Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 39


__ADS_3

Evan dan Jelita melewati ruang tunggu tunggu rumah sakit dan langsung masuk kedalam ruang Dokte yang sedang praktek hari ini.


Seorang dokter wanita berusia empat puluhan menyambut mereka didalam ruangan.


"Siapa yang sakit?" tanya Dokter itu sembari menatap Evan dan Jelita bergantian.


"Dia istri saya dokter," sahut Evan. Sebab Jelita haya diam saja.


"Dengan ibuk Siapa?"


"Jelita Dok."


"Apa yang dikeluhkan ibuk Jelita beberapa hari ini?"


"Istri saya akhir-akhir ini terlihat lemas dan mudah lelah Dok." Jelas Evan. Sementara Jelita mengangguk mengiyakan.


"Kapan trakhir menstruasi?" tanya Dokter menatap ke Jelita. Jelita tampak berpikir. "Kurang lebih dua minggu lalu Dok." sahut Jelita.


"Baiklah ibuk baring dulu kita priksa darah lalu priksa urine untuk memastikan."


Setelah priksa darah Jelita melakukan test urine seperti kata Dokter tadi.


"Bagaimana Dok?" tanya Evan tak sabaran.


"Sebelumnya, selamat ibu Jelita tengah hamil saat ini."


"Hamil!!" Pekik Jelita kaget.


"Iya buk." sahut bu Dokter. Dia sedikit heran dengan reaksi Jelita yang terlihat sangat kaget dan seakan tak menyangka.


"Dokter gak salah priksa..."


"Sayang," ujar Evan memotong kalimat istrinya. Entah apa yang akan dia ucapkan. Tapi Evan berusaha menenangkan kepanikan Jelita dengan meraih jemari istrinya menggenggamnya erat.


"Kita dengar dulu apa kata Dokter, ya." bujuk Evan dengan lembut, Jelita patuh dia pun diam.


"Dalam masa awal kehamilan, perubahan hormon di tubuh ibu menyebabkan kondisi mudah lelah dan sering merasa lemas. Hal ini dikarenakan tubuh ibu memproduksi lebih banyak darah untuk membawa nutrisi kepada janin. Tingkat gula darah dan tekanan darah juga menurun. Inilah yang sering menjadikan ibu merasa lemas. Nanti setelah usia kehamilan bertambah kondisi tubuh ibu berangsur normal. Jadi tidak ada penyakit serius yang ibuk derita itu murni karena kehamilan ibuk. Saya akan berikan ibuk di minum sesuai anjuran ya buk. Ini resepnya."


"Baiklah Dok, terimakasih."


"Sama-sama. Jangan lupa sering-sering kontrol ke dokter kandungan. Itu penting untuk memantau perkembangan janin."

__ADS_1


"Baik Dok. kalau begitu kami permisi dulu."


"Silahkan."


Evan membawa Jelita keluar, setelah kekasir dan mengambil obat. Mereka langsung pulang sesuai permintaan Jelita.


Mobil melaju dengan kecepatan Sedang menuju apartemen. Sementara didalamnya Jelita terlihat diam mematung. Dia masih tak percaya dengan berita tadi. Berita yang membuat bahagia sekaligus begidik takut.


Melihat sikap diam Jelita Evan sangat resah dibuatnya. Tapi membahasnya di sini, didalam mobil, Evan merasa bukan tempat yang cocok.


Sesampainya di apartemen Jelita langsung masuk menuju kamarnya. Sementara dibelakangnya tampak Evan mengekori langkahnya.


Jelita menghempaskan pantatnya di tepi ranjang. Dengan mata berkaca-kaca dia menatap Evan yang bediri didepannya sembari memperhatikan gerak geriknya. "Bagaimana ini," desahnya dengan suara pelan.


Evan mematung sesaat di tempatnya. Dia tak menyangka reaksi Jelita akan seperti ini. Dia lupa seperti apa awal mula pernikahan mereka. Pernikahan ini bukan kehendak Jelita, tapi kemauan Sasongko yang dipaksakan padanya. Kehadiran seorang anak yang tidak direncanakan tentu saja membuat Jelita bingung harus senang atau malah sebaliknya.


Evan mendekat, duduk disebelah istrinya yang sudah terlihat sesegukan karena menangis. Mendekap tubuh hangat Jelita dengan lembut. "Apa sebaiknya kita buang saja," bisik Evan sembari membelai rambut Jelita. Sepontan Jelita menggeleng tegas. Evan juga tak mungkin melakukannya, dia hanya ingin melihat reaksi Jelita.


"Dia anak kita bagaimana bisa kita membuangnya," protes Jelita di tengah tangisnya. Evan tersenyum simpul.


"Tapi reaksimu terlihat berbeda sayang. Aku kira sayang tidak menginginkannya." bisik Evan sembari membelai rambut panjang istrinya.


Evan menarik napas berat, menatap wajah cantik istrinya dengan seksama. "Tidak apa sayang, seiring dengan berjalannya waktu, sayang bisa belajar bagaiman menjadi ibu yang baik. Jangan menangis, jangan buat buah hati kita berpikir, kita tidak menginginkan kehadirannya." bujuk Evan dengan lemah lembut.


Jelita mengusap sisa air matanya. Evan benar, bagaimanapun ini adalah buah cinta mereka. "Tapi tubuhku nanti terlihat jelek dengan perut buncit," rengek Jelita, dia kembali menangis saat membayangkan tubuhnya akan melar dengan perut membuncit.


"Sayang ingin memperlihatkan pada siapa tubuh molek ini. Padaku bukan?" tanya Evan sembari menatap mata berkaca milik istrinya. Jelita mengangguk.


"Mau sayang jadi gendut juga tetap cantik dimataku. Jadi jangan dipikirkan lagi masalah itu. Sekarang, pikirkan bagaimana sayang dan bayi ini tetap sehat. Kau dan dia adalah anugrah paling indah bagiku. Jadi tetaplah sehat selalu." ujar Evan sembari menyentuh perut Jelita yang masih terlihat rata.


"Mas pegang ucapan mas ya. Tetap mencintaiku walau tubuhku nanti melas saat hamil." tuntut Jelita.


"Tentu saja sayang. Bagaimana, sudah bisa tenang sekarang?" tanya Evan. Jemari kokohnya membelai lembut wajah sembab Jelita. Jelita mengangguk pelan.


"Aku ada beberapa urusan di kantor. Sayang ikut atau tinggal di sini?"


"Ikut," ucap Jelita dengan mimik manja.


"Ya udah ayok ikut."


Evan juga tak bisa meninggalkan Jelita sendiri. Dia masih butuh dukungan dari Evan.

__ADS_1


Saat memasuki lobby kantor Jelita tanpa sungkan bergelayut manja di lengan Evan. Sementara Evan hanya tersenyum saja. Dia membiarkan segala sikap manja istrinya baginya asalkan hati istrinya merasa senang dia tak masalah.


Jelita tengah tertidur di ruang pribadi Evan saat orang suruhan Evan masuk keruang kerjanya. Lelaki bertubuh atletis itu terlihat membawa beberapa berkas yang akan dia laporkan pada Evan.


"Sesuai perkiraan tuan. Mereka sudah mulai melakukan pergerakan. Insuden di cabang kemarin juga salah satu pekerjaan mereka." ujar lelaki itu sembari memperlihatkan beberapa bukti dari dalam tas hitamnya.


Evan melihat laporan lelaki itu dengan kepala manggut-manggut. "Trik kecil begini saja harus kolaborasi, payah." dengus Evan dengan senyum sarkas.


"Apa masih tetap kita biarkan sesuai keinginan mereka tuan?"


"Tentu. Biarkan mereka bermain sesuai keinginan mereka. Pantau dan kumpulkan bukti-bukti. Pelajari segala titik lemah mereka. Biarkan mereka mersa diatas awan. Sebelum merasa sakitnya terhempas dari ketinggian." ujar Evan dengan seringai dibibirnya.


"Tapi nyonya masih target mereka tuan."


"Aku tau. Tenang saja, masalah nyonya biar aku sendiri yang tangani. Kau tetaplah focus pada tugas utamamu."


"Baik tuan."


"Sudah siap menjalankan peranmu?" tanya Evan penuh arti, lelaki itu mengangguk tegas.


"Leni, bisa keruanganku sekarang." titah Evan melalui sambungan intercom kantor.


Tak berapa lama tampak pintu ruang kerja Evan terbuka, lalu sosok Leni masuk dengan begitu anngunnya berdiri dihadapan Evan.


"Leni tolong temani pak Hadi, dia perwakilan dari group Jaya Sentosa. Ada beberapa rencana hubungan kerja yang dia bawa, tolong kau pelajari. Nanti berikan hasilnya padaku." ujar Evan sembari menatap wajah cantik Leni lekat.


"Baik pak." sahut Leni dengan senyum paling cantik yang dia punya.


"Pak Hadi. Silahkan ikut dengan sekretaris pribadi saya, dia yang akan menggantikan saya untuk membahas proyek ini. Bapak tidak keberatan buakn?"


"Tentu saja tidak. Dengan siapapun yang penting hasil akhirnya tetap sama." ujar Hadi.


"Kami permisi dulu pak."


"Silahkan."


Evan menatap kepergian kedua orang itu dengan senyum tipis dibibirnya.


"Ingin bermain? Aku pasti akan menemani kalian bermain. Bahkan sampai puas." gumam Evan dengan ekspresi wajah dingin.


To be continuous.

__ADS_1


__ADS_2