
Jaka berinisiatif mengantar Sella kembali kekantornya. Sementara mobilnya dibawa oleh supir Jaka.
Sepanjang perjalanan Sella diam membisu. Perubahan Jaka membuatnya takut sekaligus curiga. Selama menjalani cinta jarak jauh tak banyak yang dia ketahui tentang Jaka. Selain Jaka yang tidak memberinya kesempatan bertemu Jaka juga sulit dihubungi.
"Sudah sampai, turunlah. Pulang nanti aku akan menjemputmu." suara Jaka membuyarkan lamunan Sella.
"Teimakasih." sahut Sella lalu bergegas keluar dari mobil. Dia pergi tanpa menoleh kebelakang, dia tengah berperang batin antara kecewa juga rindu.
Sesampainya di kantor Sella langsung menghubungi Jelita. Dengan derai air mata dia mengungkapkan segala rasa kecewanya terhadap Jaka.
"Jangan berpikir sembarangan Sella ,Jaka pasti punya alasannya sendiri mengapa dia baru mengabarimu atas kepulangannya." ujar Jelita berusaha menyabari Sella.
"Itu yang membuatku takut Je. Aku tidak berpikir Alasan yang baik mengingat sikapnya terhadapku selama kepergiannya. Dia bahkan sudah pulang selama tiga bulan tapi tidak berusaha mencariku. Kalau kau jadi aku apa yang kau pikirkan Je. Aku merasa dia tidak mencintaiku lagi Je," isak Sella putus asa.
Jelita terdiam, dia juga akan berpikir sama dengan Sella bila Evan melakukan itu padanya. Jaka benar-benar salah dalam hal ini.
"Aku tau perasaanmu, tapi jangan bertindak gegabah sebelum semuanya jelas. Walau semua terlihat salah tapi aku percaya Jaka punya alasan yang tepat atas sikapnya. Jadi tenangkan hatimu, beri Jaka kesempatan memjelaskan semuanya padamu." Ujar Jelita menasehati. Kadang apa yang terluhat belum tentu sama dengan kenyataan.
"Baiklah aku akan mengikuti nasehatmu," lirih Sella.
"Kau ingin kita bertemu?" tanya Jelita.
"Tidak, Jaka menjemputku pulang kerja nanti."
"Baiklah, kalau kau berubah pikiran kabari aku."
"Pasti, sudah dulu Je. Aku sudah harus bekerja."
"Baiklah."
Jelita menghela napas begitu Sella memutus panggilan. Dalam hubungan tidak ada jalan yang selalu mulus, selalu saja ada batu sandungan.
__ADS_1
"Ada apa?" suara Evan membuyarkan lamunan Jelita. Jelita mendesah pelan lalu menatap Evan yang berdiri di ambang pintu ruang istrahat dikantornya.
"Sella dan Jaka lagi bersuteru. Dalam hal ini aku menyalahkan sikap Jaka yang tidak terbuka pada Sella. Mereka melakukan hubungan jarak jauh tapi Jaka seperti membuat jarak dengan Sella," jelas Jelita dengan raut wajah kesal. Dia bisa merasakan kegundahan dan keraguan Sella terhadap Jaka.
Evan mendekati istrinya lalu duduk disampingnya. "Setahuku, Jaka tidak memiliki hubungan selain dengan Sella. Jaka sengaja membuat jarak agar meminimalisir kemunkinan terbongkarnya hubungan mereka oleh keluarga Sella. Kenapa sekarang Jaka baru menemui Sella. Itu karena dia sudah memiliki kedudukan dan kekuasaan yang bisa dia andalkan untuk menemui keluarga Sella. Ku akui Jaka salah karena tidak terus terang tentang hal ini. Kau bantulah Jaka meyakinkan Sella kita tau Jaka sulit mengungkapkan persaannya dengan gamblang," jelas Evan sembari menepuk nepuk jemari Jelita dipangkuannya.
Jelita terlihat puas dengan penjelasan Evan, dia sendiri ragu Jaka menduakan Sella. Tapi sikapnya yang seolah membuat jarak mengundang kecurigaan.
"Baiklah aku akan sampaikan pada Sella nanti. Tapi beri kesempatan pada Jaka terlebih dahulu untuk menjelaskan semuanya." ujar Jelita. Evan mengangguk menyetujui ucapan Jelita.
"Sudah lega sekarang?" tanya Evan.
"Sudah mas."
"Ayo pulang sebentar temui Alena. Setelah itu temani aku ke jamuan makan malam."
"Aku? Bukannya mas biasa pergi dengan asisten pribadi mas?"
"Begitu ya, baiklah ayo pulang. Aku juga sudah rindu Alena."
Evan menggandeng mesrah jemari Jelita keluar dari ruang kerjanya. semua mata karyawan diam-diam tertuju pada mereka. Ada yang menatap iri ada juga yang senang. Apapun itu inilah yang diinginkan Evan dalam menjalani hidup. selalu bersama menghabiskan waktu dengan orang yang sangat dia sayangi. Hiruk pikuk dunia bisnis bukanlah tujuan hidupnya tapi takdir memaksanya berkutat di dunia itu. Memaksanya memikul tanggung jawab yang harus dia pikul seumur hidupnya.
Tapi Evan tetap tak ingin kehilangan momen berharga di setiap menitnya bersama Jelita dan Alena. Dia adalah korban ketidak pedulian keluarga dan dia tak ingin keluarganya mengalaminya.
Sesampainya di mansion Evan langsung mencari Alena. Entah sudah bearapa lama dia tidak menemani Alena bermain.
Alena sedang di kamarnya berasama pengasuh. Begitu melihat Jelita masuk Alena langsung menangis. Dia sudah mengerti akan ibunya hal ini membuat Jelita terharu.
Pengasuh menyerahkan Alena pada Jelita lalu keluar dari kamar Alena. Evan memang menerapkan aturan yang mutlak dirumah ini untuk karyawannya yang wanita khususnya yang masih muda. Evan tak memberi mereka ruang untuk berintraksi padanya. Kecuali ada keperluan mendesak. Dia sangat mencintai istrinya tapi dia juga manusia biasa yang tak lepas dari khilaf.
Jemari kokoh Evan terulur meraih tubuh Alena dari gendongan Jelita. Tapi urung dia lakukan karena Alena terlihat takut dia menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Jelita.
__ADS_1
Evan tertegun, Alena tak mengenalinya. "Kau lihat sayang, dia lupa papanya," ujar Evan dengan ekspresi sedih.
"Dia masih bayi mas, ingatannya belum kuat. Kamu sudah sebulan lebih gak ketemu Alena tentu saja dia merasa asing saat melihat mas." Hibur Jelita. Sebulan ini Evan terlalu sibuk, dia pergi saat Alena belum bangun dan pulang saat Alena masih tidur. Saat siang dia juga tak punya waktu.
Setelah membujuknya cukup lama akhirnya Alena mau juga di gendong Evan.
"Kalau begini terus aku takut mamanya juga lupa padaku," keluh Evan sembari menatap Jelita yang sedang menatapnya.
Jelita terkekeh, iris beningnya menatap lelaki gagah yang sedang menggendong putrinya dengan penuh cinta. "Bukan malah sebailiknya? Keasyikan diluar membuat mas lupa pada rumah. Apalagi dialuar sana semua terlihat begitu indah dan sempurna dan yang dirumah semakin hari semakin menua."
"Maka dampingi aku, aku bukan malaikat yang hanya memiliki akal tapi tak memiliki nafsu. Aku manusia biasa sayang." ujar Evan. Dia sadar dunia bisnis seperti apa, orang mampu menggadaikan harga dirinya demi memenuhi ambisinya. Tidak semua bisnis itu bersih, banyak orang memilih cara kotor mencapai tujuannya.
Jelita mengangguk setuju dengan keinginan Evan. Dia hanya memiliki Evan seorang dan akan dia jaga dengan segenap kemampuannya.
Malamnya merek pergi kejamuan makan malam yang diadakan oleh salah satu pejabat di kota A. Acara diadakan di sebuah hotel bintang lima milik Evan. Mau tak mau Evan harus datang memenuhi undangan itu.
Ballroom hotel sudah di sulap dengan hiasan bernuansa putih dilengkapi lampu hias super mewah. Sementara lantai di hiasi dengan karpet merah. Sudah di penuhi oleh tamu undangan.
Kedatangan Evan bersama Jelita cukup menyita perhatian tamu lainnya. Ini pertama kali Evan membawanya Jelita di acara bisnis.
Mata para peminat Evan menatap sinis pada Jelita, mereka merasa lebih dalam segalanya dari Jelita. Tapi tatapan itu tak membuat Jelita berkecil hati. Dia malah dengan bangga menggandeng suaminya. 'Inilah aku wanita kesayangan Evan' batinnya dengan sangat sombong. Sementara Evan melihat dengan jelas kesombongan kekasi hatinya itu dengan hati berbunga.
"Dengar, kau yang paling cantik malam ini." bisik Evan dengan sangat mesrah.
"Aku tau," sahut Jelita penuh percaya diri. Evan tersenyum simpul lalu meraih jemari Jelita memberinya kecupan lembut di depan semua tamu. Ini sudah biasa Evan lakuka, tapi ini didepan tamu tamu penting membuat Jelita tersipu.
"Mari kita temui pemilik acara," ujar Evan sembari menggandeng Jelita.
Setelahnya mereka pulang sebelum acara usai. Evan yang sudah kelelahan juga Jelita yang belum terbiasa berbasa basi di tengah orang orang penting membuat Evan memilih undur diri.
Sesampainya dirumah Evan tak melakukan apapun dengan Jelita. Keduanya memilih langsung tidur melepas lelah. Bukankah siang tadi mereka sudah saling bertukar kehangatan dengan gairah yang membara.
__ADS_1
To be continuous