
Pagi sekali Evan sudah bangun. Dia sudah lama tidak membuatkan sarapan Jelita. Kesibukannya akhir-akhir ini membuatnya tak memiliki banyak waktu.
Apa lagi ayah mertuanya sudah menyerahkan urusan perusahaan padanya sepenuhnya.
Dengan apron di tubuhnya Evan terlihat begitu manis. Caranya memotong sayur dan bumbu, begitu memanjakan sepasang mata yang diam-diam memperhatikan setiap geraknya.
Jelita mengulum senyum, betapa beruntungnya dirinya memiliki Evan. Lelaki luar biasa yang memmanjakannya dengan segenap cintanya.
"Duduklah, apa tidak merasa pegal berdiri terus disitu." ujar Evan tanpa beralih dari aktivitasnya.
Jelita terkekeh, dia benar-benar Evan si pengawal pribadi. Tidak ada gerak di sekitarnya yang luput dari radarnya. Jelita beranjak mendekat. Berdiri dibelakang Evan memeluk tubuh kekar itu dari belakang. Entah mengapa menghirup Aroma tubuh Evan membuatnya merasa tenang.
"Bagai mana tidurmu sayang?" tanya Evan sambil terus bekerja. Membiarkan saja tingkah Jelita yang bergelayut manja di belakang tubuhnya.
"Nyenyak berkat mas," sahut Jelita dengan suara pelan.
"Siang nanti kita ke tempat papa. Berita baik ini papa harus tau, dia pasti senang mendengar ada calon cucu di rahimmu sayang." ujar Evan. Jelita mengangguk, tubuhnya masih menempel dibelakang Evan.
Jelita masih saja memeluk tubuh Evan dari belakang, menyandarkan kepalanya dipunggung hangat Evan, membuat geraknya sedikit tak leluasa. "Sayang kalau kamu terus begini, bisa-bisa aku sarapan diatas ranjang pagi ini." ujar Evan sembari mdmbelai tangan Jelita yang memeluk tubuhnya erat.
"Cih! pelit!" sungut Jelita sembari melepas pelukannya. Dengan wajah bersungut dia melangkah kemeja makan lalu duduk disana. Sementara Evan memperhatikan tingkah istrinya dengan senyum lebar, sudah beberapa hari ini sikap manja Jelita terasa semakin bertambah kadarnya.
Evan kembali focus pada pekerjaannya menyiapkan sarapan. Tak berapa lama sarapan pagi sudah terhidang dimeja. Dua mangkuk bubur ayam yang beraroma begitu gurih menggungah selera makan Jelita. Dia memang tidak mengalami mual, jadi selera makannya tetap seperti biasa.
Jelita menyendok bubur dimangkuknya lalu melahapnya perlahan. "Hhhmm, ini sungguh enak mas." puji Jelita dengan mata berbinar menatap Evan.
Evan mengangguk pelan sembari tersenyum, sementara jemarinya mengusap lembut kepala Jelita. "Makanlah yang banyak. Agar sayang dan bayi kita sehat." ujar Evan.
Tak menunggu perintah dua kali, Jelita kembali melahap bubur di mangkuknya.
"Aku dengar perusahaan mengalami beberapa kegagalan tender belakangan ini, apa benar begitu mas?" tanya Jelita ditengah sarapannya. Saat di kantor tak sengaja Jelita mendengar berita ini dari percakapan beberapa karyawan. Berita ini membuatnya sedikit khawatir.
"Iya sayang."
"Kok bisa mas?"
__ADS_1
"Itu biasa dalam dunia bisnis. Kalau kita menang terus, banyak prusahaan bangkrut karena tidak memiliki pemasukan. Jadi kali ini anggap saja kita memberi mereka jalan. Lagi pula beberapa tahun ini karyawan kita terlalu bekerja keras. Mungkin ini saatnya untuk mereka sedikit bersantai barang sejenak. Aku juga jadi memiliki banyak waktu luang menemani sayang." jelas Evan santai.
Jelita menatap Evan penuh selidik, dia tau itu bukanlah jawaban sesungguhnya. Isu yang dia dengar prusahaan dicurangi orang dalam. Ada penghianat ditubuh mereka.
"Sudah makan yang benar. Tidak perlu cemas, masalah seperti ini bukan hal serius bagi suamimu. Jadi kangan khawatir." timpal Evan. Dia dapat melihat kekhawatiran diwajah istrinya.
"Baiklah aku percaya kemampuan suamiku."
"Nah, itu gitu baru benar," sahut Evan sembari mengusap lembut puncak kepala Jelita.
Setelah sarapan Evan mengantar Jelita kekampus. Kemudian berangkat kekantor.
Evan menatap berkas yang diberikan Leni dengan seksama. Berkas penyelidikan kasus tender dari kantor cabang. Sementara kemarin berita yang sama terdengar lagi dari cabang di kota lain.
"Jadi ini hasil dari penyelidikanmu?" tanya Evan beralih menatap Leni yang berdiri tepat di depan meja kerjanya.
"Benar pak."
"Baiklah, tugasmu hanya mengumpulkan bukti sisanya biar aku tangani sendiri." ujar Evan dengan ekspresi datar.
"Baik pak, saya permisi dulu." ujar Leni lalu beranjak pergi menonggalkan ruangan Evan.
"Halo selamat pagi. Aku sudah kirim hasil penyelidikan padamu. Jalankan sesuai keinginan mereka. Bicara pada karyawan yang terlibat dengan hati-hati jangan membuat mereka kaget. Ingat jangan sampai mereka menemukan kejanggalan. Jadi bekerjalah dengan sangat hati-hati." ujar Evan di ujung telpon, lalu memutus panggilan.
******* napas berat terdengar dari bibir merahnya. Teror sudah berjalan di beberapa cabang juga sudah masuk kekantor pusat. Isu flagiat produk baru membuat beberapa insvertor goyah. Dampak dari semua itu saham perusahaan anjlok. Dan beberapa dewan direksi menuntut Evan mengadakan rapat membahas masalah ini.
Mereka meminta Evan mengambil sikap atas mundurnya beberapa investor pada peluncuran produk baru mereka. Juga pengaruh anjloknya harga saham milik mereka.
Dampak dari semua itu perusahaan mengalami kerugian yang tidak sedikit.
Seharian sibuk membuat Evan lupa waktu. Bahkan Jelita terpaksa menelponnya karena dia lupa menjemput Jelita.
"Maaf sayang, aku lupa jemput kamu." ujar Evan merasa bersalah. Saat menjemput Jelita.
"Gak apa mas, kamu pasti sangat sibuk makanya lupa."
__ADS_1
"Kamu benar sayang. Prusahaan sedang kacau saat ini, jadi butuh perhatian lebih. Oh ya, kita makan siang dirumah papa ya. Aku sudah telpon papa tadi, kasih tau dia kalau kita mau berkunjung." Jelas Evan sembari menatap Jelita dengan tatapan lembut.
"Separah itu kah mas?" tanya Jelita khawatir.
"Benar sayang, tapi jangan cemas. Masalah ini masih dalam kendaliku. Ada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang sedang bermain dibalik kerusuhan di prusahaan kita. Tapi sayang tenang saja, aku bisa atasi mereka." Jelas Evan.
Jelita menarik napas dalam, mendengar penuturan Evan dia sedikit lega. "Syukurlah mas."
Mobil yang di tumpangi Evan dan Jelita berhenti di halaman mansion milik Sasongko. Tampak lelaki paruh baya itu sudah berdiri di pintu utama menyambut mereka. Hatinya berbunga saat Evan menelponnya memberinya berita bahagia, bahwa Jelita tengah berbadan dua. Berita yang membuatnya melupakan masalah kisruh prusahan saat ini.
"Apa kabar pa," sapa Jelita sembari memeluh tubuh kekar papanya. Walau sudah tua Derry Sasongko masih terlihat gagah.
"Sangat baik sayang. Kehamilanmu membuatku penuh semangat. Aku ingin tetap sehat agar bisa melihat kehadiran cucuku." sahut Sasongko.
"Ayo masuk, papa sudah sangat lapar menunggu kalian." titah Sasongko lagi.
Evan mengikuti langkah keduanya menuju ruang makan. Disana sudah terhidang berbagai macam menu makan siang.
Suasana hangat dan bahagia terasa memenuhi ruang makan. Sasongko terlihat begitu penuh semangat siang ini. Dia tidak tau ada drama dibalik berita kegamilan putrinya.
Setelah makan siang, Sasongko membawa Evan keruang kerjanya guna membahas prusahaan.
"Sudah terlalu jauh mereka melangkah. Kenapa masih santai saja, tidak segera ringkus mereka. Bukankah semua bukti sudah ditanganmu?" tanya Sasongko sembari menatap lekat wajah tampan menantunya.
"Belum waktunya pa, aku ingin membunuh beberapa lalat hanya dengan sekali tepuk. Mereka yang menginginkan milik kita, harus rela kehilangan miliknya. Itu baru balasan setimpal." sahut Evan sembari tersenyum. Lalu menyesap kopi hangat yang ada di tangannya.
"Kau ini, masih saja sekejam dulu. Terserah padamu bagaimana menangani mereka. Perusahaan sepenuhnya milikmu, aku yakin kau tau cara melindunginya. Dan juga terimakasih, sudah memberiku cucu. Kedepannya mungkin kau akan sedikit repot oleh sikap manja Jelita. Aku harap kau bisa bersabar menghadapinya." tutur Sasongko.
Evan menatap wajah tampan mertuanya dengan lembut. "Papa jangan khawatir, aku janji akan selalu menjaga dan menyayanginya. Akhir-akhir ini dia memang kelewat manja, tapi aku menyukainya. Sikap manjanya membuat dia terlihat semakin manis." sahut Evan sembari menyungging senyum di bibirnya.
Sasongko terbahak, ucapan Evan membuat hatinya senang. Dia percaya yang dikatakan Evan adalah sebuah kebenaran. Dia saksi betapa Evan mencintai putrinya dalam diam.
Itulah kenapa dia memilih Evan sebagai menantu. Baginya Jelita adalah harta paling berharga yang dia punya. Sikap manja dan keras kepalanya membuat Sasongko khawatir. Tapi saat mengetahui Evan jatuh cinta pada putrinya, Sasongko senang. Dan perjodohanpun dia jalankan.
Usahanya tak sia-sia, Evan benar-benar bertindak sesuai keinginannya.
__ADS_1
To be continuous
Hay readers, maaf kalau upnya lumayan lama. Maklum pekerjaan emak menumpuk di dunia nyata. Tapi alhamdulillah hari ini sempat up lagi. Dan untuk semua dukungannya emak ucapin makasih banyak๐๐๐๐ฅฐ๐ฅฐ