
Aroma semur ayam menguar didapur, sedap dan langsung membuat perut terasa lapar. Setelah memastikan rasanya pas dan daging ayamnya sudah empuk, Airi segera mematikan kompor. Tumis sawi campur wortel sudah lebih dulu matang dan sudah dia susun dimeja makan.
Airi menoleh kearah jam hello kitti yang bertengger didinding dapur. Sudah pukul 7 lebih, tapi White belum tampak batang hidungnya. Biasanya White sudah bangun dan menyusulnya kedapur sebelum jam 7. Tapi sekarang, kenapa belum muncul juga, apa dia masih belum bangun?
Setelah memindahkan semur ayam kedalam mangkuk, dia langsung cuci tangan. Melepas apron lalu menghampiri White dikamar.
Sesampainya dikamar, dia lihat White duduk diatas ranjang, tertunduk sambil memegangi ponsel.
"Baru bangun Bang?"
Airi masuk lalu mematikan AC. Membuka gorden dan jendela agar mendapatkan udara segar dari luar.
"Tumben Abang agak siang bangunnya? Padahal Ai udah tungguin Abang didapur sejak tadi. Bilangnya kalau gak ketemu Ai bentar aja, langsung kangen, kok gak langsung nyusul kedapur begitu bangun. Ketahuan banget bohongnya," celoteh Airi sambil mengikat korden. Dia heran kenapa setelah bicara banyak, White tidak menanggapi sama sekali. Saat menoleh kearah ranjang, suaminya itu masih seperti posisi tadi saat dia masuk, duduk diam sambil menunduk dalam.
"Abang kenapa, sakit?" Airi mendekati White lalu duduk disebelahnya. Dia terkejut saat melihat beberapa tetes air dilayar ponsel yang dipegang White. "Abang..." Airi mengangkat wajah White dan mendapati kedua pipi pria itu telah basah.
__ADS_1
"Apa aku sangat buruk?" lirih White dengan suara bergetar. "Aku sangat buruk Ai."
Airi seketika memeluk White, menyandarkan kepala pria itu kedadanya. Hatinya ikut nyeri mendengar isakan White. "Kamu pasti malu punya suami sepertiku."
"Itu gak bener Bang." Airi mengusap punggung White sambil mencium puncak kepalanya.
Sekarang White tahu apa yang membuat Airi menangis kemarin. Wanita mana yang tak sakit hati melihat video syur suaminya dengan wanita lain. Dan alasan dibalik Airi menolaknya semalam, pasti karena ini.
"Semua orang sudah tahu tentang ini Ai. Semua orang membicarakanku." White menangis sambil tertawa. "Dalam sekejab, aku menjadi sosok terkenal, aku menjadi bintang. Lebih tepatnya, bintang film dewasa." White mengecek akun ig nya tadi. Akun yang awalnya hanya punya ribuan pengikut, mendadak membludak, begitupun dengan kolom komentar yang langsung diserbu. Sudah pasti semua berisi bullying. Mengatakan betapa seksinya tubuhnya, betapa kuatnya dia diranjang, dan macam-macam lagi. Meski kalimat itu seperti pujian, sejatinya mereka sedang mengoloknya.
Airi menggeleng cepat. "Itu hanya masa lalu. Ai tidak mempermasalahkannya," sahutnya sambil menyeka air kata. Melihat suaminya terpuruk seperti ini, Airi tak bisa untuk tidak ikut menangis.
White tak percaya begitu saja dengan ucapan Airi. Meski masa lalu, Airi pasti sangat terluka dan kecewa. Dia masih sangat ingat dengan komentar seseorang yang mengatakan kasihan sekali istrinya, harus melihat sendiri dengan mata kepalanya saat suaminya bercinta dengan wanita lain.
Airi mengambil ponsel yang ada ditangan White lalu menyimpannya kedalam laci. "Sementara, Abang gak usah pakai smartphone dulu. Ai gak mau Abang drop gara-gara berita ini."
__ADS_1
White tersenyum getir. "Terbuat dari apa hatimu Ai?" dia meletakkan telapak tangannya didada Airi. "Disaat seperti ini, bukannya menyalahkan atau memakiku, kau malam memikirkan perasaanku. Kamu yang paling terluka disini Ai."
Airi menggeleng cepat sambil menggenggam tangan White. "Semua orang punya masa lalu Bang. Tidak ada alasan untuk marah pada Abang, karena semua ini terjadi sebelum kita menikah. Kalau Abang tanya apakah aku kecewa? Jawabannya tidak, Abang tidak mengkhianatiku, Abang tidak menodai pernikahan suci kita. Hanya saja, hatiku yang susah dikondisikan, hatiku berontak, hatiku sakit untuk sesuatu yang hanya masa lalu." Airi menepuk dadanya yang terasa sesak. "Maafin Ai Bang."
White memeluk Airi dan membiarkan wanita itu menangis dalam dekapannya.
"Aku yang seharusnya minta_" Airi meletakkan tekunjuknya dibibir White.
"Kita hanya perlu mempererat pegangan tangan kita untuk saling menguatkan," Airi menggenggam tangan White kuat. "Ini cobaan untuk rumah tangga kita Bang. Ujian untuk memperkuat cinta kita."
"Kamu gak akan ninggalin aku kan Ai?"
"Tidak akan pernah." Airi menjatuhkan diri kedalam pelukan White. Baginya, pernikahan adalah ikatan yang sangat sakral. Selama tidak ada pengkhianatan didalamnya, tidak ada alasan untuk mengakhiri pernikaha. "Kita lewati ini sama-sama Bang. Ai yakin, badai pasti akan segera berlalu. Publikpun pelan-pelan akan lupa dengan video ini."
Sekarang, pandangan publik itulah yang mengganggu pikiran White. Bagaimana cara menghadapi dunia disaat mereka semua tengah membuatnya menjadi orang yang paling dibicarakan saat ini. Dan Airi, wanita itu pasti ikut kena imbasnya
__ADS_1
...----------------...