Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 46


__ADS_3

Wajah Leni tertunduk lesu saat orang tuanya datang menjenguk. Mereka duduk di bangku panjang rutan yang menjadi tempat tinggal Leni sekarang.


Tubuh sintalnya kini menjadi kurus tak terurus. Sudah empat bulan dia disini menjalani masa hukuman lima tahun yang di jatuhkan majelis hakim kepadanya.


Tuduhan yang sangat banyak diarahkan padanya. Dari membocorkan data perusahaan. Sampai perencanaan tindakan kriminal terhadap Jelita. Dia tak bisa mengelak, Evan memberikan bukti yang lengkap dan akurat.


Dia menyesal telah meremehkan Evan. Niat menghancurkan Evan malah berbalik kepada mereka sendiri.


Kini, dia bahkan tak berani menatap wajah kedua orang tuanya. Dia sudah memberi malu pada mereka, di sudah mencoreng muka mereka dengan arang hitam.


"Ini jadinya kalau bertindak tidak memakai hati nurani." Ucap lelaki paruh baya itu sembari menatap wajah tirus putrinya.


"Maaf yah," ucap Leni dengan suara bergetar menahan tangis.


"Ayah kecewa padamu Leni. Ayah merasa gagal mendidik mu." lirih lelaki itu dengan suara bergetar.


Leni bungkam, ini salahnya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.


Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi pada Kiara. Evan membuangnya di pulau terpencil nyaris tak berpenghuni. Di tempat ini dia bahkan masih di kawal ketat agar tak melarikan diri.


Dia memang tidak dijebloskan dipenjara oleh Evan. Tapi statusnya sekarang sebagai DPO. Sebab dalam bukti-bukti tertera jelas keikut sertaan dirinya dalam setiap rencana jahat mereka.


Tubuh seksi Kiara juga terlihat kurus tak terurus. Dia tak lagi memikirkan penampilannya, memikirkan nasipnya saja membuatnya hampir gila. Tanpa sebab kadang dia menagis sejadi jadinya. Sekali lagi penyesalan selalu datang terlambat. Andai dia berhenti bertindak nekat pada Jelita, mungkin dia masih bisa menghirup udara bebas. Tapi sekarang dia terkurung seumur hidupnya di pulau ini seorang diri.


"Evan kenapa kau sangat kejam padaku..." lirih Kiara. Netranya menatap jauh kedepan. Itulah kalimat yang dia ucapkan berulang ulang setiap hari.


****


Mobil mewah berwarna hitam milik Evan melaju dijalanan menuju ke sebuah tempat yang menjadi kejutan untuk Jelita.


Di dalam mobil tampak Jelita duduk bersandar dibahu Evan sembari bermain gawai. Sementara Evan sibuk dengan laptopnya.


Sesekali terdengar tawa pelan Jelita saat berbalas pesan dengan temannya. Hal itu membuat Evan penasaran, dengan sudut matanya dia mengintip percakapan di ponsel istrinya.


"Group apa ini? Kenapa ada cowoknya?" tanya Evan sembari merebut ponsel Jelita. Lalu mulai memeriksa ponsel Jelita dengan teliti. Sesekali terlihat kerutan dikeningnya, membuat jelita penasaran.

__ADS_1


"Kenapa ekspresimu begitu mas? Gak ada yang anehkan di ponselku?" tanya Jelita sembari menatap Evan yang masih mengutak atik gawai miliknya.


"Banyak yang aneh!" cebik Evan dengan wajah kakunya. Kini giliran Jelita yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Masak sih? Apa coba yang aneh?"


"Bikin group ada anggota cowoknya, menurutmu itu gak aneh? Hal-hal seperti itu bisa bahaya tau gak. Bisa membuka pintu perselingkuhan. Aku gak suka!" tegas Evan sembari meyerahkan ponsel Jelita.


"Kamu cemburu mas?" tanya Jelita dengan senyum. Yang ditanya menatapnya dengan tatapan tajam.


"Tentu saja aku cemburu!" tegas Evan dengan mimik serius. Jelita terkekeh.


"Kenapa tertawa? Aku serius sayang." protes Evan dengan ekspresi menggemaskan.


"Mas lucu, cemburu denganku. Gak ada pria yang tertarik dengan wanita hamil mas. Lihat perutku aja mereka ilfil." ucap Jelita sembari meraih tangan Evan membawanya pada perutnya yang sudah terlihat besar.


"Sekarang belum, tapi kalau kamu membiarkan cela ini terus terbuka. Kemungkinannya bisa delapan puluh persen. Kamu tahu sayang kenapa orang bisa setia pada pasangannya?" tanya Evan sembari menatap tajam bola mata isttinya.


"Tentu saja karena pasangan mereka sangat sempurna, dan dia sangat mencintai pasangannya." jawab Jelita.


"Jawabanmu benar. Tapi itu bukan jawaban yang tepat. Seseorang bisa sangat setia, karena dia tidak membuka cela pada siapapun untuk masuk. Focusnya hanya satu, tidak terbagi. Sedikit saja kita membuka cela untuk orang lain selain pasangan. Kemungkinan berpindah hati terbuka lebar. Dan yang sayang lakukan itu sama saja membuka cela kearah itu. Aku tidak suka." tegas Evan.


Evan masih memperlihatkan wajah kakunya. "Aku menghapus semua kontak teman cowok di ponselmu. Juga mengeluarkanmu dari group. Sayang bisa membuat group baru yang beranggotakan wanita semua. Aku tidak membatasi kegiatanmu sayang, selagi tidak ada pria didalamnya. Itu sudah menjadi peraturan mutlak dariku. Apa sayang keberatan?"


Jelita nenggeleng tegas. "Hapus saja kalau mas tidak suka aku tidak keberatan."


Wajah kaku Evan mulai melunak. Lengan kokohnya merengkuh tubuh Jelita dengan begitu erat. "Maaf sayang, tapi itu aku lakukan demi hubungan kita. Aku tidak mau anak-anak kita mengalami apa yang aku alami. Aku mau putra putri kita kelak bisa melihat, bahwa ayahnya hanya mencintai satu wanita seumur hidupnya, yaitu ibu mereka." ucapnya lalu mengecup kening Jelita dengan penuh cinta.


Hati Jelita menghangat, rasa haru dan bahagia seketika nenteruak dihatinya. Hanya kontak tidak sebanding dengan apa yang dijanjikan Evan, dia rela menghapus seluruh kontak di ponselnya demi mewujudkan perkataan Evan. Siapa yang tidak mau menjadi wanita satu-satunya yang dicintai oleh suaminya. Apalagi lelaki itu sesempurna Evan. Tak sadar bulir bening mengalir disudut matanya. Mendadak terbayang olehnya bagaimana dulu dia menganggap Evan lelaki tak berguna. Tapi kini samapai matipun dia tak rela kehilangan Evan.


"Hey, aku sedang merayudirimu sayang, kenapa malah menagis." ujar Evan saat melihat air mata keluar dari sudut mata Jelita. Evan meraih tisu di depannya lalu menyeka airmata Jelita


"Kata-kata mas bikin aku terharu.." lirih Jelita. Evan tersenyum, pelukannya terasa semakin erat dan hangat.


"Sudah sampai pak." terdengar suara supir memberi tahukan kalau mereka sudah sampai tujuan.

__ADS_1


Saking terbawa perasaan, Jelita tak menyadari kalau Evan membawa mereka ke sebuah mansion yang sangat mewah.


Tampak hiruk piku disekitar mansion. Ada beberapa mobil pengangkat barang terpakir didepan mansion dan beberapa orang yang sedang merapikan taman di halaman samping dan belakang.


"Mas, ini mansion siapa?" tanya Jelita sembari menatap Evan.


"Punya nyonya Jelita. Ayo lihat dalamnya, katakan pada ku apa yang tidak sayang suka. Biar orangku menggantinya dengan yang sayang suka." sahut Evan sembari menggandeng jemari Jelita membawanya masuk kedalam mansion. Sementar Jelita masih terperangah kaget.


Dia lebih kaget lagi saat melihat tata ruang mansion ini, sama persih dengan yang ada di majalah enteior design yang diperlihatkan Evan beberapa lalu.


"Mas, kau membuat sama persis dengan yang ada di majalah itu." ucap Jelita dengan mata berbinar.


"Kau suka?" tanya Evan sembari mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Hemm." sahut Jelita sembari mengangguk.


"Ayo, lihat kamar utama." Kembali Evan mengandeng lengan istrinya menuju kamar utama dilantai atas.


Sesampainya di kamar utama Jelita kembali kaget dengan pilihan pilihan warna ungu yang mendominasi seisi kamar. Dia ingat Evan sempat protes saat dia memilih nuansa ungu untuk kamar mereka.


"Pikirkanlah suamimu sayang, kamar tidur itu milik berdua. Setidaknya carilah warna yang dua-dua penghuninya suka." protes Evan saat itu.


"Mas kan tanya mana yang aku suka kan? Ya aku sukanya itu..." sungut Jelita saat itu. Dia tak menyangka Evan menekan egonya.


"Bagaimana sayang?" tanya Evan membuyarkan lamunan Jelita.


"Sangat suka," bisik Jelita. Hatinya sudah penuh oleh luapan kebahagiaan saat ini.


"Terimakasih mas, ini sangat mewah. Kamu pasti menghabiskan banyak uang untuk ini." ujar Jelita sembari menatap lekat manik hitam Evan.


"Aku harus pastikan Jelita Sasongko mendapat yang terbaik. Atau sasongko akan menghapus gelar menantu dari namaku." sahut Evan, sembari menyentil hidung mungil Jelita.


"Iihh apaan sih." cebik Jelita.


"Mau coba kamar baru?" tanya Evan dengan kerling nakal.

__ADS_1


"Ogah!!" dengus Jelita, yang disambut kekehan Evan.


To be continuous.


__ADS_2