Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 62


__ADS_3

Juliet florist cukup ramai siang itu. Disaat Mama Rere sibuk membuat buket untuk White, Sakura dan Lovely sibuk melayani pembeli lainnya.


White tersenyum sambil memperhatikan Lovely. Gadis itu tampak sudah luwes sekali berjualan bunga. Tak hanya melayani pembelian, Lovely bahkan tak menolak saat ada yang mengajaknya foto bersama. Maklumlah, dia seorang selebgram yang terkenal, selain itu, dia juga sudah beberapa kali muncul diiklan. Mungkinkah hampir setiap hari dia disini? Sampai segitunya dia mengejar cinta Ryu.


Diam-diam, White tersenyum. Ternyata buta itu tak hanya perihal mata yang benar-benar tak bisa melihat. Tapi ada juga cinta buta kayak si Lovely ini. Padahal tidaklah sulit baginya mendapatkan pria yang lebih segalanya dari Ryu, tapi mungkin hanya dia satu-satunya pria yang terlihat dimata Lovely. Sama dengan Ryu, mungkin karena cinta butanya pada Airi, dia tak bisa melihat cinta Lovely.


"Ngapain ngelihatin aku?" tanya Lovely yang baru selesai melayani pembali. "Naksir ya?"


White langsung tergelak mendengarnya. Dia lalu menepuk bagian kosong bangku yang dia duduki. Paham maksudnya, Lovely mendekati White dan duduk disebelahnya.


"Kayaknya gak mungkin deh," Lovely menjawab pertanyaannya sendiri. "Gak mungkin kamu naksir sama aku. Kamu kan udah punya wanita sesempurna Airi." Nada suara yang terdengar berat itu membuat White menatap Lovely. "Aku tidak ada apa-apanya dibanding Airi." Lanjutnya sambil memainkan jemari tangan.


"Semua orang punya kelebihan masing-masing, begitupun dengan kamu. Hanya saja, mungkin Ryu belum melihatnya."


"Terimakasih sudah mau menghiburku." Lovey yakin jika yang dikatakan White hanyalah basa basi semata. Apalagi pria itu lagi bucin sama Airi, sudah pasti, tidak ada wanita yang lebih baik dari pada Airi dimatanya.


"Dimana Ryu, apa dia tak ada disini?" tanya White sambil menelisik bagian dalam toko. Sebenarnya, tujuan utama White selain beli bunga, adalah bertemu Ryu.


"Dia kerja jam segini. Dia kan bukan kamu, anak bos." Kalimat bernada sindiran itu membuat White tergelak.


"Ya siapa tahu sebentar lagi dia akan jadi mantu bos."


"Sepertinya dia tidak tertarik."


"Kalau gak bisa tertarik dengan sendirinya, ya kamu paksa tarik aja."


"Udah, tapi tetep gak bisa," sahut Lovely sambil nyengir.


"Gak ada yang gak bisa didunia ini kalau mau usaha."


"Ada kok yang gak bisa."


"Apa?" tanya White penasaran.


"Memaksakan jodoh." Lovely tersenyum sinis.

__ADS_1


"Jadi mau nyerah nih ceritanya?"


"Belum mau sih."


White menghela nafas sambil geleng-geleng. Semangat pantang menyerah Lovely, patut diacungi 4 jempol. "Andai aja semangat kayak gini kamu terapin diperusahaan papa kamu, dijamin bakalan makin maju."


"Ketabarak mobil dong kalau makin maju. Udah deket jalan raya."


"Sialan," umpat White. Keduanya lalu tertawa bersama. Mereka terus mengobrol, sampai akhirnya bunga pesanan White datang. Buket berisi 99 mawar putih, selain ukurannya yang besar, tampilannya juga sangat cantik. Mama Rere sangat piawai merangkainya.


"Kita foto dulu yuk," ajak Lovely. "Aku pengen post di IG aku, sambil promosi Juliet Florist." White mengangguk, mereka lalu foto bertiga dengan Sakura sekalian. Mama Rere menolak berswafoto bersama. Gak enak kalau orang tua ngikut anak muda. Dia lebih memlilih menawarkan diri untuk memfoto mereka.


Hasil fotonya sangat bagus. White memegang buket tersebut dan disampingnya ada Lovely dan Sakura. Lovely langsung memposting foto tersebut di akun IG nya.


[ Beruntung sekali wanita yang akan mendapatakan buket cantik 99 white rose ini. Sayangnya bukan aku ]


Setelah membayar, White langsung meninggalkan Juliet Florist karena harus menjemput Airi ditempat perawatan.


...----------------...


"White belum datang?" tanya Mama Nuri yang baru balik dari toilet. Sudah sejak 15 menit yang lalu mereka selesai perawatan.


"Bentar lagi kali Mah. Mama mau pulang dulu?" Sebenarnya pulang sekarang juga bisa, Karena Pak Sabto sudah standby didepan klinik sejak tadi. Dia hanya pergi ngopi sebentar setelah mengantarkan Mama Nuri dan Airi, setelah itu kembali ke klinik.


"Gak papa, Mama tungguin sampai White datang saja." Dia lalu duduk dikursi sebelah Airi. Mengobrol ngalor ngidul tentang kehamilan. Menceritakan pengalamannya hamil White, sampai akhirnya orang yang diomongin datang.


Airi mengernyit melihat White tak membawa apa-apa. Apa mungkin, bunga tadi bukan untuknya? Lalu untuk siapa?


Karena White sudah datang, Mama Nuri pulang bersama Pak Sabto. Setelah mamanya pergi, White segera meraih tangan Airi lalu menggenggamnya. Dia akan selalu melakukan ini, sesuai permintaan Airi yang tertulis di diary ungu.


"Lama ya nunggunya?"


"Abang darimana?"


"Dari ketemu temen tadi."

__ADS_1


Ketemu Lovely maksudnya.


Airi tersenyum simpul lalu berjalan sambil bergandengan menuju mobil. White membukakan pintu untuk Airi, membiarkannya masuk dan duduk dengan nyaman, baru setelah itu, dia tutup pintu kembali. Berjalan mengitari mobil lalu masuk kebagian kemudi. Sebelum memasang seatbelt, dia mengambil sesuatu yang ada dijok belakang. Pelan-pelan dia mengambil buket tersebut karena ukurannya besar, takut rusak.


"Buat kamu."


"Makasih." Meski tak terlalu terkejut akan mendapatkan surprise itu, tapi raut bahagia diwajahnya tak bisa dia sembunyikan. "Kenapa hanya 99?"


White mengerutkan kening. "Kok kamu tahu?"


"Aku lihat di status WA-nya Sakura."


"Yah, tidak surprise lagi dong," ujar White sambil membuang nafas berat.


"Tetep aja surprise, aku juga baru tahu." Sambil memeluk bunga itu, Airi bergelayut dilengan White. "Makasih banyak, Bang. Bunganya cantik sekali." Airi mencium bunga mawar putih yang baunya sangat harum. Dan bau harum itu, sudah menyebar keseluruh bagian mobil.


"Kamu jauh lebih cantik, Sayang." White mengecup kening Airi lama.


"Cantikan mana aku sama Lovely?"


"Lovely?" ulang White. Kenapa Airi tiba-tiba membahas gadis itu. Janngan-jangan karena melihat foto tadi..."Kamu cemburu sama Lovely?"


"Eng-enggak kok." Airi menegakkan tubuhnya. Melempar pandangan kearah lain sambil pura-pura lagi ngeliatin orang lewat. Apa wajahnya kentara sekali kalau sedang cemburu? Yakin jika Airi tengah cemburu, White malah ingin membuatnya makin terbakar.


"Lovely ternyata jauh lebih cantik aslinya daripada difoto." Airi meremat ujung gaunnya. Dasar gak punya hati, memuji wanita lain didepan istri. Udah tahu ibu hamil sensitif, eh..terang-terangan mujinya. "Dia juga baik. Bodinya, beuh." White sampai mendecak kagum. "Body goals banget, makanya dia jadi model."


Menyebut model, Airi jad teringat Raya. "Iyalah, selera Abang kan yang bodi model kayak Raya, kayak Lovely, gak kayak aku, pendek," sinis Airi. Sebenarnya Airi tidaklah pendek. Hanya saja jika dibanding Raya dan Lovely yang tingginya diatas rata-rata wanita Indonesia, dia jelas kalah.


White menoleh kejendela sambil membekap mulutnya sendiri. Perutnya sampai sampai sakit karena harus menahan tawa. Lucu sekali Airi kalau sedang cemburu.


"Ya namanya laki-laki, semua ya suka yang kayak gitu. Itu tandanya normal. Langsing, tinggi, pinggang kecil, dada gede, bok_"


Bugh


White berhenti bicara saat buket mawar putih mengenai wajahnya lalu mendarat dipangkuannya.

__ADS_1


"Kasih aja buketnya kedia, jangan ke aku," geram Airi.


__ADS_2