Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 41


__ADS_3

Merasakan cekalan tangan White dilengannya, Neha langsung berhenti. Dia paham apa yang pria itu inginkan. White tak mau masuk lebih dulu. Dan akhirnya, Neha tak jadi mendorong pintu ruangan yang terbuka setengah didepannya.


Hening, tak ada jawaban apapun yang White dengar dari bibir Airi setelah permintaan Ryu barusan. Hatinya tak tenang, menebak-nebak apa yang ada dipikiran Airi. Apakah saat ini Airi mengangguk, menggeleng, atau malah membisikkan sesuatu yang mungkin dia tak bisa dengar. Dada White terasa sesak karena prasangkanya sendiri.


Neha ikut berdebar, menunggu jawaban yang keluar dari bibir Airi. Meski tak ada hubungannya dengan dirinya, dia seperti ikutan tegang terbawa suasana. Tapi ini tak bisa dibiarkan, dia takut sesuatu yang keluar dari bibir Airi malah jadi malapetaka. Akhirnya dia putuskan untuk mengetuk pintu lalu masuk.


"Abang," Airi terkejut melihat White datang dengan Neha. Mungkinkah White mendengar obrolannya dengan Ryu barusan? Dengan tangan yang sudah diobati dan dibalut perban, Airi menghampiri White.


Neha menatap Airi dan Ryu bergantian. Mata keduanya sama sama sembab. Rasanya tak mungkin mereka menangis karena kesakitan saat diobati. Pasti obrolan keduanya barusanlah yang memicu tangis.


"Ai, apa kamu sudah mendapatkan pengobatan?" tanya White setelah mendengar suara Airi.


"Sudah, Bang." Airi memegang lengan White lalu menuntunnya kesebuah kursi yang ada diruangan itu. "Harusnya Abang gak perlu repot-repot kesini. Ai sudah selesai diobati, udah mau kembali ke panti."


"Aku tak sabar ingin tahu kondisimu Ai. Jadi aku meminta Neha mengantarku kesini. Aku sangat mengkhawatirkanmu," sahut White. "Sebelah mana lenganmu yang terluka? Apakah dalam? Apa sakit sekali?" tanya White cemas.


"Ai gak papa Bang, hanya luka kecil dilengan sebelah kanan. Tak ada yang perlu dicemaskan," sahut Airi sambil menggenggam tangan White.


Tatapan Ryu terkunci pada White dan Airi. Pemandangan dihadapannya itu menyesakkan, tapi entah kenapa, dia malah menatapnya. Melihat itu, Neha yang kasihan mencoba mengalihkan pandangan Ryu.


"Gimana luka kamu Ry?" tanya Neha yang saat ini berdiri disebelah Ryu.


"Gak papa kok Ha. Gak ada yang perlu dikhawatirkan." Neha memperhatikan lengan bagian atas Ryu yang sudah diperban. Jika teringat darah yang mengucur deras saat Ryu mencabut pisau tadi, dia jadi merinding. Dia yakin pasti sakit sekali rasanya.


"Terimakasih." Ucapan White reflek membuat Ryu dan Neha langsung melihat kearahnya. "Terimaksih karena sudah menyelamatkan Airi, istriku." Entah hanya menurutnya saja atau apa, Ryu merasa jika White sengaja menekankan kata istriku. "Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Airi jika kamu tak menolongnya tepat waktu."

__ADS_1


"Aku ikhlas melakukannya," sahut Ryu sambil menatap Airi. Sedangkan Airi, dia langsung menunduk untuk menghindari tatapan tersebut.


"Bisakah kita mengobrol berdua?" Ajakan White itu membuat Ryu langsung terkesiap. Tak hanya Ryu, tapi juga Airi, wanita itu langsung memegang bahu White.


"Untuk apa Bang? Bukankah Abang sudah berterimakasih?" tanya Airi. Saat ini pikirannya tak karuan, bingung menebak apa kiranya yang ingin White bicarakan pada Ryu.


"Bisakah tinggalkan kami berdua," pinta White.


"Tapi, Bang."


White memegang lengan Airi lalu menggenggam tangannya. "Hanya sebentar Ai, kamu gak perlu cemas. Aku buta, dan dia terluka, jadi tak mungkin kami akan berkelahi," seloroh White sambil tertawa ringan. Tapi tawa itu malah membuat Airi tak nyaman.


"Baiklah kalau begitu." Dengan berat hati, Airi mengajak Neha lalu keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan White dan Ryu lalu menutup pintunya kembali.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Ryu pada akhirnya. Karena tak mungkin dia dan White akan terus diam saja.


"Bisakah kau ikhlaskan Airi untukku?" Ryu langsung tersenyum getir mendengarnya. Ya, dia sudah bisa menduga ini sebelumnya, pasti berhubungan dengan Airi. Tapi dia tak menyangka jika kalimat White tak seperti perintah atau tekanan, melainkan permintaan. "Seperti apapun hubungan kalian dulu, saat ini Airi adalah istriku."


"Istri?" ulang Ryu sambil tersenyum getir. "Ingat White, pernikahan kalian bukan karena cinta, tapi paksaan. Airi hanya terpaksa menikah denganmu."


White mencengkeram pinggiran kursi yang dia duduki. Kata terpaksa itu membuatnya tak nyaman. Apakah tadi Airi mengangguk, mengiyakan permintaan Ryu untuk meninggalkannya? Tidak, dia buru-buru mengenyahkan pikiran buruk itu. Airi tak mungkin mengiyakan permintaan Ryu. Dia percaya pada istrinya itu. Airi mencintainya, bukan Ryu. Meski suara Ryu terdengar sangat percaya diri, dia tak mau terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.


"Kau benar, kami menikah karena paksaan. Tapi paksaan itu, membuat kami saling jatuh cinta. Kebersamaan dan ikrar pernikahan, mampu menghadirkan cinta dihati kami." Sekarang, gantian Ryu yang mencengkeram pinggiran brankar. Dia masih tak bisa percaya jika Airi semudah itu melupakannya dan berpaling pada pria lain.


"Airi mencintaiku," gumam Ryu. Dia berusaha menyangkal kenyataan jika Airi sudah tak mencintainya lagi.

__ADS_1


"Dulu, tapi sekarang cintanya untukku," tutur White.


"Kau telah merebut Airiku," Ryu memegangi dadanya yang terasa sesak. "Apa kamu tahu, banyak sekali rencana masa depan yang sudah kami susun berdua. Kami bahkan sudah merencanakan pernikahan," Ryu mendongak keatas, dia tidak boleh menangis. "Tapi kamu telah merusak semuanya. Kamu telah menghancurkan mimpiku dan Airi."


Sesak, itulah yang White rasakan saat ini. Tapi Airi miliknya saat ini, dan dia tak akan sanggup kehilangan Airi. "Aku tidak merebutnya. Tapi takdir yang menyatukan aku dan Airi. Kami ditakdirkan berjodoh."


Ryu memejamkan mata, dan seketika, cairan bening meleleh dari sudut matanya.


"Meski aku tak tahu seperti apa kalian dulu, tapi aku yakin, cintamu sangat tulus untuk Airi," tutur White. "Dan cinta yang tulus itu tak bersyarat bukan, dan tak tanpa mengharap apapun. Jadi sekali lagi aku meminta padamu, ah tidak," White menggeleng cepat. "Lebih tepatnya aku memohon, ikhlaskan Airi bersamaku. Aku berjanji akan menjaganya dan mencintainya seperti kamu mencintainya."


"Seperti aku?" Ryu tersenyum getir. "Apa kau tahu seberapa dalam aku mencintai Airi?"


"Sangat dalamkan?" sahut White. "Sama, aku juga Ryu. Cintaku sangat dalam untuk Airi, untuk wanita yang bergelar istri dan calon ibu anak-anakku. Jika memang cintamu sangat dalam dan tulus, izinkan Airi bahagia bersamaku, bersama kekasih halalnya."


Ryu menyeka air mata yang membasahi pipinya. Saat ini, White memang selangkah lebih jauh darinya karena dia sudah menikah dengan Airi. Tapi rasanya dia masih tak sanggup untuk melepaskan Airi.


"Aku berjanji tak akan membuat Airi menangis. Aku akan mencintainya sepenuh hatiku. Aku akan membuat dia merasa menjadi wanita paling beruntung. Izinkan aku melakukan itu Ryu."


"Apa kau yakin bisa membahagiakan Airi?"


"Aku akan terus berusaha."


"Baiklah," dengan berat hati Ryu mengatakan itu. Dia melihat White sangat tulus pada Airi, begitupun Airi. Mungkin memang sudah seharusnya dia mundur. "Buktikan padaku jika kau pria yang tepat dan layak mendapatkan Airi."


"Ya, aku akan membuktikan jika aku pria yang layak untuk Airi."

__ADS_1


__ADS_2