Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 47


__ADS_3

"Sayang bangun." Evan mengguncang tubuh Jelita pelan. Dia ingin mengajak Jelita jalan pagi mengingat kandungan Jelita yang sudah memasuki bulan tua. Evan banyak berkonsultasi pada Dokter tentang wanita hamil. Apa saja yang baik dilakukan dimasa hamil tua seperti ini.


Jelita menggeliat pelan, lalu perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. "Masih pagi, mas." rengek Jelita dengan suara serak.


"Bangun sayang, kita lari pagi sebentar. Aku ada rapat pagi ini. Sayang mau dirumah atau mau ikut kekantor?" tanya Evan sembari menyibak selimut dari tubuh Jelita.


"Ikut mas, aku juga mau pergi belanja dengan Sella. Kasihan dia kalau harus jemput aku di mansion kejauhan. Biar dia jemput aku dikantor aja." sahut Jelita sembari beranjak bangkit.


"Ayo kekamar mandi bersihkan mukamu, aku sudah siapkan baju buat jalan pagi." Evan membimbing Jelita masuk kamar mandi.


Tak lama Jelita pun sudah bersiap. Ikut Evan mengitari mansion dengan jalan santai, di sampingnya Evan berlari-lari kecil semabari sesekali melakukan gerakan olah raga lainnya. Evan biasa melakukan olah raga pagi sebelum berangkat kekantor mungkin itu yang membuat tubuhnya terbentuk sempurna.


Jelita duduk dibangku panjang yang berada di tengah taman. Setelah mengitari taman dengan berjalan santai. Netranya memindai setiap gerak Evan didepannya.Tubuh kekar bermandi keringat itu terlihat sangat seksi dimatanya. Dengan gerakan-gerakan yang memperlihatkan otot-otot tubuhnya, Evan sudah menggoda Jelita.Tanpa sadar Jelita tertawa sendiri oleh pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Bisa-bisanya dia membayangkan kenikmatan yang bisa dia dapatkan dari tubuh kekar suaminya.


Evan menghentikan gerakannya. Dengan tubuh basah oleh keringat Evan menghampiri istrinya. "Sudah siang, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu," ujar Evan sembari menyentil hidung Jelita dengan jarinya. Jelita terkekeh pelan, dia ketahuan ternyata. Evan dapat membaca isi kepalanya dengan sangat Jelas.


"Ayo bersihkan dirimu lalu sarapan, aku ada rapat pagi ini." titah Evan sembari menggandeng Jelita. Membawanya masuk kedalam mansion.


Didalam kamar mandi, Evan mengguyur tubuh Jelita dengan air hangat. Memandikannya seperti balita. Itu biasa dilakukannya bila ada waktu luang, dia suka memanjakan istrinya dengan cara apapun. Binar bahagia dari sorot mata Jelita sungguh membuatnya nyaman dan ingin selalu melihatnya.


Selesai bersiap dan sarapan, mereka bergegas berangkat kekantor bersama. Setibanya dikantor Evan langsung sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk sebelum dia pergi rapat.


Pagi ini rapat Evan berjalan lancar. Setelah meninggalkan ruang rapat dia langsung menemui istrinya diruangannya.


"Sudah selesai rapatnya mas?" tanya Jelita begitu Evan masuk ruangan.


"Iya, sudah sayang." sahut Evan sembari mendekat ke Jelita.


"Belum di jemput Sella?" tanya Evan lagi sembari menatap Jelita lekat. Jelita melihat jam dipergelangan tangannya. "Masih jam segini mall saja belum buka, mss." sahut Jelita.

__ADS_1


"Hmmm, benar juga." ujar Evan sembari membelai jemari Jelita yang berada dipangkuannya. Bersamaan dengan dering ponsel disaku jasnya.


"Halo selamat siang pak," sapa Evan. Lalu hening, dia hanya mendengarkan sipenelpon bicara. Sesekali kaya "Iya" keluar dari mulutnya sembari menatap kearah Jelita. Membuat Jelita penasaran.


"Baik pak," ucap Evan sembari menutup panggilan.


"Ada apa?" tanya Jelita penasaran.


Evan tampak gelisah. Menarik napas berat sebelum menjawab pertanyaan Jelita. "Papa masuk sakit sayang." jawab Evan, sembari mengusap pundak istrinya.


"Bagaimana keadaannya?! Apakah parah?" Jelita mulai panik. Bahkan wajahnya terlihat pias tak berdarah.


"Jangan banyak berpikir macam-macam. Papa pasti akan baik-baik saja. Kita kerumah sakit sekarang ya." Dengan lembut Evan merengkuh tubuh Jelita kedalam pelukannya.


Jelita hanya diam, tubuhnya terguncang pelan dalam pelukan Evan. Isak tangisnya terdengar sangat pelan, dia berusaha mengendalikan perasaan takutnya tapi gagal.


Tak menunggu lama, Evan langsung membawa Jelita kerumah sakit, dimana papanya dirawat.


Kenapa bisa begini? Bukankah papanya kemarin masih baik-baik saja. Walau tak setiap hari berkunjung, tapi dia setiap hari selalu berkomunikasi dengan papanya melalui video call.


Dengan lembut Jelita menggengam jemari papanya yang terasa dingin, sedingin es. Dalam hati dia berharap keajaiban datang. Papanya tiba-tiba sadarkan diri. Tapi papanya masih saja diam membisu, tak bergeming.


'ya tuhan, apa yang terjadi? kenapa tiba-tiba papa terbaring tak berdaya begini. Kumohon bertahanlah demi aku pa. Aku butuh papa, kumohon jangan tinggalkan aku.'


Isak tangis Jelita terdengar pilu, di ruang rawat yang terasa begitu sunyi. Papanya tak memiliki siapapun selain saudara lelakinya. Tapi mengingat hubungan mereka yang tak akur, sangat mustahil bagi mereka untuk datang menjenguk papanya. Di saat begini baru terasa bahwa kehadiran keluar sungguh sangat berarti.


Evan melangkah tergesa menghampiri Jelita. Dia sudah mengurus segala berkas operasi mertuanya.


Langkahnya terhenti diambang pintu. Tangis Jelita disamping tubuh ayahnya membuat Evan pilu. Tiada siapa yang menemani selain Jelita dan beberapa orang kepercayaan Sasongko.

__ADS_1


Sungguh miris, orang sehebat Sasongko tak memiliki saudara yang bisa memberinya semangat. Kekuatan dalam ikatan persaudaraan sesunguhnya mampu memberi kekuatan di saat-saat seperti ini.


Evan melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh istrinya yang terguncang pelan karena tangisnya. Mengusap-usap puncak kepala istrinya penuh kasi sayang. "Kamu yang sabar sayang, papa pasti mampu melewati semua ini. Sudah jangan menagis lagi, papa juga tak suka melihat kamu bersedih begini. Kita doakan saja semoga papa mampu bertahan. Dan bisa sehat seperti sedia kala." bisik Evan, sembari mengusap-usap punggung Jelita berusaha memenangkan hati istrinya.


Evan sungguh tak tega melihat keadaan Jelita, matanya sembab tubuhnya juga terasa lemas tak berdaya. Semoga saja hal buruk tak terjadi pada papa mertuanya. Dia tak tega membayangkan keadaan Jelita bila sesuatu terkjadi pada mertuanya.


Sasongko masuk keruang operasi diiringi isak tangis Jelita. Teman-teman sejawat Sasongko mulai berdatangan, ikut menunggui jalannya operasi Sasongko.


Evan sudah berusaha membujuk Jelita agar menunggu di hotel saja, nanti setelah operasinya selesai dia baru kembali kerumah sakit. Tapi Jelita menolak, dia tak mau beranjak dari rumah sakit. Evan pun mengalah.


Jelita berbaring di bangku panjang berbantalkan paha Evan. Lelah menagis membuatnya tak sadar ketiduran dipangkuan suaminya.


Iba rasanya melihat Jelita, hanya Sansongko satu-satunya keluarga yang dia miliki. Evan menatap lembut wajah kuyu yang terlelap dipangkuannya, masih tersisa jejak air mata diwajah mulusnya. Bahkan sesekali dia sesegukan ditengah tidurnya. Berulangkali Evan mengecup mata sembab Jelita, hatinya ikut sakit melihat istrinya bersedih.


Setelah menunggu enam jam lamanya, pintu ruang operasi akhirnya tebuka. Orang-orang langsung menyambut Dokter yang menangani operasi Sasongko. Sementara Evan hanya menatap dan mendengar penjelasan Dokter dari tempatnya duduk. Dia takut mengejutkan Jelita dengan hasil dari operasi papanya.


Menurut Dokter operasinya berjalan lancar. Tapi, Sasongko belum melewati masa kritis. Apapun bisa terjadi pada Sasongko saat ini. Dokter berharap Keluarga bersiap dengan apapun yang terjadi nanti. Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tuhanlah yang menentukan hasil akhir dari usaha mereka. Perkataan inilah yang Evan takuti didengar oleh Jelita. Dia yakin Jelita belum sanggup mendengar itu.


Setelah Dokter pergi, barulah Evan membangunkan Jelita. "Sayang, bangun. Papa sudah selesai dioperasi."


Jelita membuka matanya perlahan. Mengumpulkan segenap kesadarannya. Kemudian beranjak duduk. "Papa sudah selesai dioperasi mas?" tanya Jelita sembari menatap intens wajah Evan.


Evan tersenyum, lalu membelai puncak kepala Jelita lembut. "Sudah sayang, nanti setelah dipindahkan, sayang bisa menjenguk papa." Jelas Evan.


"Apa kata Doktet mas?" tanya Jelita dengan perasaan khawatir. Semua mata yang ada diruang itu tertuju pada Evan, membuat Evan sedikit gugup.


"Papa belum melewati masa kritis saat ini. Tapi kamu jangan khawatir sayang. Operasi papa berjalan lancar." jelas Evan, berusah bersikap setenang mungkin. Agar Jelita meyakini ucapannya.


"Ooh syukurlah." ucap Jelita dengan mata berkaca. Hati Evan mencelos, tak terbayang bagaimana perasaan Jelita bila sesuatu terjadi pada papanya. Mengingat ucapan Dokter tadi, keadaan Sasongko tidaklah baik.

__ADS_1


To be continuous.


Hay readers sayang. Jangan lupa tinggalin Jejak kalau sudah mampir. Jempolmu memberikan semangat othor buat up tiap hari. Ngarep 🤭🤭🥰


__ADS_2