Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 59


__ADS_3

Sella diam seribu bahasa menatap ke luar jendela. Mobil yang mereka tumpangi melaju membela jalanan kota A. Sementara di belakang kemudi Jaka berulang kali mencuri pandang kearahnya resah.


"Kau benar-benar harus pergi Jaka?" Sella beralih menatap Jaka dengan tatapan tajam.


Jaka mendesah berat, dia tidak memiliki keberanian menentang tatapan tajam Sella. Tak sanggup melihat kesedihan dimata indah Sella, Jaka memilih menatap jauh kedepan. "Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan study ku di ingris, sekaligus membantu tuan Evan mengelola bisnisnya disana." ucapnya pelan.


"Kalau kau bersikap pengecut begini, kenapa dulu kau mengatakan cinta padaku. Menjeratku dengan perasaanmu." lirih Sella tak berdaya.


Jaka tetsentak, dia bukan ingin lari. Dia pergi untuk kembali, menjadi orang yang lebih pantas untuk Sella. "Aku pergi untuk sukses agar layak berada disampingmu. Bukan untuk lari meninggalkan dirimu," ucapnya sembari menatap Sella sekilas.


Sella diam, dia tak tau harus senang atau sedih mendengar penuturan Jaka. Dia sadar kepergian Jaka bersumber darinya. Restu papanyalah yang membuat Jaka nekat memperjuangkan nasibnya.


"Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku Sell, jadi percayalah padaku. Kau orang pertama yang aku temui saat aku kembali dengan kesuksesan. Kepergianku hanya untuk memperjuangkanmu." bujuk Jaka penuh kelembutan. Sella percaya itu, tapi hatinya tak rela berpisah dari Jaka terlalu lama.


"Baiklah kalau memang demi kebaikan kita aku rela menunggumu seberapa lama pun itu." ucap Sella akhirnya.


Jaka menepikan mobilnya, menatap Sella dengan penuh cinta lalu merengkuh tubuh Sella kedalam pelukannya. Mendekapnya erat seakan tak ingin terpisah barang sejenak. "Setialah padaku, tunggu aku sayang. Aku janji padamu, saat aku pulang nanti. Aku sudah pantas jadi lelaki yang berdiri disampingmu." bisik Jaka. Hati Sella mengharu biru tapi juga bahagia. Ini adalah pengorbanan mereka untuk bisa bersatu, mereka harus kuat dan saling menguatkan.


"Aku janji akan menunggumu dan tetap setia padamu." sahut Sella dengan titik air mata.


Lampu jalan dan pepohonan jadi saksi janji mereka. Janji dua insan yang saling mencintai untuk saling setia walau jarak memisahkan mereka.


***


Satu bulan sudah berlalu, Jaka sudah pergi keluar negri sesuai janjinya. Sementara Jelita sudah kembali kuliah setelah cuti sekian lama.


Sudah hampir sepuluh hari Jelita dan Evan tak saling bertemu saat dirumah kecuali ditempat tidur. Evan pergi saat Jelita belum bangun dan pulang saat Jelita sudah terlelap. Keduanya disibukkan oleh urusan masing-masing.


Seperti malam ini Evan pulang kerumah dengan perasaan lelah. Lelah jiwa dan raga, pekerjaan memaksanya mengabaikan istri dan anaknya beberapa hari ini. Saat Evan masuk kedalam, Mansion sudah terlihat gelap diruang tengah dan kamar tidur menandakan penghuninya sudah terlelap dalam mimpi indah.


Wajar mereka sudah tidur, ini sudah pukul dua dini hari. Evan melempar tubuh lelahnya keatas sofa ruang keluarga. Dia memilih ruang keluarga untuk melepas lelah sejenak agar tak membangunkan Jelita. Dia tau Jelita juga lelah mengurusi kuliahnya juga Alena putri mereka. Walau tak dipungkiri dia menginginkan sentuhan-sentuhan lembut Jelita.


Dia ingin bermanja-manja tanpa bercinta. Otaknya sudah panas seharian oleh seambrek pekerjaan yang menumpuk. Saat pulang seperti ini dia ingin disambut oleh sentuhan lembut istrinya.


Tapi setiap dia pulang Jelita sudah terlelap dan dia tidak tega menggangunya.


Dia baru saja memejamkan matanya saat tiba-tiba lampu menyala terang dan Jelita berdiri disudut ruangan.

__ADS_1


Spontan Evan bangkit keposisi duduk. "Sayang, belum tidur?" tanya Evan khawatir Jelita marah padanya.


"Sudah, barusan kebangun. Mas baru pulang?" tanya Jelita sembari melangkah mendekati Evan duduk disampingnya.


"Iya sayang."


"Lelah? Aku buatin kopi ya?" Tanya Jelita. Evan menggeleng. "Aku gak butuh kopi."


Jelita mengernyit. "Butuhnya apa?"


"Butuhnya kamu."


"Aku?" tanya Jelita sembari menaikkan alisnya.


"Hmm."


"Ya udah ambil." candanya sembari menyodorkan tubuhnya ke Evan.


Evan terkekeh sembari menyambut tubuh sintal Jelita. Membenamkan tubuh mungil itu kedalam pelukannya.


"Maaf sayang, akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Sampai-sampai tidak punya waktu untuk kalian," bisik Evan lembut.


Evan menatapnya lekat, lalu menyusupkan wajahnya diceruk leher jelita dengan manja. "Cepat selesaikan kuliahmu sayang, lalu jadilah asisten pribadiku. Aku tak tahan dilayani wanita lain sepanjang hari, sementara aku harus jauh darimu." keluhnya dengan suara pelan. Walau pelan tapi kalimat ini mengejutkan Jelita. Kata dilayani membuat dadanya berdenyut sakit.


"Bukankah biasa pemimpin sepertimu dilayani bawahan." ujar Jelita berusaha menenagkan gejolak hatinya. Jujur ada cemburu menyelinap disudut hatinya.


"Aku benci itu." ujar Evan terdengar putus asa.


"Masak," goda Jelita walau hatinya masih saja panas oleh cemburu.


"Kamu tahu sayang, tujuh puluh persen bos diprusahaan selingkuh dengan sekretarisnya."


"Hah! kok bisa?"


Evan menarik napas berat. "Dari jam delapan pagi, bos berinteraksi dengan sekretaris sampai selesai bekerja. Selama itu segala kebutuhan bos dilayani sekretaris dengan sangat manis. Dari jadwal pekerjaan sampai hal pribadi.lama kelamaan antara metereka akan ada rasa nyaman satu sama lain dan selanjutnya sayang bisa tebak apa yang terjadi." ujar Evan sembari menatap lekat wajah Jelita yang sudah berubah pucat.


"Apa mas juga sudah pada tahap rasa nyaman itu?" tanya Jelita dengan bodohnya.

__ADS_1


Evan tersenyum. "Sayangnya sekretarisku hanya melayani hal pribadi sebatas buatkan kopi, yang lainnya dikerjakan asistenku. Bagaimana menurutmu?" Evan balik bertanya.


"Jangan bercanda! Mas sudah menakuti dengan ucapan mas tadi." sungut Jelita.


"Aku tidak sedang bercanda sayang. Setiap hari ada saja wanita yang sengaja melempar tubuhnya kearahku. Aku takut aku tidak mampu lagi menghindar justru malah menagkapnya."


Jelita melebarkan matanya menatap Evan. "Alena baru berumur tujuh bulan, papanya sudah berpikir memelihara wanita lain. Jahat sekali kamu mas." ucap Jelita dengan mata berkaca-kaca.


"Hey kenapa jadi salah tanggap begini." Evan meraih tubuh Jelita memeluknya dengan erat.


"Aku tidak mungkin tergoda wanita lain dengan sengaja. Kau pasti tau itu, tapi dunia ini sangat keras sayang. Orang rela melakukan apa saja demi mewujudkan keinginanya." bisik Evan.


"Jadi mas serius ingin menjadikanku asisten pribadimu?" tanya Jelita.


"Tentu saja serius." tegas Evan.


Apa yang dikatakan Evan masuk akal. Bos dan sekretaris sebenarnya tak punya niat melakukan hubungan kotor didalam hubungan pekerjaan mereka. Tapi intraksi yang terjalin sekian lama mustahil tak menimbulkan rasa. Walau tak semua terjerumus kedalam lingkaran menyesatkan itu.


"Tunggu aku lulus, aku akan mendampingi tugasmu. Sampai saat itu tiba, bersabarlah dari godaan setan durjana." ucap Jelita dengan mata berbinar.


"Aku akan menunggu."


"Ayo naik sudah malam." ucap Evan lagi lalu membawa tubuh Jelita beranjak bangkit.


Setelah berganti baju Evan menyusul Jelita naik ketempat tidur. Memeluk tubuh hangat itu dengan lembut. "Aku sangat lelah, sedang tak ingin melakukannya. Hanya ingin memelukmu saja, boleh kah?" pinta Evan dengan suara pelan. Jelita mengagguk pelan.


"Bagaimana kuliahmu? Apa berjalan lancar sayang?" tanya Evan dengan mata terpejam. Sementara jemari kokohnya membelai lembut rambut panjang Jelita.


"Iya mas." Sahutnya singkat.


"Dan Alena apa dia rewel?" tanya Evan lagi.


"Iya dia bertambah rewel, sepertinya dia sudah tau kalau ditinggal. Tapi masih bisa ditangani pengasuh kok mas." jelas Jelita.


"Dia putriku kecerdasanya pasti melampui aku," ucap Evan bangga.


"Tentu saja aku percaya itu." kekeh Jelita. Dia juga berharap putrinya mewarisi kecerdasan papanya bukan dia.

__ADS_1


Malam ini mereka tidur hanya saling memeluk, tidak melakukan aktivitas apapun hingga keduanya terlelap.


To be continuous


__ADS_2