Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 44


__ADS_3

Hari ini, karena Mama Nuri dan Papa Sabda kembali dari Malaysia, Airi dan White berkunjung kerumah. Banyak sekali oleh-oleh yang dibawa mertuanya itu, mulai dari makanan hingga souvenir. Tapi dari seabrek itu, kebanyakan malah untuk pekerja dirumah dan beberapa teman. Sedang Airi dan White, hanya dapat sedikit makanan saja.


"Maaf ya Airi, sebenarnya Mama pengen beliin kamu oleh-oleh, tapi malah dilarang sama White." Seketika Airi langsung menoleh kearah White. "White bilang dia akan mengajak kamu ke Malaysia setelah bisa melihat nanti. Jadi kamu bisa beli apapun yang kamu mau disana." Airi yang awalnya agak jengkel pada White, kini malah tersenyum.


"Masak Papa sama Mama doang yang honeymoon, kita juga pengen kali mah," ujar White sambil menyentuh lengan Airi yang saat ini duduk disebelahnya.


"Nanti setelah penglihatanmu normal, puas puasin dulu jalan-jalan. Karena setelah itu, kamu harus gantiin Papa dikantor. Papa udah capek banget," Papa Sabda sedikit melakukan peregangan. "Udah pengen pensiun. Pengen menikmati Mama."


Mama Nuri langsung terkesiap lalu menepuk paha suaminya. "Kebiasaan deh, kalau ngomong suka ambigu. Pengen menikmai hidup sama Mama, jangan dibuang hidupnya, biar yang denger pikirannya gak traveling."


"Emang Papa lagi pengen buat otaknya White traveling. Kasihan, udah 7 bulan dirumah mulu." Papa Sabda malah menanggapi dengan gurauan sambil tertawa ringan.


"Jangan salah Pah. Tiap hari aku traveling kok sama Airi."


"Beneran Airi?" tanya Mama Nuri antusias. Dia senang mendengar White yang mulai berani menunjukkan diri. Airi sebenarnya juga tak paham kenapa White bicara seperti itu, karena bisa dibilang, mereka jarang keluar.


"Benerlah Mah," sahut White. "Tiap hari kami traveling. Mama tahu gak kemana?"


"Kemana?" Mama Nuri menanggapi dengan serius.


"Terbang ke langit ketujuh, lalu mendarat di surga." Jawaban White langsung disambut gelak tawa oleh Papa Sabda. Kedua pria itu tampak kompak tertawa, beda dengan Airi yang langsung menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


"Bapak sama anak, sama saja," gerutu Mama Nuri sambil geleng-geleng.


"Ya kayak gini ini yang bikin Papa awat muda Mah," seloroh Papa Sabda.


Mama Nuri memilih diam, kalau diterusin, bisa makin menjadi 2 orang itu. Dan pastinya, akan membuat Airi malu karena belum terbiasa dengan candaan mereka, beda dengan dia yang udah hafal diluar kepala.


"Kamu gimana Airi? Setelah White sembut nanti, kamu mau kerja apa gimana?"

__ADS_1


"Dia mau ngurus anak aja Pah," White yang menjawab.


"Kamu hamil Airi?" tanya Mama Nuri dengan wajah berbinar. Dia memang tak menuntut segera diberi cucu, tapi kehamilan Airi adalah kabar yang sangat dia tunggu.


"Eng-enggak kok mah," sahut Airi cepat sambil menggeleng. "Abang hanya asal ngomong aja."


"Yah, padahal Papa udah seneng tadi. Kirain udah mau dapat cucu."


"Tenang saja Pah, sudah on proses," timpal White sambil cekikikan.


"Mentang-mentang gak kerja, mroses mulu kamu. Papa jadi ngiri," ujar Papa Sabda.


"Nganan aja Pah. Mama ada disebelah kanan." Lagi-lagi, selorohan White membuat dia dan papanya tertawa. Sedangkan mamanya dan Airi, entah apa yang terjadi dengan keduanya, mereka sama sekali tak terlihat tertawa.


"Stop Pah." Mama Nuri menahan tangan Papa Sabda yang mau mengambil kerupuk untuk kesekian kalinya. "Ingat umur, jangan banyak-banyak makan kayak gini."


"Itu toplesnya belum kosong Mah," Papa Sabda tak sampai hati melihat kerupuk lekor kering yang dia bawa dadi Malaysia masih tersisa ditoples.


"White, apa istrimu kayak Mama?" tanya Papa Sabda.


"Enggaklah," sahut White.


"Bukan enggak, tapi belum," Papa Sabda langsung tertawa ngakak. "Dulu pas awal nikah, Mama kamu juga gak gini. Makin kesini, makin wow. Sehari gak ngomel, patut dicurgai."


Mereka terus mengobrol sampai hampir tengah malam. Mama Nuri yang sudah mengeluh ngantuk, segera mengajak suaminya tidur. Sebenarnya Airi juga ngantuk dari tadi, tapi sungkan mau masuk kamar lebih dulu. Ya, malam ini, dia dan White menginap disini.


Saat sudah rebahan diatas ranjang, Airi berharap White tak minta jatah. Matanya sudah tinggal 5 watt, susah sekali dibuka. Tapi lengan White yang melingkar dipinggangnya, membuat jantung Airi seketika berdebar.


"Abang pengen ya?" tanya Airi.

__ADS_1


"Kalau kamu?" White malah balik bertanya.


"Terserah Abang saja."


"Udah ngantuk ya?"


"Kok tahu?"


"Dari tadi denger kamu nguap. Ya udah tidur gih," White mengecup kepala Airi sambil merapatkan tubuh mereka. "Ai."


"Iya Bang," Airi masih menyahuti meski saat ini, matanya sudah tertutup.


"Kamu udah bikin list mau ngelakuin apa saja saat aku udah bisa ngelihat?"


"Udah."


"Apa?"


"Rahasia. Aku pengen Abang membacanya sendiri saat Abang udah bisa melihat nanti. Aku menulisnya di sebuah diary warna ungu yang ada didalam laci nakas. Nanti saat sudah bisa melihat, Abang bacalah sendiri."


"Apa banyak? Berapa lembar?"


"Hanya 1."


"Kenapa hanya 1, buatlah yang banyak."


"Iya, akan Ai pikirkan yang lainnya lagi." Suara Airi terdengar makin lemah. Wanita itu sudah hampir kehilangan kesadarannya. Rasa kantuk yang menyerang tak bisa lagi diajak kompromi.


"Tulis sebanyak-banyaknya. Bikin aku tak bisa memikirkan hal lain kecuali mewujudkan semua keinginanmu. Kau tahu Ai, saat ini, seluruh duniaku seperti berpusat padamua. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." White berharap Airi akan langsung menjawab, aku juga mencintaimu, tapi sayangnya, Airi hanya diam saja.

__ADS_1


"Ai," panggil White. Tak derdengar sahutan, sampai akhirnya White sadar jika Airi sudah tertidur.


__ADS_2