Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 50


__ADS_3

"Ai, kamu nangis?"


Airi menggeleng sembari menggigit bibir untuk menahan tangis. Mendongak agar air matanya tak luruh.


"Ai, please jangan diam saja," White menyentuh wajah Airi lalu menangkup kedua pipinya. Dan sesaat kemudian, bisa dia rasakan, air mengalir melewati punggung tangannya. Meski tak melihat, dia yakin itu air mata Airi.


Airi tak kuasa menahan air matanya. Karena semakin ditahan, dadanya semakin sesak dan rasanya sulit untuk bernafas. "Ada apa Ai, cerita sama Abang? Bukankah tak boleh ada rahasia diantara suami istri?" desak White.


Airi semakin tergugu, tangisnya pecah dan itu membuat White semakin khawatir.


"Tolong jangan seperti ini Ai," White menarik Airi kedalam pelukannya. Membenamkan wajah wanita yang sedang tergugu itu kedadanya. "Hati Abang sakit dengar kamu nangis."


Airi masih belum mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih dilema, antara mau mengatakan atau tidak. White pasti akan terpukul jika tahu dirinya viral sebab video syur. Tapi diam pun, cepat atau lambat, White juga akan tahu dengan sendirinya. Pria itu punya smartphone, dia bisa tahu berita viral apapun.


"Apa yang Abian katakan?" White bertanya seperti itu karena Airi menangis setelah dapat telepon dari Abian. "Apa keluargamu butuh uang, apa ibumu sakit? Atau apa Abian butuh biaya untuk masuk kuliah?" tanyanya sambil mengeratkan pelukan. "Kalau ibumu sakit, kita kesana sekarang. Kalau urusan uang kuliah Abian, aku yang akan membiayai kuliahnya."


Airi makin terisak sambil memegangi dada. Padahal Abian yang telah membuat White buta, tapi suaminya itu masih mau membiayai kuliahnya. Dia melepaskan diri dari pelukan White sambil menyeka kedua pipinya yang basah.


"Kenapa Abang masih bisa baik pada Bian?" tanya Airi


"Karena dia adikku. Bukankah keluargamu keluargaku juga. Aku akan menanggung biaya hidup keluargamu, jangan pernah bersedih apalagi menangis soal uang."


Airi terkekeh pelan sambil menangis. "Jangan mikirin uang kata Abang? Bahkan Abang aja gak kerja selama kita nikah." ledeknya sambil memukul pelan dada White.


"Hahaha, kau benar. Menyedihkan sekali suamimu ini, bahkan uang bulanan saja, Papa yang ngasih." White kembali menarik Airi kedalam pelukannya. "Aku masih ada tabungan jika kau butuh uang." White masih mengira jika Airi menangis karena masalah keuangan. "Dan saat aku sudah bisa melihat nanti, aku akan bekerja semaksimal mungkin agar dapat uang banyak buat kamu."


"Harus itu, wajib hukumnya. Pokoknya saat Abang udah kerja nanti, aku mau uang bulanan 100 juta." White langsung tergelak mendengar tuntutan istrinya tersebut. Selama ini, Airi memang mendapatkan jatah bulanan dari Papa Sabda.

__ADS_1


...----------------...


Malam itu, saat White hendak menyentuhnya, pikiran Airi mendadak tak karuan. Bayangan video itu membuat Airi sedikit tak nyaman. Saat White menciumnya, ia malah terngiang adegan ciuman antara White dan Raya. Reflek tubuhnya seperti menolak sentuhan White. Bahkan saat White menyentuh dadanya, dia menahan tangan suaminya.


"A-Ai capek malam ini Bang." White yang awalnya sudah sangat bernaffsu, seketika tersenyum simpul. Menarik tangannya yang ada didada Airi dan sedikit bergeser menjauh.


"Ya udah, kalau gitu kita tidur." White meraba bantal Airi lalu menepuk nepuk sebentar. "Tidurlah." Saat Airi sudah berbaring, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.


Airi merasa bersalah melihat White yang saat ini berbaring disebelahnya. Rasa bersalahnya karena menolak ajakan bercinta membuat Airi hampir menangis. "Aku ke kamar mandi sebentar Bang." Airi turun dari ranjang, berjalan cepat menuju kamar mandi. Membuka kran air dan menumpahkan ari mata dan sesak didasa didalam sana. Tak seharusnya dia menolak ajakan suaminya.


Ternyata perkataan dan melihat langsung, sangat beda rasanya. Dulu saat White mengaku pernah bercinta dengan Raya, hatinya tak sesakit saat ini, saat melihatnya langsung.


Semua hanya masa lalu, tak seharusnya dia masih mempermasalahkannya. Ini bukan pengkhianatan.


Semua orang punya masa lalu Ai, dan kamu harus berlapang dada menerima masa lalu suami kamu. Kuat Ai, saat ini, kamu adalah orang yang paling White butuhkan untuk menguatkannya, karena cepat atau lambat, White akan tahu tengtang video itu. Jika kau rapuh, bagaimana dengan suamimu, dia akan lebih hancur.


Airi menyemangati didinya sendiri. Dia teringat kembali obrolannya dengan Mama Nuri sore tadi via telepon. Mertuanya itu, menangis, meminta maaf, dan memohon padanya agar tidak meninggalkan White.


"Saat ini, Mama hanya bisa berharap pada kamu Ai. Kamu satu-satunya orang yang bisa menguatkkan White saat nanti dia tahu soal video itu. Maaf jika Mama egois. Mama tahu ini juga berat buat kamu. Ini pasti menyakitkan. Tapi Mama mohon, jangan tinggalin White, Ai. Dia sangat mencintaimu. Dia sudah pernah hancur karena kecelakaan dan ditinggal Raya. Kali ini Mama mohon, jangan buat dia sekali lagi hancur Ai."


Mana mungkin Airi sanggup menghancurkan hati seorang ibu. Dia membayangkan ibunya sendiri. Teringat kembali hancurnya hati ibunya saat Abian hampir dipenjara. Tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya. Lagipula, dia tak bisa menyalahkan White karena semua ini hanya masa lalu. Seburuk apapun masa lalunya, saat ini White adalah suaminya, masa depannya. Dia mencintai pria itu, pun sebaliknya, White mencintainya. Ini cobaan pernikahan, jadi dia dan White harus bisa saling menguatkan, bukan malah menyalahkan apalagi berniat meninggalkan.


"Ai tidak akan meninggalkan Abang Mah." Dia mengatakan itu dengan keyakinan tinggi.


Setelah menyeka air mata dan menyusut hidung, Airi membasuh mukanya. Jika sore tadi dia sudah bisa seyakin itu bicara pada Mama Nuri, seharusnya saat ini, dia sudah tak boleh galau karena video itu. Dia Mematikan keran air lalu keluar. Terlihat suaminya duduk diatas ranjang sambil mengutak atik ponsel. Ditelinganya terpasang earphone. Jantung Airi berdegup kencang, jangan-jangan, White sudah tahu berita ini dari internet.


"Abang lagi ngapain?" Airi yang sudah naik keatas ranjang menarik sebelah earphone White lalu memasang ditelinganya.

__ADS_1


"Abang suka banget denger lagu ini."


Airi bernafas lega, ternyata White sedang mendengarkan lagu. Dia terlalu parno. Airi dan keluarga White, memutuskan tak memberitahu White. Mungkin itu lebih baik bagi kesehatan mentalnya. White sudah sempat drop karena kebutaannya, Mama Nuri tak mau putranya itu makin kena mental jika tahu soal ini.


"Iya, enak lagunya," sahut Airi. Setelah lagu habis, dia melepaskan earphone ditelinganya dan White lalu menyimpan ponsel pria itu. Memeluk White dan menyandarkan kepala didada bidangnya. "Abang mau Ai?"


White mengerutkan kening. "Bukankah kamu lelah?"


"Udah enggak sekarang." Airi mengangkat wajahnya lalu mencium bibir White.


Kamu pasti bisa Ai.


Airi memejamkan mata, berusaha mengenyahkan bayangan tentang video itu. Mencoba mengalihkan pikirannya pada perlakuan-perlakuan manis White padanya selama ini.


"Kamu yakin Sayang? Beneran udah gak capek?" White kembali memastikan sebelum dia berlanjut. Menurutnya, sekk adalah antara 2 orang, jadi keduanya harus sama-sama menikmati, tak boleh ada salah satu yang terpaksa.


"Iya Bang." Airi memfokuskan pikirannya pada sentuhan White. Tak berani menatap wajah White karena takut masih belum bisa mengenyahkan video itu dari kepalanya.


...----------------...


White tak menemukan keberadaan Airi saat dia terbangun pagi hari. Mendengar suara berisik dari dapur, senyumnya seketika terbit. Membayangkan Airi sibuk didepan kompor, dan dia menghampiri lalu memeluknya dari belakang. Ah, andai saja dia bisa melihat, hal-hal romantis seperti itu, pasti bisa dia lakukan.


Terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Meraba keatas nakas disebelahnya tapi tak mendapati ponselnya. Dia ingat jika semalam, Airi yang menyimpan ponselnya, jadi pasti ada diatas nakas disebelah Airi tidur. White bergeser kesisi lain untuk mencari ponselnya. Ternyata benar, ada diatas nakas dekat Airi tidur.


White membuka ponsel dan mendapati pesan dari nomor tak dikenal masuk keponselnya. Ponsel yang sudah diseting untuk tuna netra, membuat pesan otomatis diubah kesuara.


[ Selamat Bro, lo udah terkenal sekarang. ]

__ADS_1


"Apa maksudnya ini?"


Selain pesan itu, ada juga video yang dikirim.


__ADS_2