Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 36


__ADS_3

"Tolong lepaskan tanganku, Bang." Airi terus berusaha menarik tangannya. Meski White tak bisa melihat, tapi hati kecilnya merasa ini sangat salah. Dia wanita bersuami, tidaklah pantas seorang pria memegang tangannya tepat didepan suaminya.


"Ai, Sayang, kamu dimana?"


Suara White terdengar semakin dekat, sontak Airi dan Ryu menatap kearah pintu. Ryu tak kunjung melepaskan tangan Airi meski wanita itu terus berontak sambil memohon. Dan benar saja, beberapa saat kemudian, White muncul dari dalam.


Airi bisa melihat tongkat White sebentar lagi mengenai buket yang jatuh tadi. Dan benar saja, beberapa saat kemudian, tongkat itu menyentuh buket bunga dilantai.


Ryu menatap nanar pria buta didepannya. Pria yang telah merebut Airinya. Tangannya tetap memegang erat pergelangan tangan Airi.


Airi memejamkan mata, apa yang harus dia katakan saat White bertanya kenapa buket darinya ada dilantai?


White berjongkok saat tongkatnya menyentuh sesuatu dilantai. Meraba untuk mencari tahu benda apakah itu. Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui jika itu adalah buket bunga. Mungkinkah itu buket yang dia pesan? Lalu dimana Airi?


"Ai, Ai," teriak White yang mulai cemas. Bunga itu ada dilantai, dia takut terjadi sesuatu pada Airi. "Ai, kamu dimana?"


Dada Airi terasa sesak, dia ada didepan White tapi tak sanggup untuk menjawab panggilannya.


Sebelah tangan Airi memegangi lengan Ryu, menatap pria itu sambil menangis dan memohon. "Lepas, aku mohon," ujarnya tanpa mengeluarkan kata-kata.


"Ai, Airi, kamu dimana?" White yang panik terus berteriak. Dengan buket didekap didada, dia melangkah kedepan untuk mencari Airi. Entah kenapa, melihat pria buta yang sedang panik itu, Ryu merasa kasihan. Dan dengan perlahan, dia mengendorkan pegangannya, dan hal itu langsung digunakan Airi untuk melepaskan tangannya.


"Ai," White masih terus berteriak panik.


"Bang," sahut Airi sambil menyeka air mata dan berjalan cepat mendekati White.


White sekatika lega mendengar suara Airi. Dan saat Airi memegang lengannya, dia langsung membuang tongkat serta buket yang dia pegang lalu memeluk Airi.


"Ai, Sayang, kamu tidak apa-apakan?" White melepas pelukannya. Dengan kedua tangannya, dia meraba lengan, bahu hingga wajah Airi. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk pada Airi. "Kamu menangis Ai," White bisa merasakan pipi Airi yang sedikit basah. "Kamu baik-baik sajakan?"


"Ai baik-baik saja Bang." White kembali memelukanya erat. Airi bisa merasakan detak jantung White yang sangat cepat, sekhawatir itu suaminya padanya.

__ADS_1


Airi menatap buket mawar putih yang lagi-lagi tergeletak dilantai. Sebagian bunganya tampak rusak karena terinjak tadi.


"Aku mengkhawatirkanmu Ai, aku sangat mengkhawatirkanmu."


Air mata Ryu meleleh melihat wanita yang dia cintai dipeluk pria lain. Tak terima sudah pasti, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menahan sesak sambil memegangi dadanya.


Airi menatap Ryu, pria itu menangis. Dada Airi ikut sesak, kenapa dia harus berada diposisi ini. Menyakiti orang yang bahkan tak pernah menyakitinya sekalipun.


"Pergilah," ujar Airi tanpa bersuara. Dia tak ingin Ryu semakin sakit hati melihat kebersamaannya dengan White. Tapi Ryu tak kunjung pergi, dia masih bergeming sambil menatapnya dalam. Tatapan mata yang membuat perasaan bersalah Airi makin dalam.


"Kau kemana tadi, kenapa tak menyahut saat aku memanggilmu?" tanya White.


"A-aku tadi ada diluar. Ada anak kecil yang jatuh dari sepeda karena terserempet motor. Karena panik, aku reflek menjatuhkan bunga itu."


Mendengar kata terserempet, White kembali panik. Dia melepaskan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Airi. "Tapi kau tidak apa-apakan, kau tidak terluka?"


Airi menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Tapi maaf, buket dari Abang jadi rusak."


Airi tak bisa fokus mendengarkan perkataan White karena saat ini, ada Ryu dihadapannya. Menatapnya dengan raut terluka. Berada ditengah tengah dua orang pria yang sama sama mencintainya, membuat Airi merasa bagai terhimpit dua batu yang sangat besar. Sesak sekali, karena secara sadar, dia telah melukai salah satu diantara mereka.


"Pergilah," kembali bibir Airi mengatakan itu tanpa mengeluarkan suara. Situasi ini membuatnya sangat tidak nyaman. Sungguh, dia tak ada niat untuk menyakiti hati siapapun.


Meski pemandangan dihadapannya itu sangat menyakitkan, tak tahu kenapa, Ryu belum juga ingin beranjak dari sana.


White melepaskan pelukannya. Meraba wajah Airi dari mata, pipi, hidung lalu bibirnya. Mata Airi terbeliak saat White memajukan wajahnya. Tidak, White tidak boleh menciumnya didepan Ryu.


Airi segera melepaskan tangan White yang ada dipinggangnya dan sedikit menjauh.


"Ada apa Ai?" White tampak kecewa.


"A, ayo kita masuk Bang."

__ADS_1


"Kau tak mau aku cium?"


"Bu, bukan begitu, tapi," dia melihat kearah Ryu. "Ayo kita masuk."


Saat tangan Airi memegang lengannya, White langsung menariknya mendekat dan lagi lagi memeluknya. "Kenapa kau mencoba menghindari ciumanku?" bisik White ditelinga Airi. Jika biasanya, bisikan White mampu membuat tubuh Airi meremang, tapi tidak untuk kali kali, dia justru sangat tegang.


"I, ini dihalaman Bang. Aku malu kalau ada yang lihat."


"Biarkan saja mereka melihat." White menyentuh bibir Airi. Sebelah tangannya memegangi tengkuk, dan beberapa saat kemudian, bibirnya sudah mendarat dibibir Airi.


Ryu hampir saja terjatuh, kakinya terasa lemas melihat Airi berciuman didepan mata kepalanya. Dia mengalihkan pandangan kearah lain karena ini sangat menyakitkan. Sakit sekali, bahkan saking sesaknya, dia seperti tak bisa bernafas. Separuh nafasnya telah hilang bersama Airi.


Dengan langkah lunglai, Ryu berjalan meninggalkan halaman rumah Airi. Sesampainya didalam mobil, dia terduduk seperti orang linglung.


Arrghhh


Teriaknya sambil memukul stir dengan kuat. Tangisnya pecah, dia memegangi dadanya yang sakit. Kenapa harus seperti ini kisahnya dengan Airi?


Ryu teringat malam dimana dia berjalan berdua dengan Airi dipinggir pantai. Malam itu, dengan lantang dia menyerukan.


"Tuhan, aku mencintai Airi. Jadikan dia jodohku, Tuhan."


Airi tertawa lebar mendengar kegilaan pacarnya itu. Bukan hanya ada mereka disana tapi Ryu tampak tak peduli sama sekali pada orang-orang disekitarnya.


"Teriaklah seperti aku, Ai," pinta Ryu.


"Enggak, aku malu."


"Ish, berarti kau tak mencintaiku," Ryu pura-pura merajuk. Dia memutar kedua bola matanya malas, mengambil beberapa batu lalu melemparkannya kelaut.


"Tuhan, aku mencintai Ryuga. Aku sangat mencintainya." Ryu kaget sekaligus senang melihat Airi melakukan hal yang sama dengannya.

__ADS_1


__ADS_2