Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 66


__ADS_3

Dua piring spagheti dan 2 gelas sirup leci terhidang diatas meja. Tak lupa cake bertuliskan happy anniversary dengan hiasan amburadul juga ada disana. Setangkai mawar putih yang diletakkan disebuah pot kaca yang cantik, serta lilin.


Sederhana sekali memang, tapi ini permintaan Airi. Dia lebih suka dirumah seperti ini. Rasanya lebih privat daripada di restoran. Ya, mereka ada dirumah mereka sendiri. Mama Nuri menyuruh ART membersihkan tempat itu dan menyiapkan semuanya.


Lagu cinta mengalun dari ponsel milik White. Tak ingin tergesa-gesa menikmati momen demi momen dengan perasaan yang membuncah. Seperti saat ini, keduanya saling tatap, sama-sama diam, mengungkapkan rasa cinta dari sorot mata.


"Sampai kapan mau gini?" tanya Airi sambil mengulum senyum. Rasanya sudah cukup lama mereka hanya saling pandang saja.


"Udah laper?" Pertanyaan White dijawab mengangguk pelan oleh Airi.


White mendorong piring berisi spagheti miliknya didepan Airi. Membuat wanita itu langsung mengernyit bingung. Apa ini artinya, dia disuruh makan 2 piring? Meski sedang hamil, dia tak serakus itu.


"Aku gak suka konsep seperti ini," ujar White.


"Maksudnya?"


"Kita makan sepiring berdua." White berdiri, menarik kursi kesebelah Airi lalu duduk disana. "Dulu saat aku gak bisa lihat, kamu sering nyuapin aku. Dan malam ini, giliran aku yang nyuapin kamu."


White menggulung spagheti kegarpu lalu menyuapkannya pada Airi. Baru setelah itu, ganti dia yang makan. Tanpa mengobrol sama sekali, hanya saling tatap dan beberapa kali White menyeka sudut bibir Airi, tak terasa 2 piring spagheti tandas tak tersisa. Sepertinya 2 orang itu sama-sama kelaparan.


"Masih laper?" tanya White. Seporsi spagheti memang hanya sedikit. Tak bisa membuat perut kenyang. "Kalau masih laper, nanti aku beliin nasi goreng kesukaan kamu. Yang mangkal didepat pos satpam kan?"


Airi tergelak mendengar ide White. Candle light dinner, makan nasi goreng Mang Usup, dimana coba letak romantismenya.


"Kenapa ketawa?"


"Gak keren."


"Keren nomor 100, kenyang nomor 1."


Airi menunjuk dagu kearah cake didepan mereka. "Aku rasa si dia bisa bikin kenyang."


"Kenapa aku gak kepikiran kesana tadi," ujar White sambil garuk-garuk kepala.

__ADS_1


"Pasti mikir kalau rasanya gak enak ya, makanya gak kepikiran mau makan cake," Airi menyebikkan bibir.


"Enggak kok, beneran gak kayak gitu." Tak mau dinner romantisnya berubah jadi perdebatan sengit, White memilih berdiri lalu mengulurkan tangan kehadapan Airi.


"Dansa dulu yuk, sambil nunggu jam 12." Seperti putri yang diajak dansa pangerannya, Airi langsung menyambut tangan White dan berdiri.


"Aku gak bisa dansa, Bang."


"Bisanya apa? Joget dangdut apa ngereok?"


Airi tergelak sambil memukul lengan White. Suasana yang dia kira akan romantis, malah ambyar gara-gara guyonan White.


White menuntun tangan Airi agar melingkar dilehernya, baru setelah itu, dia melingkarkan kedua lengan dipinggang Airi. Bergerak mengikuti alunan lagu, dengan netra yang saling bertatapan.


"Kamu cantik sekali malam ini, Ai," puji White.


"Dan Abang juga tampan sekali," balas Airi.


"Apa saat anniversari yang kesekian nanti, Abang masih akan bilang aku cantik?"


Malam ini, mereka memakai pakaian formal meski hanya dinner dirumah. Tepatnya dimeja makan yang ada didapur. Jauh dari kesan mewah, tapi keintimannya dapet banget.


"Apa kau bahagia?" White kembali bertanya.


"Pertanyaan macam apa itu, jelas aku bahagia," sahut Airi. "Aku benar-benar akan menjadi orang yang tak tahu diri jika masih merasa tak bahagia. Suami yang tampan, kaya, penyayang, dan sebentar lagi akan menjadi ibu, menurut Abang, apalagi yang kurang? Jangankan merasa tak bahagia, bahkan aku merasa menjadi wanita paling bahagia didunia ini." Airi menyandarkan kepalanya didada bidang White.


Mereka terus berdansa hingga jam yang ada didinding dapur menunjukkan pukul 12 kurang 5 menit. Kembali ke tempat duduk, menyalakan lilin yang tertancap diatas cake, lalu berswafoto.


Sebelum meniup lilin, White memimpin doa dan Airi mengamininya. Tepat jam 12, White menggenggam tangan Airi lalu meniup lilin bersama.


"Yeee..." Seru Airi yang tampak girang. White sampai tak bisa berkata-kata, hanya perayaan sederhana seperti ini, tapi Airi sudah tampak sangat bahagia.


Airi memotong cake, lalu menyuapkan potongan pertama pada sang suami. Mata White terbeliak saat merasakan kue buatan istri dan mamanya itu. "Ini enak banget, Sayang," pujinya.

__ADS_1


"Beneran, Bang?"


White mengambil cake ditangan Airi lalu ganti menyuapinya. Ternyata benar, rasa cake itu sangat enak, berbanding terbalik dengan bentukannya yang amburadul.


Saking enaknya, tak terasa mereka sudah menghabiskan setengah bagian cake. Setelah merasa kenyang, mereka ke kamar untuk istirahat.


White sampai tak berkedip melihat Airi yang keluar dari kamar mandi dengan mamakai lingeri warna pink terang. Godaan apa ini, padahal dia sudah berniat untuk tak menyentuh Airi malam ini.


Setelah White bisa melihat, ini memang pertama kalinya Airi memakai lingeri. Dia sudah menyiapkan lingeri ini untuk malam anniversary. Dengan langkah malu-malu, dia mendekati White yang duduk diatas ranjang.


White mati-matian menahan gejolak didada. Darahnya berdesir hebat dan suhu tubuhnya meninggi hanya dengan berdekatan dengan Airi.


"Abang mau Ai?" Seperti biasa, Airi akan selalu menawarkan diri.


"Ki-kita, langsung tidur aja ya."


Hati Airi mencelos mendengar penolakan White. Padahal dia sudah yakin 100 persen White akan menyambutnya dengan panas malam ini. Tapi jawaban yang keluar dari mulut suaminya itu sungguh berbanding terbalik dengan bayangannya.


"Sayang," White memegang kedua bahu Airi. Mengangkat dagu wanita itu agar menatapnya. "Bukannya Abang nolak, tapi seharian ini, kamu udah capek banget. Kalau boleh jujur, tiap haripun Abang menginginkan Ai. Tapi malam ini, kita langsung tidur ya. Ini sudah terlalu larut."


Penjelasan White tetap membuat Airi kecewa. Padahal dia sudah menyiapkan lingeri spesial untuk malam ini.


"Kamu tahu sendirikan, Abang suka khilaf kalau udah nyentuh Ai. Mau lagi dan lagi. Dan Abang gak mau itu terjadi malam ini. Kita harus segera tidur agar besok bisa fresh saat acara."


"Acara?"


White langsung panik saat keceplosan.


"Acara apa, Bang?" Airi kembali bertanya.


"A-acara keluarga. Iya, acara keluarga. Syukuran kecil-kecilan."


"Oh...."

__ADS_1


"Kita tidur yuk," ajak White.


Airi berusaha membuang jauh rasa kecewanya. Menuruti White berbaring disebelah pria itu. White menarik selimut untuk menutupi tubuh Airi. Bisa gawat kalau terus lihat yang menggoda, bisa-bisa dia tak bisa tahan lagi.


__ADS_2