Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 61


__ADS_3

Sella menyusun berkas di mejanya memasukkannya kedalam map berwarna coklat. Siang ini dia akan menandatangi perjanjian bisnis dengan anak prusahaan Evan.


Setelah melakukan reservasi di sebuah restauran Sella pun meluncur kesana bersama teman satu timnya. Walau dia bekerja di perusahaan papanya dia tak lantas bisa mendapat jabatan tinggi. Dia harus berjuang dari nol demi karirnya.


Apalagi kakak lelakinya yang sekarang menjadi wakil presdir sama tegasnya dengan papanya. Tapi Sella tak kecil hati dia tau papa dan kakaknya sedang menempah mentalnya agar menjadi lebih kuat.


Saat tiba di tempat janji bertemu kliennya belum datang. Sella memaanfaatkan waktu menunggunya untuk memeriksa kembali berkas yang akan diajukan pada kliennya.


"Sudah lama menunggu?!" suara berat dan begitu pamiliar seketika membekukan tubuh Sella. Jantungnya hampir melompat keluar saat pemilik suara itu duduk didepannya dengan senyum mengembang.


"Kau..." lirih Sella dengan mata berkaca. Emosinya terasa meledak-ledak didadanya sampai dadanya terasa sesak.


"Bahaimana kabarmu?" tanya pria itu dengan tatapan lembut, ada rindu dan cinta yang begitu dalam pada tatapannya.


"Jaka..." lirih Sella. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulai terisak.


Jaka beranjak di samping Sella memeluk tubuh ramping itu dengan penuh kerinduan. Selama diluar negri Jaka tak perna mau bertemu dengan Sella. Banyak alasan yang selalu Jaka berikan untuk menolak bertemu langsung. Hanya pesan yang satu-satunya cara mereka berkomunikasi.


Sella terisak hingga bahunya terguncang, tubuhnya bergetar pelan memperlihatkan emosinya yang tengah bergejolak.


"Jangan menangis kita sudah bertemu," bisik Jaka dengan suara rendah. Sella mengangguk tapi isak tangisnya masih terdengar jelas.


"Aku sangat merindukan mu," bisik Jaka lagi. Tubuhnya mendekap erat tubuh Sella, membubuhkan kecupan-kecupan lembut di puncak kepala Sella.


Sella melepas diri, menatap Jaka dengan seksama. Jaka terlihat lebih dewasa dan lebih putih. Penampilannya juga terlihat sangat berbeda dia terlihat seperti pengusaha muda.


"Kapan kau sampai?" tanya Sella tanpa melepas pandangannya.


"Tiga bulan lalu," sahut Jaka dengan senyum.


Sella membelalakkan matanya. "Tiga bulan lalu?" Jaka mengangguk.


"Kenapa baru menemuiku sekarang?" lirih Sella mulai ragu pada perasaan Jaka.


Jaka tersenyum lalu mengecup puncak kepala Sella penuh cinta. "Jangan berpikir macam-macam, aku masih milikmu seutuhnya." Ujarnya sembari membelai pipi Sella. Sella beringsut menjauh, tiga bulan dia di sini dan baru menemuinya itupun karena urusan bisnis. Benarkah dia masih Jaka yang dulu?


"Ada apa?" tanya Jaka heran dengan reaksi Sella.


Sella menatap Jaka dengan amarah didadanya tapi dia berusaha bersikap setenang mungkin di depan Jaka.


Sella meraih berkas di depannya lalu memberikannya pada Jaka. "Tidak ada, kau datang karena kontrak kerja sama ini bukan. Mari bahas kerja sama ini dengan cepat, aku banyak kerjaan di kantor."


Jaka menerima berkas dari Sella. Lalu meletakkan berkas itu begitu saja di atas meja. "Aku tidak ingin membahasnya." ujar Jaka. Netranya memindai wajah cantik Sella dengan tatapan lembut.


"Jangan main-main Jaka, aku tidak punya banyak waktu."


"Aku rindu..."


Sella terdiam, dia juga sangat rindu. Tapi rasa marahnya lebih besar dari rasa rindunya saat ini. Sudah tiga bulan dia kembali ke Indo tapi tidak berniat menemuinya sama sekali.

__ADS_1


"Sella, aku bilang aku rindu," ucap Jaka dengan nada tak puas.


"Tidak usah membohongiku..." Lirih Sella dengan mata mulai terlihat mendung.


"Aku tidak bohong!"


"Benarkah? Aku kira kau sama sekali tidak rindu padaku. Sudah tiga bulan kau pulang tapi tak terpikir menemuiku, itukah yang kau sebut rindu. Aku bahkan berulang kali ingin menyusulmu karena rindu. Kalau kau tidak bisa membahas kontrak kerjasama ini sekarang tidak apa, kita bisa bahas ini lain kali." ucapnya lalu berdiri saat selesai mengucapkan kalimatnya.


Jaka dengan sigap menahan tubuh Sella yang sudah berdiri. Membawanya kedalam pelukannya, Mendekapnya erat. "Maaf sayang, aku juga ingin menemuimu, sangat ingin. Tapi ada beberapa hal yang mengharuskan kita tidak saling bertemu." Jelas Jaka dengan suara rendah.


"Aku tidak mau memaafkanmu..." isak Sella. Dia sudah tak mampu menahan emosinya lagi, tangisnya tumpah tanpa bisa di tahan.


Jaka tak menyahut, hanya sentuhan-sentuhan lembut yang dia berikan sebagai pengganti ucapan permintaan maatnya untuk Sella.


****


Jelita mengemas kotak nasi berisi menu makan siang untuk Evan. Dia sedang tak ada kegiatan akhir-akhir ini, kuliahnya hanya tinggal menunggu sidang.


"Bik, titip gadisku ya. Dia lagi tidur bareng pengasuh dikamarnya." ujar Jelita sembari memasukkan kotak nasi dalam paper bag.


"Iya nya."


Dengan diantar supir Jelita berangkat menuju kantor Evan.


Kantor masih sangat sibuk walau sudah masuk jam jam makan siang. Hanya sebagian karyawan saja yang sudah meninggalkan kantor untuk makan siang.


Begitu tiba di depan pintu ruang kerja Evan, Jelita di sambut oleh sekretaris Evan.


"Oh, ya. Kemana dia?"


"Tuan bertemu rekan bisnis dua jam yang lalu. Apa perlu saya memberitahu tuan kalau nyonya ada disini?"


"Tidak usah, biar nanti saya hubungi sendiri." sahut Jelita dengan ramah.


Jelita meletakkan bekal makan siang diatas meja, kemudian duduk bersantai diatas sofa sembari bermain ponselnya.


Setengah jam kemudian Evan baru kembali kekantornya. Dia bergegas menemui Jelita saat sekretarisnya memberitahukan kedatangan istrinya.


"Sayang, kenapa gak bilang kalau mau datang. Jadi nunggu lama kan." ujar Evan begitu masuk ruang kerjanya.


"Gak apa, namanya mas sibuk. Mas udah makan?" tanya Jelita sembari menatap wajah tampan Evan yang sudah duduk di sampingnya.


"Belum tapi aku masih kenyang, tadi aku bertemu klien mereka memesan minuman dan beberapa cemilan."


"Oo ya sudah makannya bentar lagi aja."


"Aku temani kamu makan, kamu belum makan siang kan?" tebak Evan.


"Belum, tapi aku juga belum lapar."

__ADS_1


"Benar belum lapar?" tanya Evan sekali lagi. Jelita mengangguk.


"Ya sudah, ayo keruanganku temani aku istrahat." ajak Evan sembari menarik tangan Jelita mengikuti langkahnya masuk ruang pribadinya.


Evan berbaring di sebelah Jelita setelah melepas jasnya. Aroma lembut dari tubuh Jelita membuat Evan memejamkan mata. "Apa Alena rewel hari ini sayang?" Tanyanya tanpa membuka matanya.


"Tidak, dia sudah pandai bermain." sahut Jelita dengan suara rendah. Evan membuka matanya menatap wajah Jelita di bawahnya. Sekilas dia melihat jam di pergelangan tangannya lalu tersenyum simpul.


"Ada apa mas? Mas ada pertemuan penting?" tanya Jelita sembari menengadah menatap Evan. Evan menggeleng, lalu menggeser tubuh Jelita dibawahnya.


"Tubuhmu harum sekali sayang," bisik Evan dengan suara berat dan sedikit serak. Jelita terkekeh dia bisa melihat kabut dimata suaminya. Dia tak ingin menghindar tubuhnya juga sudah lama rindu sentuhan Evan.


Melihat persetujuan Jelita Evan tak ingin membuang waktunya. Dengan sangat agresif dia mulai melucuti satu persatu benda yang menempel ditubuh Jelita. Jelita juga melakukan hal yang sama kepada Evan.


Evan menelan salivanya dengan kasar, tubuh mulus Jelita membuat liurnya menetes. Sudah lama dia tidak bercinta disiang hari dengan hasrat dan stamina sebagus ini. Tak ingin kesenangannya di ganggu Evan meraih ponselnya di laci lalu mengirim pesan pada orangnya.


Jelita mengernyit tak paham di tengah cum buan panasnya Evan masih sempat berkirim pesan, pada Siapa?


"Jangan terlalu banyak berpikir, aku hanya meminta orangku mengamankan pintu," bisiknya dibarengi seringai jahat dibibirnya. Sementara jemarinya meremas gemas bukit ranum dengan puncak merah jambu. Jelita mendesah nikmat, tubuhnya mengeliat indah memanjakan mata Evan yang sudah dipenuhi hasrat.


Evan men cumbu Jelita tanpa Jeda, seakan tak ingin membuang waktu barang sedetikpun tanpa menyentuh. Ruam-ruam kemerahan sudah terlihat di beberapa bagian tubuh Jelita. Memperlihatkan betapa berhasratnya Evan dalam permainan ini.


Evan tak ingin buru-buru tapi gestur Jelita yang begitu seksi dan menggairahkan membuatnya taktahan.


Jelita menjerit saat Evan menyentak miliknya terlalu dalam lalu mulai bermain dengan ritme yang lembut. Nikmat dan sedikit sakit itu yang dirasa Jelita. Tubuhnya terguncang indah oleh hentakan tubuh Evan diatasnya, bersama dengan tetesan keringat yang jatuh menimpah tubuhnya.


Evan sepertinya tak puas melakuaknnya dengan satu posisi saja. Dia meminta Jelita melakukan beberapa posisi yang dia suka.


"Aaahh..!"


Suara Jelita menggema berulang kali di ruang kedap suara ini. Sesekali tubuhnya melengkuk sembari mengigit bibir bawahnya menikmati sentuhan dan hentakan dari Evan.


"Teriakanmu membuatku gila sayang." geram Evan sembari mencengkram dua benda kenyal yang bergoyang indah oleh gerakan dan hentakannya.


Kemolekan tubuh Jelita membuatnya gila. Kenikmatan tubuhnya tak berubah walau telah memiliki Alena. Tubuhnya begitu lembut dan harum.


Jelita kembali mendesah, matanya menatap tubuh Kekar diatasnya dengan pandangan sayu. Tubuh kekar itu naik turun dengan ritme yang semakin kuat, memperlihatkan urat-urat yang menegang dan bertonjolan, terlihat sangat seksi.


Evan sepertinya tak bisa menahannya lebih lama lagi, walau sesungguhnya dia belum ingin menyudahi permainan ini. Tapi desah dan geliat Jelita membuatnya ingin segera menumpahkan lahar miliknya. Begitu juga Jelita, desah dan jerit tertahan kembali menggema besamaan dengan pelepasan mereka berdua.


Evan menarik tubuhnya dari atas tubuh Jelita dengan mata terpejam rapat. Kenikmatan masih dia rasakan menjalari aliran darahnya.


"Capek sayang?"


"Hemmm."


"Maaf, tapi kau membuat suamimu ini tak bisa menahan diri," bisik Evan sembari melirik Jelita disampingnya. Senyum tipis mengembang dibibir merahnya.


"Ayo mandi, setelah itu baru makan siang. Menghajarmu membuatku lapar." ujar Evan sembari meraih selimut membalut tubuhnya lalu membopong tubuh Jelita kekamar mandi. Jelita tak menyahut dia hanya terkekeh pelan menerima perlakuan Evan. Dia juga lelah dan lapar.

__ADS_1


To be continuous


__ADS_2