
Sepulang kuliah, Jelita tidak pulang kerumah. Dia meminta supir mengantarnya ke kantor suaminya. Dia rindu ingin memeluk tubuh kekar dan hangat milik Evan. Menghirup aroma tubuh yang
Mobil yang membawa Jelita berhenti tepat di pintu utama. Kebetulan Evan juga berada di depan pintu utama, sedang menunggu supir menjemputnya.
"Sayang, kau kesini?" tanya Evan sembari menghampiri Jelita.
"Aku bosan dirumah. Mas mau pergi kemana?" tanya Jelita. Melihat Evan bersiap hendak pergi.
"Aku ada janji makan siang dengan kolegaku, maaf aku tidak tau kalau sayang mau datang."
"Tidak apa. Aku menunggu di ruangan mas aja. Tuh mobil mas udah datang," sahut Jelita.
"Makan siang sayang bagaimana?"
"Aku sudah makan tadi di kampus." ujar Jelita sembari tersenyum.
"Baiklah, aku pergi dulu sayang. Aku usahakan cepat pulang." ucap Evan sembari memberi kecupan lembut di kening Jelita.
Setelah Evan pergi, Jelita beranjak menuju ruang kerja suaminya. Dengan menggunakan lift kusus dia naik keatas menuju ruang kerja suaminya.
Saat melewati kubikel-kubikel meja pegawai netranya mencari sosok Leni di tempannya.
"Permisi, bisa tolong sampaikan pada Leni untuk menemui saya di ruang pak Evan." ujar Jelita pada salah satu karyawan yang berada di sebelah meja kerja Leni.
"Maaf buk, Leni sudah di pecat bapak. Dan sekarang masih dikantor polisi menjalani proses menyelidikan. Ada yang bisa kami bantu buk?" jelas pria itu ramah.
"Ohh begitu. Saya tadinya mau minta tolong di belikan makan siang dikantin."
"Biar saya beli buk. Ibuk mau menu apa?"
"Gak apa-apa nih nyuruh kamu?" tanya Jelita pada pegawai yang seumuran dengan Evan. Lelaki itu mengangguk pasti.
"Ya udah kalau gitu. Tolong belikan satu porsi nasi dengan lauk ayam kecap.Ini uangnya." Jelita memberikan satu lembar uang seratus ribuan.
"Eh ngomong-ngomong, siapa pengganti Leni?" tanya Jelita saat Lelaki itu akan beranjak pergi.
"Sepertinya belum ada buk."
"Ohh baiklah."
"Saya permisi buk."
__ADS_1
"Iya silahkan."
Jelita masuk keruang kerja Evan, duduk di sofa menunggu makan siangnya datang. Dia tadi sengaja bilang sudah makan sama Evan agar Evan tidak kepikiran saat disana.
Cukup lama Jelita menunggu. Pesanannya baru datang.
"Maaf buk, antri karena masih jam makan siang." jelas pria itu sembari menyodorkan kotak nasi pada Jelita.
"Gak apa, terimakasih." ucap Jelita ramah.
Jelita makan perlahan sembari bermain gawai. Ada pesan masuk dari Boy beberapa saat lalu. Lelaki itu menghilang dari kampus belakangan ini. Ada yang bilang dia pindah kekota lain.
"Jelita aku rindu." bunyi pesan Boy. Pesan yang dikirim melalui aplikasi sosial media. Sebab kontak Boy sudah diblok oleh Evan di ponselnya.
Jelita tak menaggapi pesan Boy. Tak ada rasa istimewa lagi untuk pria itu. Pesan yang dikirim oleh Boy dibaca dengan perasaan biasa saja. Layaknya pesan dari teman. Entahlah perasaanya pada Boy memudar begitu saja dengan sangat cepat. Mungkin saat itu perasaan Jelita pada Boy bukan cinta yang sesungguhnya. Seperti dia mencintai suaminya.
"Je, bisa kita bertemu untuk terakhir kali?" kembali pesan Boy masuk di poselnya. Jelita kembali mengabaikannya. Dia sama sekali tak ada niat menemui Boy kecuali tidak sengaja bertemu.
Makan sembari bermain hp membuat durasi makannya berjalan lama. Bahkan Evan pun sudah kembali dari makan siangnya bersama rekan bisnisnya.
"Sayang, kamu belum makan siang?" tanya Evan kaget begitu masuk ruang kerjanya. Jelita yang ditanya cuma nyengir aja.
"Ini beli dimana?" Evan menatap menu makan siang istrinya yang masih utuh setengahnya.
Evan mendesah berat. "Sayang tidak selera, atau kita makan diluar saja?" tanya Evan melihat nasi di kotak nasi masih sisa separuhnya.
"Gak udah kenyang." sahut Jelita sembari meletakkan sendoknya diatas tempat nasi. Kemudian memberisi sisa makannya.
Evan terlihat sibuk dengan berkasnya, sementara Jelita berbaring di sebelahnya dengan berbantal paha Evan.
"Mas memecat Leni?" tanya Jelita menengadah menatap wajah Evan diatasnya.
"Hemm." gumam Evan tanpa melihat Jelita. Netranya focus pada tumpukan kertas didepannya.
"Apa dia bagian dari mereka mas?" tanya Jelita lagi.
"Iya sayang. Dia sengaja diantar ke sini guna memata-mataiku." sahut Evan.
"Tuh lah sayang, tergoda dengan pesonanya. Jadi gak bisa lihat siapa dia sebenarnya." sungut Jelita.
Mendengar itu, Evan menghentikan aktivitasnya. Menatap Jelita gemas. "Tergoda katamu?" Evan mencubit hidung Jelita pelan.
__ADS_1
"Memang iya kan. Lihat wajah dan body cantik langsung aja di terima kerja. gak taunya musuh." sungutnya lagi.
Evan terkekeh. "Itu Fitnah sayang. Sebelum leni datang, datanya sudah ada ditanganku. Aku sengaja menerimanya, membiarkannya bergerak sesuai rencana mereka. Dan kemudian barulah aku menjalankan rencanaku sendiri. Jadi aku menerimanya bukan karena dia menarik, apa lagi sampai tergoda. Itu sungguh fitnah nyonya."
"Mas udah tau?"
"Tentu saja aku tau, aku menempatkan mata-mata di dekat semua musuhku. Tidak ada pergerakan mereka yang tak aku ketahui. Aku sudah bilang, bisnis itu kejam sayang. Dan Leni beserta temannya ada digenggamanku sedari awal. Tapi ambisi mereka tidak mampu menyadari itu." jelas Evan.
"Itu sebabnya aku malas berbisnis, aku lebih senang menjadi nyonya Evan." ucap Jelita dengan suara pelan, sementara netranya menatap manik hitam Evan.
"Nyonya Evan. Kalimat ini, aku suka mendengarnya." bisik Evan. Dia sedikit menundukkan tubuhnya, lalu mengecup bibir Jelita sekilas. Jelita tersenyum senang hatinya menghangat seketika.
"Aku ngantuk," ucap Jelita.
"Tidurlah, sayang mau tidur disini atau didalam?"
"Disini aja," sahut Jelita sembari memeluk pinggang suaminya menyembunyikan wajahnya diantara perutnya.
"Sudah tidurlah." Evan mengusap lembut kepala Jelita. Lalu kembali focus pada pekerjaannya.
Tak butuh waktu lama untuk Jelita tidur. Ini kebiasaan barunya semenjak hamil. Rasa kantuk yang teramat sangat tak bisa dia tahan bila habis makan siang.
Disela kesibukannya sesekali jemari Evan mengusap lembut rambut panjang Jelita.
Terdengar pintu ruangannya di ketuk seseorang. Dengan suara pelan Evan mempersilahkan orang itu masuk.
"Pak..." ucapan pria itu tertahan oleh gerakan Evan yang meletakkan jari di depan bibirnya. Mengisyaratkan untuk tak bersuara.
"Ada berkas yang harus bapak tanda tangani," ucap pria itu dengan suara kecil. Tanpa suara Evan memeriksa berkas yang disodorkan sekretarisnya, lalu menandatangi berkasnya.
"Pak, bapak ada jadwal rapat sepuluh menit lagi." ujar pria itu mengingatkan.
"Tolong kamu jadwal ulang satu jam lagi." titahnya dengan suara pelan.
"Baik pak." sahut lelaki itu lalu beranjak pergi. Lelaki itu meninggalkan ruang kerja Evan dengan perasaan tak menentu. Tiba-tiba dia ingat istrinya dirumah yang sedang mengandung anak pertama mereka. Dia teringat istrinya selalu minta tidur dipangkuannya, tapi dia tak pernah mau. Dia merasa istrinya terlalu kekanaan dan terlalu manja. Tapi apa yang dia lihat tadi begitu memukul jiwanya. Seorang wakil pemimpin perusahaan sekelas Evan saja memperlakukan istrinya begitu lembut. Dia bahkan harus mengecilkan suaranya agar tak menganggu tidur istrinya.
"Sayang, kau sedang apa? kalau tidak sibuk bersiaplah malam nanti kita makan malam diluar." bunyi pesan pria itu untuk istrinya.
Di rumah istrinya pasti sedang senang setengah mati. Mendapat perhatian yang tak pernah dia berikan selama ini.
Sementara Evan sedang menikmati wajah orang terkasihnya, menatap penuh cinta. Wanita yang dirindukannya selama bertahun lamanya. Dia besar tanpa kasih sayang seorang ibu. Mencintai Jelita dan bisa merasakan kasih sayangnya adalah anugrah baginya. Selama ini perhatiannya hanya tertuju pada Jelita seorang, dia tak ingin menghianati pasangannya seperti ibunya yang dihianati ayahnya.
__ADS_1
Cintanya hanya untuk satu wanita, hanya Jelita tidak ada yang lain.
To be continuous