Menikahi Pengawal Pribadi

Menikahi Pengawal Pribadi
Part 55


__ADS_3

Ruang kerja Sadewo siang ini sedikit bising oleh suara rengean Arimbi, tepatnya di dalam ruang pribadinya. "Aku akan mencobanya sekali lagi. Kali ini aku tidak akan gagal." suara manja Arimbi yang bergelayut manja membuat Dewo tersenyum senang. Tapi tetap saja dia tak bisa mengabulkan permintaan Arimbi untuk mewakili dirinya sekali lagi. Sebagai pebisnis dia tidak akan mengambil tindakan yang dapat merugikan prusahaannya.


"Sudahlah. Aku bilang aku yang pergi, jangan membantah lagi." Tegas Dewo. Dia tak ingin berjudi dengan aturan Evan. Siapa yang tidak kenal Evan dan sikap tegasnya, dia tak mau mengadaikan peruntungannya hanya karena bujuk rayu wanita simpanannya. l


"Lagi pula kau begitu ngotot ingin menagani proyek ini membuatku curiga. Apa kau tertarik pada Evan?" selidik Dewo dengan mata menyipit.


"Kau bicara apa! Aku hanya ingin memperlihatkan kemampuanku padamu. Evan mana mungkin sebanding dengan seorang Sadewo." sungut Arimbi.


"Bagus kalau kau tau. Sudah menyingkirlah, aku ingin menemui Evan. Kami sudah buat janji siang ini."


Arimbi terpaksa menuruti perkataan Sadewo, dia tidak mau Sadewo curiga pada niatnya menemui Evan. Sementara Evan belum juga berada di genggamannya.


Sementara itu di sebuah restauran bintang lima Evan baru saja selesai mengadakan peetemuan dengan koleganya. Dia tak langsung pulang, tapi menunggu Sadewo ditempat yang sama. Dia tak sabar untuk menyelasaikan pekerjaan kantornya lalu pulang menemui dua orang terkasihnya.


Lima menit berselang, Sadewo datang seorang diri.


"Sudah lama menunggu, saudara Evan?"


"Tidak, rekan bisnisku yang lain baru saja meninggalkan tempat ini."


"Aku sudah merasa tak enak hati tadi, melihatmu menunggu disini."


"Menunggu lama juga tidak akan menimbulkan kerugian kalau yang di tunggu saudara Sadewo."


"Haaa kau ini. Tapi sikapmu yang menolak orangku membuat aku kerepotan." ujar Dewo berbau protes.


Evan tersenyum datar. "Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa membahas apapun dengan orangmu."


"Oh ya, kalau boleh tau ada dendam apa saudara Evan dengan orangku. Jangan salah paham aku hanya ingin tau." selidik Dewo hati-hati.


"Dia teman kecilku saat di panti asuhan dulu, pertemanan kami cukup dekat. Tapi istriku cemburu padanya dan ingin agar aku memutus segala akses tentang dia, hanya itu tidak ada dendam apapun." Jelas Evan tak mau menyembunyikan apapun pada Sadewo.

__ADS_1


"Haaa aku tidak menyangka lelaki sekelas Evan sanggup setia pada satu istri." kekeh Sadewo tanpa bermaksud merendahkan Evan dan Evan tau itu.


Dia juga tau sepak terjang Dewo dalam bermain wanita. Baru satu bulan mernikah saja dia sudah membuat skandal dengan wanita lain. Evan salut pada istrinya yang mampu bertahan hingga sekarang.


"Kalau tidak setia pada istri lalu mau setia pada siapa?Selingkuhan? orang seperti mereka tidak tidak memiliki kata setia dikamusnya.Bukankah benar begitu saudara Dewo?"


"Benar, benar, tidak salah lagi." kekeh Sadewo lagi, walau dia tau kemana arah ucapan Evan. Sepertinya Evan tau siapa Arimbi disisinya dan Evan baru saja mengisyaratkan maksud Arimbi menemui Evan.


"Oh ya Evan, kalau Arimbi melakukan hal diluar batas aku harap kau bisa memaklumi. Arimbi tidak memiliki maksud lain terhadapmu, dia hanya ingin mengembangkan diri dengan mencoba menagani proyek-proyek besar." ujar Dewo dengan sorot mata dalam.


Evan balas menatap Dewo dengan tatapan datar. "Aku tau, kalau dia berani memiliki maksud tertentu terhadapku. Aku takkan sungkan membuatnya menghilang dari negara ini." ucap Evan dibarengi senyum sinis. Dewo terdiam, dia dapat menyiratkan kalimat ancaman Evan benar-benar ditujukan untuk Arimbi.


'Dasar wanita ja lang!' umpat Dewo dalam hati. Dia kesal Arimbi ternyata menargetkan Evan diam-diam. Apa masih kurang apa yang dia berikan padanya selama ini. Awas saja bila sampai proyek ini ditolak Evan karena ulahnya.


"Jangan khawatir, itu hanya peringatan. Sekarang mari bicara bisnis." ujar Evan dengan tenang. Dia dapat membaca aura ketakutan pada Sadewo dengan sangat Jelas. Dia hanya menguji, ingin tau, kedagangan Arimbi di atur oleh Sadewo atau kehendak Arimbi sendiri. Sekarang dia sudah tau dengan sangat Jelas. Dan dia yakin Sadewo pasti menyampaikan pesannya dengan sangat Jelas pada Arimbi.


***


Langkahnya lebar dan tergesa saat memasuki mansion, seakan tak sabar ingin bertemu dua orang terkasih yang sangat dia rindu sepanjang hari.


Evan membuka pintu kamar lebar-lebar lalu bergegas masuk kedalam. Jelita yang sedang memberi Asi untuk sikecil terlihat begitu senang oleh kedatangan Evan.


"Bener cepet pulang kamu mas." ucap Jelita sembari menyambut uluran tangan Evan menciumnya takjim.


"Iya benerlah masak bohong. Gak betah lama-lama dikantor. Kangen kalian," sahut Evan. Dia meletak kan buket bunga di dalam pas, meraih kursi lalu duduk disamping Jelita. Memperhatikan betapa lahapnya bayi mungilnya meminum Asi ibunya.


"Gak usah liat aku kayak gitu. Bik Isah ini, yang dandani aku kayak gini." sungut Jelita bernada protes . Saat Evan menatapnya, memindai setiap jengkal tubuhnya.


"Kok sewot? Harusnya sayang terimakasih sama bibik, dia udah mau merawat kamu seperti anak sendiri. Kamu tau gak? Semua ini obat tradisional dan ampuh buat orang abis lahiran." hibur Evan.


"Aku tau tapi aku jadi jelek, aku lihat di IG wanita abis lahiran langsung bisa tampil cantik, tapi aku udah kayak bibik," keluh Jelita sembari mengusap pipi putrinya dengan lembut.

__ADS_1


Evan tersenyum simpul, lalu membelai puncak kepala istrinya dengan lembut. "Nanti aja tampil cantiknya. Kalau kamu sudah sehat. Kalau sekarang buat apa tampil cantik, aku gak bisa ambil jatah juga." kini Evan yang pasang muka cemberut.


"Ihh apaan sih." cebik Jelita.


"Bener gak?" tanya Evan dengan kerling nakal.


"Iya bener!"


"Ya udah jangan ngeluh lagi. Ini demi kebaikan kamu sayang. Katanya ingin punya bodi langsing seperti sebelum hamil. Inilah prosesnya jadi harus sabar." nasehat Evan dengan lemah lembut.


Jelita mengangguk patuh. Tapi semua astribut yang dipakaikan bik Isah membuatnya tak nyaman saat berada di samping Evan. Keningnya dipakaikan pilis, lalu perutnya dibaluri lulur dan dipakaikan benda benama centing yang membalut perut hingga paha. Repotnya saat mau buang air dia harus membuka benda itu dan memasangnya lagi saat selesai. Jelita sudah protes, kenapa harus sampai paha, kan ribet. "Biar non jalannya tuh gak bisa sembarangan, biar tetep rapet." jelasnya waktu itu, Jelita pun nurut. Walau protes dia tetap memakainya sampai sekarang.


Jelita meletakkan putrinya di atas tempat tidur, tepat di sampingnya. Tampak bayi mungil itu tengah tertidur nyenyak setelah mendapatkan Asi.


Bukan hanya perhatian Jelita yang tertuju pada sosok mungil itu, perhatian Evan juga tertuju padanya. Dia tak menyangka impian memiliki keluarga bisa terwujud dengan sempurna. Jelita yang menagis takut saat tau dia tengah hamil. Kini menjelma jadi ibu yang begitu telaten mengurus bayi.


Dia bahkan belajar memandikan bayinya sendiri setelah putus pusar. Evan mengagumi kegigihannya menjadi ibu. Kekhawatiran Evan terhadap Jelita tak terbukti. Dia sempat membayangkan bagaimana riwehnya Jelita mengurus bayinya, ternyata tidak.


Dia tak mengeluh saat harus memberi Asi di tengah malam, padahal bisa diganti dengan susu formula.


"Ada apa menatapku seperti itu. Ingat mas aku belom bisa loh." tegur Jelita saat mendapati Evan tengah menatapnya penuh binar dimatnya.


"Kalau cium aja kan bisa sayang," sahut Evan dengan suara pelan.


"Gak ah, nanti mas kemana-mana jadinya." tolak Jelita dengan tegas.


Evan pasang mimik melas. "Gak akan kemana-mana mas janji." ujarnya pelan.


Jelita menatap manik hitam Evan berusaha membaca pikiran suaminya dia takut Evan khilaf padahal dia belum busa melayani. "Ya udah, dikit aja." sahut Jelita akhirnya.


Evan terkekeh, meraih tubuh Jelita memeluknya dengan penuh kasih sayang. Dia tidak benar-benar menginginkan Jelita, dia hanya menjahili istrinya. Dia suka dengan ekspresinya bila sedang keadaan sulit. Evan lalu mencium kening istrinya dengan perasaan yang begitu dalam penuh kasih sayang. "Sudah, ini saja sudah cukup." bisik Evan sembari melepas rengkuhannya. Sementara Jelita bernapas lega. Dia takut Evan tiba-tiba menerkamnya seperti biasa saat sebelum melahirkan.

__ADS_1


To be continuous.


__ADS_2