
Seiring berjalannya waktu, penglihatan White makin jelas. Dan pagi ini, 3 bulan lebih pasca operasi, White merasa jika matanya sudah normal seperti dulu. Hanya saja untuk tulisan yang terlalu kecil, masih agak blur.
White menatap Airi yang masih terlelap disebelahnya. Tersenyum-senyum sendiri saat ingat seperti apa dulu dia menyangkal jika Airi itu cantik. Saat mamanya bilang, teman-teman, bahkan orang tak dikenalpun bilang jika istrinya cantik, dia sama sekali tak percaya. Dan pagi ini, dia merasa sangat malu saat diam-diam mengagumi kecantikan Airi. Tak bisa lagi menyangkal jika Airi lebih cantik dari bayangannya selama ini. Bahkan saat tidur tanpa polesan make up, gurat kecantikannya tetap terlihat jelas
"Pagi cantik." Sapa White tatkala melihat Airi mengerjabkan mata.
"Abang." Airi membuka matanya perlahan, menyesuaikan mata dengan cahaya. "Astaga," pekiknya saat melihat jendela yang terbuka dan menampaknya sinar matahari yang sudah terang. "Jam berapa Bang?" Airi bangun dan langsung melihat kearah jam dinding. Mulutnya menganga lebar menyadari jika sekarang sudah jam 7 lebih. "Abang kok gak bangunin aku sih," rengeknya sambil menatap White kesal.
Tapi yang ditatap malah senyum-senyum sendiri dengan mata fokus pada sesuatu. Saat mengikuti arah pandang White, Airi baru sadar jika saat ini, dia sedang tak memakai apapun. Cepat-cepat dia menarik selimut, menutupi dada yang sejak tadi menjadi santapan empuk suaminya.
"Yah, kan belum puas lihatnya, kenapa ditutup?"
"Apaan sih Bang," Airi mempertahankan selimutnya saat White hendak menariknya. Dulu, dia tak pernah malu meski tak memakai apa-apa, beda dengan sekarang, tatapan White membuat dia sangat malu.
"Kenapa Abang gak boleh lihat?"
"Malu."
Jawaban itu membuat White langsung tergelak. Semalam memang pertama kalinya mereka bercinta setelah White bisa melihat. Kondisi kehamilan Airi menjadi alasan utama mereka tak melakukan hubungan suami istri sementara waktu.
"Perasaan dulu, kamu gak pernah malu."
__ADS_1
"Kan Abang gak lihat."
"Semalam udah lihat, jadi gak usah malu lagi." White menarik selimut yang dipegangi Airi hingga jatuh dan mempertontonkan bagian atas tubuhnya yang polos.
Tatapan White yang seperti mau menelannya, membuat Airi segera menutupi dadanya dengan kedua lengan. Tapi lagi-lagi, White menyingkirkan lengannya.
"Jauh lebih indah daripada bayangan Abang selama ini."
Wajah Airi sontak memerah mendengar pujian White dan cara pria itu menatapnya. Meski sudah lama menikah dan sudah sering melakukan hubungan, semalam rasanya seperti malam pertama. White berhasil membuatnya sangat malu semalam, dengan menatap setiap inci tubuhnya. Dan pagi ini, sepertinya suaminya itu masih belum puas.
"Bang, beneran sekarang Abang sudah bisa melihat dengan jelas?" White terkekeh mendengar pertanyaan Airi.
"Apa perlu bukti? Apa perlu aku tunjukkan dimana saja letak tahi lalatmu?"
"Aww..." White meringis saat Airi memukul lengannya lumayan kencang.
"Nakal banget sih," desis Airi sambil memelototinya. "Masa itu juga diperhatiin."
Tawa White makin kencang. Seperti orang yang punya mainan baru. Saat pertama kali melihat wajah dan tubuh Airi dengan jelas, dia tak mau melewatkan seincipun. Diperhatikannya tanpa bosan hingga bagian terkecil dan tersembunyipun.
White merapikan rambut Airi dan mengenai wajahnya. Menangkup kedua pipinya lalu menggesekkan hidungnya pada hidung Airi.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik Ai. Mungkin seperti ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Melihat wajahmu, aku seperti jatuh cinta lagi. Aku jatuh cinta kedua kalinya pada orang yang sama. Rasanya aku seperti orang gila. Yang saat menatapmu, akan senyum senyum sendiri. Aku segila itu padamu Ai." White kembali mengikis jarak diantara mereka, menempelkan keningnya pada kening Airi sambil memejamkan mata.
Setelah beberapa saat, White membuka mata, mengecup kening Airi lama lalu kembali menatapnya sambil senyum-senyum sendiri, persis seperti orang gila.
Pipi Airi bersemu merah. Ditatap seperti itu membuatnya salah tingkah. Dia menggigit bibir bawahnya malu malu dan ekspresi itu sungguh membuat White gemas. Tak tahan lagi, dia mendorong bahu Airi hingga terbaring diatas ranjang. Mereka saling bertatapan dengan nafas yang mulai memburu. Namun saat White hendak mengikis jarak, Airi menahan dadanya.
"I-ini sudah siang Bang. Aku gak enak kalau jam segini masih dikamar." White tersenyum lalu menarik tubuhnya. Begitupun Airi, dia kembali duduk karena harus segera bangun.
"Apa kau tidak betah disini?" tanya White.
"Bukan begitu, Bang." Airi tak mau White salah paham. Bukannya gak betah, dia hanya sungkan. Takut dikira menyalah gunakan kebaikan Mama Nuri. Mentang-mentang mertuanya tidak pernah mempermasalahkan tentang dia yang tak pernah membantu pekejaan rumah, terus dia bisa seenaknya.
"Dulu saat masih kerja di kantor Papa. Aku sering denger curhatan karyawan wanita yang ngeluh perihal serumah dengan mertua. Rata-rata, mereka pada nggak cocok sama mertuanya. Aku gak mau kamu juga merasakan hal yang sama. Aku gak mau kamu tertekan dan berdampak pada anak kita." White meletakkan telapak tangannya diperut Airi. Usia kandungannya sudah 4 bulan, tapi perutnya masih terlihat rata. "Kalau kamu gak betah, kita pulang. Nanti aku nyari ART buat ngerjain pekerjaan rumah, jadi kamu gak perlu ngapa-ngapain."
"Bukannya gak betah Bang. Aku cuma sungkan sama Mama. Aku gak pernah ngapa-ngapain selama disini. Kalau bulan-bulan lalu sih, masih gak papa karena aku teler, morning sickness, tapi sekarang, aku gak enak kalau cuma dikamar aja."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Airi dan White kompak melihat kesana.
"Den White, Non Airi, dipanggil Nyonya. Sarapan udah siap," seru Bi Ijah dari balik pintu.
__ADS_1
"Iya, Bi," sahut Airi. Wanita itu lalu menatap suaminya. "Lihat sendirikan Bang, Mama tuh baik banget. Aku malah malu sendiri diperlakuin kayak tuan putri gini. Apa-apa udah tersedia."
"Ya udah, nanti kita pikir solusinya. Sekarang kamu mandi dulu, terus sarapan. Kasihan si kecil kalau kamu telat makan." Airi mengangguk lalu turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.