Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Pert 65


__ADS_3

Angin berhembus sepoi-sepoi membalut tubuh Sella yang bergeming ditempatnya sedari tadi. Dia sedang di balkon apartemennya saat ini.


Dia sedang bimbang saat ini. Hasil penyelidikannya sama sekali tak menemukan perselingkuhan Jaka. Ucapan Jaka bahwa dia adalah satu-satunya wanita di hatinya nyatanya benar.


Tapi ada yang berubah pada kepribadian Jaka. Kalu boleh memilih dia akan memilih Jaka yang bersahaja seperti dulu. Sikapnya yang ramah dan hangat sangat Sella sukai.


Berbeda dengan sikap Jaka yang sekarang. Lebih tegas dan sedikit kaku tidak ada kehangatan pada sikapnya seperti dulu.


Uang dan kekuasaan benar-benar merubah seseorang dengan begitu cepat.


Dering ponsel Sella membuyarkan lamunanya. Nama Teo kakak laki-lakinya tertera di layar ponselnya.


"Halo kak."


"Sella kau dimana?"


"Di rumah."


"Besok aku ada pertemuan penting dengan pimpinan prusahaan dari kota B. Dia pria lajang yang sangat kompeten. Bahkan dia lumayan terkenal di luar negri..."


"Lalu?" potong Sella tak sabar.


"Berkencanlah dengannya besok saat makan siang."


Sella termangu di tempatnya. "Siapa dia?" tanya Sella ingin tau.


"Jaka Suhendra. Aku menyukainya dia pria yang baik," sahut Teo penuh percaya diri. Bahu Sella langsung lemas, secepat ini Jaka bergerak di belakangnya tak sabar mencari dukungan keluarganya. Sementara dia masih bimbang dengan hatinya.


Sella mendesah berat. "Baiklah besok aku akan temui dia. Pastikan lelaki itu sesuai dengan ucapan kakak."


"Tentu saja,"Jawab Teo penuh semangat. Teo menyukai orang pintar juga gigih, baginya kedua modal itu cukup untuk menjadi sukses.


Siang harinya Sella memenuhi keinginan Teo memenuhi janji kencan dengan Jaka. Dengan berdandan dengan memakai sedikit riasan Sella datang ketempat yang sudah di janjikan.


Jaka memesan sebuah ruang pribadi di restouran bintang lima di kota A ini. Saat melihat Sella masuk ruangan senyum Jaka mengembang sempurna.


Sella duduk didepannya dengan sikap dingin dan angkuh, menatap Jaka dengan penuh amarah.


Melihat sikap Sella, Jaka hanya mengulum senyum. "Pesanlah." Ujarnya sembari menyodorkan buku menu pada Sella.


Sella menatap buku menu, lalu memesan menu yang paling mahal di tempat ini dengan santai.

__ADS_1


"Hanya itu?" tanya Jaka dengan kerutan dikeningnya. Sorot matanya jelas terlihat mengejek Sella bahwa memesan hidangan mahal di tempat ini, tak kan membuatnya bangkrut.


"Cih!" cebik Sella kesal. Dengan wajah masam dia menatap Jaka. Jaka terkekeh sembari mengulurkan tangannya ingin menyentuh kepala Sella tapi Sella menarik tubuhnya menghindari sentuhan Jaka.


"Masih marah?" Tanyanya sembari menatap lembut wajah Sella.


"Menurutmu?" Sella balik bertanya.


Wajah Jaka berubah serius. "Maaf." Ucapnya sembari menatap lekat manik hitam legam milik Sella. Sella hanya diam, hatinya bergejolak tak menentu. Batinnya berperang menekan rasa rindu yang tiba-tiba muncul kepermukaan.


Kelembutan ini, aroma ini, Sella sungguh merindukannya setengah mati.


Tatapan lekat Jaka yang tak lepas dari wajah Sella membuatnya gugup. Kepercayaan diri dan keangkuhan yang dia bangun dengan susah payah kini runtuh sudah. Beruntung pelayan datang menyelamatkannya dari rasa gugup yang menyiksa.


"Makanlah, kau perlu banyak tenaga untuk membahas masalah kita," ujar Jaka masih dengan tatapan lekatnya.


Sella tak menyahut, dia mulai mencicipi hidangan dipiringnya dengan tenang. Mereka menikmati makan malam dengan suasana hening. Baik Sella maupun Jaka tak ada yang buka suara, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Setelah selesai makan Sella masih menunggu Jaka untuk bicara. Tapi Jaka hanya menatapnya tanpa bicara.


"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku akan pulang sekarang," ujar Sella sembari bersiap. Jaka masih diam sembari menatap Sella yang sudah beranjak bangkit.


Saat Sella keluar ruangan Jaka mengikuti langkahnya, menautkan jemari kokohnya disela-sela jari mungil Sella lalu mensejajari langkahnya dari samping.


"Kau gila!" pekik Sella tertahan, netranya bergulir kesekitarnya, ternyata pandangan pengunjung sudah tertuju kearah mereka.


"Ayo pergi," ucap Jaka dengan senyum kemenangan. Sella terpakasa mengalah mengikuti langkah Jaka keluar restauran.


"Berikan kunci mobilmu pada supirku." titah Jaka begitu sudah di tempat parkir. Sella membuka tasnya mengambil kunci lalu menyerakan pada Jaka.


Jaka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melirik Sella ditengah focusnya mengemudi mobil.


"Kau mau bawa aku kemana?" tanya Sella saat menyadari jalan yang mereka tempuh bukanlah jalan pulang ke apartemennya.


"Kerumahku." sahutnya santai.


"K-kerumah mu?" tanya Sella gugup. Sudah setua ini dia belum pernah berkunjung kerumah pria. Jaka bukan orang pertama jadi pacarnya, tapi dengan Jakalah dia berhubungan sangat dekat. Tapi tetap saja mereka belum sejauh itu dalam berhubungan. Jaka pernah mencumbunya dengan sangat panas, tapi tetap tak melewati batas. Jaka lelaki yang memiliki pengendalian diri yang cukup bagus.


Jaka tersenyum melihat kegugupan Sella. "Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu disana nanti."


"Apa?"

__ADS_1


"Ini kejutan sayang, kalau aku memberitahumu sekarang itu namanya bukan kejutan." sahutnya dengan suara lembut.


Sekilas Sella menatap Jaka, hatinya semakin tak menentu menghadapi sikap Jaka yang begitu hangat.


Jaka membelokkan mobilnya kesebuah rumah berpagar tinggi, menunggu sesaat sebelum security membukakan pintu pagar.


Jaka mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Sella lalu menggandeng tangannya turun dari mobil.


Manik hitam Sella meneliti seluruh bangunan mewah bertingkat dua didepannya. Sepertinya rumah ini baru selesai di renovasi, sebab disebagian titik tertentu terlihat masih dalam tahap pengerjaan.


"Ini rumah siapa?" tanya Sella penasaran saat Jaka menyeret langkahnya masuk kedalam rumah.


Jaka menghentikan langkahnya, dengan senyum dia menatap Sella. "Rumah kita. lihatlah kedalam." Sahutnya lembut, lalu menarik tangan Sella masuk kedalam.


Rumah ini masih kosong, belum ada prabot yang melengkapi. Satu-satunya yang ada ditengah ruangan adalah satu set sofa berwarna coklat tua.


Sella berdiri sembari menggulir pandangan keseluruh ruangan. Sella mengenali sebagian ornamen di rumah ini adalah impiannya saat punya rumah sendiri.


Tatapannya terpatri pada tangga menuju tingkat dua, ini juga impiannya. Perlahan Sella beralih menatap Jaka, pria itu tersenyum sembari mengangguk pelan.


Sella hampir menangis, Jaka benar-benar memberinya rumah sesuai impiannya.


"Kau suka?" tanya Jaka sembari mendekat. Sella mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


"Ini semua untukmu, aku tak pernah berbohong tentang janjiku padamu," bisiknya dengan suara pelan. Sella bisa melihat Jakanya yang dulu pada tatapan kekasihnya itu, Jakanya sudah kembali.


"Aku percaya," lirih Sella. Jaka mengangguk senang lalu merengkuh tubuh Sella penuh cinta. Sekuat apapun ambisinya terhadap kesuksesan masih belum mampu mengalahkan kekuatan cintanya pada Sella.


"Setelah rumah ini selesai aku akan melamarmu, lalu menikahimu," bisik Jaka, terdengar begitu merdu ditelinga Sella.


"Kau setuju sayang?"


"Hemmm."


"Maaf membuatmu menangis karena sikapku."


"Aku sudah memaafkanmu."


"Terimakasih," ucap Jaka lirih. Perlahan dia meraih tengkuk Sella mendekatkan wajahnya lalu melabuhkan ciuman hangat di bibir Sella yang ranum.


Jaka harus mengucapkan terimakasih pada Evan. Dia adalah guru terbaik dalam memperlakukan wanita. Dari Evan dia tau bahwa wanita bukan hanya butuh materi tapi dia juga butuh perhatian dan sikap hangat pasangannya. Wanita sangat mudah tersanjung walau hanya dengan perhatian kecil sekalipun.

__ADS_1


Dari Evanlah dia tau bahwa sikapnya terhadap Sella salah besar. Membuat Sella seakan tak mengenali sosoknya sebagai kekasih dia terlihat asing dan terasa sangat jauh.


To be continuous


__ADS_2