Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 67


__ADS_3

Sesa duduk ditepi spring bed berukuran king size, mencoba kelenturan dan kenyamanannya ranjang di Hotel yang di rekomendasikan Evan. Sementara Evan dan dua staf lainnya berdiri didekatnya.


Siang ini Sesa mengunjungi hotel yang di rekomendasikan Evan pada perusahaan travel milik keluarganya.


Sesa menepuk lembut permukaan spring bed dengan jemari lentiknya. Lalu terlihat angguan pelan pertanda dia puas dengan kwalitas spring bed hotel ini.


Setelahnya dia memeriksa ruang ganti juga kamar mandi dan balkon. Sejauh ini sepertinya Sesa puas dengan pasilitas hotel ini.


"Bagaimana nona Sesa? Apakah sesuai dengan harapan anda," tanya Evan dengan santun.


Sesa menatap bola mata Evan sekilas lalu mengangguk. "Semua fasilitas dan pelayan sudah sesuai standart. Aku kira kerja sama kita harus segera di tandantangi."


"Dengan senang hati."


"Aku sudah reservasi retsuran siang ini, aku ingin mengajakmu makan siang dan jangan menolak," tegas Sesa.


Evan tanpak berpikir sejenak. Dia ingat tadi Jelita bilang akan bertemu Sella saat makan siang.


"Kenapa?" tanya Sesa terlihat kecewa. Dari ekpresi Evan dia bisa menebak apa yang ada di benaknya.


"Jelita siang ini ada janji, aku rasa.."


"Kita saja tanpa Jelita." potong Sesa cepat.


"Jangan salah paham, ini murni masalah pekerjaan." Imbuhnya lagi, membuat Evan menghela napas berat.


"Baiklah ayo pergi." ujar Evan akhirnya.


Sesa tersenyum puas, lalu melangkah pergi mensejajari langkah lebar Evan yang sudah duluan pergi.


Di perjalanan Evan mengirimi Jelita pesan, memberitahu kalau dia makan siang bersama Sesa siang ini.


Di tempat lain di dalam restauran, Jelita terlihat khusyuk mendengarkan curahan hati Sella.


"Jaka membelikan aku rumah seperti yang aku impikan selama ini."


"Hatiku yang awalnya bimbang berangsur-angsur meyakini Jaka pria baik. Menurutmu apa sikapku terlalu lemah dalam menjalin hubungan?"


Jelita menarik napas dalam. "Jaka tidak selingkuh, dia sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi yang membuat sikapnya berubah. Aku rasa Jaka layak mendapatkan maaf mu."


"Teo juga mendukungnya, dia bahkan mengatur jadwal kencan untuk kami beberapa waktu lalu."


"Benarkah?! Itu bagus, kau tidak perlu repot meminta restu Teo sudah langsung setuju."


Sella tersipu, itu benar dia lega Teo mendukung Jaka. Papa dan mama bukan hal sulit kalau Teo sudah restu mereka pasti ngikut.


Mereka menjeda obrolan saat pelayan datang mbawa hidangan. "Silahkan di nikmati nona-noan." ujar peramu saji mempersahkan.


"Trimakasih."


Jelita memesan steak daging sapi tanpa nasi, begitu juga Sella.


Jelita baru akan menyuap steak kemulutnya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya pelan.


"Nyonya Evan, kebetulan sekali. Boleh gabung?" tanya Pria tinggi dan tampan yang tengah berdiri disamping Jelita sembari memperlihatkan senyumnya yang penuh pesona.


Jelita memasukkan daging steak kedalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan gerakan perlahan sembari menatap pria disampingnya sembari berpikir, siapa dia?

__ADS_1


"Ah! Sungguh keterlaluan kau melupakanku." sentaknya dengan mimik kecewa.


"Maaf."


"Ck! Haruskah kita mengulang perkenalan kita lagi," keluhnya tak senang.


Sementara Jelita sudah mulai mengingat siapa lelaki tampan di sampingnya ini. "Tuan Arif, maaf aku lupa."


"Baguslah kau masih ingat padaku," ujarnya senang, sembari menarik kursi di samping Jelita lalu melambai pada pelayan untuk memesan makanan.


"Berikan aku steak seperti yang nyonya ini pesan." Ucapnya pada pelayan tanpa perduli pada tatapan protes dua wanita di dekatnya.


Jelita menarik napas panjang. "Tuan Arif, kami sedang berdiskusi hal pribadi bisakah tuan mencari meja lain," jelas Jelita dibarengi senyum ramah di bibirnya.


Arif memandang mereka bergantian. "Kalian sahabatan?" Tanyanya. Jelita dan Sella serempak mengangguk mengiyakan.


"Itu bagus, kalian bisa bicara kapan saja bukan? Tapi aku tidak punya banyak kesempatan makan denganmu nyonya Sella. Kau tau kan, Evan seperti apa?" ibuhnya sembari menatap Jelita lekat.


"Tapi ini sangat penting tuan Arif, tidak bisa di bicarakan lain kali," tegas Jelita dengan sorot mata tajam.


"Ohh ayolah. Begini saja, aku akan makan tanpa ikut campur obrolan kalian anggap saja di sini cuma ada kalian."


Sella menarik napas kesal. "Jelita makanlah, biarkan saja dia, kita bicara nati saja," ujar Sella memilih mengalah. Dia berharap Arif segera pergi setelah makan.


"Terimakasi," ucap Arif sembari mengerling nakal pada Sella dan merekapun mulai makan dengan tenang.


Disela makan siangnya Arif terus saja menatap Jelita, membuat Jelita jengah oleh sikap Arif.


"Tuan Arif kalau kau terus menatapku aku takut kau tetsedak sendokmu," sindir Jelita dengan sorot mata tajam. Arif terkekeh lalu menggeser kursinya menjauh dari Jelita.


Hal itu membuat Jelita sedikit lega. Tapi hanya sesaat karena Arif justru memandangnya dengan gaya santai. Dia memiringkan tubuhnya kearah Jelita sembari bertumpang dagu dengan siku menepel di meja. Membuat Jelita risih oleh kelakuannya.


"Menatapmu tentunya, jangan hiraukan aku lanjutkan saja makan mu." ujarnya dengan gaya santai, andai bukan Jelita mungkin akan terpesona oleh gayanya yang memang memikat hati. Tapi sayang dimata Jelita hanya Evan satu-satunya lelaki yang mengetarkan hatinya.


"Tuan harap jaga sikapmu, ini tempat umum banyak mata melihat kita," tegas Jelita.


Mendengar ucapan Jelita ekspresi Arif yang tadi nakal dan menggoda kini berubah serius. "Kau benar-benar wanita yang penuh daya tarik nyonya Evan." Gumamnya tanpa beralih pandang.


Jelita yang sedang minum langsung terbatuk mendengar gumamam Arif, begitu juga Sesil dia tetsedak makanannya hingga gidungnya terasapedih.


"Hati-hati," ucap Arif panik sembari mengulurkan tisu. Tanpa sadar Jelita mengambilnya lalu membersihkan air yang membasahi baju dan mukanya.


Sementara tak jauh dari mereka sepasang mata memperhatikan dengan tatapan geram. Tinjunya kini mengepal erat buku buku jemarinya bahkan terlihat memutih.


"Hey, lihat wajahmu. Seperti ingin memukul orang," bisik Sesa pada Evan yang sedang menatap Arif dengan penuh amarah.


"Bukan seperti aku memang akan memukulnya," geram Evan. Dia hendak melangkah tapi Sesil menahan langkahnya dengan mencekal lengan Evan. Sesa tertegun menatap Evan yang terlihat benar-benar ingin menghajar Arif di depan umum.


"Kau ingin membuat keributan hanya karena dia menatap istrimu? Kau sudah gila Evan?!"


Evan menatap Sesa dengan tajam. "Maaf nona Sesa, sepertinya kita tidak bisa makan siang bersama hari ini. Lain kali aku akan mentarktirmu, kau pulanglah."


Sesa mendesah pelan. "Evan kau tidak bisa kesana dalam keadaan marah. Apa kau ingin mempermalukan istrimu?"


Mendengar itu Urat-urat tegang ditubuhnya mengendur. Emosinya perlahan-lahan mereda, mana tega dia mempermalukan istrinya tercinta di depan umum. Tadi dia hanya emosi pada Arif dan ingin memukul wajahnya yang lancang menatap mesrah istrinya didepan orang ramai.


"Sudah tenag?"

__ADS_1


"Hemmm."


"Ayo, kita lanjutkan makan siangnya. Aku sudah lapar."


Evan mengangguk lalu berjalan menghampiri meja Jelita. Sementara Sesa mengekori dari belakang.


Sella yang duduk menghadap pintu, dapat melihat Evan datang bersama Sesa menghampiri meja mereka. Dia dapat melihat amarah yang terpendam dibola mata kelam Evan.


"Je, suamimu..." bisik Sella gugup.


Jelita dan Arif menoleh kebelakang mengikuti arah pandang Sella.


"Mas, kamu makan disini juga?" tanya Jelita dengan senyum manisnya. Tanpa tau bahwa hati suaminya tengah dibakar cemburu oleh lelaki tampan disebelahnya.


"Buaknkah kau bilang akan makan dengan Sella. Lalu kenapa ada dia?" bukannya menjawab tanya Jelita Evan malah balik bertanya pada Jelita. Iris matanya yang hitam kini menatap lekat wajah Arif yang seperti sengaja memprovokasi dia.


"Oooh, dia..."


"Aku melihat istrimu disini jadi aku mampir. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan berjumpa dengannya bukan," potong Arif sembari menatap lekat Jelita.


"Kau!" bentak Evan dengan emosi yang mulai memuncak.


"Haaa, Evan kau sungguh mudah emosi. Aku hanya bercanda. Duduklah wanita cantik disampingmu pasti sudah sangat lapar."


Evan tak menyahut, dia beralih pada Sesa. "Maaf nona Sesa makan siangnya kita ganti lain kali saja. Aku akan mengantar istriku pulang sekarang."


Sesa mengangguk sembari tersenyum. Bagaimanapun dia tak bisa membujuk Evan, jadi dia memilih mengikuti keamauan Evan.


"Saudara Arif, maaf aku harus pulang dengan istriku sekarang." Evan berucap dengan sopan sembari meraih pergelangan tangan Jelita.


"Okay." sahut Arif dengan raut kecewa.


Sementara Sella tak bisa berkata-kata. Melihat Kecemburuan Evan Sella kehabisan kata. Evan terlihat seperti bocah ABG yang dilanda ceburu buta.


"Sella maaf,kau bisa curhat lain kali okay." ujar Jelita merasa tak enak hati.


Sella mengangguk. "Tentu, pulanglah."


Tiga pasang mata menatap kepergian Evan dan Jelita dengan pikiran mereaka yang berbeda.


Sementara Jelita mengikuti langakah Evan sembari menatap wajah kaku suaminya dengan tanda tanya. 'Apa dia marah?'


Mereka sudah didalam mobil, tapi Evan masih belum menghidupkan mesin mobil. Dia diam seribu bahasa sembari menatap Jelita dengan perasaan tidak menentu.


"Ada apa?" tanya Jelita dengan hati-hati. Dia tau suaminya sedang tak baik-baik saja tapi dia tidak tau apa yang terjadi.


Evan mendesah berat, lalu merengkuh tubuh Jelita dengan erat, mendaratkan ciuman bertubi-tubi diwajah bingung Jelita.


"Mas, ada apa? Kau membuatku takut." bisik Jelita.


Evan menghentikan aksinya. "Maaf sayang, kita pulang saja temui Alena." ujarnya sembari menghidupkan mesin mobil, melaju meninggalkan halaman parkir restauran menuju rumah mereka.


"Mas, kita ada rapat satu jam lagi." Jelita berkata dengan hati-hati.


"Batalkan semuanya sayang."


"Hhhm baiklah mas."

__ADS_1


To be continuous


__ADS_2