
Evan menatap tubuh kekar padat berisi di depannya dengan seksama. Pria muda berusia sekitar dua puluh dua tahun ini akan menjadi supir pribadi Jelita.
Evan tak sembarangan mengambil orang, pria bernama Jaka ini dia rekrut dari organisasi pelatihan pengawal pribadi.
"Jaka mulai hari ini, kamu yang bertanggung jawab mengantar istri saya kemanapun dia pergi. Kamu tentu tau tugas kamu disamping istri saya." Jelas Evan sembari menatap lekat wajah tampan Jaka.
"Iya tuan!" sahut Jaka tegas.
"Baiklah ikut saya," ujar Evan. Lalu beranjak menuju garasi. "Ini adalah mobil istri saya. Tanpa seizin saya, kamu tidak boleh sembarangan berganti mobil." Jelas Evan lagi. Mobil yang ditunjuk Evan sebagai mobil Jelita, adalah mobil yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, untuk keselamatan istrinya.
"Baik tuan." sahut Jaka masih dengan ketegasan yang sama.
"Baiklah hanya itu yang akan saya jelaskan padamu. Selamat bekerja." ujar Evan sembari menepuk bahu Jaka sekilas. Lalu kembali kedalam Mansion.
Sementara didalam Mansion, Jelita terlihat sibuk membantu bibik menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Evan berdiri di ambang pintu ruang makan. Netranya memperhatikan gerak Jelita dengan seksama. Semenjak hamil, tubuh Jelita mengalami banyak perubahan bentuk dan ukuran. Terutama di bagian dada dan bokong. Membuat Jelita terlihat semakin seksi. Perut buncitnya sama sekali tak mengurangi daya tariknya. Membuat Evan gemas tak bisa menahan diri. Dengan langkah pelan dia berjalan mendekat. "Apa yang kau lakukan?" tanya Evan sembari memeluk tubuh Jelita dari belakang.
Jelita terjingkat kaget, dia tak menyadari kehadiran Evan didekatnya. "Apaan sih mas, ada bibik tau!" cebik Jelita sembari mendorong tubuh Evan, sudut matanya melirik ke bibik yang terlihat sibuk.
"Mereka gak liat," bisik Evan masih terus memeluk tubuh Jelita. Sebenarnya bukannya tidak melihat, mereka memilih berpura-pura tidak melihat kemesraan majikannya.
"Tetap aja gak etis mas," rajuk Jelita. Evan mengalah dia melepas pelukannya, memilih duduk dikursi sembari memperhatikan kesibukan istrinya.
Dengan cekatan Jelita menata hidangan di atas meja. Satu piring kosong untuk dia dan satu lagi untuk suaminya.
"Sarapan mas," ujar Jelita sembari menarik kursi di sebelah Evan dan duduk disana.
"Makasih, sayang. Oh ya sayang, aku baru menerima pegawai baru. Nanti dia yang akan menjadi supir pribadimu."
"Loh, supir yang lama mana mas?"
"Dia terlalu tua untuk menjagamu sayang. Dia aku tugaskan di markas melayani anak-anak disana." Jelas Evan.
"Terserah mas, aku ngikut aja. Oh ya aku ada janji mau belanja keperluan bayi dengan Sella mas."
"Belanja dimana sayang?"
"Di Mall dekat kantor mu mas."
"Ya udah, nanti makan siang disana aja. Aku temui sayang disana."
"Bagus juga. Tapi aku bareng Sella gak apa-apa mas?"
"Gak apa-apa sayang. Aku juga mau berterimakasih sama dia. Udah mau repot bantuin kamu."
"Ya udah kalau gitu. Nanti mas kabari aku aja kalau udah di mall."
"Iya sayang."
__ADS_1
Setelah sarapan Evan pergi kekantor, sedang Jelita tetap dirumah.
Tepat jam sepuluh Sella datang diantar supir pribadinya kemansion Jelita. Mereka sudah membuat janji bertemu kemarin. Sella akan menemani Jelita berbelanja keperluan bayi. Tidak memiliki ibu dan mertua untuk bertanya apa saja yang harus disiapkan sebelum melahirkan, mbuat Jelita bingung. Untung saja dia memiliki beberapa Art yang sudah berumur, bisa bertanya apa saja hal penting yang harus dipersiapkan menyambut kelahiran anaknya.
Jelita diantar oleh supir barunya. Dia sempat kaget saat melihat supir barunya masih sangat muda dan tampan. Ketampanannya bahkan menarik perhatian Sella.
"Je, gak salah sumimu cari supir semuda ini? Mana tampan lagi," bisik Sella sembari menatap Jelita yang terlihat tak acuh.
"Emang kenapa kalau ganteng, lagian aku dah ada Evan gak kepikiran lirik cowok lain." sahut Jelita sembari mengerling nakal. Sella mencebik kesal.
"Tapi tetap saja bahaya Je," imbuh Sella.
"Bahayanya dimana?" tanya Jelita dengan mata menyipit.
"Kalau supirmu tetap dia, jelas bahayanya dimana-mana." sahut Sella sembari menatap bayangan supir Jelita dari sepion tengah.
"Udah ah ngaco kamu. Gak akan bahaya kalau aku gak coba macem-macem. Percaya deh." ucap Jelita meyakinkan. Sementara sopir Jelita, yang diam-diam mencuri dengar terlihat menyunggingkan senyum tipis.
Mobil berhenti di pintu mall, setelah Jelita dan Sella turun, mobil melaju menuju basemen mall untuk parkir.
Di dalam mall, Jelita langsung mencari toko yang menjual keperluan bayi. Begitu masuk kedalam toko yang menjual perlengkapan Jelita terpana. Melihat pernak penik yang begitu menggemaskan seakan dia bisa melihat wujud buah hatinya sedang mengenakan barang-barang menggemaskan ini.
Netranya langsung tertuju pada warna-warna cerah yang menggoda. Apa lagi hasil USG menunjukkan bahwa bayinya perempuan.
Jelita mulai membeli satu persatu keperluan bayinya dan tak terasa sudah menggunung. Dari perlenkapan kamar bayi sampai perlengkapan mandi.
Jelita menyentuh sepasang sepatu berwarna pink sembari tersenyum. Putrinya pasti akan terlihat cantik saat memakai sepatu ini. Tiba-tiba dia teringat dengan almarhum papanya. Andai tuhan memberinya umur panjang...
"Je, kamu teringat papa mu?" tanya Sella sembari mengusap bahu Jelita dengan lembut. Jelita mengangguk, matanya masih terlihat basah oleh air mata.
"Yang sabar ya sayang," bisik Sella sembari memeluk sahabatnya, mengusap lembut punggungnya berusaha memberikan ketenangan untuk Jelita.
Sementara, Evan yang menyaksikan hal itu dari jauh. Jemarinya mengepal erat, dia benci melihat kesedihan yang terpancar dimata Jelita. Walau itu untuk papanya. Dia ingin mata itu hanya memancarkan kebahagiaan saja. Tapi dia juga menyadari sosok seorang ayah tidak akan tergantikan oleh siapapun didunia ini.
"Aku ada keperluan mendadak. Survei hari ini cukup sampai disini saja. Kalian boleh kembali ke kantor." titah Evan. Dia sedang melakukan survei di mall ini, yang memang mall ini milik Sasongko.
"Baik pak." sahut anak buahnya.
Evan menghela napas dalam, lalu beranjak mendekati Jelita yang sudah terlihat tenang.
Jelita sedang memilih beberapa pasang sepatu, terkejut oleh sentuhan lembut yang menyentuh pinggangnya. "Sudah selesai sayang?"
"Mas bikin aku kaget aja!" sentak Jelita dengan hembusan napas kasar. Evan terkekeh pelan.
"Dih nyusul dia. Takut nyonyanya di ambil orang ya tuan Evan." seloro Sella.
"Kau benar Sella." sahut Evan sembari menatap Jelita dengan tatapan nakal.
"Ihh apaan sih." cebik Jelita dengan wajah bersemu merah. Tingkah Evan membuat karyawan di butiq senyum-senyum menatapnya. Sungguh memalukan.
__ADS_1
"Belum waktunya makan siang, mas kok udah kesini. Apa gak sibuk?" tanya Jelita setelah melihat jam dipergelangan tangannya.
"Aku sudah mengosongkan jadwal untuk hari ini. Pulang nanti aku ingin bantu sayang susun semua barang ini." sahut Evan sembari mengarahkan jarinya pada barang belanjaan Jelita yang menggunung. Jelita tersipu, dia belanja seperti orang kalap, setiap yang terlihat cantik dia beli.
"Aku belanjanya kebanyaan ya mas?"
Evan menggeleng. "Buat putri kita ini belum seberapa." sahut Evan sembari mengusap lembut puncak kepala Jelita.
"Aku sudah takut dimarahi mas tadi."
"Sejak kapan aku memarahimu karena belanja, hemm. Sayang bebas melakukan apa yang sayang mau selagi membuat hatimu senang. Selagi kesenanganmu tidak menyangkut pria lain." ujar Evan sembari menyentil hidung mungil Jelita.
"Apaan sih pria lain. Gak sempat mikirin pria lain." sungut Jelita.
"Baguslah, ayo cari makan enak. Barang ini biar orangku yang urus." ujar Evan.
"Aku balik aja deh, kalian makan berdua aja." ujar Sella.
"Gak bisa, kita makan bertiga, ya kan mas?" sergah Jelita sembari menatap Evan.
"Tidak usah sungkan. Ayo ikut kami makan." ujar Evan.
Sella akhirnya mengalah ikut makan siang bersama mereka.
Evan ingin makan di tempat yang lebih privasi, tapi Jelita memilih makan digerai yang ramai pengunjung. Evan pun memilih mengalah dengan kemauan istrinya.
Evan menatap makanan siap saji didepannya dengan wajah masam. Dari dulu dia tak perna suka makanan siap saji kalau tidak sangat terpaksa. Seperti saat ini.
Melihat Evan hanya diam mematung menatap makanan didepannya. Jelita berinisiatif menyulanginya. "Makanlah ini sehat," bisik Jelita sembari menyuapkan nasi dan suiran ayam kemulut Evan.
Evan tak menyahut, dia menerima suapan Jelita, lalu mengunyahnya perlahan.
"Mas ada angin apa kamu kasih aku supir setampan itu untukku?" tanya Jelita sembari mengunyah makannan di mulutnya.
"Tampan?" Evan balik nanya dengan mata membulat menatap Jelita. Jelita menganguk acuh, sementara Evan terlihat tak lagi sungkan dengan makanan didepannya, dia memakannya dengan lahap.
Selesai makan mereka langsung pulang. Sella pulang dengan menggunakan taksi yang di pesan Evan. Sementara Mereka berdua pulang menggunakan mobil Jelita.
Jelita tampak heran saat masuk ke mobil mendapati sopir lamanya yang ada didalam mobil. "Loh supirku mana mas?" tanya Jelita heran.
"Itu duduk di belakang kemudi, sayang gak lihat?"
"Maksudku bukan dia mas, supir ku yang baru?"
"Dia dipindah tugaskan hari ini." sahut Evan dengan ekspresi datar.
"Kok bisa?" tanya Jelita curiga. Evan tak menggubris pertanyaan Jelita. Dia memilih menyibukan diri dengan laptopnya. Menghindari pertanyaan berbau curiga dari Jelita.
To be continuous
__ADS_1
Hay readers tercinta, maaf emak update nya gak menentu. Maklum selama bulan puasa banyak aktifitas tambahan. Waktu untuk nulis hampir tidak ada. Tapi tetap mak usahain up demi para readers tercinta yang masih setia memantau cerita emak.🙏🙏🥰🥰🥰🥰