
Evan kembali kerumah sakit bersama Jaka. Pagi tadi Evan memanggilnya kekantor dan memintanya menjadi supir sekaligus pendamping. Sebab asisten pribadinya sangat sibuk belakangan ini. Sebelum itu, dia sengaja menyelidiki Jaka setelah peristiwa kemarin. Data yang dia dapat, Jaka bersih juga berbakat. Sebagai maha siswa manajemen bisnis yang sedang menyusun skripsi dia terbilang mahasiswa cerdas. Setelah mengetahui latar belakang dan kemampuan Jaka, Evan memilih menempatkan Jaka disisinya.
Evan membawa pastel berisi aneka buah, sementara Jaka membawa satu buket bunga yang dibeli Evan untuk Jelita.
"Selamat siang nona-nona," sapa Evan begitu masuk ruangan.
"Siang," sahut mereka kompak. Mata para gadis berbinar melihat Evan datang dengan buket bunga untuk Jelita.
Kedatangan Jaka membuat Jelita heran, bukankah kemarin Evan begitu marah pada Jaka seakan berniat membunuhnya. Tapi siang ini mereka terlihat begitu akrab.
"Apa kabarmu sayang?" Evan mendekat lalu men ci um kening Jelita dengan lembut.
"Baik mas."
"Aku membelikanmu bunga, apa kau suka bunganya sayang?" Evan mengisaratkan pada Jaka agar memberikan bunganya pada Jelita. Dengan senang hati Jelita menerima buket bunganya.
"Terimakasih mas," ucap Jelita sembari mencium rangkaian bunga ditangannya.
"Sayang apa kabarmu," sapa Evan pada putrinya yang berada di samping Jelita. Seakan tau kehadiran papanya, bayi mungil itu membuka sedikit matanya sembari tersenyum ditengah tidurnya. Hati Evan menghangat dan berdebar kencang.
"Boleh aku gendong sayang?" tanya Evan tanpa beralih dari sikecil.
"Tentu saja boleh, tapi apa mas bisa?"
"Bisa." sahut Evan. Dan mulai berusaha memindahkan bayi mungil ketangannya dan berhasil.
"Dia sangat cantik sayang," bisik Evan. Dengan lembut dia mendaratkan kecu pan di pipi halus putri pertamanya.
"Tentu, aku ibunya."
Evan beralih menatap Jelita. "Kau benar sayang."
Sementara ketiga teman Jelita menatap mereka dengan binar bahagia. Melihat ini membuat keinginan nikah muda tiba-tiba muncul di benak masing masing dan Evan barumenyadari kalau bukan hanya dia dan Jelita saja yang ada diruangan ini.
"Kalian udah makan siang?" tanya Evan sembari menatap teman Jelita satu persatu. Mereka kompak menggeleng, kumpul dan bercengkrama membuat mereka lupa waktu dan lupa makan.
"Jaka bawa mereka mencari tempat makan yang enak, aku akan mentraktir mereka makan. Kamu juga belum makan, temani mereka makan." titah Evan.
"Baik tuan." sahut Jaka. Sementara ketiga teman Jelita menatap Jelita meminta persetujuan.
__ADS_1
"Pergilah, jangan sia-siakan niat baik suamiku." ucap Jelita dia dapat membaca pikiran ketiga temannya yang merasa sungkan.
"Mari." Jaka mempersilahkan ketiganya mengikuti langkahnya meninggalkan ruangan.
"Sayang sudah makan?" tanya Evan begitu mereka pergi, Sembari meletakkan putrinya di tempat semula.
"Sudah, tapi tidak berselera. Makanan rumah sakit gak ada rasanya mas," keluh Jelita. Evan tertawa mendengarnya.
"Makan lagi sama mas ya." Evan mengeluarkan paket makan siang yang tadi dia bawa.
"Mas belum makan?" tanya Jelita. Evan menggeleng sembari menata makan siangnya.
"Kok bisa? bukannya tadi ada pertemuan sekalian makan siang?" tanya Jelita lagi dengan perasaan heran. Bukankah saat Evan menghubunginya dia sudah ada di restauran dan sekarang bilang belum makan.
"Pertemuannya gagal juga makan siangnya," sahut Evan sembari tersenyum.
"Kerja samanya juga batal dong mas?"
Evan tak menyahut, dia menyodorkan sendok berisi nasi kemulut Jelita. Jelita menyambutnya lalu mengunyahnya dengan lahap.
"Perwakilan yang mereka utus ternyata Arimbi," jelas Evan. Jelita menghentikan kunyahannya, menatap Evan lekat-lekat.
Jelita mengangguk, lalu mengunyah makanannya kembali. Tiba-tiba dia merasa sedikit bimbang dengan keputusannya melarang Evan bertemu Arimbi, terlihat keterlaluan dan kekanakan. Dia mendorong Evan bersikap tak profesional dalam bekerja, tidak bisa memisahkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi.
"Nyonya Evan. Anda tidak boleh ragu dengan keputusan yang telah dibuat. Kalau dari awal A, maka sampai akhir harus tetap A." tegur Evan yang tau isi hati istrinya. Jelita tersipu malu Evan dapat membaca isi hatinya dengan mudah.
"Tapi aku sudah membuat perusahaan merugi," lirih Jelita sembari menatap lekat kedua manik hitam Evan.
"Kita masih belum bisa menyimpulkan rugi atau tidaknya sayang. Mereka belum memberikan keputusan apapun. Lanjutkan makan mu." Evan kembali menyuapi Jelita dan juga dirinya sendiri.
"Kalau rumor ini tersebar, mas akan jadi cemoohan orang. Mas akan di cap suami takut istri." gumam Jelita.
"Tidak buruk, lagi pula bagus kalau cerita ini tersebar luas. Wanita akan berpikir jika ingin mendekatiku, istriku akan memutus semua kerjasama dengannnya atau aku akan mengasingkan mereka kepulau tak berpenghuni," sahut Evan dengan santainya.
"Di asingkan kepulau tak berpenghuni? Terdengar terlalu kejam mas." Protes Jelita. Evan tersenyum simpul "Benarkah, aku kira tidak begitu kejam."
Jelita tak menyahut dia tak menanggapi candaan Evan. Candaan...
Jelita menarik napas lalu menghembuskannya kasar. "Ada apa? Hembusan napasmu terdengar berat." tanya Evan dengan mata menyipit.
__ADS_1
"Mas benar-benar ikhlas memutus kontak dengan Arimbi, setelah sekian lama tidak bertemu dan akhirnya dapat bertemu kembali."
Evan memindai wajah pucat Jelita seakan tak ingin melepasnya sedetikpun. "Aku dan dia tidak memiliki hubungan istimewa Je. Penampilannya memang membuatku kagum, dia dulu wanita tomboy dan tak tau dandan. Saat bertemu kemarin dia menjelma menjadi wanita yang begitu mempesona aku salut. Tapi bukan berarti aku menyukainya sampai tak rela memutus kontak dengannya. Dia tak layak dibandingkan dengan mu. Jadi berhenti berpikir macam-macam."
Jelita mendesah berat. "Siapa yang tidak khawatir kalau selalu saja ada orang seperti Arimbi di sekitar mas." keluh Jelita muram.
"Maaf sayang, bagaimana lagi suamimu ini begitu berkarisma tak mudah untuk diabaikan," ujar Evan dengan mimik sedih.
"Cih! Berkarisma." cebik Jelita yang dibalas tawa oleh Evan.
"Sayang kamu tidak perlu memikirkan wanita seperti Arimbi yang datang silih berganti. Focus saja pada aku dan bayi kita. Selagi aku masih berada dijalurmu maka semua akan baik-baik saja. Dan aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk tetap di jalurmu, tidak akan melenceng." ujar Evan sembari mengusap pipi Jelita dengan lembut.
"Terimakasih." lirih Jelita penuh haru. Evan mengangguk lalu mengecup keningnya.
****
Sepasang mata lentik milik Sella tak lepas mengawasi gerak Jaka di depannya. Dia sengaja meminta duduk bersama Jaka sebab dia ingin mengintrogasi dan memberi penataran terhadap Jaka.
"Tidak takut bulu matamu lepas menatapku seperti itu?" tegur Jaka tanpa beralih pandan, nentaranya focus pada piring nasinya.
"Bagaimana bisa lepas, bulu mata ini asli tau!"
Jaka mengangkat kepalanya menatap Sella dengan tatapan tajam. "Benarkah?"
Ditatap begitu dengan Jaka membuat Sella mendadak gugup, dengan tergesa dia melempar pandangannya ketempat lain, Jaka tersenyum.
"Bicaralah, kalau ada yang ingin kau sampaikan," titah Jaka lalu kembali focus pada makan siangnya.
Sella kembali menatap Jaka. "Aku peringatkan kamu ya, jangan coba-coba dekati Jelita. Dia sudah bahagia dengan Evan!"
Jaka tertawa sinis. "Gadis bodoh, matamu yang mana melihatku tertarik pada nyonya. Aku mengagumi nyonya bukan berarti aku menyukainya. Aku rasa...aku lebih tertarik padamu." sahut Jaka sembari mengerling nakal.
"Suka kepalamu!" bentak Sella. Bukannya marah Jaka malah terbahak.
"Jangan ketawa, gak ada yang lucu!"
Jaka menghentikan tawanya, netranya menatap Sella lekat-lekat. "Ada. Kamu, kamu lucu juga imut." goda Jaka dengan mimik wajah serius.
"Ayo pulang. Aku sudah kenyang." sungut Sella sembari beranjak pergi. Jaka tersenyum, lalu mengekori langkah Sella. Sementara Anita dan Karin yang pisah meja dengan mereka menatap heran.
__ADS_1
To be continuous