
Saat terbangun, Airi tak menemukan White disebelahnya. Kemanakah pria itu? Ini masih terlalu pagi dari jam biasanya White bangun. Menyibak selimut lalu turun dari atas ranjang. Meski tak mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, Airi tetap mengecek ruangan itu.
"Abang," panggilnya sambil menarik gagang pintu kamar mandi. Kosong, tak ada White didalam sana. Mungkin pria itu ada didapur, batinnya. Dia mencuci muka di kamar mandi lalu keluar dari kamar.
Airi menjerit kaget saat mendapati 2 orang asing duduk disofa ruang tengah.
"Pagi Mbak." Sapa 2 orang wanita muda sambil menunduk sopan.
"Si-siapa kalian, kenapa bisa ada dirumah saya?" tanya Airi gugup. "Abang, Abang." Airi berteriak memanggil White. Takut jika 2 orang wanita itu punya niatan buruk padanya. Kalau saja tak dalam kondisi hamil, dia tak akan sepanik ini.
"Mas White tidak ada dirumah," jawab salah satu dari mereka.
"Non Airi sudah bangun." Bi Ijah keluar dari dapur karena mendengar teriakan Airi memanggil White. Airi mengenalnya, dia adalah asisten rumah tangga di rumah Mama Nuri. Tapi tatapan Bi Ijah membuat Airi sadar sesuatu.
"Astaga!" Pekik Airi sambil buru-buru masuk kembali ke dalam kamar. Bagaimana mungkin sejak tadi dia tak sadar jika hanya memakai lingeri. Untung semuanya wanita, kalau tidak, bisa-bisa sesuatu yang buruk terjadi. Tapi sepertinya White sudah memikirkan tentang itu. Tak mungkin dia membiarkan pria asing ada didalam rumahnya.
Setelah berganti pakaian dengan yang lebih sopan, Airi kembali keluar. Ternyata 2 orang wanita tadi sudah membuka koper dan mengeluarkan begitu banyak alat make up.
"Perkenalkan saya Maisa, dan ini Dini." Maisa menghampiri Airi lalu mengulurkan tangannya. "Kami disuruh Mas White untuk mendandani Mbak Airi."
"Dandan?" Airi masih belum paham. Untuk apa dia didandani.
"Benar Mbak, dandan, make up. Pakaian juga sudah kami siapkan," sahut Dini.
__ADS_1
"Tapi untuk apa?"
"Untuk acara kejutan yang sudah disiapkan oleh Mas White."
"Sebelum dandan, Non Airi sarapan dulu saja. Bibi sudah siapin makanan dimeja makan," ujar Bi Ijah menyela.
Airi masih tak paham dengan acara kejutan tersebut. Dia yang saat itu memegang ponsel, langsung menghubungi nomor White. Panggilan pertama dan kedua tak diangkat, baru panggilan ke-3 terdengar suara White.
"Iya, Sayang," sahut White.
"Bang, mau ada acara apa sih?" Bukannya dijawab, yang terdengar malah suara kekehan White. Tak hanya itu, suara berisik juga bisa didengar Airi. Dia jadi penasaran, ada dimana suaminya itu sekarang.
"Udah kamu nurut aja sama Maisa dan Dini. 3 jam lagi, ada supir yang bakal jemput kamu."
"Nanti juga tahu. I love you." White memutus sepihak sambungan telepon setelah mengatakan itu. Tapi setidaknya, Airi sudah lega karena yakin jika Maisa dan Dini, adalah orang suruhan White.
Airi menghela nafas lalu melihat Maisa, Dini dan Bi Ijah yang ternyata memperhatikannya sejak tadi.
"Sarapan dulu, Non." Bi Ijah kembali menawarinya.
Sebenarnya Airi belum lapar. Tapi kalau memang mau ada acara, dia harus makan dulu. Jangan sampai nanti kelaparan, sekarang ada yang tumbuh didalam perutnya, dia harus memikirkan itu.
Airi mengajak mereka sarapan bersama, tapi Maisa dan Dini menolak dengan alasan sudah sarapan. Jadilah dia hanya makan berdua dengan Bi Ijah.
__ADS_1
"Mau ada acara apa sih, Bi?" tanya Airi disela-sela makannya.
"Acara spesial pokoknya. Udah, Non Airi buruan makan, biar bisa segera dirias. Jangan sampai telat ditempat acara, biar Mas White gak nunggu terlalu lama."
Airi hanya nyengir. Kenapa semua kompak begini sih, gak ada yang mau ngasih klu sedikitpun.
Selesai sarapan dan mandi, Airi langsung di make up oleh Maisa, sedangkan Dini, dia bagian hair do.
"Jangan terlalu bold ya, aku suka yang flawless aja," pinta Airi.
"Iya, Mbak. Tenang aja, pokoknya kita bakal bikin Mbak Airi jadi pengantin paling cantik."
"Pengantin?" pekik Airi.
Maisa langsung menggigit bibir bawahnya. Bisa-bisanya dia keceplosan. Tapi bagaimanapun itu, saat Airi melihat gaun yang akan dia kenakan nanti, wanita itu pasti sadar jika itu gaun pengantin.
"Pengantin gimana maksudnya? Saya udah nikah loh. Kayaknya ada miss komunikasi deh, Mbak. Saya telepon suami saya dulu ya, Mbak." Airi hendak mengambil ponselnya yang ada diatas meja tapi ditahan oleh Dini.
"Kita gak salah kok, Mbak. Mas White memang meminta Mbak Airi dirias pengantin. Bahkan gaunnya, Mas White sendiri yang milih." Dini membuka koper yang satunya lagi. Mengeluarkan gaun pengantin putih yang ada disana.
Mulut Airi sampai menganga melihat gaun cantik itu. Modelnya simpel, tak ada manik-manik atapun ekor yang panjang. Mungkin White mempertimbangkan kondisi Airi yang sedang hamil. Gaun yang berat dan ekor panjang, hanya akan menyusahkan Airi, bahkan bisa membahayakan.
"Kita lanjut yuk, Mbak. Bentar lagi jemputannya datang." Maisa tak mau buang-buang waktu. Mengabaikan Airi yang masih bengong, Maisa melanjutkan tugasnya.
__ADS_1