Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 52


__ADS_3

Evan kalang kabut menyusuli langkah Jelita yang melaju tak menghiraukan Evan. Dia tak perduli dengan tatapan heran pegawainya. Dia yakin mereka bisa menduga kalau Jelita sedang marah padanya.


"Sayang pelankan langkahmu. Ingat ada bayi diperutmu," bisik Evan, begitu mampu menyusul langkah Jelita. Mendengar itu langkah Jelita melambat. Tapi ekspresi wajahnya tetap tak berubah, masih datar dan dingin.


Sikap diam Jelita masih berlanjut hingga mereka sampai ke rumah sakit. Saat di periksa, Jelita belum mengalami pembukaan satu pintu pun. Walau sudah mengeluarkan tanda tanda akan melahirkan. Menurut perkiraan Dokter, satu atau dua hari lagi Jelita melahirkan.


Berita ini membuat keduanya gembira juga cemas. Evan ingin meluapkan kebahagiaannya pada Jelita, tapi sayangnya istrinya masih marah dan tak memperlihatkan ekspresi apapun saat Dokter memberitahukan kabar ini. Evan cemas, kali ini Jelita benar-benar marah dan tak mudah di bujuk.


Selesai dari rumah sakit, Evan terpaksa membawa Jelita kemarkas, ada hal penting yang harus dia bahas disana. Meninggalkan Jelita saat sedang marah membuat Evan tak tenang. Dia memilih membawanya sembari pelan-pelan membujuknya.


"Ikut aku ke markas ya sayang," ujar Evan begitu mobil melaju meninggalkan rumah sakit.


"Terserah," sahut Jelita tanpa melihat Evan. Jelita membuang tatapannya keluar Jendela, mengabaikan Evan yang terus menatapnya tak berkedip.


Evan meraih jemarinya dengan lembut, tapi Jelita langsung menariknya kembali. Tapi bukan Evan orangnya kalau dia berhenti melakukannya. Dia kembali meraih jemari Jelita menggenggamnya erat. Jelita berusaha melepas genggaman Evan, tapi sia-sia, tenaga Evan lebih besar darinya.


Dengan wajah kesal dan sorot mata penuh amarah Jelita berpaling menatap Evan. Evan tersenyum senang, akhirnya Jelita menatap kearahnya walau dengan perasaan marah. Tapi hanya hitungan detik Jelita sudah kembali memalingkan wajahnya menatap luar Jendela. Senyum Evan menghilang seketika.


Mobil berhenti di halaman Mansion yang menjadi basis kekuatan Evan. Tepat saat Jelita dan Evan melangkah masuk, mereka berpapasan dengan Jaka mantan supir Jelita. Melihat sosok Jaka di depannya Jelita menghenyikan langkahnya menyapa Jaka.


"Kamu?" sapa Jelita dengan wajah berubah sumringah. Jaka juga menghentikan langkahnya, lalu membungkukkan sedikit tubuhnya pada Jelita. "Selamat siang nyonya." ucapnya penuh hormat.


"Ohh sukurlah kamu pindah disini. Aku kira kamu dipecat," ujar Jelita, sembari melirik Evan dengan sudut matanya, lirikan sinis yang membuat Evan menciut. Evan yang ikut berhenti tak jauh dari mereka, balas menatap Jelita dengan tatapan tak senang.


"Iya, tuan memindahkan saya kesini nyonya."


"Baguslah, aku senang masih bisa melihatmu lagi." ucap Jelita dengan mata berbinar menatap Jaka. Bola mata Evan membulat, rahangnya mengeras. Ingin rasanya dia menghajar Jaka yang berani membalas tatapan Jelita dengan senyum menggoda.


"Sayang, jamgan ganggu Jaka. Dia punya banyak pekerjaan," ujar Evan sembari meraih jemari istrinya, memaksa langkah Jelita meninggalkan sosok Jaka yang juga berlalu dari tempat itu.


Evan tau Jelita membalasnya. Membalas sikapnya tadi terhadap Arimbi. Tapi tetap saja hatinya panas terbakar cemburu. Cemburu pada binar dimata Jelita saat menatap Jaka. Binar yang hanya boleh ditujukan untuknya bukan orang lain. Tiba-tiba perasaan ini membuatnya sadar akan kesalahannya.


Evan menghentikan kegiatannya, dia kini beralih menatap Jelita yang terlihat tertidur pulas. Dari mereka masuk keruang kerja Evan, tak sekalipun Jelita menanggapi ucapan Evan. Dia memilih tiduran di sofa sembari berselancar di duni maya.


Evan beranjak bangkit, lalu mendekat ke Jelita. Duduk disampingnya, sembari mengusap lembut wajah istrinya yang tertidur pulas. Menatap wajah tenang itu penuh kasih sayang. "Jangan diamkan aku sayang," bisik Evan sembari mengecup lembut pipi cabi istrinya. Mendapat sentuhan dari Evan tubuh Jelita mengeliat pelan. Merubah arah tidurnya miring kearah Evan. Lalu tanpa sadar jemarinya memeluk paha Evan di sebelahnya.


Evan tertawa pelan, lalu membelai rambut hitam Jelita dengan gerakan lembut. Beberapa saat kemudian terdengar pintu ruang kerjanya di ketuk.


"Masuk."


Dari balik pintu tampak asisten pribadinya masuk sembari membawa berkas ditangannya.


"Tuan, orang kita sudah berkumpul di ruang rapat." ujarnya memberitahu. Hari ini memang ada hal penting yang harus disampaikan pada orangnya.


Evan menatap istrinya sekilas. "Katkan pada mereka untuk menungguku setengah jam lagi." titah Evan. Pria itu mengangguk patuh. "Baik tuan." Dia sudah sangat paham pada sikap Evan. Dia tak kan mengabaikan istrinya untuk urusan pekerjaan.


Tepat dua puluh menit kemudian Jelita pun terbangun. Menggeliat pelan sembari membuka matanya perlahan. Dia tampak kaget saat menyadari tangannya yang masih memeluk paha Evan.

__ADS_1


"Bangunlah, aku ada rapat." ucap Evan. Jemarinya membelai puncak kepala Jelita dengan lembut. Jelita tak mengelak, tidur membuat amarahnya sedikit mereda.


Evan membantu Jelita duduk, lalu beranjak bangkit mengambilkan segelas air putih untuk Jelita. Jelita meminum air pemberian Evan tanpa kata.


"Aku pergi rapat sebentar ya sayang. Kalau sayang bosan pergilah jalan di sekitar mansion."


"Pergilah." sahut Jelita acuh. Evan mendesah berat, Jelita masih kukuh dengan kemarahannya.


"Aku pergi sayang," pamit Evan sembari mengecup lembut kening Jelita. Jelita hanya mengangguk acuh.


Begitu Evan pergi, Jelita keluar ruang kerja Evan menuju taman belakang. Walau ini hanya markas bagi para pengawal pribadi dan para informan Evan, tapi tamannya terlihat sangat asri dipenuhi berbagai jenis bunga yang sedang mekar.


Puas berkeliling, Jelita mencari gazebo guna mengistrahatkan otot kakinya. Tak sengaja netranya menangkap sosok Jaka disalah satu gazebo. Jaka tak sendiri, dia tengah bersama dengan seekor kucing berbulu lebat berwarna abu gelap.


"Hay," sapa Jelita sembari berjalan mendekat. Tapi naas tak sengaja kaki Jelita menginjak ekor kucing Jaka. Refleks kucing menacapkan kukunya pada kaki yang menginjak kakinya.


"Auuuw!" pekik Jelita sembari mengangkat kakinya. Sementara kucing yang mengigit kakinya lari menjauh.


"Astaga nyonya! Kakimu luka!" seru Jaka panik.


"Duduk disini, aku akan mengambil obat didalam." ucapnya lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawaban Jelita. Tak berapa lama dia datang lagi dengan kotak obat ditangannya.


"Ulurkan kakimu nyonya," titah Jaka sembari jongkok didepan Jelita.


"Tidak usah, biar nanti aku obati sendiri saja." tolak Jelita, tak enak hati kakinya disentuh Jaka.


"Bangsat apa yang kau lakukan!" seru Evan, sembari menarik berdiri tubuh Jaka. Lalu melayangkan pukulan kewajah Jaka tanpa ampun. Jaka yang tak waspada tak dapat mengelak menghindari pukulan Evan. Tak ayal tubuhnya pun tumbang kebelakang menyentuh tanah.


Tak puas sampai disitu, dia kembali mendatangi Jaka. Memukul pria ituberulang kali. Bahkan pekik histris Jelita tak lagi di dengar Evan. Hatinya dipenuhi amarah saat ini, bahkan aura membunuh bisa dirasakan Jaka hingga tubuhnya meremang.


Keributan ini mengundang perhatian beberapa orangnya. Tapi tak ada yang berani melerai Evan. Barulah saat asisten pribadinya datang dia menahan tubuh Evan dan memberi kesempatan untuk Jaka menjelaskan duduk perkaranya.


"Apa yang terjadi jelaskan!" bentak asisten Evan pada Jaka.


"Tuan salah sangka, aku hanya mengobati kaki nyonya." terang jaka tepat disaat Evan kembali mengangankat tangannya kearah tubuh Jaka.


"Apa?!" Evan menarik pukulannya, dengan napas tersenggal dia beralih menatap kaki Jelita. Ada kotak obat yang tampak berserak dibawah kaki Jelita, lalu pandangannya tertuju dikaki Jelita, terlihat luka berdarah disana. Saat pandangannya tertuju pada Jelita yang mengigil, terisak ketakutan, amarahnya mendadak hilang.


"Apa yang terjadi?" tanya Evan sembari berjalan mendekati Jelita yang ketakutan.


"Tak sengaja nyonya menginjak ekor kucing tuan. Dan kucingnya melukai kaki nyonya." Jelas Jaka sembari menyeka darah di sudut bibirnya.


"Oh sial!" umpat Evan merutuki kebodohannya sendiri. Tanpa bertanya dia memukul Jaka. Melihat Jaka menyentuh kaki istrinya membuatnya kalap, saat itu yang ada dipikirannya adalah membunuh Jaka.


"Sayang maaf." Evan meraih tubuh lemas itu kedalam pelukannya. Jelita patuh, sesegukan dalam pelukan Evan. Dia tak berani buka mulut, walau sebenarnya dia juga marah atas tindakan Evan. Tapi melihat berapa emosinya Evan tadi, Jelita memilih diam. Dia tak menyangka Evan semarah ini.


"Jaka kau boleh pergi, obati lukamu. Maaf aku sudah salah paham padamu." ujar Evan.

__ADS_1


"Tidak apa tuan. Ini juga salahku, sudah lancang pada nyonya."


"Sudah pergilah."


"Baik tuan."


Evan mendekap erat tubuh Jelita yang masih terasa bergetar. Beribu sesal menghujani hatinya, satu hari ini dia telah melakukan dua kesalahan yang tak ringan.


"Maaf sayang." bisik Evan sembari terus menciumi puncak kepala Jelita.


"Harusnya aku bertanya dulu padamu. Tapi melihat Jaka menyentuh kakimu aku hilang kendali. Maaf sayang." bisik Evan lagi.


Jelita tak menyahut, dia mengeratkan pelukannya, isak tangisnya juga sudah reda.


Evan melepas pelukannya, menatap wajah sembab Jelita dengan penuh Sesal. "Maaf sayang," ucapnya lagi, sembari menyeka sisa air mata di sudut mata Jelita dengan punggung tangannya.


Jelita balas menatap lekat bola mata kelam Evan. "Mas banyak salah hari ini," ucap Jelita lirih.


"Maaf sayang." Evan menangkup wajah Jelita dengan kedua telapak tangannya, lalu memberikan kecuapn lembut dikening.


"Aku belum memaafkan salah mas yang pertama, mas malah melakukan kesalahan yang kedua."


"Sayang ingin aku melakuakan apa untuk mendapat maafmu?"


"Menurut mas?" Jelita balik nanya.


Evan mendesah berat. "Untuk Arimbi, aku akan memblokir aksesnya untuk menemuiku. Tapi untuk Jaka, dia juga salah sayang. Dia lancang berani menyentuh kakimu. Lukamu ini bukan situasi darurat, dia bisa meminta pelayan wanita melakukannya. Untuk hal ini aku merasa bukan sepenuhnya salahku." ujar Evan. Jelita diam terlihat menimbang ucapan Evan barusan. Soal Arimbi dia puas dengan keputusan Evan. Soal Jaka, Evan ada benarnya, dia juga andil dalam keributan ini. Andai dia tidak pasrah saja menerima kebaikan Jaka Evan pasti tidak murka. Evan benar, lukanya bukan hal darurat. Dia bisa minta pelayan wanita mengobatinya.


"Mas benar-benar mampu memblokir akses Arimbi? Dengannya mas bisa begitu terbuka." tanya Jelita sedikit ragu pada ucapan Evan.


"Kenapa tidak. Aku hanya menganggapnya seperti saudara perempuanku. Dari dulu hingga sekarang." jelas Evan.


"Dia cantik." gumam Jelita.


"Aku akui, aku mengagumi perubahannya. Tapi definisi kagum yang kumiliki berbeda dari yang ada dipikiranmu sayang." ujarnya sembari menyentuh pipi Jelita.


Jelita menatap suaminya, memindai setiap jengkal lekuk wajah tampan itu tak tersisa. Saat ini dia percaya ucapan Evan, dia bisa melihat kesungguhan disorot mata tajam itu.


"Baiklah aku memaafkan mu mas." ujar Jelita dengan suara pelan.


"Terimakasih sayangku," ucapnya sembari meraih tubuh Jelita kedalam pelukannya.


To be continuous


Hay readers nya Emak😘 🥰🥰


Jangan khawatir para readers tercinta Emak, babang Evan anti pelakor. Hatinya hanya milik jelita, tapi kalau kepeleset dikit wajarlah ya kan 🤭🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2