
Jelita datang bersama Evan kekantornya. Pagi ini pertama kali dia masuk kerja sebagai asiten pribadi Evan.
Dengan stelan kantor berwarna marun sebatas lutut, serta sedikit polesan diwajahnya membuat Jelita terlihat berbeda pagi ini. Tampilan Jelita membuat Evan khawatir tapi dia tak ingin mematahkan semangat istrinya yang baru pertama kali masuk kerja.
Evan menyiapkan meja kerja diruangannya untuk Jelita, dia sengaja menaruh Jelita satu ruanggan dengannya sebab Jelita hanya mengurusi keperluan pribadinya serta mendampinginya dalam perjalanan bisnis. Sementara pekerjaan lain yang lumayan berat tetap di kerjakan asisten pribadinya.
"Sayang ada jadwal pertemuanku hari ini?" tanya Evan dari meja kerjanya sembari menatap istrinya. Jelita menatapnya sejenak lalu memeriksa jadwal Evan hari ini.
"Menjelang makan siang kita ada janji makan siang membahas perpanjangan kontrak proyek danau bulan. Lalu rapat di hotel Orion. Hanya itu." sahut Jelita dengan sangat formal. Membuat Evan termangu di kursinya, sikap ini membuat Jelita terlihat sangat berbeda dari biasanya. Sikap manjanya hilang entah kemana, dia bersikap layaknya asisten dengan bosnya.Terlihat enerjik dan menggairahkan tentunya.
Saat bekerja Jelita benar-benar focus pada pekerjaannya dia bahkan tak sekalipun melirik Evan. Sementara Evan berulang kali memandangnya, menikmati kecantikan istrinya yang tampil berbeda hari ini.
Tepat pukul sepuluh Evan kedatangan tamu rekan bisnisnya. Pria muda pewaris tunggal dari pemilik tambang di pulau D.
"Selamat datang saudara Arif, kenapa tidak memberitahuku kalau mau berkunjung. Kita bisa buat janji makan diluar," ujar Evan sembari menepuk pundak lelaki jangkung itu.
Arif tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Aku hanya mampir sebentar." sahutnya sembari melirik Jelita dimeja kerjanya. Sederhana dan cantik, benar-benar seleranya.
"Mari silahkan duduk." imbuhnya mepersilahkan Arif.
Arif duduk tepat menghadap meja kerja Jelita begitu juga Evan. Tak ayal dari tempatnya duduk mereka bisa melihat dengan jelas paha mulus Jelita. Sebab saat ini diamemakai rok span sebatas lutut.
"Asisten baru?" tanya Arif sembari terus menatap Jelita.
"Ehem! iya," sahut Evan dengan hati tak tenang.
"Je!" panggil Evan dengan suara lembut.
"Iya pak."
"Tolong lihat komputerku, aku sedang mengerjakan sesuatu kau bereskan ya."
"Baik pak."
Jelita beranjak bangkit berpindah kemeja kerja Evan dan mulai mengerjakan perintah suaminya dengan focus.
Sementara Evan bernapas lega, dia mengumpat dalam hati kenapa menempatkan meja kerja Jelita di posisi yang salah.
Kini posisi jelita berada disamping mereka tidak mungkinkan Arif akan menolehkan kepalanya bukankah akan terlihat canggung. Tapi sayangnya Arif melakukannya.
"Ehem!" Evan kembali berdehem mengalihkan perhatian Arif pada istrinya.
Arif berdecak kesal sembari berbisik. "Ck! kau pelit sekali. Kau tau? Dia tipe ku," ujar Arif dengan binar dimatanya.
__ADS_1
Evan hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar pengakuan Arif. "Jangan berani berpikir terlalu jauh, dia istriku," Jelas Evan dengan ekspresi dingin.
Arif ternganga, sedetik kemudian dia terbahak. "Kau bercanda?"
"Sayangnya tidak," tegas Evan dengan tatapan tajam.
Arif terdiam, sepertinya Evan serius dengan ucapannya. Sekali lagi dia memalingkan wajahnya menatap Jelita. "Jadi dia nyonya Evan?"
"Hemm."
"Sayang sekali, aku harus patah hati."
Evan mendengus kesal mendengar ucapan Arif, membuat Arif terkekeh. "Kau begitu protektif, tapi kenapa menempatkan dia disisimu. Apa tidak membuatmu pusing." ujar Arif berpendapat.
Itu benar, baru sehari saja dia sudah di bikin pusing. Awalnya dia berharap Jelita menjaganya dari rayuan wanita genit. Kenyataannya dialah yang menjaga Jelita dari lelaki genit.
"Aku bisa mengatasinya," sahut Evan. Bagaimanapun menempatkan Jelita disisinya adalah hal yang paling baik menurutnya.
Arif terkekeh. "Istrimu berbeda dari wanita lain, dia sangat istimewa. Jadi pastikan kau memegangnya erat." bisiknya sembari melirik Jelita.
"Kenapa malah membahas istriku, apa tujuanmu singgah?" ujar Evan mulai kesal.
"Haaa jangan marah," gelak Arif dia suka melihat Evan dibakar cemburu.
Tapi kemudian dia terlihat serius. "Aku ingin berinfestasi di proyek danau bulan."
Arif menghela napas dalam. "Banyak kenagan ibuku di pulau itu bersama ayahku. Aku ingin memberi kado special di hari ulang tahunnya tujuh bulan lagi." Jelas Arif dengan mata menerawang. Mengenang betapa harmonisnya ibu dan almarhum ayahnya.
"Baiklah akan aku pertimbangkan." sahut Evan.
"Terimakasih. Oh ya aku pamit dulu aku masih ada pertemuan lagi," ujar Arif sembari berdiri dari duduknya. Evan mengangguk mengiyakan.
Saat akan keluar dia berbalik menatap Jelita. "Apa aku tidak perlu pamit pada nyonya Evan?"
"Tidak perlu!" tegas Evan sembari memasang tampang garang.
Arif terkekeh. "Baiklah-baiklah." ucapnya sembari berlalu pergi.
Evan bernapas lega sembari menatap Jelita yang terlihat focus pada layar komputer di depannya.
Evan mendekati meja kerjanya, berdiri didepan Jelita lalu mencondongkan tubuhnya kearah Jelita. Jelita yang sedang focus pada komputer mengalihkan tatapannya pada Evan.
"Ada apa?" tanya Jelita.
__ADS_1
"Bagaiaman menurut mu sosok Arif?" tanya Evan dengan kilatan cemburu dimatanya.
Jelita mengerutkan keningnya sembari menatap suaminya. "Apa mas pikir aku masih sempat menilai lelaki lain, sementara ada lelaki super hebat disampingku." ujarnya pelan.
Evan terkekeh sembari menghampiri Jelita memeluk tubuh hangat itu dengan erat. "Kau pandai merayu sayang." bisiknya. Bersamaan dengan ketukan halus di ambang pintu.
Evan bedecak kesal padahal dia ingin melakukan lebih pada istrinya.
"Masuk!" titahnya.
Pintu terbuka wanita muda yang jadi sekretaris Evan masuk dengan berkas ditangannya.
"Ini berkas yang harus bapak tandatangi." ujarnya sembari meletakkan berkas diatas meja kerja Evan. Netranya sekilas melirik Jelita yang juga sefang menatap kearahnya.
"Baiklah, kau bisa kembali keruanganmu. Aku beritahu kalau sudah selesai aku tandatangi." titah Evan.
"Baik pak." wanita muda itu keluar ruangan dengan perasaan iri pada Jelita. Setelah sekian lama bekerja di dekat Evan dia mulai tertarik pada sosok tak tersentuh bosnya itu. Tapi sayang asisten pribadi bosnya seperti sengaja menghalangi jalannya. Kini malah ibu bos ikut andil dalam pekerjaan, bagaiamana dia bisa mewujudkan impiannya? Itu jelas mustahil, bosnya bahkan tak pernah menatapnya lebih dari tiga detik.
Evan memang selalu membatasi intraksinya dengan lawan jenis dan itu bukan rahasia lagi. Dia tak pernah memberi ruang sedikitpun pada lawan jenisnya untuk mendekat. Sikap yang membuat iri para wanita terhadap nyonya Evan. Sungguh sangat beruntung menjadi nyonya Evan.
Sementara diruangannya Evan tengah mencumbui istrinya dengan napas terengah. Dia tak bisa menahan hasratnya walau hanya sekedar memberikan cumbuan ringan.
Evan melepas rengkuhannya takut tak mampu menahan diri. Sementara pekerjaannya menumpuk mengejar deatline.
"Masih pagi kau sudah mengodaku sayang." bisik Evan dengan mata masih berkabut.
"Omong kosong! Aku bahkan tak melakukan apapun." sungut Jelita.
"Benarkah? Tapi kenapa aku begitu bergairah melihatmu?"
"Dasar Mesum," cebik Jelita sembari mendorong tubuh Evan dan bergegas ke meja kerjanya.
Evan terkekekeh, beberapa detik kemudian dia menghubungi OB agar datang keruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya pemuda yang bekerja sebagai OB.
"Tolong pindahkan meja itu kesudut sini." titahnya sembari menujung meja Jelita dan tempat baru yang untuk meja kerja Jelita.
"Baik pak."
Jelita berdiri sembari menatap heran suaminya. "Kok pindah mas?"
Evan menatapnya sembari menghela napas. "Aku tidak suka melihat tamuku memandangimu dengan leluasa. Takutnya aku tak bisa menahan diri untuk mencongkel bola matanya." sahut Evan acuh. Jelita ternganga, aneh.
__ADS_1
Sementara OB menggeser meja dengan perasaan begidik ngeri, untung saja dia tadi tidak menatap ibuk bosnya, kalau tidak mungkin matanyalah yang akan di congkel oleh bosnya.
To be continuous.