
Jelita menatap ponsel di sebelahnya berulang kali. Sesekali dia melihat benda pipih di pergelangan tangannya, melihat waktu yang berjalan terasa begitu lamban. Hatinya resah memikirkan nasip suaminya ditangan para dewan direksi.
Sudah hampir makan siang tapi Evan belum memberi kabar pada Jelita. Jelita juga tak berani menghubungi Evan. Takut kalau Evan sedang sibuk saat ini.
Senyum mengembang dibibir merahnya, saat Evan akhirnya menghubunginya melalui panggilan suara.
"Halo sayang, mau makan siang pakai apa? Aku sedang ada di resto sekarang." tanya Evan di seberang telpon.
Jelita mendesah pelan mendengar suara Evan yang terdengar begitu tenang. "Apa saja yang kamu beli aku mau." sahut Jelita. Dia sedang tak mampu berpikir, yang ada dibenaknya hanya hasil rapat suaminya. Dia tau kesalahan Evan pada perusahaan sangat patal. Tapi dia tak tega kalau harus melihat suaminya di paksa melepas jabatannya saat ini.
"Baiklah, sayang ikut seleraku saja bagaimana?"
"Iya." sahut Jelita singkat.
Cukup lama Jelita menunggu, sampai akhirnya Evan datang dengan menu makan siang di tangannya.
"Sudah lama menungguku?" tanya Evan sembari merengkuh tubuh istrinya yang berdiri diambang pintu. Hanya anggukan kecil yang Jelita beri sebagai jawaban. Dia memilih diam menikmati aroma tubuh suaminya yang sudah seperti candu untuknya. Belakangan ini, menghirup aroma tubuh Evan mampu menenangkan hatinya.
"Ayo masuk, jangan biarkan bayi kita kelaparan." bisik Evan pada Jelita yang masih mendekap tubuhnya. Jelita kembali mengangguk pelan.
Evan membuka jasnya, meletakkannya di bahu kursi. Lalu mulai menata makanan yang dibelinya diresto tadi dengan cekatan. Sementara Jelita duduk sembari memindai setiap gerak suaminya.
Lelaki tampan ini selalu saja terlihat sangat manis, disetiap kelembutan yang disuguhkannya untuk Jelita.
"Makanlah sayang, semoga kau suka." ujar Evan sembari menarik kursi di sebelah istrinya.
"Boleh suap enggak?" tanya Jelita manja.
Evan menatap Jelita dengan senyum tipis dibibirnya. "Sikap manja ini, dari kamu atau anak kita?" tanya Evan. Netranya menatap jelita penuh kelembutan.
"Dari aku," sahut Jelita masih dengan sikap manjanya.
"Baiklah, buka mulutmu." Evan menyuapi Jelita dengan tangannya.
"Bagaimana hasil rapat tadi?" tanya Jelita di sela makannya.
"Belum bisa diputuskan. Tapi, masalahnya sudah dapat di atasi sesuai keinginanku." Jelas Evan.
"Apa mereka memecatmu?" tanya Jelita hati-hati.
__ADS_1
"Kenapa, sayang takut kalau nanti gajiku tak cukup menghidupimu?" tanya Evan dengan mata menyipit .
"Ck! Bukan seperti itu. Lagi pula aku mampu hidup dengan uang sepuluh jutamu selama sebulan. Sayang tidak lupakan? Bagaimana dengan teganya sayang membohongi aku mentah-mentah." sungut Jelita. Mengungkit kelakuan Evan. Masih segar diingatannya bagaiman dia harus berhemat, bahkan soal makan.
"Lalu apa yang membuat sayang khawatir?"
Jelita menatap wajah Evan dengan seksama. "Aku hanya tak tega melihatmu direndahkan orang karena masalah ini." Sahutnya lirih.
"Jangan terlalu banyak berpikir, tidak akan ada yang berani meremehkanku. Aaa, ini suapan terakhir." Jelita menurut, melahap suapan terakhir dari Evan.
Setelah makan, Evan tidak kembali lagi kekantornya. Dia memilih menghabiskan waktu dirumah bersama Jelita. Walau masih tetap bersama laptop kesayangannya. Memeriksa data yang masuk melaui email pribadinya.
Evan duduk bersandar pada bahu sofa, sesekali jemarinya mengusap lembut puncak kepala Jelita yang berada dipangkuannya.
Evan berdecak kesal saat ponselnya berdering, sekilas dia menatap wajah istrinya yang masih terlelap tak terganggu oleh dering ponselnya.
"Ada apa?" tanya Evan dengan suara datar.
Hening sesaat, lalu terdengar suara wanita disebrang sana. "Van, haruskah begini kau perlakukan aku?" terdengar isak tangis setelahnya. Evan bergeming tak menyahuti ucapan wanita itu.
"Van...," rengeknya dengan suara memelas.
"Kau menghukum Kiara?" suara Jelita mengejutkan Evan. Padahal dia sudah berusaha menekan suaranya agar tak mengusik tidur istrinya.
"Kau sudah bangun?" tanya Evan mengalihkan pertanyaan Jelita. Dia tak ingin membahas ini dengan Jelita.
"Hemmm."
"Sayang mau pindah kekamar?" tanya Evan sembari menyugar rambut hitam Jelita.
Belum lagi Jelita menyahuti, ponsel Evan kembali berdering. Jelita yang sudah dalam posisi duduk sekilas melihat nama ayah tertera di layar ponsel Evan.
"Angkat disini aja, aku mau dengar." titah Jelita, saat Evan hendak berajak dari duduknya.
"Ini masalah pekerjaan sayang."
"Apa salahnya aku ikut dengar?"
Evan mendesah berat, dia tak ingin berdebat dengan istrinya. Dengan terpaksa menuruti kemauan Jelita.
__ADS_1
"Apa kabar nak?" suara berat terdengar menyapa Evan.
"Baik ayah. Kabarmu bagaimana ayah?" sahut Evan santun.
Desah nafas terdengar jelas disana, hening sesaat. lalu suara berat itu terdengar lagi. "Nak hubungan keluarga kalista dan ayah bagai keluarga sendiri. Apa harus kau menghukum mereka seberat itu? Pandanglah hubungan darah diantara kita. Sekali lagi ampunilah keluarga Kalista. Mereka tak bersalah Van." ujar Frans berbau bujukan. Jelita yang ikut mendengar menatap Evan dengan mata menyipit penuh tanya.
"Bukan apa-apa," bisik Evan dengan suara sangat pelan pada Jelita.
"Van." suara berat Frans kembali terdengar.
Evan menghela nafas berat. "Aku hanya mengikuti hukum negara ini ayah. Kalau memang mereka tak bersalah, penegak hukum tak mungkin menahan mereka. kalau memang seperti kata ayah mereka tak bersalah ayah tak perlu khawatir. Mereka pasti akan bebas."
"Perusahaan mereka, apa kau bisa mengembalikannya?" tanya Frans dengan ragu.
"Masalah itu aku tidak bisa mengabulkannya ayah. Mereka kehilangan perusahaan sepenuhnya kesalahan mereka. Aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan. Kecuali dia mampu membelinya kembali, aku akan melepasnya untuk mereka." tegas Evan.
"Tidak bisakah kau berlunak hati pada mereka Van?" bujuk Frans sekali lagi.
"Mereka menargetkan istri dan anakku ayah! Harus selunak apa aku pada baji ngan seperti mereka. Kalau tidak ingat aku sudah memiliki Jelita. Ayah ingin tau apa yang bisa kulakukan pada keluarga Kalista? Ayah ingin dengar!" sentak Evan terpancing juga emosinya.
Frans terdiam, dia tak ingin dengar. Sebab dia sudah tau jawabannya.
"Jaga kesehatanmu ayah. Jangan menghubungiku bila berkaitan dengan mereka. Aku pamit dulu ayah." Evan menutup telponnya dengan wajah mengeras. Dia tak ingin memperlihatkan betapa marahnya dia pada Jelita. Tapi ayahnya justru membuatnya hilang kendali.
"Ada berapa banyak yang kau hukum sayang?" tanya Jelita. Netranya menatap wajah tegas suaminya berharap bisa membaca ekpresi suaminya. Tapi sayang dia tak bisa melihat apapun.
"Jangan pikirkan itu. Sayang mau aku potongkan buah?" lagi-lagi Evan mengalihkan pembicaraan Jelita. Melihat itu Jelita memilih menyerah, dia menganguk pelan.
Evan bergegas pergi kedapur, tak berapa lama dia kembali dengan piring berisi potongan buah.
"Aaa buka mulutmu." Titahnya sembari menyodorkan buah diujung garpu.
"Aku, ingin mengampuni mereka. Tapi tidak bisa. Dunia bisnis itu ibarat hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang berkuasa. Maaf sayang filosofi ini sudah melekat dibenakku semenjak dahulu." tutur Evan. Netranya menatap lekat manik hitam Jelita.
Jelita tak menyahut, dia menagkupkan kedua tangannya diwajah Evan, menyentuh bibir Evan sekilas dengan bibirnya. "Baiklah, aku mendukung mu. Selagi tidak merenggut nyawa seseorang, aku mengijinkannya." bisik Jelita.
"Terimakasih sayan." Evan merengkuh tubuh Jelita, memeluknya erat. Kehangatan tubuh ini, sungguh menenagkan jiwanya.
To be continuous.
__ADS_1