
Apartemen mewah milik Arimbi terlihat kacau balau, berantakan tak karuan. Sadewo datang dengan luapan emosi yang meledak-ledak, menghancurkan apa saja yang ada disekitarnya.
Arimbi masih saja bersimpuh dilantai sedari tadi. Sementara Dewo sudah meninggalkan apartemennya sedari tadi.
Air mata memgalir perlahan dari sudut matanya. Takut dan sesal kini berkecamuk di dalam hatinya.
Dewo lelaki yang sudah menjadi kekasihnya semenjak kuliah mengetahui niat serakahnya terhadap Evan. Murkanya pun tak mampu dielak lagi. Dia tak menyangka Evan akan seteguh itu menjaga hatinya. Dia benar-benar berambisi terhadap Evan, begitu tau teman masa kecilnya menjelma jadi pria luar biasa hang banyak diincar wanita. Bagi wanita seperti dirinya mustahil tak menginginkan lelaki mapan dan tampan seperti Evan. Apalagi mereka pernah sangat dekat dimasa lalu.
Bodoh, itu yang dia rutuki pada dirinya saat ini. Kenapa tidak menyelidiki dulu karakter Evan lebih mendalam baru maju perlahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Evan tak mungkin diraih, Dewo malah hampir menyampakkan dia, dia hanya bisa berharap Dewo masih mau menerimannya. Dia tau diantara wanita simpanan Dewo, dialah yang paling istimewa. Andai Dewo benar-benar menyampakkannya tamatlah dunianya sudah.
Sementara ditempat lain dikediaman Evan, suasana tampak ramai. Evan mengadakan syukuran dalam rangka pembuatan nama putri pertamanya. Dia mengundang beberapa teman dekatnya juga kedua sepupu Jelita.
Semua orang terlihat sibuk kecuali Jelita yang diperlakukan bak ratu oleh suaminya. Pegang itu tak boleh, sentuh itu dilarang. Alhasil cuma duduk bersaman Alena Ivanca nama putri kecil mereka, di temani tiga sohibnya.
"Itu yang baju hitam-hitam, pengawal lakilu Je?" tanya Karin, sembari melayangkan pandangan pada beberapa pria muda yang bertubuh kekar dan berwajah tampan.
"Iya." sahut Jelita tanpa menoleh. Dia tengah asik bermanin dengan bayi mungilnya. Kaliamat Karin membuat pandangan Sella dan Anita beralih ke sana. Diantara pria tampan itu Sella melihat sosok Jaka disana. Sosok yang dia curigai memiliki niat tertentu pada Jelita. Tuduhan itu bukanlah tanpa sebab. Pertama kali dia melihat Jaka menjadi supir Jelita, Sella melihat tatapan tebar pesona Jaka terhadap Jelita. Itu yang membuat sikapnya lain terhadap Jaka.
Tapi aneh tatapan Sella tak mau beralih dari sana. Kaus hitam ketat yang membalut tubuh Jaka sudah terlihatbasah oleh keringat. Pemandangan yang membuat dada Sella berdesir halus. Otot dibalik kaus hitam itu begitu memukau Sella. Jaka dan yang lainnya sedang menyusun kursi dan membantu memasang tenda. Evan sengaja mengundang anak yatim di luar komplek rumahnya.
Tak disangaka tiba-tiba Jaka berdiri bertolak pinggang sembari menatap kearah Sella, membuat Sella gelagapan membuang pandangannya. Jantungnya rasa melompat keluar mendapat tatapan nakal Jaka. Lelaki itu memang pandai tebar pesona. Untung saja tidak ada yang memperhatikan hal ini, andai ada betapa malunya Sella.
"Dia calon sarjana dan akan ditekrut Evan jadi orang dalam di prusahaan." suara Jelita mengejutkan Sella.
"Siapa?" tanya Sella berlagak tak paham.
"Jangan sok gak tau deh!" sentak Jelita sembari menoyor kepala Sella dengan ujung Jarinya. Sella cuma cengengesan gak jelas.
"Apaan sih yang dibahas?" tanya Anita.
"Gak ada," sahut Sella cepat sembari mengkode Jelita dengan kedipan matanya.
"Aku kira kalian bahas tuh cowok, dia liatin kamu Sell." ujar Anita, tatapan lurus kedepan menatap Jaka.
"Apaan sih, bukan bahas dialah. Cowok gak jelas ngapain juga dibahas. Kamu tau kan kreteria calon mantu papaku seperti apa?" sungut Sella. Walau sudut matanya mencuri pandang ke arah Jaka. Ternya benar Jaka tengah memperhatikannya saat ini.
__ADS_1
Dasar cowok gila!
Tak mau kalah Sella balas menatap Jaka dengan tatapan penuh perlawanan. Membulatkan matanya, seakan bicara "Ape lo liat-liat...!!" . Melihat itu Jaka terkekeh lalu kembali melanjutkan pekerjaanya.
"Hmmm udah main kode-kodean aja, jangan sampai papamu terpaksa harus merubah kreteria calon mantunya Sel," ledek Jelita dengan berbisik.
"Apaan sih, jauhlah kalau dia. Kamu taukan tipeku yang gimana." sanggah Sella. Jelita mencibir, ucapan dan kata hati tidak singkron.
Ditengah obrolan Jelita dan Sella, tampak Evan menyambut dua pasangan tamu. Evan membawa mereka menemui Jelita. Jelita sendiri menatap tak percaya kepada tamunya.
"Daren." sapa Jelita sembari menatap Daren dan Adiknya bergantian.
"Evan mengirimi kami undangan," Jelas Daren. Dia menjawab rasa heran Jelita oleh kedatangannya hari ini.
"Duduklah, terimakasih sudah mau datang memenuhi undangan kami." Jelita mempersilahakan tamunya.
Istri Daren duduk disamping Jelita, keduanya ngobrol dengan akrab. Saat tamu mulai berdatangan istri Daren menemani Jelita menyambut tamu. Seumur hidup ini pertama kalinya mereka sedekat ini sebagai saudara. Jelita salut pada Evan. Karena kegigihanya mereka bisa damai dan menjalin hubungan baik seperti sekarang.
Sementara Sella dan yang lainnya melayani anak panti. Dari makan bersama sampai berbagi bingkisan.
"Anak kecil aja tau kamu cantik." bisik suara yang tiba-tiba berada tepat disampingnya, reflek Sella beralih menatap kesumber suara yang dia kenali milik Jaka. Benar saja Jaka tersenyum padanya sembari menyerahkan binggkisan pada anak didepannya.
"Usil!" dengus Sella. Jaka tersenyum simpul, dia terus saja mengusili Sella. Walau Sella menanggapinya dengan ucapan-ucapan ketus, tapi keduanya tetap dekat tak berniat menjauh satu sala lain.
Baru menjelang magrib acara selesai, mansion kembali sepi. Hanya ada Evan dan Jelita beserta para karyawan.
Evan dan Jelita tengah berbaring diatas tempat tidur, di tengah-tengah mereka terlihat Alena tengah terlelap dengan lucunya.
"Semakin kesini Alena semakin mirip kamu mas," bisik Jelita, sembari menatap putrinya penuh kasih. Evan tak menampik, Alena memang copy paste dirinya. Segala yang ada di diri Alena adalah miliknya. Bentuk hidung, bibir, mata semua Evan.
Tiba-tiba Jelita meringis lalu mengamit lengan Evan memberi isyarat agar Evan mengikutinya turun dari ranjang.
"Ada apa sayang?" tanya Evan khawatir.
"Mau kekamar mandi," sahut Jelita.
__ADS_1
"Mau ditemani?" tanya Evan dengan mata menyipit.
"Gak usah, bantu buka ini aja," sahut Jelita menunjuk perutnya.
"Ooo."
Jelita mengangkat dasternya tinggi-tinggi memberi ruang untuk Evan membuka centing yang membalut perut hingga pahanya. Evan temangu menatap paha mulus istrinya. Sudah setengah bulan ini Evan tak pernah melihat tubuh mulus istrinya. Hari ini dia melihatnya membuatnya menelan ludah dengan pahit. Menelan hasratnya bulat-bulat.
Evan membuka balutan ditubuh Jelita dengan perasaan tersiksa. Dia masih harus berpuasa untuk beberapa hari kedepan.
"Pikiran mas tuh jangan kemana-mana!" tegur Jelita bersungut-sungut. Evan yang ketangkap basah cuma nyengir aja.
"Lelaki normal sayang, liat istri molek begini mana bisa pikiran gak kemana-mana. Tapi jangan takut, mas masih tahan kok. Mas bisa nunggu sampai sayang benar-benar sembuh." sahut Evan.
"Bagus deh," ujar Jelita sembari beranjak kekamar mandi.
Tak berapa lama, Jelita sudah keluar dari kamar mandi. Evan kembali memasangkan centing ke tubuh Jelita.
"Menurut mas, kedatangan Daren tulus gak?" tanya Jelita, sembari menatap Evan yang sibuk memasang centingnya.
"Semoga saja. Harusnya kejadian kemarin membuatnya sadar." sahut Evan sembari menyudahi pekerjaanya.
"Makasih." ujar Jelita, sembari tersenyum menatap suaminya.
"Makasih doang?" rajuk Evan manja.
"Mas maunya apa?"
"Ci um juga boleh."
"Dekat sinih," titah Jelita. Evan mendekat, Jelita menagkup wajah Evan dengan kedua telapak tanganya. Mendaratkan kecupan lembut di kening, mata, hidung, pipi dan bibir Evan dengan begitu lembut dan hangat.
Hati Evan menghangat, dia meraih wajah Jelita lembut, memberi kecupan dikeningnya. "Tidurlah, mimpi yang indah malam ini." bisik Evan, lalu membimbing Jelita naik keatas ranjang. Sementara dia memilih tidur di sofa bed dikamar itu.
To be continuous.
__ADS_1