
Evan menatap data dimejanya dengan senyum tipis. Seseorang coba menyusupkan mata-mata masuk kedalam perusahaannya.
"Bagaimana tuan, apa kita bereskan segera?" tanya lelaki muda itu dengan ekspresi serius.
Senyum Evan mengembang, lalu menggeleng tegas. "Susah payah dia berusaha masuk. Kenapa tidak memberinya jalan. Terima dia, tempatkan disisiku. Aku ingin lihat kemampuannya. Memiliki keberanian sebesar ini, bukankah sudah memiliki banyak bekal untuk melawanku." ujar Evan dengan ekspresi datar.
"Baiklah tuan. Aku akan atur sesuai keinginan tuan."
Evan menarik napas berat, meraih ponselnya lalu menghubungi Jelita.
"Siang sayang, sudah makan?" tanya Evan dengan suara lembut.
"Belum, ini lagi di kantin bareng Sella. Pesan bakso."
"Bakso?"
"Iya, gak selera makan nasi." sahut Jelita.
"Kenapa? Apa perut mu terasa mual sayang. Bukan kah saat di hotel kamu gak makan pil KB." ujar Evan antusias.
"Ck, apaan sih. Aku hanya gak selera aja makan nasih mas." sungut Jelita. Dia masih belum berani membahas anak saat ini. Jujur dia belum mau punya anak. Dan saat di hotel waktu itu dia benar-benar menyasal kelupaan bawa pil KB.
"Ooo kirain. Pulang kuliah ada rencana sayang?"
"Ada, kekantor kamu."
"Baiklah nanti di jemput supir ya, sudah cepatlah makan. mas matiin dulu telponnya."
"Iya mas."
Evan mengakhiri panggilan bersamaan dengan ketukan di pintu ruang kerjanya.
"Masuk." titah Evan dengan suara datar.
Saat pintu rerbuka dua orang masuk kedalam ruangan Evan. Yang satu adalah Anjas kepala HRD, yang satu lagi sepertinya orang yang baru direkrutnya untuk mengantikan posisi Kiara.
"Ada perlu apa pak Anjas datang kemari?"
"Ini memperkenalkan sekretaris baru bapak." ujar sembari menunjuk Wanita muda disebelahnya.
__ADS_1
"Kamu bawa datanya?" tanya Evan manik hitamnya menatap wanita itu lekat, kemudian beralih ke Anjas.
"Ada, ini pak."
"Baik bapak boleh."
"Baik pak."
Sepeninggal Anjas. Evan focus membaca data sekretaris barunya. Kini netranya tertuju pada sosok wanita muda yang berdiri tertunduk dihadapannya.
"Leni Marlina, usia duah puluh lima tahun. Pernah bekerja di perusahaan lain dibidang yang sama selama dua tahun. Apa alasanmu berhenti dari perusahaan yang lama?" tanya Evan dengan sorot mata tajam.
"Saya berhenti karena harus mengerus ibu saya yang sakit pak. Tapi sekarang ibu sudah tidak ada, saya memutuskan untuk melanjutkan mencari kerja lagi." sahut wanita berbibir sensual itu dengan sangat tenang. Sementara Evan terlihat manggut-manggut.
"Baiklah. Selamat bergabung diprusahaan ini. Pergilah keruanganmu, nanti pak Anjas akan memberi pengarahan padamu. Apa-apa saja tugasmu menjadi sekretaris saya."
"Baik pak terimakasih."
Evan menatap punggung leni hingga menghilang dibalik pintu. Merekrut Leni pasti akan menuai protes dari istrinya yang pencemburu. Apa lagi Leni terlihat begitu cantik dan menarik.
Tepat jam makan siang, Jelita datang kekantor Evan. Sementara Evan sedang bersama Leni di ruangannya sedang membahas pekerjaan.
Begitu masuk Jelita memilih duduk di samping suaminya yang menghadap ke Leni. Tatapannya masih melekat pada sosok didepanya. Sosok yang terlihat begitu mempesona. Bagaimana bisa mahluk seindah ini berada begitu dekat dengan suaminya.
"Leni dia nyonya prusahaan ini Jelita istriku. Sayang ini sekretaris baruku pengganti Kiara." jelas Evan memperkenalkan dua wanita ini.
"Nyonya selamat siang." sapa Leni dengan sopan. Jelita mengangguk sambil tersenyum. Dari mana suaminya mendapat wanita se-seksi ini untuk di jadikan sekretarisnya. Walau berpakaian sopan, tapi tetap saja tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh yang serba over kapasitas miliknya. Dada dan pinggul gadis ini melebihi ukuran normal, dia yakin suaminya menelan ludah melihat dua benda itu berkeliaran didepan matanya.
"Kita makan siang dimana sayang?" tanya Evan. membuyarkan lamunan Jelita.
"Terserah." sahut Jelita malas. Sembari menyandarkan kepalanya pada pundak Evan. Evan yang sedang focus pada layar monitor di depannya mengusap lembut kepala Jelita tanpa beralih pandang. Sikap itu sedikit mencuri perhatian Leni. Lelaki yang sedari tadi bersikap dingin padanya, berubah begitu hangat pada istrinya.
"Leni, kembalilah keruanganmu. Sore nanti kita ada pertemuan dengan kolegaku membahas kontrak. Jangan lupa kau siapkan datanya." ujar Evan dengan ekspresi datar.
"Baik pak. Saya permisi dulu." sahut Leni dengan sangat sopan. Melihat sikap leni ada perasaan lega di hati Jelita.
"Orangnya sudah tak terlihat kenapa masih menatapnya." ujar Evan sembari melamabaikan tangannya di depan wajah Jelita.
"Kalau suka yang Over, kenapa cari istri yang biasa aja," sungut Jelita sembari menatap kesal suaminya.
__ADS_1
"Over? Mananya yang Over?" tanya Evan sembari menyondong tubuhnya mendekat ke Jelita.
"Kamu gak lihat semua miliknya over kapasitas begitu." ucap Jelita sembari menyentuh dada dan pinggulnya.
"Lalu apa hubungannya denganku sayang. Yang over itu miliknya bukan milikmu. Gak bisa juga aku nikmati kan? Ngapain di urusin."
"Gak di urusin tapi dilihatin! Lelaki mana yang bisa melewatkan pandangannya demi dua benda itu." sungut Jelita.
"Hey dengar ya Jelita Sasongko. Setiap hari benda yang seperti itu jadi pemandanganku setiap hari. Jangankan yang tertutup seperti tadi. Yang lebih terbuka juga ada. Kalau melihat yang bukan milikmu bisa membuatku gairah. Harus berapa kali aku memintamu datang kekantorku untuk melepas hasratku. Yang bisa membuatku menelan ludah cuma punyamu, tidak yang lain. Paham sayang?" ujar Evan sembari membelai lembut rambut Jelita.
"Hanya milikku?"
"Tentu saja."
"Cih! Evan kau membuatku tersanjung. Tapi aku bukan anak SD yang percaya ucapan dusta mu. Udah ah! aku lapar." ujar Jelita sembari menyandarkan tubuhnya pada Evan.
"Mau makan dimana?"
"Cafe dekat kantor ajalah. Yang lebih dekat." usul Jelita. Dia juga lagi malas keluar, kalau bisa dia malah memilih makan di ruangan ini saja. Entah kenapa seharian ini dia malas gerak.
"Kamu kenapa sayang, kok gak semangat gitu? Karena masalah sekretarisku tadi?" tanya Evan dengan mimik khawatir.
"Bukanlah, gak tau males aja bawaannya." sahut Jelita sembari bergelayut manja dilengan Evan. Ada senyum tipis di bibir Evan melihat sikap manja istrinya. Dia menyukai sikap manja istrinya. Sikap yang mampu meredam lelahnya setelah memeras otak seharian.
"Apa aku kebanyaan ambil jatah ya sayang?" tanya Evan dengan ekspresi wajah bersalah.
"Bisa jadi. Mas kalau main suka kelewat batas." sungut Jelita. Walau kenyataannya, dialah yang kadang hilang kendali oleh sentuhan Evan.
"Baiklah sayang, lain kali aku akan berusaha mengendalikan diri. Tapi sebenarnya tidak benar sepenuhnya salahku. Sayanglah yang membuatku hilang kendali. Gak percaya?" tanya Evan? Dan Jelita spontan menggeleng.
"Bisa kita buktikan sekarang, biar lebih pasti," ujar Evan di barengi kerlingan nakal.
"Dasar me sum! Ayo makan." sentak Jelita sembari menarik lengan Evan beranjak bangkit. Evan terkekeh sembari mengikuti langkah kaki istrinya.
Evan membiarkan saja kelakuan Jelita yang begitu manja. Bergelatut dilengannya saat keluar dari ruang kerjanya. Tak perduli pada beberap pasang mata yang mencuri-curi pandang kearah mereka.
Tak terkecuali sepasang mata indah yang ikut menatap kemesraan mereka dengan tatapan penuh arti dengan maksud tersembunyi.
Kembali ucapan terimakasih othor berikan buat yang sudah baca dan kasih dukungan berupa apapun ituππππ₯° Tanpa dukungan para readers, apalah arti karya othor yang tak seberapa ini.π₯°
__ADS_1