
White keluar lebih dulu tanpa menunggu Airi yang masih mandi karena dia sudah mandi tadi. Menuju meja makan dan melihat kedua orang tuanya sedang bercengkerama disana. Dia berhenti sejenak, memperhatikan dari jarak yang lumayan jauh sambil tersenyum. Mamanya seperti sedang menunjukkan sesuatu dibawah matanya.
"Kerutannya udah kelihatan banget."
"Masih cantik."
Meski tak terlalu jelas, tapi White masih bisa mendengar.
"Alah bohong, nanti kamu nyari daun muda."
"Gak usah nyari, udah banyak yang ngantri."
Tampak sang mama geram dan langsung memukul lengan papanya. Bukannya marah, papanya malah tertawa ngakak. Dan beberapa saat kemuadian, White dibuat senyum-senyum sendiri melihat papanya mencium kening dan mata mamanya.
Sungguh romantis mereka, bahkan diusia yang sudah tak muda lagi. White merasa beruntung bisa ditumbuh dilingkungan keluarga yang sangat hangat. Berharap keluarga kecilnya nanti juga akan seperti itu. Tetap harmonis dan romantis tak lekang dimakan usia.
Bulan depan, usia pernihakannya dan Airi menginjak 1 tahuh. Dia berencana mengadakan pesta kecil-kecilan mengingat saat menikah dulu, tak ada pesta apapun. Dan foto pernikahan yang bisa dipajang didinding, rasanya mereka tak punya.
White melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Menyapa kedua orang tuanya lalu menarik kursi tepat didepan mamanya.
"Mana Airi, White?" tanya Mama Nuri yang sedang mengambilkan sarapan untuk suaminya.
"Masih mandi Mah."
"Baru bangun?"
"Mah, kok gitu sih," protes White yang kurang suka dengan ucapan mamanya.
"Kok gitu gimana maksud kamu?" Mama Nuri mengernyit bingung. "Ada yang salah dengan kata-kata Mama?"
"Airi pasti baper kalau denger mama ngomong gitu. Emang gak boleh ya Mah, menantu bangun siang dirumah mertuanya?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Mama Nuri seketika menatap Papa Sabda, sedang yang ditatap hanya mengedikkan bahu.
"Kamunya yang baper White. Mama cuma nanya baru bangun? Bukannya marah atau ngelarang bangun siang. Suka-suka hati mau bangun jam berapa."
"Udah-udah," Papa Sabda melerai keduanya. "Ini Airi gak apa-apa, tapi kalian berdua yang malah cek cok. "Oh iya, kapan kamu mau mulai kerja lagi?"
"Nantilah Pah," sahut White santai.
__ADS_1
"Nanti, nanti, kelamaan cuti, jadi males kerja kamu." White tersenyum simpul sambil garuk-garuk kepala.
"Iya, bulan depan White kerja. Sekarang masih mau babymoon dulu." Sebenarnya bukan itu alasan utama White, melainkan dia masih malu untuk tampil karena video syur itu. Meski kejadian itu sudah 3 bulan yang lalu, dia belum siap kembali menjadi bahan perbincangan.
"Ya udah, puas puasin dulu sebulan ini," Mama Nuri ikut bicara. Mereka lalu membahas tempat-tempat yang kiranya bagus untuk babymoon. Mama Nuri dan Papa Sabda termasuk orang yang hobbi traveling, paling suka yang namanya honeymoon, jadi White meminta saran pada mereka tempat mana yang kiranya cocok untuk dia dan Airi menghabiskan waktu.
Obrolan menarik itu mendadak terhenti saat Airi datang. Bukan karena tak mau Airi mendengar rencana itu, tapi rambut basah Airi membuat Papa Sabda tak tahan untuk tidak meledek.
"Percuma Mah, kita capek-capek ngerekomendasiin tempat-tempat romantis, tahunya semalam udah honeymoon."
Wajah Airi seketika merah padam. Dia tak sempat mengeringkan rambut karena tak mau membuat mertuanya menunggu. Tahu gini, tadi dia sempet sempetin ngeringin rambut dulu.
"Pah, Airi malu tuh," Mama Nuri menepuk lengan suaminya.
White berdiri, menarikkan kursi disebelahnya untuk Airi.
"Pah, Mama juga mau." Celetukan Mama Nuri membuat Papa Sanda yang menyeruput teh tawar hampir tersedak. Masa cuma gitu aja iri, dasar wanita, cibirnya dalam hati.
"Makasih Bang," ujar Airi sambil duduk.
"Kamu mau makan apa, biar Abang yang ambilin?" White hendak mengambilkan nasi tapi lengannya ditahan oleh Airi.
"Biasanya kamu yang ngelayanin Abang. Sekarang gantian dong. Lagian kamu sedang hamil, jadi biar Abang yang ngelayanin kamu."
Airi menatap canggung kearah kedua mertuanya. Bukannya tak suka diperlakukan seperti ini, hanya saja dia malu. Takut mertuanya berfikir jika dia memanfaatkan kebaikan White.
Tapi melarang White, nanti malah dramanya makin panjang, jadi lebih baik diam saja, memperhatikan White yang sedang mengambil nasi serta lauk untuknya.
"Kita makan sepiring berdua aja yang Yang, biar Abang yang nyuapin kamu."
Huk huk huk
Sekarang gantian Mama Nuri yang kesedak nasi uduk. Segera dia mengambil air putih yang ada didepannya untuk melegakan tenggorokan.
Airi reflek melihat kedua mertuanya, terutama Mama Nuri.
"Gak papa, santai aja suap-suapan," ujar Papa Sabda. "Dunia milik kalian berdua. Anggap aja Papa dan Mama cuma ngekos disini."
Diledekin seperti ini, membuat wajah Airi makin mirip kepiting rebus. Malunya makin berlipat ganda. Sedangkan White, dia tampak tak peduli. Justru sibuk membelah telur balado yang ada diatas piringnya.
__ADS_1
Saat White menyodorkan sesendok nasi kedepan mulutnya, Airi tak bisa menolak. Tapi rasa malu sekaligus sungkan, membuatnya kehilangan selera makan.
"Gak usah sungkan," ujar Mama Nuri yang paham dengan apa yang Airi rasakan. "Makan yang banyak. Sekarang kamu sedang berbadan dua, jadi makannya dobel."
"Mama kamu dulu aja, pas hamil, nasi 1 magigcom dihabisin sendiri," seloroh Papa Sabda sambil melirik istrinya.
"Bener, dan setiap hari, disuapin sama Papa kamu," timpal Mama Nuri.
"Beneran Mah?" tanya White.
"Hehehe," Mama Nuri tersenyum kecut. "Tapi boong."
White dan Airi tak bisa menahan tawa, begitupun Papa Sabda. Kehamilan Airi dan Mama Nuri saat itu, jelas tidak bisa dibandingkan. Keadaan dan masalah yang mereka hadapi sangat berbeda. Makanya sekarang, Mama Nuri sangat mewanti-wanti White agar memperlakukan Airi yang sedang hamil dengan sangat baik. Karena dia tahu seperti apa rasanya hamil sendirian, tanpa perhatian suami.
Papa Sabda mengambil nasi sesendok beserta lauk, lalu menyodorkan kehadapan istrinya. "Anggap aja gantinya 9 bulan pas hamil."
"Jangan mau Mah, masa 9 bulan diganti cuma dengan sesuap, rugi bandar." White mulai memanas manasi.
Tapi Mama Nuri, dia malah luluh, menerima suapan Papa Sabda sambil tersenyum.
"Ai, nanti temenin Mama ke salon ya, kita perawatan."
Huk huk huk
Papa Sabda yang mendadak keselek, membuat Mama Nuri langsung menatapnya.
"Gak jadi Ai, kayaknya gak boleh sama Pak bos," nyinyirnya sambil memutar kedua bola matanya malas.
"Siapa yang bilang gak boleh, aku beneran kesedak tadi." Papa Sabda menjelaskan.
Mama Nuri, White dan Airi, kompak ketawa. Lagipula, Mama Nuri juga hanya becanda. Suaminya itu tak pernah melarangnya melakukan apapun, dan dia sendiri juga tahu diri. Tak pernah berlaku boros, hanya sesekali saja perawatan. Itu juga untuk menjaga penampilan agar suami makin cinta.
"Boleh gak Bang?" Airi meminta izin pada suaminya.
"Ya tentu boleh dong," sahut White sambil mengusap lengan Airi. Selama mereka menikah, Airi sekalipun tak pernah melakukan perawatan disalon.
Sebenarnya, selain perawatan, Mama Nuri ingin mengajak Airi bicara dari hati kehati.
"Nanti kamu gak usah ikut White," pinta Mama Nuri.
__ADS_1
"Iya Mah." White sebenarnya memang tak ingin ikut. Dia ada rencana lain. Ingin mengunjungi rumahnya dan Airi, mencari diary ungu yang berisi keinginan Airi.