
Sudah tujuh hari Jelita melewati hari penuh duka ini. Tangisnya masih saja menghiasi hari-harinya. Ada banyak penyesalan yang tiba-tiba datang diantara rasa ikhlas yang dia miliki.
Selama hidupnya tak pernah dia benar-benar memperhatikan papanya. Dimanja sejak kecil, membuat dia hanya meminta perhatian ketimbang meperhatikan. Andai saja waktu bisa diputar kembali, dia ingin mencurahkan perhatian lebih banyak untuk papanya.
Andai dia tau kehilangan sesakit ini, dia tak mungkin menyia-nyikan waktu bersama papanya. Tapi sesal tak kan mengembalikan apa yang telah pergi. Sesal juga tak mampu mengembalikan waktu yang sudah terlampaui.
Hari ini Evan tetpaksa pulang sedikit larut. Libur beberapa hari membuat pekerjaannya menumpuk. Sebenarnya tak tega meninggalkan Jelita sendiri dirumah. Tapi Jelita sendiri yang memilih tinggal.
Evan menghentikan langkahnya tepatbdi ruang tengah. Dimana Jelita tengah berbaring sendirian di atas sofa. Hatinya mencelos melihat keadaan istrinya. Dia dapat merasakan apa yang dirasakan istrinya, dia pernah mengalaminya dulu.
Menyadari kedatangan Evan, Jelita menengadah menatap kearah Evan. Bibirnya melengkuk berusaha melukis senyum, walau tak sempurna.
"Kenapa larut sekali mas pulang?" tanya Jelita, sembari menarik tubuhnya ke posisi duduk.
Evan berjalan mendekat. Duduk di samping Jelita, membelai puncak kepalanya dengan lembut. Matanya masih kuyu tak bergairah. "Libur beberapa hari membuat pekerjaan menumpuk dimeja kerjaku sayang. Juga tidak bisa di pending. " jelas Evan.
"Mas pasti sangat lelah, maaf aku gak bisa bantu," keluh Jelita. Evan menggeleng pelan. "Melihat senyummu, capekku hilang sayang."
"Cih gombal!" Jelita tertawa sinis.
"Kok gombal sih sayang. Beneran loh."
"Bisanya..." cebik Jelita dengan mimik manja. Evan terkekeh. Akhirnya dia bisa mendengar rajuk manja istrinya, yang sempat hilang beberapa hari ini.
"Sudah makan sayang," tanya Evan. Jelita menggeleng pelan. "Nunggu mas pulang." sahut Jelita dengan suara pelan.
"Ya tuhan! Jam brapa ini sayang? Kenapa gak makan saja duluan." ucap Evan panik. Sudah jam sepuluh malam, dan Jelita belum makan.
"Aku ganti baju dulu ya, kamu tunggu disini." Evan bergegas kekamarnya mengganti baju lalu kembali menemui Jelita di lantai bawah. Membawanya kemeja makan. Menghangatkan makan malam yang sudah dingin. Baru menghidangkannya diatas meja.
Mereka memiliki banyak Art sekarang, tapi Evan memilih melayani Jelita seorang diri malam ini.
Saat Evan memberi Jelita piring. Jelita menggeleng pelan. "Suap," ucapnya manja. Evan tersenyum senang. Beginilah seharusnya sikapmu sayang.
__ADS_1
Satu piring nasi dan sepotong gurami panggang habis dilahap Jelita. Evan sendiri sebenarnya sudah makan sebelum pulang, jadi dia hanya menemani Jelita saja.
"Lagi?" tanya Evan. Jelita menggeleng, dia sudah sangat kenyang. "udah kenyang."
"Ya sudah, aku beresin ini dulu." ucap Evan sembari beranjak bangkit. Mencuci piring bekas makan Jelita. Lalu kembali duduk disamping Jelita.
"Lain kali, walau tak berselera makan. Cobalah untuk makan walau sedikit. Aku tidak mau kalian berdua jatuh sakit." ucap Evan sembari menyentuh perut Jelita, mengusapnya dengan lembut.
Mendengar ucapan Evan. Jelita tertunduk. "Maaf mas udah buatmu repot."
Evan tersenyum sembari mengusap puncak kepala Jelita. "Aku tidak repot sayang. Aku suka memanjakanmu, tapi jangan menyiksa diri dengan tidak makan begini. Aku tidak mau kalian kenapa-napa." ucapnya sembari mencium kening Jelita lembut. Jelita hanya menatap Evan dengan tatapan penuh binar bahagia.
"Sudah malam, ayo istrahat." Evan meraih jemari Jelita membawanya beranjak menuju kamar.
****
Siang ini Evan mengundang kedua sepupu Jelita untuk datang kekantornya. Tepat setelah makan siang Daren dan adiknya datang memenuhi undangan Evan.
Evan mendengar kabar kalau Heru jatuh sakit beberapa hari ini. Didalam surat wasiat Sasongko, tertulis bahwa kedua kakak beradik ini berhak atas saham diperusahaan cabang di kota B. Masing masing sebesar lima belas persen.
Tok!
Tok!
"Bawa mereka masuk." titah Evan.
Daren dan adiknya masuk keruangan Evan. Mereka masuk dengan sikap yang terlihat santun. Sikap Arogan yang selama ini mereka tunjukakan pada Evan tak lagi terlihat. Perubahan itu karena mereka mengetahui kebenaran dari cerita sebenarnya, tentang harta waris mendiang kakek mereka.
"Bagaiman kabar paman Heru? Apa sudah ada perubahan?" tanya Evan begitu keduanya duduk didepannya.
"Sudah mulai ada perubahan. Tadi sebelum kemari, kami baru saja menjenguk papa." sahut Heru santun.
"Baguslah. Oh ya Daren, sesekali bawalah istrimu menjenguk Jelita. Cerita dimasalalu bukankah kalian sudah melupakannya. Jadi kedepannya, hubungan persaudaraan ini jangan sampai renggang lagi. Kalianlah satu-satunya keluarga Jelita. Dia butuh kalian untuk melupakan kesedihannya ditinggalkan papanya." ujar Evan sembari menatap dua kakak beradik itu bergantian.
__ADS_1
"Baik bang, lain kali kami akan main kerumah kakak." sahut Daren, dia sudah menyematkan gelar abang pada panggilannya terhadap Evan. Itu pertanda dia benar-benar sudah melupakan permusuhan dimasa lalu.
"Dan kamu juga Jacy mainlah kerumah, bawa calon mu." goda Evan. Dia tau Jacy masih belum punya kekasih. Jacy tampak tersipu malu."Belum ada lagi bang." sahutnya sembari tersenyum.
"Kerja saja dulu. Kalau sudah sukses, wanita akan datang sendiri mencarimu." ujar Evan. Jacy hanya tertawa saja menanggapi ucapan Evan.
"Oh, aku meminta kalian datang, untuk menyampaikan wasiat yang papa tulis untuk kalian berdua juga paman Heru." jelas Evan.
Daren tampak kaget, begitu juga Jacy. Mereka pikir Evan akan membicarakan masalah hubungan mereka saja.
"Wasiat?" tanya Daren ragu.
"Benar, papa memberi kalian bertiga saham sebesar lima belas persen untuk masing-masing orang. Saham lima belas persen itu dari perusahaan cabang di kota B. Sebagai pemegang saham, kalian bisa bekerja di sana. Mulailah lembaran baru ini dengan penuh semangat dan niat baik. Aku percaya kalian pada dasarnya adalah orang baik. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Aku tau kalian punya kemampuan memajukan perusahaan itu." ujar Evan.
Daren menatap Evan penuh haru. Dia tak menyangka Sasongko masih memikirkan nasip mereka, setelah apa yang telah mereka lakukan selama ini. Sungguh penyesalan selalu datang terlambat.
Andai dia tau cerita sebenarnya dari awal. Permusuhan antar keluarga tak mungkin terjadi selama bertahun tahun. Dia juga baru yakin setelah papanya membenarkan perkataan Sasongko beberapa waktu ini. Entah angin apa yang membuat papanya mengakui segala kesalahannya. Tapi dia bersukur, dengan begitu dia tidak terus menerus memusuhi orang tak bersalah.
"Aku merasa tak pantas menerima wasiat itu bang, setelah apa yang kami lakukan pada pakde Sasongko." ujar Daren dengan suara pelan. Kalimat itu juga diamini oleh Jacy.
"Ambil apa sudah menjadi hak kalian. Dan buat diri kalian menjadi lebih pantas, agar pemberian almarhum tidak sia-sia. Papa memberikan saham ini karena dia menilai kalian baik dan pantas. Ada harapan dibalik pemberian ini terhadam kalian. Jadi jangan menolak." tegas Evan.
Daren menarik napas dalam. Dia benar-benar merasa malu, tapi apa yang diucapkan Evan benar. Dia pasti akan membuktikan bahwa Sasongko tak salah menilai dirinya.
"Baiklah, kami menerima pemberian almarhum dengan senang hati. Kami berjanji tak kan mengecewakan harapan almarhum."
"Bagus. Aku percaya kalian mampu. Kedepannya, aku harap kita bisa menjalin hubungan baik. Terutama pada istriku. Daren, aku memang benar benar meminta kamu membawa anak dan istrimu berkenjung kerumah. Hiburlah Jelita, aku tak tega melihat dia diam dirumah sepanjang hari. Meratapi kepergian papanya. Mungkin kehadiran kalian membuatnya terhibur. Bahwa dia masih memiliki saudara yang perduli padanya. " pinta Evan penuh harap.
"Tidak masalah, dua hari lagi aku kan membawa keluargaku berkunjung. Aku janji." ucap Daren.
"Terimakasih." ucap Evan dengan perasaan lega. Dia sudah menunaikan keinginan papa mertuanya. Menyatukan dua keluarga yang dulu saling bermusuhan.
To be continuous.
__ADS_1
Hay readers, makasih banyak udah dukung karya emak. Maaf kalau gak bisa balas komen readers sekalian. 🙏🙏🥰🥰