Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 48


__ADS_3

"Pagi Pak."


"Pagi Pak."


Entah sudah berapa orang yang mengucapkan selamat pagi pada Papa Sabda saat pria itu baru menginjakkan kakinya diperusahaan. Ya, selalu seperti ini saat dia lewat, dan diapun, akan menjawab salam tersebut dengan anggukan dan senyum.


Pagi ini, entah hanya perasaannya atau apa, tatapan mereka tampak tak seperti biasanya. Ada yang aneh, tapi entahlah, mungkin hanya perasaannya saja.


Sesampainya diruangan, dia menjatuhkan bobot tubuhnya dikursi kebesarannya. Rasanya sudah ingin pensiun, sudah lelah dan sudah bosan dengan rutinistas seperti ini. Kadang dia membayangkan, seharian dirumah. Pagi-pagi ngeteh bersama Mama Nuri, olah raga, berkebun, bahkan kalau bisa, momong cucu, hal seperti itu yang saat ini dia inginkan. Dia hanya ingin menikmati masa tua, tak lagi ingin memikirkan urusan perusahaan.


"Semoga kamu segera dapat donor White. Papa tak sabar ingin segera pensiun," gumamnya sambil menatap foto keluarga yang ada diatas meja. Belum ada Airi disana, karena itu masih foto lama yang diambil saat White wisuda S1.


Tok tok tok


"Masuk," seru Papa Sabda sambil melihat kearah pintu. Ternyata Felix yang datang. Asisten pribadi yang tak pernah tergantikan sejak jaman dia masih muda dulu, sekaligus adik iparnya. Karena Felix menikah dengan Fatma, adik Mama Nuri. "Ada apa Fel, kamu tampak gelisah? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Felix tampak ragu untuk mengatakan. Tapi ini sesuatu yang penting. Cepat atau lampat, Sabda pasti akan tahu juga.


"Ada sesuatu yang terjadi?" Papa Sabda mengulang pertanyaannya.


Felix mengambil ponsel yang ada disaku jas. Dia terlihat mengutak atik ponselnya itu sebelum akhirnya dia sodorkan pada Papa Sabda.


"Apa yang mau kamu tunjukkan?"

__ADS_1


"Bapak lihat saja sendiri."


Papa Sabda mengambil ponsel milik Felix lalu membuka video yang ada dilayar. "Sialan," umpatnya saat tahu jika yang ditunjukkan Felix adalah video syur. Dia kembali menyodorkan ponsel tersebut pada Felix dengan wajah sedikit mengeras. "Pagi-pagi aku sudah kau suruh lihat yang beginian. Apa kau ingin aku mengadukannya pada Fatma, kalau kerjaan suaminya, melihat video syur?"


Felix menghela nafas. Belum tuntas melihat, udah main semprot aja. "Coba anda perhatikan baik-baik video itu. Fokus kewajah pemerannya, jangan adegannya."


Papa Sabda berdecak pelan lalu kembali mem play video tersebut. Dahinya mengkerut saat melihat wajah pemeran utama wanitanya. "Raya," gumamnya sambil terus memperhatikan video. Seorang pria tampak asik mencumbui dada Raya yang sudah tanpa sehelai benangpun. Keduanya tampak sangat menikmati apa yang mereka lakukan.


Apa ada video Raya dengan orang lain lagi?


Meski wajah si pria tak kelihatan, tapi rasanya tak asing bagi Papa Sabda. Video terus berjalan hingga wajah si pria tersorot dengan jelas.


Plug


"White," gumamnya dengan suara bergetar. Telapak tangannya memegangi dada yang berdebar sedikit lebih cepat.


"Apa ada video seperti itu antara kau dan Raya?"


"Eng-enggak Pah, gak ada."


Sekarang Papa Sabda baru tahu, jika White telah membohonginya.


"Pak, anda tidak apa-apakan?" tanya Felix yang takut jika bos sekaligus kakak iparnya itu mendadak kena sarangan jantung.

__ADS_1


"Lakukan sesuatu agar video ini segera di take down. Laporkan kasus ini, agar yang menyebarkan video ditangkap."


Felix tak menjawab, membuat Papa Sabda seketika menatapnya.


"Video ini sudah ditonton jutaan kali di situs dewasa. Ada yang sengaja menjualnya, entah Raya sendiri, atau orang yang yang tidak sengaja mendapatkan video ini. Dan.."


"Dan apa?


"Hampir semua orang dikantor ini sudah melihat video ini. Maaf karena terlambat tahu. Ternyata video ini sudah diupload lebih dari 3 hari yang lalu. Mungkin karena Raya adalah model terkenal, jadi video ini cepat viral."


Papa Sabda memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sangat berat. Kasus ini pasti akan mempengaruhi perusahaan. Bukan hanya itu, mau ditaruh dimana mukanya saat bertemu kolega. Putranya menjadi bintang film dewasa, apa yang patut dia banggakan dari itu.


Ponsel Papa Sabda yang ada diatas meja berdering. Dia menghela nafas berat saat ada nama Mama Nuri dilayar ponsel. Istrinya itu pasti akan bertanya soal ini.


Felix undur diri, dia akan mengusahakan agar video ini segera di take down. Meski dia yakin sudah banyak yang menyimpan video ini, tapi dia tetap harus berusaha untuk menghentikan penyebarannya.


"Hallo Mah," ujar Papa Sabda begitu sambungan terhubung. Dugaannya benar, Mama Nuri akan membahas soal video ini. Terdengar suara isakan sang istri yang memilukan. "Jangan terlalu dipikirkan, videonya akan segera dia take down." Dia berusaha membuat Mama Nuri sedikit tenang.


"Aku gagal menjadi ibu, Pah."


"Tidak, itu tidak benar. Kau ibu yang sangat luar biasa."


"Apa ini hukuman untukku Pah? Apa ini karma? Setelah dulu aku membuat malu dan kecewa kedua orang tuaku, sekarang Tuhan membalasnya dengan membuatku merasakan apa yang mereka rasaka dulu. Membalasku dengan rasa sakit yang sama dengan yang aku torehkan pada mereka."

__ADS_1


"Tidak ada yang namanya karma. Jangan salahka dirimu sendiri."


__ADS_2