kita pergi nonton, apa sayang mau?" tanya Jelita ragu.


Evan tertawa tanpa suara, lalu mengacak lembut rambut Jelita. "Hanya ingin nonton kenapa seperti menginginkan sesuatu yang sulit aku kabulkan. Kau membuatku olah raga jantung sayang."


"Orang sesibuk dirimu, mana punya waktu buat hal sia-sia begitu."


Evan mendekat kan wajahnya, mengecup lembut kening Jelita. Tak perduli pada Jelita yang kalang kabut melihat kiri dan kanan. Wajahnya pun memerah saat beberapa orang menatapnya sembari senyum-senyum tak jelas. "Bodoh. Mana ada hal sia-sia kalau bersamamu. Di sampingmu semua momen penuh arti bagiku. Sudah ayo nonton." sahut Evan, sembari menautkan jemarinya pada Jemari Jelita. Lalu membawanya beranjak bangkit.


Senyum bahagia terukir dibibir Jelita sembari mengikuti langkah Evan disampingnya. Hatinya berbunga di perlakukan begitu manis oleh suaminya.


Walau akhirnya dia harus terusik oleh, mata-mata genit yang menatap suaminya dengan berani. Membuatnya kesal. Apa lagi diantara mereka ada yang melebihi Jelita kecantikannya. Dia takut Evan diam-diam melirik mereka.


"Jangan pedulikan mereka. Segala yang aku punya hanya tertuju padamu seorang sayang." bisik Evan sembari merenkuh bahu Jelita.


"Apaan sih!" sentak Jelita malu. Dia tak ingin Evan tau kalau dia cemburu dengan tatapan genit para gadis disekitar mereka. Bukankah terdengar kekanakan.


"Tidak ada sayang. Tunggulah disini, aku beli tiket juga cemilan." sahut Evan sembari menempatkan tubuh Jelita di kursi kosong ruang tunggu. Lalu bergegas ikut antri membeli tiket.

__ADS_1


Jelita menatap punggung Evan tak lepas dari senyum. Beginikah nikmatnya berpacaran setelah menikah?


To be continuous


__ADS_2