
Sella lembur malam ini, proyek baru yang dia tangani membuatnya sibuk beberapa minggu ini. Sudah pukul sepuluh malam kakak lelakinya bahkan sudah pulang satu jam lalu, dikantor hanya tinggal beberapa orang saja dari devisi keuangan.
Focusnya pecah saat ponselnya berdering, layar poselnya memperlihatkan nama Jaka. Sella mendesah berat, menutup matanya erat sementara jari mungilnya memijit pelipisnya yang berdenyut sakit.
Ada glenyar rindu menyusup hatinya saat mengucap namanya dalam hati, tapi egonya lebih besar ketimbang rindu yang bimbang.
Sella membuka matanya menelisik cahaya temaram di sekitarnya, saat langkah kaki terdengar didepannya. Ketukan langkah itu mengetarkan dadanya langkah itu milik Jaka.
Benar saja Jaka datang kearahnya dengan raut wajah kelam menatap kearahnya lekat. Bibir tipis pria tampan itu terkatup rapat, rahangnya mengras.
Sella melihat sorot mata penuh amarah itu dengan Jelas. Ini bukan panggilan pertama Jaka, seharian ini entah sudah berapa kali lelaki itu menghubungi ponselnya dan Sella mengabaikannya.
Sejak pertemuan mereka semalam Sella tak lagi membalas pesan atau panggilan suara dari Jaka.
"Sudah larut, simpan berkasmu biar aku antar kau pulang." ucapnya dengan suara dalam.
Tanpa menyahut Sella mengikuti ucapan Jaka, dia mulai membereskan semuah berkas yang bersekan di meja kerjanya.
"Sudah," lirih Sella sembari melangkah keluar ruangan melewati Jaka tanpa melihatnya sama sekali.
Jaka menatapnya geram. Dengan gerakan cepat dia menghentikan langkah Sella dengan mencekal lengannya menahan langkahnya. Menatap mata Sella lekat lekat.
"Aku sudah pulang tapi inikah sambutanmu?" tanya Jaka meradang.
Jemari Sella mengepal erat berusaha mengendalikan gejolak rasa di dadanya. Dia ingin memeluk Jaka melabuhkan tubuhnya ketubuh kekar kekasihnya, merasai aroma lembut yang lama tidak bisa dia nikmati.
Tapi tindakan Jaka yang tidak mengabari kepulangannya padahal sudah tiga bulan dia disini membuat Sella kecewa dan curiga, masihkah sepenting dulu dirinya dihati Jaka.
"Aku sibuk, kau tau aku bukan bos yang bisa melimpahkan tugas pada sekretaris atau asisten pribadinya," sahut Sella sembari mengalihkan pandangannya.
Tapi dengan gerakan cepat Jaka menyentuh dagu runcing Sella mengarahkan wajahnya kembali kearahnya.
"Jangan menghindariku!" geram Jaka. Dadanya rasanya mau meledak kerena amarah, diabaikan Sella mbuatnya gila seharian ini. Sementara Sella hanya menatapnya sembari tetap diam.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa menghindariku? Kau tau aku hampir gila seharian memikirkan ulahmu!" Sentak Jaka sembari mengguncang bahu Sella.
"Jangan memarahiku Jaka. Yang kau lakukan bukankah lebih parah? Aku mengabaikanmu sehari sementara kau? Aku tak bisa menghitung entah berapa lama aku kau abikan. Aku mengirimu pesan pagi hari, kau baru membalasnya menjelang malam. Aku tak pernah mengeluh tentang itu selama bertahun. Tapi kau sudah pulang selama tiga bulan tak mengabariku itu membuatku berpikir, siapa aku dihatimu? Aku yakin aku bukanlah orang yang penting dihatimu Jaka!" balas Sella dengan berapi-api matanya terlihat berkaca-kaca kini.
Jaka terdiam. Apa yang di ucapkan Sella sebagian benar, kenapa dia selalu terlambat membalas pesan Sella itu karna dia tak pernah membawa ponselnya yang ada nomor Sella saat bekerja. Dia hanya membawa ponsel yang berisi nomor rekan bisnisnya. Baru setelah pulang kerja dia akan memeriksa pesan Sella lalu membalasnya.
"Aku mengakui kalau aku jarang menghubungimu, tapi itu murni karna pekerjaanku bukan hal lain. Dan bohong kalau kau tidak penting dihatiku. Sella tempatmu di hatiku terpalah yang istimewa." lirih Jaka.
Dia sadari banyak perubahan yang terjadi pada dirinya selama diluar negri. Jabatan tinggi yang diberikan Evan padanya merubahnya menjadi pria yang gila kerja. Awalnya dia ingin sukses demi Sella tapi sedikit demi sedikit mindset hidupnya pun berubah. Di kepalanya hanya ada ambisi, membuatnya lebih mementingkan pekerjaan ketimbang Sella. Tapi dia tidak bohong Sella wanita satu-satunya yang ada dihatinya.
"Kau tau Jaka, kau terlihat berbeda di mataku. Aku tak mengenalimu, kau bukan Jakaku yang ku suka dahulu." lirih Sella dan mulai menangissesegukan.
Jaka terpaku di tempatnya, hatinya sakit benar benar sakit saat melihat luka dimata Sella. Ini bukan tujuannya pergi dan membuat Sella terluka. Dia pergi demi memperjuangkan cintanya dan ingin menjadi lelaki yang dianggap pantas berada disamping Sella.
"Maaf sayang, aku sama sekali tak berniat melukaimu. Aku benar-benar masih mencintaimu. Tidak ada wanita lain di hatiku selain kamu." ujar Jaka sembari menggenggam jemari Sella erat.
"Aku akui aku sedikit tamak belakangan ini. Mungkin ini yang membuatku menomor duakan urusan asamara denganmu. Tapi percayalah kau masih satu-satunya wanita di hatiku," imbuh Jaka dengan suara rendah.
Perlahan Jaka meraih tubuh Sella kedalam pelukannya, melabuhkan ciuman-ciuman lembut di puncak kepala Sella.
"Maaf sayang." bisiknya penuh penyesalan. Sella tetap diam meringkuk dalam pelukan Jaka.
"Sudah malam, biar aku antau kau pulang," ujar Jaka, Sella hanya mengangguk pelan.
Sella mengiringi langkah Jaka meninggalkan kantor, untung saja pegawai sudah pulang kalau tidak mereka bisa melihat wajah Sella yang sembab dan berlinang air mata.
***
Ruang bermain Alena malam ini terdengar riuh oleh suara Alena dan Evan. Alena sedang naik di punggung Evan yang sedang merangkak.Tawa bahagia Alena memenuhi ruangan. Wajahnya terlihat begitu riang dan sangat senang.
Sementara duduk di bangku tak jauh dari mereka. Memperhatikan keduanya dengan hati berbunga. Alena tumbuh sangat cantik dan lebih dominan keayahnya.
Bicaranya juga sudah lancar dan tidak cadel. Dia juga memiliki kecerdasan papanya, itu membuat Jelita merasa lega.
__ADS_1
Setelah bermain cukup lama Evan membawa putrinya istrahat dikamar. Setelah membersihakan diri diapun beranjak tidur.
Evan menatap wajah polos yang tengah terlelap diatas ranjang karakter berwarna pink, warna favorit Alena itu dengan perasaan bahagia. Putrinya tumbuh dengan sangat sempurna dan memiliki kecerdasan diatas rata-rata.
Kini pandangannya beralih pada Jelita di sampingnya. "Dia sudah tidur sayang, kini giliran kamu," bisik Evan dengan mimik manja.
"Ihh maunya," cebik Jelita malu malau walau hatinya juga mau.
"Ayo, biarkan dia istrahat," ujar Evan sembari meraih tubuh Jelita membawanya berdiri.
"Ayo."
Evan terkekeh pelan, lalu menggendong tubuh langsing Jelita kekamar mereka. Melewati beberapa pelayan yang pura-pura tak melihat mereka.
Dengan gerakan lembut Evan membaringkan tubuh Jelita diatas ranjang. Tubuh Jelita masih terlihat begitu seksi dan menggoda walau sudah memiliki Alena. Dia sungguh pintar menjaga bentuk tubuhnya pasca melahirkan. Walau Evan tak pernah menuntut hal itu.
Dia tak mau menunda keinginannya terlalu lama. Dengan gerakan lembut Evan mencumbui Jelita dibawahnya. Aroma lembut dari tubuh Jelita membuat Evan semakin berhasrat.
Tak butuh waktu lama keduanya sudah polos bak bayi baru lahir, bergulat dibawah cahaya temaram dengan desah dan rintih penuh nikmat.
Merasai keindahan tubuh pasangan halalnya, mereguk kenikmatan tiada tara yang membuat hasratnya seakan tak pernah habis.
Kemudian terkulai tak beradaya setelah melepas lahar kenikmatan dengan bermandi keringat.
"Kau semakin nikmat sayang," bisik Evan yang merasa terpuaskan oleh permaian Jelita. Evan akui Jelita semakin lihai diatas ranjang. Kadang dia berperan lembut dan malu-malu tapi kadang dia bermain penuh hasrat dan sangat ganas mendominasi permaian mengalahkan Evan hingga terkapar tak berdaya.
"Hemm." dia hanya mampu bergumam.
Evan tersenyum lalu merengkuh tubuh Jelita. Lalu menggendongnya kekamar mandi membersihkan diri. Lalu terlelap hingga pagi.
To be continuous.
Makasih banyak buat pecinta setia Evan yang masih bertahan walau jarang up, maklum kerjaan emak seambrek 🤭😂🥰🙏
__ADS_1