Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 57


__ADS_3

"Airi, kamu Airi?" White memegang tangan wanita itu, menggenggamnya dan merasakannya dengan mata terpejam. Dia sangat yakin, ini adalah tangan Airi, tangan wanita yang hampir 8 bulan ini selalu memegangnya, menuntunnya, menjadi mata untuknya. "Ai, kamu Airi kan?"


"Dia bukan Airi," ujar Mama Nuri.


"Tidak Mah, aku yakin dia Airi." White tak mau melepaskan tangan wanita itu. Dia tak pernah seyakin ini sebelumnya. "Aku mohon jangan diam saja, bicaralah. Kamu Airi kan?" desak White.


Dia bisa melihat jika wanita yang tadi berbaring diatas brankar itu mulai bangun.


"Abang."


Mendengar suara itu, White melepaskan tangan dalam genggamannya. Dipelukanya wanita yang duduk diatas brankar yang ternyata Airi itu dengan sangat erat. Seakan takut jika lepas, dia akan kehilangannya.


"Ai, kau tahu betapa rindunya Abang padamu Ai." White mengeratkan pelukannya. Perasaannya membuncah, akhirnya setelah kerinduan yang menyiksa satu minggu ini, dia bisa kembali memeluk Airi-nya.


Sama seperti White, Airi sesungguhnya juga sangat merindukan pria itu. Rindu bersandar didada bidangnya yang nyaman, serta rindu aroma tubuhnya yang menenangkan. Dia rindu semua yang ada pada White.


Setelah cukup lama mereka berpelukan, White melepaskan pelukannya. Mundur selangkah lalu menatap wajah Airi. Berusaha melihat namun tetap tak bisa, penglibatannya masih sangat buram, dia benci itu.


"Jangan dipaksakan, nanti Abang juga akan bisa melihat wajah Ai," Airi paham apa yang saat ini dilakukan suaminya.


White kembali mendekat, membingkai wajah Airi dengan kedua telapak tangannya lalu mendaratkan ciuman diwajah Airi. Tak peduli ciuman itu mendarat dikening, pipi, hidung atau bagian wajah manapun, dia terus menyiumi Airi.


"Hem"

__ADS_1


Sampai deheman Mama Nuri berhasil menyadarkan dia jika saat ini, mereka tak hanya berdua. Dengan sedikit menahan malu, White melepaskan kedua telapak tangannya dari wajah Airi.


"Duduklah disini." Mama Nuri membimbing White kesebuah kursi yang ada disamping brankar. "Bagaimana keadaanmu Sayang?" tanya Mama Nuri sambil mengusap lengan Airi.


"Alhamdulillah sudah membaik, Mah."


"Kamu sakit apa, Ai?" White tampak cemas. Dia pikir selama ini Airi ada di rumah ibunya, tak tahunya malah dirumah sakit.


Airi meraih tangan White lalu menempelkan telapak tangan pria itu diperutnya. "Ai hamil, Bang."


"Ha-hamil," ulang White. Mulutnya menganga, rasanya belum bisa percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Airi. Benarkah dia akan menjadi ayah?


"Iya White, Airi hamil. Kalian akan segera punya anak," Mama Nuri menimpali. Dia juga sangat bahagia dengan kabar ini, apalagi Papa Sabda. Karena dengan hamilnya Airi, keluarga mereka akan memiliki penerus, karena White anak satu-satunya.


"Makasih sayang, Makasih karena sebentar lagi, menjadikanku seorang ayah." Tak kira bahagianya hati White saat ini. Ternyata setelah badai besar video syur yang tersebar, Tuhan masih melimpahkan bagitu banyak kebahagiaan untuknya.


Airi mengangguk sambil menyeka air mata bahagianya. "Maaf, Airi baru ngasih tahu Abang sekarang."


"Tapi, kenapa kamu dirumah sakit? Apa terjadi sesuatu pada kamu, atau calon anak kita?" White kembali panik setelah tenang sesaat.


"Airi pingsan saat kamu dioperasi," Mama Nuri menjelaskan. "Kata dokter, kandungannya lemah, jadi dia harus bedrest beberapa hari."


"Mama kenapa gak bilang sama aku?" geram White.

__ADS_1


"Karena kalau kamu dibilangin, pasti nggak mau pulang kerumah. Minta nungguin Airi di rumah sakit. Padahal kamu sendiri juga harus pemulihan. Makanya Mama dan Airi sepakat merahasiakan ini."


"Kita cuma mau yang terbaik buat Abang," Airi menimpali.


"Tapi sekarang, gimana kondisi kamu?" tanya White.


"Semua sudah baik Bang. Setelah bedrest seminggu, udah gak ada yang perlu dikhawatirkan. Calon anak kita juga sehat, usianya sudah 6 minggu saat ini."


"Oh iya Ai, harusnya kamu sudah boleh pulangkan hari ini?" tanya Mama Nuri. Dia pikir saat dia datang menjemput, Airi sudah siap-siap pulang. Tapi ini, tak terlihat mereka sudah mengemasi barang.


Airi dan Bu Soraya saling tatap sampai akhirnya Airi dengan sedikit sungkan mengatakan. "Sebenarnya sudah boleh Mah, tapi...."


"Tapi apa?"


"Administrasinya belum dilunasi."


Mama Nuri langsung melotot, sedetik kemudian menatap Bu Soraya malu-malu. Padahal kemarin dia sudah mengingatkan Papa Sabda untuk membayar biaya rumah sakit Airi, tapi sepertinya suaminya itu lupa, bikin malu saja. Dia sungguh dibuat malu didepan besannya dan Airi.


"Maaf, sepertinya suami saya lupa. Saya kebagian administrasi dulu, permisi." Mama Nuri cepat-cepat keluar. Menggeruti sepanjang jalan karena kesal pada Papa Sabda yang udah bikin malu. Mungkin karena faktor U, jadi sudah pelupa.


"Maaf ya sayang, kalau saja Abang tahu kerumah sakit buat jemput kamu, Abang pasti bawain kamu bunga," ujar White.


"Sudahlah Bang. Melihat Abang aja, Ai sudah seneng. Ai tidak butuh bunga lagi."

__ADS_1


Setelah Mama Nuri menyelesaikan administrasi, dia membantu Bu Soraya berkemas. Setelah itu, mereka membawa Airi pulang kerumah Mama Nuri. Untuk sementara waktu, mereka akan tinggal disana sampai White bisa melihat dengan jelas dan kandungan Airi sudah semakin besar.


__ADS_2