Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 46


__ADS_3

Minggu pagi, Airi sudah berkutat dihalaman rumah. Kemarin sepulang dari makam, mereka mampir kesebuah toko bunga. Membeli beberapa bibit mawar putih. Airi memindahkan bibit mawar dari polibag tersebut kedalam pot yang lebih besar.


Sejak sebulan kebelakangan ini, Airi mulai hobi berkebun. Dia akrab sekali dengan Bu Salamah, tetangga depan rumah yang memang hobinya berkebun. Wanita itulah yang menularkan hobinya pada Airi. Beliau memberi Airi banyak sekali bibit tanaman yang kemudian dia tanam dihalaman rumah.


"Ada yang bisa Abang bantu?" Airi menoleh saat mendengar suara White. Ternyata suaminya itu sudah berdiri diteras sambil membawa tongkat.


"Bagaimana Abang tahu Ai ada disini?"


"Aku mendengar kamu berbincang dengan Bu Salamah tadi."


"Oh..."


"Ada yang bisa dibantu gak?" White hendak berjalan menuruni teras tapi Airi melarangnya. Dia takut White tersandung karena banyak barang berserakan di halaman. Dia belum membereskan peralatan berkebunnya serta beberapa polibag bekas dan sampah daun.


"Abang duduk aja dikursi teras sambil nyanyi. Itu sudah sangat membantu banget."


Sesuai permintaan Airi, White masuk untuk mengambil gitar lalu kembali duduk dikursi teras. Dia sudah sangat hafal dengan rumah ini, jadi tak ada kesulitan lagi untuk berjalan menuju masing-masing ruangannya.


"Kau mau lagu apa Ai?" tanya White yang sudah siap dengan gitarnya.


"Pokonya lagu cinta yang bikin baper," sahut Airi sambil mengisi pot dengan tanah dan sedikit pupuk. Dia sudah memindahkan 3 mawar putih dari polibag ke pot yang lebih besar, dan hanya tinggal 1 saja yang belum. Sinar matahari sudah mulai terasa hangat, dia harus segera menyelesaikan kalau tidak mau kepanasan.


Jreng


Suara petikan pertama itu sukses membuat Airi menoleh. Tersenyum sambil menatap White yang terlihat mempesona dengan gitar ditangannya. Suaminya itu punya kharisma yang kuat. Tak ayal banyak kaum hawa yang menggilainya sejak dia masih ABG.


White mulai mengalunkan lagu-lagu cinta yang menggambarkan perasaannya pada Airi. Sampai Airi yang tadinya sibuk, jadi tak bisa fokus. Bukannya lanjut memindahkan mawar, dia malah terpaku menatap White yang sedang bernyanyi.


Tak bisa dipungkiri, suara White sangat merdu. Lagu cantik milik Kahitna, yang dia senandungkan, mampu membuat Airi baper. Dia tak mau masa-masa seperti ini cepat berlalu. Airi berharap, sepanjang sisa umurnya, hubungannya dengan White akan terus seperti ini. Romantis, penuh dengan cinta dan kehangatan. Ya, semoga saja, waktu tidak membuat cintanya dan White terkikis.

__ADS_1


"Aww.." pekik Airi. Tak sengaja, jarinya menyentuh duri mawar hingga berdarah. Terlalu fokus menatap White, dia sampai tak memperhatikan apa yang dia sentuh.


White sontak berhenti bernyanyi mendengar pekikan Airi. "Ada apa Ai?" tanyanya cemas.


"Gak papa Bang, cuma kena duri dikit." Airi bangkit dari duduknya. Berjalan menuju keran air lalu mencuci tangannya.


"Berdarah gak?"


"Dikit." Sahut Airi sambil meniup jari jempolnya yang sedikit perih meski darahnya sudah berhenti keluar.


"Sini Ai," panggil White sambil melambaikan tangan.


Airi tak mungkin menolak, dia naik keteras lalu duduk dikursi sebelah White.


"Mana yang sakit?" White menengadahkan tangannya kearah Airi. Tak mau membuat White cemas, Airi langsung meletakkan telapak tanganya disana. "Yang sebelah mana?" White menarik tangan Airi mendekat kearahnya. Andai saja dia bisa melihat, dia tak perlu bertanya seperti ini. Pasti akan ada momen romastis seperti dalam drama dimana si pria mengobati luka si wanita. Sayang keterbatasannya tak memungkinkan untuk itu.


"Jari jempol."


Jantung Airi berdegup kencang. Padahal yang ditiup hanya jempolnya, tapit mampu membuat seluruh tubuhnya meremang. Dia merasa sangat dicintai dengan perhatian kecil ini.


"Apakah masih sakit?"


Airi yang masih melamun menatap White, sampai tak sadar jika suaminya itu tengah bertanya. Hingga saat White memasukkan jempolnya kedalam mulut, dia baru tersadar dan menariknya.


"Kamu tadi ngelamun?" ledek White sambil terkekeh pelan.


"Apaan sih, eng-enggak kok," sahut Airi terbata. "Bang, nanti sore ke mall yuk."


Mendengar kata mall, langsung membuat White teringat kejadian di gedung bioskop. Dia seperti masih trauma untuk kembali menginjakkan kaki di mall.

__ADS_1


"Ai lagi pengen makan sesuatu disana," ujar Airi.


"Apa gak bisa DO aja?" White masih belum siap mental untuk kembali ketempat itu. "Nanti saat aku sudah bisa melihat, kita bisa sering-sering ke mall. Aku janji, kapanpun yang kamu mau, aku pasti iyain."


Padahal Airi sedang ingin makan ditempat sekaligus jalan-jalan. Karena selain makan, dia juga pengen beli sesuatu. Tapi sepertinya, suaminya itu tak teringin pergi.


"Baiklah," sahut Airi pelan.


Suara Airi yang terdengar sedih itu, membuat White jadi tak tega. Airi pasti kecewa karena dia tak bisa mewujudkan keinginan kecil itu.


"Ya udah, nanti sore kita pergi," ujar White pada akhirnya.


"Abang yakin?" Airi langsung kembali bersemangat. Dia memegangi tangan White sambil menatapnya.


"Iya."


White kaget saat Airi tiba-tiba memeluknya. "Makasih Abang. Ai sayang Abang." Airi melepas pelukannya lalu mengecup pipi suaminya. "Aku lanjut beres-beres dulu," Airi segera beranjak lalu kembali ketempatnya tadi. Meninggalkan White dengan jantung yang masih berdebar.


Airi segera menyelesaikan memindahkan bunga mawar lalu membereskan area taman kecilnya karena cuaca sudah makin panas.


...----------------...


Setibanya di mall, tempat pertama yang dituju Airi adalah food court. Sejak kemarin, dia teringin makan nasi goreng seafood yang ada di mall itu. Dulu, dia sering sekali kesana bersama teman, ibunya, dan kadang dengan Ryu. Nasi goreng seafood disana, memang salah satu makanan favoritnya.


"Abang bisa gak makan sendiri, apa perlu Ai suapin?"


"Makan sendiri saja." Tak sama seperti Airi, White memesan rice bowl agar dia lebih mudah saat makan.


Saat sedang asyik makan, Airi merasa jika orang yang duduk dimeja belakangnya membicarakan White. Dan saat dia menoleh, ternyata benar, orang dibelakangnya sedang sibuk memperhatikan White. Tapi tatapan Airi sontak membuat kedua orang itu pura-pura melihat kearah lain. Mendadak Airi kesal, hanya karena suaminya itu buta, dia dijadikan pusat perhatian dan bahan omongan.

__ADS_1


"Iya, mirip banget loh sama yang divideo ini." Kembali Airi mendengar obrolan mereka meski pelan.


__ADS_2