
Semua yang ada disana terutama perempuan, teriak saat melihat pisau yang menancap di lengan Ryu. Airi gemetaran hebat karena syok. Melihat kondisi Ryu, dia sampai lupa kalau saat ini, lengannya juga terluka.
"Abang, Abang gak papakan?" tanya Airi.
"Aku ga_" White tak melanjutkan kalimatnya mendengar kalimat Airi berikutnya.
"Darahnya banyak banget Bang," ujar Airi sambil menangis. Dia melihat darah segar mengucur dari lengan Ryu sesaat setelah pria itu mencabut pisau yang menancap dilengannya.
"Aku gak papa Ai," sahut Ryu. "Kamu gak papakan?" Disaat seperti inipun, dia masih lebih mencemaskan kondisi Airi.
Dada White seketika berdenyut nyeri. Hampir saja dia salah sangka, mengira jika Airi tengah menanyakan kondisinya, ternyata Bang yang dimaksud Airi bukanlah dirinya, tapi Ryu. Meski tak bisa melihat, dia tahu jika itu Ryu karena orang-orang disana memanggil nama pria itu.
"Ryu!" Teriak Lovely sambil berlari mendekati Ryu. Dia berjongkok didepan Ryu, tubuhnya terasa lemas melihat darah mengalir dari lengan Ryu. Bibir Ryu terlihat sedikit biru, dan tampak sekali jika pria itu tengah menahan sakit. Neha yang baru datang dan langsung mengikat lengan Ryu dengan sebuah kain untuk menghentikan darah yang terus mengalir.
Airi seketika teringat White, dia menoleh dan mendapati White duduk dibelakangnya.
"Abang gak papakan? Apa ada yang terluka?" Airi memegang kedua bahu White, memperhatikan apakah dia terluka atau tidak.
Ryu meneteskan air mata, bukan karena sakit dilengannya, tapi karena sakit melihat Airi yang terlihat sangat mencemaskan suaminya.
Lovely menunduk dengan air mata menetes, saat ini dia sangat mengkhawatirkan Ryu, tapi sejak tadi, tatapan Ryu malah tertuju pada Airi.
"Aku gak papa Ai. Kamu gimana, kamu terluka?" tanya White cemas.
"Aku gak papa Bang, aku baik-baik saja."
"Kita bawa ke klinik didekat sini" ujar kepala panti. Luka Ryu cukup serius dan harus segera mendapatkan penanganan. Kebetulan, ada praktek dokter umum didekat panti. "Airi kamu ikut sekalian."
"Kamu terluka Ai?" White langsung panik.
"Lengan Airi terkena sabetan pisau Pak White," terang kepala panti.
__ADS_1
"Ai, kamu gak papakan?" White sangat cemas. "Mana yang sakit Ai," White tak berani memegang lengan Airi, takut jika tangannya tak sengaja menyentuh luka itu. Kalau saja dia bisa melihat, dia pasti bisa melindungi Airi tadi, bukan malah Airi yang berusaha untuk melindungi dia. Dan sekarang, malah ada Ryu yang terluka karena melindungi Airi. Meski dia tak tahu secara pasti kronologi kejadiannya, tapi suara suara orang disana membuat dia paham jika tadi, Ryu terkena pisau demi melindungi Airi. Dan seketika, dia merasa sungguh tak berguna.
"Ai gak papa Bang." Airi menggenggam tangan White untuk menenangkannya. "Hanya luka sedikit dilengan."
Ryu segera dilarikan ke klinik oleh teman-temannya. Lovely sebenarnya ingin ikut, tapi melihat Ryu yang sejak tadi hanya fokus menatap Airi, dia urung ikut. Dadanya terasa sakit sekali.
Bahkan meski Airi sudah menikah dengan pria lain, kamu masih sangat mencintainya Ry.
"Ai, darah dilenganmu terus keluar, ayo segera aku antar kedokter," ujar Neha. Sementara Ryu sudah lebih dulu dibawa ke klinik karena lukanya lebih serius.
"Tolong, tolong bawa Airi ke dokter," pinta White yang merasa tak bisa melakukan apa-apa.
"Tapi Abang bagaimana?" Airi masih memikirkan White.
"Biar Pak White disini saja Airi. Disini banyak orang, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya," ujar kepala panti.
Akhirnya Airi setuju, dia diantar Neha ke klinik didekat panti. Sedangkan White, dia diajak kepala panti untuk masuk kedalam. Acara tak dilanjutkan karena sudah tidak memungkinkan. Sedangkan Dini, dia sudah diamankan.Terpaksa tangannya diikat karena takut membuat kerusuhan lagi. Dia tak lagi teriak atau mengamuk, tapi malah nangis dan kadang tertawa. Kejadian ini juga sudah dilaporkan ke polisi. Meski Dini terlihat seperti orang sakit jiwa, tapi mereka tak bisa langsung menyimpulkan sebelum diperiksa lebih lanjut.
Cukup lama White menunggu Airi yang sedang dibawa keklinik. Dia sangat cemas saat ini. Bahkan saat pekerja panti menawarinya minum, dia tak menyentuhnya sama sekali karena terlalu mencemaskan Airi.
Abang gak papakan?
Kalimat Airi yang terdengar sangat cemas itu, mengganggu pikiran White. Apakah Airi masih mencintai Ryu, dia seperti sangat mencemaskan pria itu. Dan Ryu, pria itu rela mengorbankan diri untuk Airi, itu artinya pria itu masih sangat mencintai Airi. Dan tadi dia juga bisa mendengar jika Ryu sangat mencemaskan Airi.
White tersenyum getir saat ingat Airi memanggil Ryu dengan sebutan Abang. Itu artinya, tebakannya dulu tepat, Airi hanya salah sebut saat memanggilnya abang. Dan orang yang sesungguhnya dipanggil abang oleh Airi, adalah Ryu.
"White, kamu baik-baik saja? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Neha yang baru datang.
"Kamu?" White mencoba mengingat suara itu.
"Aku Neha, Airi menyuruhku melihat kondisimu, takut kamu butuh sesuatu, dia mencemaskanmu."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Airi?"
"Dia masih diobati?"
"Ryu?" Bagaimanapun, Ryu terluka karena menolong istrinya. Dia tak mau karena cemburu, jadi mengabaikan kebaikan Ryu.
"Dia juga masih diobati."
"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Neha.
White menggeleng cepat. "Bisa tolong antar aku ketempat Airi?"
"Nanti setelah Airi selesai diobati, dia akan segera kembali kesini?"
"Please, aku ingin berada didekat Airi," White memohon.
"Baiklah, tapi apa kau bisa jika aku memboncengmu dengan motor?" Neha takut White malah terjatuh nantinya.
"Aku bisa," sahut White cepat.
Karena White tak membawa tongkat, Neha menuntunnya kehalaman. Dan dengan bantuan teman Neha, White naik keatas motor.
Sesampainya didepan klinik, White turun pelan-pelan. Postur tubuhnya yang tinggi, membuat dia tak kesusahan meski harus turun dari motor dengan kondisi tak bisa melihat.
Neha lalu menuntun White masuk keklinik yang tak seberapa besar itu.
"Dimana Airi?" tanya White.
"Dia diobati di ruangan paling pojok. Ini klinik kecil, tak ada IGD." Neha lalu membawa White keruangan yang dia maksud.
"Tinggalkan dia saat penglihatannya kembali. Kembalilah padaku Ai." Langkah White seketika terhenti saat mendengar ucapan Ryu barusan.
__ADS_1