Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 64


__ADS_3

Airi duduk ditepi ranjang sambil menatap buket ditangannya. Seharusnya dia bahagia mendapatkan buket secantik ini. Tapi ini kedua kalinya, setiap dapat bunga, mesti ada kejadian tidak mengenakkan. Meletakkan buket tersebut diatas ranjang lalu mengusap perutnya.


Ceklek


Suara gagang pintu yang ditarik tak membuat Airi menoleh sama sekali. Dia tahu itu pasti White. Meski mendengar suara derap langkah yang makin dekat, dia juga tetap menunduk sambil memainkan jemarinya, tak ada niat sedikitpun untuk melihat White.


Airi bisa melihat sepatu White. Dia pikir suaminya itu akan duduk disebelahnya. Ternyata dia salah, White berlutut didepannya, meraih kedua tangannya yang ada dipangkuan lalu menggenggamnya erat.


"Maaf." Ujar White sambil menatap kedua mata Airi. Mana tahu dia kalau bumil akan sesensitif ini. Namanya juga, baru pertama kali mau jadi ayah.


"Kamu gak salah, udah berdiri." Airi kurang nyaman dengan posisi mereka saat ini.


White menggeleng. "Aku salah. Gak seharusnya aku bikin bumil yang moodnya naik turun, jadi sedih gini."


"Ai tahu Abang cuma becanda. Udah, duduk sini." Airi menunjuk dagu kesebelahnya.


"Kalau udah tahu Abang becanda, kenapa masih sedih?" tanya White dengan nada sehalus mungkin. "Cemburu sama Lovely?" tanyanya sambil tersenyum. "Gak perlu cemburu, entah Lovely atau siapapun, karena Abang cuma sayang Ai, cuma cinta Ai."


Bukannya seneng, Airi malah pengen nangis. Dia bahagia sekali mendengar ucapan White barusan. Mata pria itu menunjukkan kejujuran, ketulusan. Tapi justru karena cinta ini, dia jadi takut. Takut kehilangan White, takut pria itu akan meninggalkannya. Moodnya sungguh berantakan saat ini.


"Ikut sama Abang yuk." White berdiri tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.


"Kemana?"

__ADS_1


"Udah ikut aja. Mau Abang gendong?"


Airi menggeleng cepat. Mau ditaruh mana mukanya kalau gendong-gendongan dirumah yang banyak orangnya ini.


White menuntun Airi menuju halaman belakang. Tempat dimana Mamanya menanam aneka bunga. Tapi diantara bunga-bunga itu, tatapan Airi terkunci pada bunga mawar putih yang ada didalam pot hitam berukuran sedang. Rasanya bunya itu sangat familiar.


"Kenapa aku cuma ngasih 99 mawar putih? Karena yang satu ada disana." White menunjuk bunga mawar yang tadi dia bawa dari rumah. Meski kelopaknya sebagian sudah rontok, tapi masih terlihat indah. "Aku membawanya dari rumah kita."


"Abang tadi dari sana? Kok gak ngajak aku." Airi kangen dengan rumahnya itu.


White mundur sedikit lalu memeluk Airi dari belakang. Mengecup pipi Airi lalu meletakkan dagunya dibahu wanita itu.


"Seperti bunga mawar itu, cintaku selalu tumbuh dan berkembang. Tidak akan pernah layu."


White garuk-garuk kepala. Mungkin benar kata orang, meski sudah dibuktikan sedemikian rupa, wanita tetap butuh pengakuan cinta. Bahkan jika sudah mengatakan cintapun, kadang mereka masih ragu. Wanita itu ribet karena perasaannya sendiri.


"Diluaran sana banyak yang lebih cantik daripada Ai, Bang. Sekarang Abang sudah bisa melihat, sudah bisa membandingkan Airi dengan wanita lain. Dan mungkin, keindahan diluar sana, bisa membuat Abang tertarik." Dulu White tak bisa melihat, tak ada yang dikhawatirkan, beda dengan sekarang.


Dugaan White benar, Airi masih belum percaya dengan cintanya yang seluas samudera dan setinggi langit itu.


"Kau benar Ai. Mungkin diluaran sana ada yang lebih cantik dari kamu. Tapi sayangnya, hatiku sudah lebih dulu jatuh cinta padamu. Sudah tertaut erat padamu, dan gak akan mungkin bisa lepas lagi." White melepaskan pelukannya, lalu mengambil tempat tepat didepan Airi. "Meski aku udah bisa ngelihat, yang lainnya tetep blur, cuma kamu aja yang jelas."


Airi tak bisa lagi menahan senyumnya. "Dasar tukang gombal," ujarnya sambil memukul dada White pelan.

__ADS_1


"Gitu dong senyum, kan cantik." White menyentuh dagu Airi lalu mencium bibirnya sekilas.


"Mana gelang tadi?" White menengadahkan tangan kehadapan Airi.


Airi merogoh saku gaunnya, mengambil gelang tali warna hitam tersebut lalu meletakkan diatas telapak tangan White. Karena tadi sempat terinjak dan Airi belum membersihkannya, jadi sedikit kotor.


White membersihkannya sebentar lalu kembali memasangkan dipergelangan tangan Airi. "Jangan pernah dilepas lagi. Seperti apa yang kamu katakan padaku dulu. Gelang ini adalah gantiku saat aku tak bisa memegang tanganmu. Bukankah kau ingin kita selalu berpegangan tangan hingg maut mamisahkan?"


Airi sontak menatap White. "Abang udah baca diary ungu milikku?"


"Hem," sahut White sambil mengangguk. "Yang ada foto pernikahan kita itu kan? Yang aku jelek banget itu kan?"


Airi tak bisa menahan tawanya. White memang jelek difoto itu.


"Kau pasti tertawa saat menatap foto itu, menyebalkan." White mendecak pelan. "Aku mau kita bikin foto ulang, ala-ala preweding. Seengganya saat anak kita nanti nanya foto pernikahan orang tuanya, aku gak malu buat nunjukin."


"Kenapa harus malu?" Airi menatap kedua netra White sambil melingkarkan kedua lenganya dileher pria itu. "Abang ganteng kok difoto itu."


"Ck, ketahuan bohongnya."


"Hahaha," tawa Airi langsung pecah.


"Setidaknya meski aku tak tampan difoto itu, tapi bisa bikin kamu ketawa lepas kayak gini. Itu sudah lebih dari cukup."

__ADS_1


__ADS_2