
Evan terbangun di tengah malam. Jelita tidur begitu gelisahnya sampai membangunkan Evan di sampingnya.
"Sayang, ada apa? Kenapa tidurmu gelisah?" tanya Evan sembari menyentuh tubuh Jelita yang basah oleh keringat.
"Gak tau, perutku terasa sakit." keluh Jelita sembari meringis menahan sakit.
"Apa?! Kenapa tidak bilang kalau sakit. Ayo kerumah sakit, aku khawatir sayang mau melahirkan."ujar Evan sembari beranjak bangkit.
"Ayo kekamar mandi cuci mukamu." Evan memapah tubuh istrinya turun dari tempat tidur, membawanya masuk kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi Evan bergegas mengganti baju tidur Jelita dengan baju hamilnya.
Evan terpaksa membangunkan supirnya ditengah malam untuk mengantar mereka menuju rumah sakit.
Benar dugaan Evan. Sampai dirumah sakit, hasil pemeriksaan menunjukkan kalau Jelita sudah mengalami pembukaan empat.
Jelita berjalan pelan, sesekali dia terlihat meringis menahan sakit. Keringat dingin sudah membasahi wajah dan tubuhnya. Sementara Evan setia menemani disampingnya. Sesekali mengusap perut Jelita yang sudah menegang.
"Kalau tidak tahan tidak usah teruskan sayang. Lebih baik operasi saja," bujuk Evan yang tak tega melihat Jelita menahan sakit. Jelita menggeleng pelan sembari mengigit sudut bibirnya. Sakitnya kini terasa semakin sering datang dan bertambah kuat.
Evan tak bisa memaksa kehendak Jelita yang ingin melahirkan putri mereka dengan cara normal. Dia tak mengira Jelita begitu kuat. Dia tau sakit yang mendera Jelita begitu dahsat, bahkan tubuhnya kadang sampai mengigil saking sakitnya. Tapi tak terdengar keluhan dari bibirnya sedikitpun.
Jelita berdiri sembari bersandar ditubuh Evan. Tubuhnya bergetar menahan sakit sembari mencengkram lengan suaminya erat. Cengkraman Jelita semakin kuat pada lengan Evan, matanya terpejam erat. Desisan kesakitan mulai terdengar dari bibirnya yang pucat. Membuat Evan tak tega melihat kesakitan istrinya, dia tak sabar. Dia sememangil Dokter agar memeriksa keadaan istrinya, apakah masih lama proses kelahiran anaknya. Ingin dia memaksa Jelita untuk melakukan operasi saja rasanya.
Setelah Dokter datang, Jelita langsung diperiksa dan ternyata sudah waktunya. Jantung Evan berdetak kencang, saat ikut masuk keruang bersalin. Dia tak pernah segugup ini saat berhadapan dengan musuh antara hidup dan mati.
Erangan kesakitan dari bibir Jelita membuat lututnya lemas, tubuhnya lunglai seakan tak bertulang, lunglai.
Jelita yang biasanya lemah lembut tak berdaya kini terlihat begitu bertenaga mendorong bayinya keluar dari rahimnya. Dia pikir bayinya akan langsung keluar, tapi ternyata tidak.
Bayinya belum keluar, sementara Jelita sudah terkulai lemas. Penganya mengendur, tangannya layu terkulai. Melihat itu Evan panik setengah mati.
"Sayang," panggil Evan sembari menyentuh lembut pipi Jelita. Mata Jelita terbuka perlahan, lalu menatap Evan dengan senyum tipis di bibirnya.
"Aku hanya istrahat," sahut Jelita dengan nada bercanda. Dia dapat membaca kehawatiran dimata suaminya. Evan narik napas lega.
"Apa masih sanggup sayang?" tanya Evan dengan suara berbisik. Jelita mengangguk pelan, lalu kembali meringis menahan sakit. Setelah berjuang beberapa kali, barulah putri pertama mereka lahir.
Penuh haru Evan mengucap syukur berulang kali. Menciumi wajah istrinya yang bermandi keringat dan air mata, penuh kasih sayang.
Bayi mungil berparas cantik itu menggeliat pelan di pangkuan Jelita, rasa sakit dan lelah Jelita terbayar lunas hanya dengan melihat tingkah imut bayinya. Tak terasa sudut matanya basah, haru menyelimuti relung hatinya.
"Selamat datang sayang," bisiknya parau. Tiba-tiba dia ingat Almarhum papa juga mamanya. Begini rasanya menjadi ibu, rasa yang tak bisa diungkapkan walau dengan beribu kata.
Lelah membuat Jelita tertidur dengan nyenyaknya. Sementara Evan berjaga di sampingnya tak bisa tidur. Apalagi hari sudah menjelang pagi.
Evan menatap ponselnya, entah dengan siapa berita bahagia ini akan dia bagi. Dia tidak memiliki saudara, begitu Jelita.
"Selamat pagi Sella, kau ada waktu luang pagi ini," sapa Evan melalui panggilan suara.
"Aku kuliah pagi ini. Ada apa dengan Jelita?" tanya Sella khawatir.
"Tidak terjadi apa-apa. Aku hanya ingin memberitahu, kalau putri kami sudah lahir malam tadi."
"Apa?! Aku segera kesana sekarang. Sudah dulu ya Van" pekik Sella sembari memutus panggilan.
__ADS_1
Evan tersenyum, Sella memang selalu bisa diandalkan.
Satu jam kemudian Sella datang bersama Karin dan Anita. Kamar yang tadinya sepi kini riuh oleh kehadiran mereka. Untung saja, Jelita berada dikamar vip jadi tak menggangu pasien lainnya.
"Kalian kok tau aku lahiran?" tanya Jelita heran pada tiga sohibnya.
"Lakik lu tuh, subuh-subuh telpon aku bilang istrinya dah lahiran dan butuh temen." sungut Sella.
"Oh ya?"
"Ya iya lah. Dia ada rapat pagi ini, ninggalin kamu sendirian gak tega. Kalau kami hak dateng dia bakalan batalin rapatnya demi kamu." Jelas Sella sesuai yang di ucapkan Evan padanya tadi.
"Emmm terimakasih kalian udah datang, sampai ngorbanin waktu kuliah kamu lagi." ujar Jelita dengan mimik manja.
"Mana anakmu Je, kok gak dusini?" tanya Anita celinguan mencari bayi Jelita.
"Blom dianter suster. Mungkin bentar lagi, tadi suster datang cuma beresin aku. Tapi akunya .alah udah diberesin Evan." sahut Jelita dengan senyum ceria.
"Evan mandiin kamu?" tanya Karin tak percaya.
"Iya, dia memang selalu mandiin aku Rin."
"Idih romantes bener suamimu Je, Jadi pingin kawin..." rengek Karin.
"Ya udah kawin, nikahnya belakangan gak apa-apa," sahut Anita.
"Asem lu!"
"Haaa."
Ruang rawat Jelita kembali riuh oleh suara tawa mereka.
Mobil Evan melaju ketempat pertemuan, setelah rapat tadi dia ada janji dengan salah satu perusahaan yang akan bekerja sama dengannya dalam satu proyek yang cukup besar.
"Sudah sampai tuan." ujar Jaka memberitahukan kalau mereka sudah sampai di sebuah restoran yang menjadi tempat janji bertemu.
"Iya." sahut Evan sembari menutup laptopnya.
"Ini jam makan siang, kau masuklah cari tempat makan. Biar aku yang bayar," ujar Evan sembari menatap Jaka di depannya.
"Terimakasih tuan."
"Ya sudah aku masuk dulu." pamit Evan, lalu beranjak keluar dari mobil.
Ruang vip dengan fasilitas private room jadi pilihan Evan. Selain nyaman juga aman untuk membahas masalah bisnis dengan kolega.
Sembari menunggu tamunya Evan melakukan panggilan Video pada Jelita. Mata sembab dengan wajah pucat menghiasi layar ponsel Evan. "Sudah makan siang sayang?" tanya Evan dengan suara lembut.
"Baru aja mas," sahut Jelita sembari menyeka keringat di wajahnya.
"Bayiku apa sayang sudah melihatnya hari ini?" tanya Evan lagi.
"Sudah, ini lagi nyu su mas." sahut Jelita malu-malu. Sebab ini pengalaman pertamanya menyusui bayi dak kata menyusui masih sedikit tabu baginya.
"Nyu su?" tanya Evan kaget.
__ADS_1
"Kamu nyu sui bayi kita sayang?" tanya Evan dengan ekspresi tak percaya.
"Iya, emangnya kenapa mas?"
"Baguslah, ya udah aku lagi di retauran sayang. Ada pertemuan dengan kolega, setelah ini aku langsung pulang. Oh ya, temanmu sudah pulang?"
"Belum, tuh mereka pada curi dengar obrolan kita." sahut Jelita.
"Sekecil mana aku mau lihat." pinta Evan. Tanpa aba-aba Anita yang memegang ponsel mengarahkannya ke sikecil yang sedang menyu su. Sontak ditepis oleh Jelita, tapi Evan sudah melihat semuanya.
"Anita! Apaan sih." gerutu Jelita. Evan terkekeh melihat sikap malu Jelita.
"Tidak apa sayang, aku sudah seeing melihatnya." goda Evan.
"Mas!" sentak Jelita dengan wajah bersemu merah,sebab ucapan Evan didengar jelas oleh tiga temannya.
"Haaa, iya maaf. Udah dulu ya sayang."
"Iya mas."
Tepat saat pangilan berakhir pintu ruangan terbuka dan sosok yang tak disangka Evan masuk dengan anggun.
"Kamu?"
"Iya, kok kaget gitu sih liat aku." ujar Arimbi sewot. Lalu duduk didepan Evan yang masih tak percaya bahwa koleganya kali ini adalah Arimbi.
"Kanapa kamu yang datang? Setahuku perwakilan dari Duta adalah Dewo anak kedua pemilik perusahaan." selidik Evan dengan wajah tak senang.
Sementara Arimbi menaggapi sikap Evan dengan sangat tenang. " Pak Dewo yang memintaku menemui kamu, memastikan kontrak kita berjalan lancar." sahutnya percaya diri.
Evan menarik napas dalam, dia sudah berjanji pada Jelita untuk memutus akses Arimbi terhadapnya. Tak disangka Arimbi malah datang sebagai koleganya. "Maafkan aku Arimbi. Pertemuan ini tidak bisa kita lanjutkan. Sampaikan pada pada Dewo, aku hanya mau membahas kontrak dengannya bukan dengan yang lain." ujar Evan dengan ekspresi datar.
Arimbi yang sedari tadi tenang terlihat marah oleh ucapan Evan. "Kenapa? Kamu gak percaya kinerjaku?!"
Evan menggeleng. "Bukan itu, Dewo mengirimmu itu berarti kau punya kemampuan. Tapi masalahnya bukan pada kinerjamu, masalahnya ada pada dirimu Arimbi."
"Kita teman dekat dulu, kita bukan musuh. Lalu apa masalahnya?!"
"Jelita tidak suka aku menemuimu." Jelas Evan tanpa basa basi.
Arimbi tertawa sinis. "Dia istrimu bukan? Terlalu kekanak kanaan. Tidak disangaka lelaki hebat seperti memiliki istri berjiwa kekanakan."
Evan mendesah berat. "Tidak usah berpanjang lebar, intinya pertemuan ini, aku tidak bisa lanjutkan." sahut Evan sembari memberkan berkasnya dan beranjak pergi.
Arimbi termangu, tak percaya Evan benar-benar pergi. "Van!" seru Arimbi seraya berdiri.
Evan yang sudah diambang pintu menghentikan langkahnya berbalik menatap Arimbi.
"Ada apa?"
"Kau sungguh tidak bisa memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan?"
"Biasanya bisa, tapi kali ini tidak. Sampaikan saja ucapanku juga alasanku pada Dewo. Aku pergi dulu." Evan berbalik pergi meningalkan Arimbi yang masih mematung ditempatnya, dengan tangan mengepal geram. Susah payah dia merayu Dewo agar memberikan proyek ini padanya nyatanya Evan dengan gampang menolak bertemu durinya.
"Bang sat kau Jelita." geram Arimbi sembari menggebrak meja.
__ADS_1
To be continuous
Selamat menunaikan ibadah puasa para readers emak, makasih like dan hadiahny 😘😘🥰