
Sehari pasca operasi, Dokter membuka pelindung mata White. Mama Nuri dan Papa Sabda yang ada disana ikut tegang, tapi yang pasti, White lebih tegang lagi daripada mereka.
Begitu pelindung mata dibuka, White merasakan matanya perih. Harapannya untuk bisa melihat seketika sirna saat membuka mata, dia masih belum bisa melihat secara jelas. Pandangannya sangat kabur, dia tak bisa mengenali siapapun didepannya. Benar-benar buruk.
"Kenapa seperti ini, Dok? Saya tak bisa melihat dengan jelas."
Mama Nuri menggenggam tangan Papa Sabda erat. Dia takut jika terjadi penolakan kornea mata.
Dokter memeriksa bekas operasi sebentar. "Hasilnya bagus. Untuk penglihatan yang masih buram, seperti saya jelaskan sebelumnya, akan perlahan-lahan normal kembali. Semua butuh penyesuaian, tidak serta merta langsung."
Mama Nuri bernafas lega. Setidaknya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya butuh waktu saja agar penglihatan White normal kembali.
Dokter memberikan White kaca mata pelindung yang harus dia kenakan untuk sementara waktu. White juga dilarang berenang dan olahraga berat dulu. Saat keluar rumah, harus mengenakan kaca mata hitam, dan saat tidur, masih harus memakai pelindung mata. Dokter juga memberikan obat tetes serta obat yang harus dikonsumsi. Setelah menjelaskan semuanya, Dokter meninggalkan ruangan White.
"Airi kemana Mah?" tanya White.
"Airi tidak enak badan, dia dirumah."
White menghela nafas berat. Setelah selesai operasi, dia belum bertemu dengan Airi sekalipun.
"Dia sakit apa?"
"Hanya tidak enak badan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"White mau telepon dia. Mana ponsel White."
"Lebih baik kamu istirahat saja," Papa Sabda ikut bicara. "Dokter menyarakan agar kamu lebih banyak telentang. Kalau ingin penglihatanmu cepat pulih, turuti semua saran Dokter. Lebih baik tidur saja, jangan pikirkan Airi. Dia baik-baik saja."
"White cuma pengen dengar suaranya Pah."
__ADS_1
"White, dengar kata Papa. Airi juga butuh istirahat, dia tidak enak badan. Jangan ganggu dia dulu." White tak bisa melawan lagi. Kali ini, dia menuruti perkataan Papa Sabda.
...----------------...
Siang ini, White sudah diperbolehkan pulang. Tapi masih ada yang mengganjal dipikirannya. Lagi-lagi, Airi tidak ada. Apa istrinya itu tak ingin menjemputnya pulang? Seberapa buruk kesehatan Airi hingga tak bisa datang kerumah sakit?
"Mah, apa Airi ada di rumah Mama?" tanya White. Mereka sudah ada didalam mobil, hendak meninggalkan rumah sakit.
"Airi di rumah ibunya," jawab Mama Nuri.
"Kenapa disana Mah?" White makin bingung lagi. Dia pulang hari ini, apa Airi tak ingin menyambut kepulangannya.
"Airi ingin di rumah ibunya sementara waktu White."
"Tapi kenapa Mah?" White merasa ada yang janggal. Airi tak muncul sama sekali setelah dia dioperasi. Pikirannya jadi kemana-mana sekarang.
"Sudahlah White, fokus pada pemulihan kamu saja," tekan Papa Sabda.
"Gak ada yang merawat kamu disana. Kita pulang kerumah Mama," tolak Mama Nuri. "Lagian penglihatanmu masih kabur. Kamu belum bisa mandiri."
"White akan nyuruh Airi pulang, Mah."
Mama Nuri membuang nafas berat. "Airi belum bisa jagain kamu. Kondisinya belum memungkinkan."
Mobil yang dikemudikan Papa Sabda mulai meninggalkan rumah sakit. Tak peduli dengan rengekan White yang ngeyel minta pulang kerumahnya, Papa Sabda tetap membawa White pulang kerumah.
Dalam perjalanan, White terus memikirkan Airi. Ada apa dengan Airi, kenapa mendadak hilang seperti ini. Jangan-jangan, Airi pergi meninggalkannya karena merasa tugasnya menjadi mata untuk dirinya sudah selesai.
Sesampainya dirumah, Mama Nuri langsung menyuruh White istirahat. 5 hari lagi, mereka harus kembali kerumah sakit untuk kontrol.
__ADS_1
"Kamu masih mikirin Airi?" tanya Mama Nuri. Mereka duduk bersebelahan disisi ranjang.
"Airi gak ninggalin aku kan, Mah?"
Mama Nuri langsung tergelak. "Segitu takutnya kamu ditinggal Airi."
"Mah, aku tidak sedang becanda," White berdecak pelan.
"Teleponlah Airi," Mama Nuri yang kasihan menyerahkan ponsel milik White.
Pria itu langsung girang dan segera menghubungi Airi. Telepon tersambung, tapi Airi tak menjawab, membuatnya kembali gelisah. Tak mau menyerah, sekali lagi dia mencoba menghubungi nomor Airi.
"Abang."
Suara Airi seketika membuat pikiran buruk White langsung lenyap. Ternyata wanita itu tidak pergi, Airi tidak meninggalkannya.
"Ai, kamu baik-baik saja?" White tampak cemas.
"Ai baik-baik saja, Bang." Suara Airi terdengar sangat lemah. "Maaf, Ai belum bisa jagain Abang buat sementara waktu."
"Ai, kamu sakit? Kamu dimana, Abang pengen ketemu."
"Udah penasaran ya, pengen ngelihat Ai?" goda Airi. Terdengar tawa pelan Airi, yang seketika membuat White tersenyum.
"Penglihatan Abang belum jelas. Belum bisa mengenali wajah. Padahal Abang udah gak sabar pengen ngelihat kamu."
"Abang istirahat yang baik, biar penglihatannya segera pulih. Nurut sama Mama. Ai yakin Mama bisa merawat Abang dengan sangat baik."
"Tapi Abang pengennya dirawat sama kamu."
__ADS_1
"Maaf, Ai belum bisa rawat Abang. Abang istirahat, nanti Ai telepon Abang lagi." Airi mematikan sambungan telepon setelah itu.