Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 61


__ADS_3

Tak mau diary itu sampai hilang, White membawanya pulang, beserta pohon mawar putih yang bunganya sedang mekar. Ketika memasukkan bunga ke bagasi, seseorang menyapa White.


"Mas White."


White menyipitkan mata, memperhatikan wanita berhijab syari yang usinya hampir sama dengan mamanya.


"Masyaallah, Mas White sudah bisa melihat?" tanyanya lagi. "Saya Bu Salamah, tetangga depan rumah."


White seketika tersenyum mendengar wanita itu menyebutkan nama. "Maaf Bu, saya tidak mengenali Ibu."


"Ya wajarlah, orang gak pernah lihat muka saya," sahut Bu Salamah sambil tersenyum ramah. "Mbak Airi-nya mana?"


"Gak ikut Bu, dia dirumah Mama."


"Bunganya kok dimasukin mobil, udah gak tinggal disini lagi ya?" tanyanya sambil memperhatikan bunga yang ada didalam bagasi.


"Belum tahu Bu, masih difikirkan untuk itu. Bunganya lagi mekar, lagi bagus-bagusnya, sayang kalau disini gak ada yang ngerawat. Jadi saya bawa pulang saja."


"Oh...."


"Makasih ya Bu, selama kami tinggal disini, Ibu sudah sangat baik pada kami, terutama pada Airi. Disini kami tak ada saudara, tapi Ibu sudah seperti saudara."


"Namanya juga tetangga Mas, ya memang harus seperti itu."


White melihat jam tangannya, 1 jam lagi, dia sudah janji mau jemput Airi ditempat perawatan.


"Kayaknya saya udah harus pergi Bu. Sekali lagi terimakasih." White mengatupkan kedua telapak tangannya didada


"Sama-sama, Mas. Salam buat Mbak Airi ya."


"Iya Bu, nanti saya sampaikan."


Setelah berpamitan, White segera menutup bagasi lalu masuk kedalam mobil. Melajukan mobilnya pelan karena ini kawasan komplek. Berhenti didekat pos satpam untuk menyapa mereka, karena pas masuk tadi, pos satpam kebetulan sedang kosong.


"Loh, suaminya Mbak Airi ya? Kok bisa nyetir?" Pak Seno tampak kaget tatkala melihat White keluar dari pintu bagian kemudi.


"Alhamdulilah Pak, saya sudah bisa melihat." White menyalami 2 orang satpam yang sedang jaga.


"Gak pernah kelihatan, tau-tau udah bisa ngelihat aja," Pak Ilham memperhatikan penampilan White dari atas kebawah. Dulu saat masih buta, penampilannya keren, sekarang, makin keren lagi.


"Makasih ya Pak, udah jagain rumah kami selama kami gak ada."


"Udah jadi tugas kami, Mas."


White mengambil dompet disaku celananya lalu mengambil beberapa uang merah. "Buat beli rokok," dia menyalamkan uang tersebut langsung ketangan salah satu satpam.

__ADS_1


"Gak usah repot-repot gini, Mas. Jaga komplek memang udah kerjaan kami, dan udah digaji." Pak Seno berniat mengembalikan uang tersebut tapi White menolaknya.


"Anggap aja rezeki anak istri."


"Wah, makasih banyak loh, Mas." Ujar kedua orang satpam itu hampir bersamaan.


"Ya udah kalau gitu saya permisi dulu ya, Pak." White kembali menyalami mereka berdua.


"Iya Mas, hati-hati."


White kembali menuju mobilnya setelah itu.


"Sebenarnya Mas White itu orangnya baik. Tapi kok bisa ya sampai ada video syurnya?"


White yang hendak membuka pintu mobil masih bisa mendengar perkataan salah satu satpam.


"Iya, kasian Mbak Airi ya."


White masuk kedalam mobil lalu segera melajukannya meninggalkan kawasan perumahan. Sudah 3 bulan lebih, tapi orang belum juga lupa tentang video itu, dan masih membahasnya.


Saat melewati Juliet florist, White membelokkan mobilnya. Berharap dia beruntung, bisa bertemu dengan Ryu. Dia sangat penasaran dengan rupa pria itu.


Saat memarkirkan mobil di halaman Juliet florist, dia melihat 2 orang wanita sedang sibuk menata bunga. Salah satunya, dia tampak tak asing.


"Apa dia Lovely?" Gumam White sambil melepas seatbelt yang dia kenakan. Melihat wajah Lovely secara langsung, dia memang tidak pernah, tapi fotonya, berseliweran di ag nya. Karena dia termasuk salah satu pengikut Lovely.


"Dia seperti suaminya Airi?" gumamnya. Antara yakin dan tidak, karena satahu dia, suami Airi itu buta.


"Suami Kak Airi?" tanya gadis disebelahnya. Dia adalah Sakura, adik Ryu. Lovely tak menjawab, dia sendiri juga masih belum yakin. Dia dan Sakura yang mulanya duduk langsung berdiri untuk menyambut pembeli.


"Kamu suaminya Airi?" tanya Lovely saat White sudah sampai didepannya.


"Kamu Lovely?" White malah balik bertanya.


Lovely reflek menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya membulat sempurna. "Kamu bisa melihat?"


White mengangguk sambil tersenyum. Sementara Sakura, dia masih memperhatikan pria yang telah merebut calon kalak iparnya.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seseorang yang baru muncul dari dalam. Mama Rere, ibu Ryu sekaligus pemilik Juliet florist.


"Saya mau pesan buket tante," sahut White.


Mama Rere geleng-geleng melihat Sakura dan Lovely yang menatap White. "Kalian ini, bukannya melayani pembeli, malah dilihatin doang."


White menahan tawa mendengar Lovely dan Sakura diomeli.

__ADS_1


"Eh iya, lupa." Ujar Sakura sambil garuk-garuk kepala. "Mau beli apa Mas, eh Bang, eh Kak."


Lovely dan Mama Rere membuang nafas berat melihat Sakura yang grogi.


"Santai aja, gak usah gugup," bisik Lovely. "Dia udah punya istri."


"Wajarlah Kak gugup, namanya juga berhadapan dengan cogan."


"Gantengan juga Abang kamu."


"Dih, dasar bucin akut," ledek Sakura.


"Astaga kalian berdua, kenapa malah bisik-bisik," Mama Rere kembali ngomel. "Mau pesen buket yang seperti apa, Mas?" Dia tak bisa lagi mengharapkan 2 gadis itu, harus turun tangan sendiri.


"Mau buket mawar putih, 99 batang."


"Nanggung amat," celetuk Sakura. "Kenapa gak sekalian 100?"


"Su_"


"Duitnya kurang kali," celetukan Lovely membuat White tak jadi bicara. "Nanti aku tambahin, buat Airi kan bunganya?"


"Airi," gumam Mama Rere sambil mengerutkan kening.


"Dia suaminya Kak Ai, Mah," tutur Sakura.


Mama Rere manggut-manggut sambil memperhatikan White. Pria yang telah membuat putranya seperti mati suri, untung sekarang udah hidup lagi.


White maju beberapa langkah lalu meraih tangan Mama Rere dan menciumnya takzim. "Saya White tante, suaminya Airi." Dia yakin jika wanita dihadapannya ini sangat mengenal Airi dengan baik. Tapi kenapa sejak tadi, dia belum melihat Ryu?


"Saya Mamanya Ryu." Mama Rere tersenyum sambil mengusap lengan White.


"Mau buket mawar putih?" Mama Rere kembali memperjelas.


"Iya, tante. 99 saja, karena yang 1 sudah ada."


"Dapat darimana?" tanya Lovely. "Jangan bilang metik ditaman depan rumah."


White langsung tergelak. "Bener banget, dari halaman depan rumah. Tapi gak aku petik, masih dalam pot, hidup, gak akan pernah layu. Kayak cintaku ke Airi."


Lovely dan Sakura langsung melongo. "Kapan Ryu bakalan ngomong kayak gini ke aku ya Sa?" ujar Lovely sambil mewek.


"Nanti malem," sahut Sakura.


"Kamu yakin?" tanyanya antusias sambil memegang tangan Sakura.

__ADS_1


"Hem, tapi dalam mimpi. Hahaha." Lovely langsung mendengkus sebal.


__ADS_2