Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 37


__ADS_3

"Iya Mah, White dan Airi yang akan kesana hari minggu gantiin Mama sama Papa."


"___"


"Iya gapapa, Mama santai aja, have fun sama Papa. Serahin aja semua sama anak dan menantu mama," White coba meyakinkan mamanya.


Setelah cukup lama mengobrol dengan mamanya ditelepon, White mengakhiri panggilannya. Meletakkan kembali ponsel keatas nakas. Jika biasanya dia agak worry mau keluar rumah, entah kenapa, dia excited banget untuk acara hari minggu nanti.


"Ai, hari minggu, kita disuruh Mama ke panti asuhan An-nur. Gantiin Mama sama papa yang dapat undangan untuk acara tahunan disana. Papa donatur tetap disana, jadi selalu dapat undangan jika ada acara. Kamu gak masalahkan, nemenin aku kesana?" Setelah bicara panjang lebar, White baru menyadari jika Airi tak merespon ucapannya sama sekali. "Ai," White menyentuh lengan Airi yang saat itu duduk disebelahnya.


"A-ada apa Bang?" tanya Airi. Sejak tadi dia melamun hingga tak mendengar sama sekali perkataan White. Jangankan kata-katanya, dia saja tak tahu jika White sudah selesai telepon dengan mamanya.


"Kamu gak dengerin aku ngomong dari tadi?"


"A-aku. A-aku ketiduran tadi," lagi-lagi Airi menggunakan alasan ketiduran. Dan hal itu, membuat White langsung tersenyum, karena seperti hanya alasan saja.


"Kamu mikirin apa sih Ai?" White menggenggam tangan Airi. "Tak lama lagi, aku akan segera bisa melihat, tapi aku merasa, beberapa hari ini, kamu banyak diam. Ada apa Ai? Kamu gak ada niatan buat ninggalin aku setelah aku bisa melihatkan?" Entah kenapa, White malah berfikiran kesana.


Airi menghela nafas lalu memeluk White. Menyandarkan kepala dibahu suaminya itu. Saat ini, keduanya sedang duduk diatas ranjang dan bersandar dikepala ranjang.


"Bukankah Ai sudah pernah bilang. Ai gak bakal ninggalin Abang, kecuali Abang yang minta. Jadi please jangan ngomong seperti tadi. Ai sayang Abang."


"Aku juga sayang sama kamu Ai, sayang banget." White mencium puncak kepala Airi sambil membelai rambut panjangnya. "Hari minggu, kita disuruh gantiin Mama dan Papa keacara tahunan yang diadakan dipanti asuhan An-nur. Ada pentas seni kata Mama. Aku sih gak pernah datang keacara seperti itu sebelumnya. Kamu pernah gak?"


Panti asuhan An-nur, Airi menghela nafas. Kenapa dari sekian banyak panti asuhan, kenapa harus An-nur. Beberapa kali dia kesana bersama teman kuliahnya dulu, dan tentu saja dengan Ryu juga. Mereka melakukan bakti sosial disana. Dan biasanya, saat ada acara tahunan seperti ini, mereka datang untuk membantu.


"Papa donatur tetap disana, jadi selalu dapat undangan kalau ada acara. Tapi sekarang Mama dan Papa sedang ada di Malaysia, jadi kita disuruh gantiin. Enaknya kita kesana bawa apa ya Ai. Gak enak jugakan, datang dengan tangan kosong."

__ADS_1


"Nanti Ai beliin hadiah buat anak-anak Bang. Sekalian kita nyumbang. Anggap saja bentuk syukur karena tak lama lagi, Abang akan segera bisa melihat kembali."


White mengangkat wajah Airi, menyentuh wajahnya lalu mencium bibirnya dengan lembut. Airi bisa merasakan itu, ciuman White terasa begitu tulus, tak tergesa gesa dan tak seperti penuh nafsu. Benar benar ciuman yang membuat dia merasa dicintai.


"Aku bangga sekali punya istri seperti kamu Ai. Hati kamu luar biasa tulus. Kalau ingat masa lalu, aku merasa tak pantas untuk kamu. Masa la," Airi meletakkan telunjuknya dibibir White.


"Jangan bahas masa lalu. Siapapun punya masa lalu. Yang penting, kita saling mencintai." Airi ganti mencium White lebih dulu. Dia juga mengalungkan kedua lengannya dileher White.


"Saat aku sudah bisa melihat nanti, aku ingin ngajak kamu honeymoon," ujar White saat paguta bibir mereka terlepas. "Masa kita yang masih muda, kalah sama Papa dan Mama, yang k tua White berada di Malaysia untuk herjaannya honeymoon mulu." Saat ini, kedua orang tua White ke Malaysia untuk honeymoon memperingati anniversary pernikahan mereka.


"Ai mau keliling dunia."


"Sepertinya uangku belum cukup kalau buat ngajak kamu keliling dunia. Tapi bakal aku cicil dikit dikit mulai dari yang terdekat, ke Singapura dulu mungkin?"


"Yahh...ternyata suamiku tidak kaya," ujar Airi sambil membuang nafas berat. White terkekeh pelan lalu mengecup singkat bibir Airi.


"Aku janji bakal wujudin keingin kamu untuk keliling dunia."


"Aku tak peduli becanda atau tidak, karena bagiku, semua mimpimu, harus bisa aku wujudkan." Sontak air mata Airi langsung menetes. Selain karena terharu, kalimat itu juga mengingatkannya pada Ryu. Kenapa keduanya harus sama sama sedalam ini mencintainya.


White yang tangannya berada dipipi Airi, bisa merasakan lelehan air mata. Diusapnya lembut lalu dihujaninya wajah Airi dengan kecupan. Dan saat bibirnya menyentuh bibir Airi, dia segera memagutnya.


"Abang mau Ai?" bisik Airi didekat telinga White saat ciuman mereka terlepas. Suara Airi yang terdengar menggoda dan sapuan nafas hangatnya dibelakang telingat, membuat hasrat White seketika naik.


"Selalu sayang," sahut White dengan suara yang mulai berat. Siapa yang bisa menolak jika digoda seperti ini. "Aku selalu menginginkanmu." Dia mulai meraba setiap inci tubuh Airi dengan bibir yang kembali bertaut. "Tubuhmu membuatku candu Ai," ujar White disela sela ciuman mereka.


White tak bisa membayangkan saat dia bisa melihat nanti. Hanya merasakan tubuh dan mencium aromanya saja, sudah membuatnya sangat candu pada Airi. Apalagi jika nanti dia bisa melihat secara langsung kecantikan wajah Airi dan keindahan tubuhnya, bisa dipastikan, dia akan semakin menggilai istrinya.

__ADS_1


Airi mengeluarkan de sahannya saat tangan terampil White mulai bermain dibagian sensitifnya.


"Apa kau menikmatinya sayang?"


"Hem, aku sangat menik matinya," sahut Airi dengan suara putus putus seiring nafasnya yang memburu.


...----------------...


Setelah memasukkan semua hadiah untuk anak anak panti kedalam mobil, Airi membantu White memasuki mobil sekaligus memasangkan seatbelt. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Airi melajukan mobilnya menuju panti asuhan An-nur.


Setibanya disana, sudah terlihat ramai sekali orang yang datang. Acara tahunan kali ini, terlihat lebih meriah daripada tahun-tahun sebelumnya. Ada panggung yang lumayan besar dihalaman panti. Selain anak-anak panti yang terlihat berseliweran, ada juga beberapa orang yang membantu, sepertinya dari salah satu organisasi sosial, karena mereka tampak berseragam.


Setelah turun dari mobil dan disambut oleh panitia, beberapa sukarelawan membantu menurunkan hadiah yang dibawa Airi dari mobil.


"Airi." Sebuah panggilan menginterupsi Airi serta White. Seroang wanita muda berjalan cepat menghampiri keduanya.


"Neha," sapa Airi sambil memeluk Neha dan cipika cipiki. Neha adalah teman kuliahnya dulu. Dan sejak masih kuliah, Neha selalu aktif di panti asuhan ini.


"Dia siapa?" tanya Neha sambil memperhatikan White.


"Dia suamiku," sahut Airi sambil menggandeng lengan White.


Mulut Neha langsung terbuka lebar, begitupun dengan matanya. Dia sungguh tak menyangka jika gosip yang dia dengar tentang Airi menikah dengan pria buta kaya raya, ternyata itu benar. Bisa-bisanya, beberapa saat yang lalu, dia malah menanyakan kabar Airi pada Ryu.


White mengulurkan tangan sambil menyebutkan nama. Dan segera disambut Neha sambil menyebutkan nama juga.


"Neha, bisa bantuin aku bentar gak?" sebuah teriakan membuat Neha langsung menoleh, begitupun Airi yang langsung melihat kearah sumber suara.

__ADS_1


"Ryu," gumam Neha. Ya, yang barusan memanggilnya adalah Ryu, pria itu juga ada disana.


Ryu, White mengerutkan kening. Sejak hari itu Lovely membahas Ryu, dia menjadi sangat penasaran dengan pria bernama Ryu itu.


__ADS_2