
Ryu menatap nanar area taman didepannya. Taman itu sudah disulap menjadi tempat resepsi. Ada tenda putih beserta kursi dengan warna senada, juga pelaminan. Meski dari jarak yang lumayan jauh, Ryu bisa melihat betapa indahnya pelaminan tersebut. Didominasi dengan hiasan bunya berwana putih dan kuning. Saat ini, sudah terlihat beberapa tamu yang datang, tapi dia belum melihat Airi, hanya ada White yang berdiri menyambut tamu bersama orang tuanya.
Rasanya masih seperti mimpi, dia berada didepan lokasi yang akan digunakan untuk acara resepsi Airi dan White. Dua hari yang lalu, White mengajaknya bertemu untuk menyampaikan undangan.
"Turun yuk," ajak Lovely yang duduk disebelah Ryu. Gadis itu tampak sangat cantik dengan balutan dress selutut warna pink.
Ryu masih ragu. Rasanya dia belum sanggup menatap Airi bersanding dipelaminan dengan pria lain.
"Move on, Ry." Lovely menghela nafas berat. "Tingkatan tertinggi dalam mencintai, adalah mengikhlaskan. Ikhlaskan Airi untuk White. Kalau kamu benar-benar cinta pada Airi, kamu harusnya bahagia melihat dia bahagia. White pria yang baik. Dia sangat mencintai Airi, pun sebaliknya, Airi mencintai White."
Ryu menoleh kearah Lovely sambil tersenyum. Sepertinya dia memang harus ikhlas. Cinta tak bisa dipaksakan, apalagi jodoh.
"Tumben hari ini kamu cantik?"
"Tumben?" Lovely langsung meradang. "Aku udah cantik sejak didalam perut. Kamu aja yang pingsan puluhan tahun sampai gak bisa lihat kecantikanku."
Ryu langsung tergelak mendengar kenarsisan Lovely. Dia sama sekali tak kaget, karena seperti itulah Lovely.
"Kamu tahu Ry, setiap hari ada ratusan cowok yang nge DM aku. Ngajak kenalan, ngajak pacaran," ujar Lovely menggebu-begu.
"Terus, kamu terima?"
"Aku tolak demi kamu," lanjutnya dengan nada suara sangat rendah sambil menunduk. Ryu hampir saja keceplosan tertawa. Raut wajah Lovely bukan membuatnya kasihan, tapi malah pengen ketawa.
"Ya udah ayo turun." Ryu merapikan pakaiannya lalu turun dari mobil. Menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. White tak seburuk perkiraannya. Pria itu sudah membuktikan jika dia layak untuk Airi. Tak mungkin seorang suami membuat acara resepsi dianniversary-nya jika tak sungguh-sungguh mencintai istrinya. Seharusnya dia sudah sadar itu sejak hari dimana dia mengantarkan buket spesial yang dipesan White untuk Airi. Tapi hatinya terus berusaha menyangkal. Padahal buket itu sudah menunjukkan jika White sangat mencintai Airi.
"Ish malah bengong, ayo kesana," ajak Lovely.
__ADS_1
"Hem," Ryu mengangguk lalu jalan lebih dulu.
Lovely melongo, bukannya digandeng, dia malah ditinggal. Dia jadi harus jalan cepat menyusul langkah lebar Ryu.
"Aww," pekik Lovely ujung heels yang dia pakai mengenai batu dan membuatnya tergelincir. Alhasil dia oleng dan hampir jatuh, untung Ryu sigap menolong dengan menahan pinggangnya.
Untuk beberapa saat, mereka saling tatap. Jantung Lovely berdebar sangat kencang, sampai rasanya mau meledak.
"Ry, kita udah kayak adegan romantis di film film belum?"
Menyadari posisinya, Ryu langsung menarik pinggang Lovely agar cewek itu bisa berdiri tegak kembali. Wajahnya memerah karena malu. Bisa-bisanya dia sampai terpesona dengan Lovely.
"Udah tahu acaranya ditaman terbuka kayak gini, masih aja pakai heels." Omel Ryu sambil menatap heels yang dipakai Lovely.
"Kan kekondangan, ya masa pakai sandal jepit?"
"Ya gak cetar dong penampilanku."
"Kamu tampil cetar buat apa? Mau nggaet cowok disini?"
"Apaan sih, ya enggaklah. Aku tampil cantik kayak gini buat kamu. Buat dampingin kamu kondangan."
Ryu membuang nafas berat lalu kembali kemobil.
"Ry, kamu mau kemana?" Lovely jadi panik. Dia pikir Ryu batal menghadiri resepsi Airi, dan lebih memilih pulang. Mau tak mau, dia menyusul Ryu untuk menghentikanya. "Ry, kita udah nyampek disini loh, masa mau pulang lagi?"
Ryu tak menjawab. Membuka pintu bagian belakang lalu mengambil sesuatu dari sana.
__ADS_1
"Pakai ini." Ryu meletakkan sandal teplek milik Sakura didepan kaki Lovely. Yang seketika membuat Lovely melongo. Ternyata dia salah, mengira Ryu mau balik. "Mau cantik dimata aku kan?" Lovely mengangguk pelan. "Kamu jelek pakai heels, pakai sendal milik Sakura saja."
"Tapi Ry," rengek Lovely. Dia tak percaya diri jika harus memakai sandal teplek, apalagi di acara formal seperti ini.
"Ini bukan di catwalk atau mall atau panggung. Ini diatas rumput. Kalau tanahnya pas basah, ujung heels kamu bisa nancap ketanah. Jalanpun jadi susah, gak nyaman. Ya udah kalau gak mau. Gak usah ikut aku, aku sendirian aja."
"Iya, iya, aku pakai itu." Lovely akhirnya mengalah daripada batal diajak kondangan. Sayangkan, padahal ini kesempatan emas bisa digandeng Ryu. Dia menunduk untuk melepas tali heelsnya. Tapi posisi ini, membuatnya sulit karena gaun yang dia pakai model sabrina, terbuka bagian bahu. Jika tak mau dadanya mengintip, dia harus menutup bagian dada dengan telapak tangan. Dan melepas tali sepatu dengan satu tangan, itu terlalu sulit.
Ryu membuang nafas kasar sambil geleng-geleng melihat Lovely kesulitan.
"Udah tegak aja, biar aku yang ngelepasin." Mau tak mau Ryu berjongkok didepan Lovely, membantu melepas heels yang dipakai gadis itu.
Lovely senyum-senyum sendiri mendapatkan perlakuan semanis ini. "Aku udah mirip cinderalla belum? Dipakaiin sandal sama pangeran?"
Ryu mendongak menatap Lovely yang senyum-senyum. "Enggak sama sekali, kamukan jelek."
"Ryu!" Pekik Lovely tertahan karena tak mau jadi pusat perhatian. Belum ada 1 jam tadi muji cantik, sekarang udah ngatain jelek. "Tadi katanya aku cantik."
Ryu kembali berdiri sambil menenteng kedua heels milik Lovely. "Iya, tadi cantik. Tapi loncengnya udah bunyi, kamu kembali jelek lagi."
"Ish, nyebelin." Lovely melotot sambil memukul lengan Ryu.
Ryu menaruh heels milik Lovely lalu kembali mendakati gadis itu. Memposisikan sebelah tangannya dipinggang sambil melirik Lovely. "Gak mau ngegandeng nih?"
Lovely langsung terkesiap, tanpa menunggu diminta dua kali. Dia langsung melingkarkan tangannya dilengan Ryu.
"Lain kali kalau mau terlihat cantik dimataku, pakai baju yang lebih ketutup." Ujar Ryu sambil berjalan kearah lokasi resepsi.
__ADS_1