
Jelita memasang dasi Evan dengan perasaan tak menentu. Hari ini Evan akan menhadiri rapat direksi. Kisruh diperusahaan beberapa bulan ini membuat mereka terpaksa mengadakan rapat. Guna mempertanyakan kinerja Evan selama tuan Sasongko menyerahkan tampuk kepemimpinan padanya.
Evan menatap wajah istrinya sembari tersenyum tipis. Kekhawatiran terpancar jelas di bola mata Jelita. "Aku yang akan menghadiri rapat, kenapa sayang yang terlihat begitu gugup."
Jelita menengadah menatap wajah tenang Evan dengan seksama. Helaan napas terdengar dari bibir merahnya. Bagaimana tidak gugup, dia tau betul tujuan rapat ini dilaksanakan. Ada kepentingan segelintir orang di rapat dewan direksi kali ini. Kalau Evan bisa setenang ini, sungguh membuat Jelita heran. "Tentu saja aku gugup. Aku tau apa yang sedang menantimu di rapat itu. Tapi, aku percaya padamu sayang. Semangat ya." Evan tersenyum lalu mengangguk tegas.
"Tenang saja sayang, tidak akan terjadi apapun pada prusahaan papa, percayalah padaku," ujar Evan menenangkan hati Jelita.
"Aku bukan risaukan perusahaan." sungut Jelita.
"Lalu?"
"Tentu saja risaukan suamiku."
"Terimakasih, tapi aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku pergi dulu ya, atau sayang ikut aku kekantor? Bukankah hari ini sayang tidak ada jadwal kuliah." Jelita menggeleng, dia memilih dirumah. Menunggu kabar dari Evan.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Jangan berpikir macam-macam. Ingat ada bayi di sini yang harus sayang jaga." ujar Evan sembari menyentuh perut Jelita yang masih terlihat rata. Lalu memberi kecupan lembut dipuncak kepala Jelita.
"Aku pergi."
Jelita mengangguk sembari menatap kepergian Evan. Semoga dia benar-benar mampu mengatasi masalah ini.
*****
Ruang rapat sudah di penuhi oleh petinggi perusahaan.Semua dewan direksi tampak hadir, juga tuan Sasongko.
Evan menatap satu persatu wajah-wajah peserta rapat. Dari ekspresi mereka Evan dapat melihat siapa-siapa saja orang yang tidak menyukai keberadaannya.
"Baiklah karena peserta rapat sudah hadir, mari kita buka agenda rapat hari ini." ujar Sasongko membuka percakapan.
__ADS_1
"Selamat pagi bapak-bapak peserta rapat, tuan Sasongko juga saudara Evan yang menjadi topik pembahasan rapat kita kali ini." pria itu menjeda sesaat ucapannya, netranya menatap Evan dan Sasongko bergantian. Tampak Sasongko mengisyaratkan dengan tangannya agar pria itu melanjutkan ucapannya.
"Selama beberapa bulan ini, prusahaan kita mengalami kegagalan dalam memenangkan tender. Juga beberapa insident plagiat pada produk baru prusahaan yang membuat anjloknya harga saham dipasaran. Dan dampaknya pada perusahaan sangatlah besar, perusahaan merugi terpaksa harus kehilangan beberapa persen saham. Kejadian ini tentu saja menjadi tanggung jawab dari wakil pimpinan yang dijabat oleh saudara Evan. Dan rapat kali ini kami sekaligus ingin mempertanyakan kinerja saudara Evan. Apakah dia masih layak menjabat sebagai wakil pimpinan setelah apa yang dia lakukan terhadap perusahaan." Jelas pria itu panjang lebar. Kasak kusuk langsung terdengar pada peserta rapat.
Evan masih diam, begitu juga Sasongko. Dia masih mendengarkan aduan dari pemegang saham pada dewan direksi.
"Kami tidak bisa memutuskan begitu saja sebelum mendengar pembelaan dari saudara Evan. Saya kira kita harus mendengar penjelasan dari saudara Evan dulu. Saya sendiri sangat percaya dengan beliau, mengingat kinerjanya selama ini." Lelaki paruh baya itu menatap kearah Evan. Evan menganggukkan sesikit kepalanya sembari menebar senyum. Lelaki itu mengisyaratkan pada Evan agar bicara.
Evan menarik napas dalam sembari menatap satu-persatu peserta rapat sebelum dia bicara. "Selamat pagi pada seluruh peserta rapat pagi ini. Sebelumnya saya minta maaf atas segala kisruh yang terjadi diperusahaan belakangan ini. Dan saya mengakui ini murni tanggung jawab saya. Saya tidak mengelak." Evan menjeda ucapannya sejenak.
"Sebenarnya kegagalan tender dan kasus plagiat bukan karena kinerja perusahaan yang begitu buruk. Ini semua ulah dari segelintir orang yang ingin menjatuhkan saya. Ada penghianat yang sengaja disusupkan ditubuh perusahaan. Saya sengaja membiarkan mereka masuk untuk memberi mereka pelajaran."
"Karena kepentinganmu, perusahaan merugi. Apa masih harus dipertanyakan layak tidaknya saudara menduduki kursi pimpinan." potong salah satu pemegang saham.
"Bahkan harus kehilangan beberapa saham prusahaan. Oh ya bukankah harusnya pemilik saham yang baru, hadir juga mengikuti rapat ini." timpal lelaki itu lagi. Tepat setelah itu pintu ruang rapat terbuka seorang lelaki muda masuk dengan begitu arogan.
"Maaf terlambat, perkenalkan aku Daren pemilik duapuluh persen saham prusahaan ini." Daren memperkenalkan diri dengan gaya angkuhnya. Lalu menempat tubuh kekarnya pada kursi kosong tepat di depan Evan.
"Sebagai pemilik dua puluh persen saham perusahaan. Saya harus mempertanyakan kinerja saudara Evan pada perusahaan ini. Saya kira beberapa kasus diperusahaan bisa membuka mata kita dia layak atau tidak." ujar Darel yang langsung unjuk gigi.
Evan menatap sinis wajah arogan Darel. "Saudara Darel. Anda terlalu percaya diri mengatakan semua itu. Aku peringatkan padamu, orang terlalu serakah biasanya malah akan kehilangan segalanya." ujar Evan Lalu terlihat dia menelpon seseorang. "Masuk!" titahnya melalui panggilan suara pada seseorang di ujung telpon.
Lelaki muda berusia duapuluh limaan masuk dengan membawa beberapa berkas ditangannya.
"Perlihatkan pada mereka apa yang bawa." Titah Evan dengan tegas. Perubahaan aura Evan membuat beberapa orang merinding.
Semua mata terpaku pada layar monitor, data yang tertera disana memperlihatkan bukti penghiantan orang dalam perusahaan. Diantaranya ada beberapa petinggi perusahaan. Merekalah dalang dari bocornya data prusahaan kepihak luar.
"Saya rasa bukti ini cukup untuk menjatuhkan sangsi pada pihak terkait. Masalah ini saya serahkan pada dewan direksi untuk memutuskan." ujar Evan. Netranya menatap beberapa orang yang terlibat, keringat dingin jelas terlihat membasahi wajah pucat mereka. Begitu juga Leni, dia yang sedari tadi berdiri tegap kini terlihat limbung.
__ADS_1
"Saya kira rapat kali ini cukup sampai disini dulu. Kami dewan direksi akan mengadakan jejak pendapat sebelum memutuskan sangsi pada semua pihak terkait." ujar salah satu perwakilan dewan direksi. Keputusan itu diamini oleh yang lain.
Satu persatu peserta rapat meninggalkan ruang rapat. Kecuali Sasongko, Evan dan Darel. Evan meminta mereka untuk tinggal.
Evan menatap wajah Daren yang tak lagi Arogan. Wajahnya bahkan terlihat pucat pasih seakan tak berdarah. Daren baru saja menerima telpon dari perusahaan, partner bisnisnya Orion group memutus semua hubungan kerja dengan perusahaannya.
"Selamat kau sudah mendapatkan dua puluh pesen saham di prusahaan ini. Tapi sayang, kau harus membayar sangat mahal. Kehilangan kesempatan bekerja sama dengan Orion group itu sama saja dengan bunuh diri. Kau pasti tau itu." senyum sarkas terlihat menggiasi bibir Evan.
"Apa ini ulahmu?" tanya Daren dengan suara bergetar. Antara marah juga takut. Jika benar dugaannya, maka saat ini dia sudah tamat.
Evan terbahak, sembari beranjak bangkit. Dia berjalan mengitari Daren, lalu berdiri tepat dibelakangnya. Dengan menyentuh kedua bahu Daren, Evan membungkukkan tubuhnya. "Sampaikan salamku pada mereka yang membantumu bekerja keras. Satu persatu dari kalian akan mendapat jatah yang sama. Seperti apa yang kulakukan padamu. Mulai hari ini Orion group akan memasukkan perusahaanmu kedalam daftar hitam. Kau pasti tau apa akibatnya bagi prusahaanmu." ucapnya dengan begitu Arogan.
"Kau pemilik Orion group?" tebak Daren dengan tubuh gemetar.
"Begitulah. Harusnya kau selidiki dulu lawanmu sebelum menyerang. Tapi manusia serakah sepertimu tidak akan sempat berpikir sejauh itu. Dan satu lagi kau dengarlah penjelasan papa Sasongko." ujar Evan sembari beralih menatap Sasongko yang sedari tadi hanya diam.
Tampak Sasongko menarik napas dalam. "Daren, aku dan papamu tidak harus bermusuhan andai papamu tidak memiliki sipat serakah sepertimu. Sebelum kakekmu meninggal dia sudah nembuat surat wasiat atas semua aset pribadinya. Dia membagi hartanya dengan adil. Dua prusahaan besar miliknya dia berikan pada kami. Aku mengembangkan prusahaan menjadi lebih berkembang dengan kinerjaku. Sementara ayahmu mengalami kebangkrutan karena gaya hidupnya. Lalu datang ibumu, dia menolong ayahmu hingga bertahan sampai sekarang. Jadi tidak benar yang dikatakan ayahmu, kalau akau menggagahi aset kakekmu seorang diri. Kau mau percaya atau tidak itu terserah padamu. Aku sudah menyampaikan yang seharusnya kau ketahui." Jelas Sasongko sembari menatap lekat anak saudara kandungnya itu.
Dengan perasaan tak menentu Darel meninggalkan ruang rapat. Sementara Evan dan Sasongko juga melakukan hal yang sama. Meningalkan ruang rapat sembari berjalan beriringan.
"Kau akan menghukum mereka semua?" tanya Sasongko sembari menatap lekat wajah menatunya.
"Aku sudah pernah memberi mereka kesempatan. Tapi bukannya jera malah membuat mereka tak terkendali. Papa tau tingkat toleransiku sangat rendah untuk orang seperti mereka." sahut Evan.
Sasongko menarik napas dalam. Dia sudah melepas urusan perusahaan pada Evan sepenuhnya. Apapun keputusan Evan dia dukung sepenuhnya.
"Aku percaya segala yang kau lakukan susah melalui pertimbangan yang dalam. Jadi aku mendukung segala keputusanmu." ujar Sasongko sembari menepuk pundak menantunya.
"Terimakasih pa. Aku tidak akan mengecewakanmu aku janji."
__ADS_1
Rapat telah selesai. Semuanya berjalan sesuai keinginan Evan. Dan satu persatu dari mereka pasti akan menerima hukumannya. Dan yang pertama mendapat gilirannya adalah Darel.
To be continuous.