Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 58


__ADS_3

Siang ini mansion Jelita ramai oleh kedatangan tiga sohibnya. Mereka baru saja menghabiskan waktu bersenang senang dan berbelanja di mall. Saat berbelanja mereka teringat Alena lalu membelikan beberapa pernak-pernik untuk Alena.


"Kalian makan siang disini ya, si mbok udah aku suruh masak banyak tuh." bujuk Jelita.


Ketiga sohibnya saling pandang, kemudian mengangguk setuju. Sudah lama mereka gak makan bareng Jelita. Semenjak Alena lahir tepatnya. Dunia Jelita teralihkan oleh kehadiran Alena.


"Bulan depan aku kuliah lagi," ucap Jelita mengejutkan tiga temannya.


"Beneran? Emang boleh sama Evan?" tanya Sella tak percaya.


"Udah bilang kok sama Evan dan dia setuju." sahut Jelita berbinar.


"Lalu Alena?" sela Anita.


"Alenakan udah tujuh bulan Nit, udah aku selingi susu bantu. Jadi gak susah kalau mau ditinggal-tinggal. Sebenernya aku gak tega sih, tapi sayang kuliahku." ujar Jelita berubah sendu.


Dia ingin segera menamatkan kuliahnya agar bisa focus membesarkan Alena. Jelita ingin saat Alena sudah mengerti kehadiran ibunya dia tak terganggu oleh kegiatan kuliah.


"Bener juga sih, nanti kalau dah gede dah bisa nyariin mamanya malah gak tega ninggalin sama baby sitternya." timpal Karin.


"Itu yang aku pikirin." ucap Jelita.


"Ya udah semangat aja, kami tunggu bulan depan dikampus." ujar Sella menyemangati.


Menjelang makan siang Evan pulang bersama Jaka. Jelita sengaja mengundang Jaka untuk makan siang di mansion. Dari Evan Jelita mendengar kedekatan Sella dengan Jaka. Itu membuat Jelita penasaran, kehadiran Jaka kali ini akan menguak fakta kedekatan mereka. Dia tau, Sella tak bisa menyembunyikan apapun darinya.


Benar saja, begitu melihat Evan datang bersama Jaka. Ekspresi Sella langsung berubah, Jelita tersenyum simpul melihat itu.


"Banyak tamumu hari ini sayang," sapa Evan sembari mendaratkan ciu man hangat dikening Jelita.


"Iya, mereka berbelanja untuk Alena mas. Tapi sayangnya mereka melupakan mamanya." sahut Jelita sembari bersungut-sungut menatap tiga sohibnya.


"Maaf, abis lebih comel Alena timbang kamu." ledek Anita yang disambut gelak tawa temannya.


"Iya deh iya. Ayo makan, hidangan dah siap tuh." ujar Jelita.


Walau sudah menikah dan memiliki anak Jelita tak pernah kehilangan perhatian sahabatnya. Bahkan hubungan mereka semakin bertambah dekat.


Meja makan besar milik Jelita hari ini terisi penuh. Ada Jaka juga diantara mereka.


"Jaka, kamu jadi lanjut study keluar negri?" tanya Jelita tiba-tiba di tengan makan siang mereka.


"Uhuk! Uhuk!" Sella yang mendengar pertanyaan mendadak Jelita, tersedak oleh makanannya sendiri.

__ADS_1


"Pelan-pelan." ucap merek bebarengan. Tapi ada yang membuat semuanya terpana saat Jaka repleks bangkit kerahnya dengan segelas air di tangan. "Ini minumlah." ucapnya pelan.


Tanpa kata Sella menerima gelas dari tangan Jaka lalu meminumnya setengah. Manik hitamnya menatap Jaka penasaran dan penuh tanda tanya.


"Jaka makanlah dulu, kau punya banyak waktu membahas ini." ucap Evan yang tau situasi saat ini.


"Baik tuan." sahut Jak kembali ke tempat dia duduk.


Setelah makan siang dan berbincang sebentar, mereka memutuskan untuk pulang. Sementara Jaka berinisiatif mengantar Sella dan Sella pun setuju.


Evan menatap wajah istrinya dengan seksama. Dia sedang bermain dengan Alena di sampingnya.


"Kau mengejutkan Sella dengan pertanyaanmu sayang." tegur Evan. Jelita menoleh lalu tersenyum lembut. "Itu hukuman untuk Sella karena menyembunyikan hubungan mereka." sahut Jelita tak merasa bersalah.


"Dasar jahil. Mereka tidak berniat menyembunyikannya darimu sayang, hubungan mereka masih abu-abu jadi belum bisa di publikasikan kesiapapun." jelas Evan sembari menyentil hidung Jelita.


"Bukannya mereka saling suka?"


"Benar, tapi perbedaan membuat jurang terbentang di antara mereka."


"Jurang apa?! Aku dan mas juga ada perbedaan. Buktinya kita bahagia."


Evan mendesah berat. "Kasus kita berbeda sayang. Dalam hubugan kita papalah jembatannya. Sementara hubungan Jaka tak direstui papa Sella. Itu sebabnya Jaka memutuskan pergi demi mengembangkan diri." jelas Evan.


"Kasihan Sella," lirih Jelita.


"Kalau kamu kasihan, bantu Jaka memberi pengertian pada Sella, bahwa kepergiannya demi masa depan mereka. Jaka lelaki yang berkompeten dia pasti sukses." ujar Evan. Netranya menatap lembut wajah Jelita. Kekasih yang sangat dia sayangi dan cintai.


"Pasti, itu pasti. Aku janji akan membantu Jaka meyakinkan Sella." ucap Jdlita penuh semangat.


Evan tersenyum, jemarinya membelai puncak kepala Jelita dengan lembut. "Kau memang teman yang baik sayang."


"Aku juga istri yang baik mas." tegasnya dengan lirikan nakal. Evan terkesiap lalu tertawa pelan, Jelita masih saja menggemaskan. "Aku tau itu." ucapnya sembari mendaratkan kecupan lembut di kening Jelita.


"Oh ya, kamu jadi kuliah bulan depan?" tanya Evan, netranya memindai sosok yang tengah bergelayut manja di tubuhnya.


"Tentu saja jadi mas. Alena sudah bisa ditinggal dengan pengasuh."


Evan mengangguk , dengan lembut dia meraih tubuh Jelita kedalam pelukannya. "Aku tidak bisa melarangmu sayang. Hanya saja saat dikampus nanti jaga pandanganmu dari pria yang bukan milikmu."


"Aku tidak janji. Mas taukan kampus tempat berkumpulnya lelaki tampan dan hebat. Uhh membagasnya saja udah buat aku panas dingin." goda Jelita.


Evan mangut manggut sembari menggertakkan rahangnya erat. Panas dingin ya? Okelah sepertinya dia sudah lama tak membuat Jelita panas dingin dibawahnya.

__ADS_1


Melihat gelagat yang tak lazim daribsang suami, Jelita berniat menghindarinya. Tapi Evan keburu mengunci tubuh sintalnya tak bergerak.


"Susi! bawa Alena kekamarmu!" teriak Evan memanggil baby sitter Alena. Susi tergopoh datang keruang tengah dan melihat nyonyanya sedang dalam cengkraman tuan.


"Aku titip Alena." ujar Evan sembari membopong Jelita kelantai atas.


"Mas, malu dilihat mereka. Turunin gak!" seru Jelita dengan wajah memerah. Evan tak mengindahkan seruan Jelita. Dia terus saja naik dengan semanagat membara. Benaknya sudah dipenuhi bayang-bayang kenikmatan yang ingin dia berikan pada kelinci kecilnya yang mulai tak jinak.


"Mas masih siang," rengek Jelita saat Evan mulai menyerangnya dengan sentuhan-sentuhan nakal di sekujur tubuhnya. Evan diam, hanya seringai jahat yang terlihat dibibir merahnya.


"Sudah lama kita melakukannya saat siang. Aku lupa rasanya," bisik Evan dengan suara berat.


Jelita meremang, suaraberat dan basah milik Evan terdengar bak gesekan biola, sangat merdu. Sudah sangat lama, mereka tak bercinta dengan gila. Evan bermain sembut dan slow takut menyakiti Jelita.


Siang ini sepertinya Evan tak sabar lagi. Sentuhannya sangat panas dan mendominasi. Walau begitu Evan masih mampu mengatur tempo permainannya agar tak kebablasan.


Desah mulai memenuhi ruangan ber-Ac ini. Tubuh yang mulai bermandi keringan menandakan suhu ruangan tak lagi stabil, sebagian dingin sebagian lagi hangat membara.


"Mas..." rengek Jelita tak sabar oleh permainan Evan yang menyiksanya. Evan menyeringai puas. "Apa?" tanyanya dengan ekspresi mengoda.


"Aku gak kuat..." rengek Jelita. Wajahnya memerah, tubuhnya menegang, menahan hasrat yang bergulung-gulung hampir meledak. Evan benar-benar membuatnya panas dingin.


Melihat tubuh Jelita bergerak liar dibawahnya membuat Evan tersenyum puas. Andai tidak berpikir keadaan Jelita yang belum sembuh benar Evan tak kan mau berhenti.


Erangan tertahan terdengar menggema diruang kedap suara ini. Terdemgar sangat seksi dan mengairakan ditelinga Evan. Sudah lama dia tak mendengar teriakan ini, semenjak lahirnya Alena tepatnya.


Tubuh penuh peluh terkulai layu diatas tempat tidur. Kepuasan tergambar jelas terukir diwajah Evan. Tapi detik berikutnya dia seperti menyadari perbuatannya dan rasa khawatir seketika menyeruak dihatinya.


"Sayang, apa sakit? Katakan kalau sakit kita kedokter?" tanya Evan. Netranya menatap Jelita dengan cemas.


Jelita mengerutkan bibir merahnya. "Dah telat nanyaknya sekarang." rajuk Jelita.


"Hah! jadi bener sakit sayang. Bersihkan tubuhnu kita kedokter sekarang!" seru Evan panik. Melihat itu Jelita tak mampu menahan tawa, Evan benar-benar mengemaskan saat panik. "Sakit dikit, tapi lebih banyak enaknya," sahut Jelita malu-malu.


Tapi Evan masih saja panik. "Sayang ayolah jangan bercanda, bicara yang jelas." ujar Evan tak sabar.


"Gak bercanda mas, bener gak apa-apa kok. Tapi lain kali pelan sedikit, aku belum sesehat itu untuk melayani kegilaan mas." sungut jelita.


Evan menarik bapas lega. "Iya, iya maaf sayang aku kelepasan. Tapi itu salah mu sayang."


Jelita terkekeh lalu mengecup Evan. "Cuma candaan saja mampu memprovokasi suamiku ini. Ini berbahaya."


"Kalau tau berbahaya berhenti melakukannya." sungut Evan manja. Jelita terbahak lalu membelai wajah Evan penuh kasih sayang.

__ADS_1


To be continuous


__ADS_2