Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 45


__ADS_3

Hari ini, Papa Sabda mengajak seluruh keluarga ziarah kemakam nenek serta ayah kandung White. Ini pertama kalinya bagi Airi datang kesana, karena sejak mengalami kebutaan, White tidak pernah datang kesana.


Didepan makam, tampak beberapa penjual bunga. Tapi dari semua itu, ada satu penjual yang menarik perhatian Papa Sabda. Seorang gadis kecil berbaju putih dengan sekeranjang bunga berwarna putih pula.


Papa Sabda melambaikan tangan kearah gadis kecil itu. Memintanya untuk datang mendekat.


"Hai, siapa namamu?" Sapa Mama Nuri sambil membungkuk untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.


"Rose tante," sahut gadis cantik yang usianya ditaksir sekitar 10 tahun itu. Masih sangat kecil, sudah harus bekerja, ada apa dengan keluarganya? Mungkin kebanyakan orang, akan langsung kepikiran kesana, begitupun dengan Mama Nuri.


"Kenapa kamu berjualan, kamu tidak sekolah?"


"Ini hari minggu Tante, sekolah libur." Papa Sabda dan lainnya pengen sekali ketawa, tapi berusaha menahan karena takut Mama Nuri bakalan marah. Dan benar saja, belum juga tawa itu lepas, Mama Nuri sudah menatap Papa Sanda sengit.


"Kenapa kamu hanya menjual bunga berwarna putih?" Papa Sabda bertanya sambil memperhatikan aneka bunga yang ada dikeranjang gadis itu. Mulai dari mawar, lily, krisan sampai sedap malampun ada. Tapi anehnya, hanya warna putih saja yang dia jual.


"Karena biasanya, kalau dipemakaman, bunga warna putih yang laris. Daripada saya bawa warna lain terus tak laku, sayangkan?"


"Good girl," puji Papa Sabda sambil mengusap kepala gadis itu. Tak menyangka jika gadis sekecil itu sudah pandai cara berdagang.


"Apa kamu sering berjualan disini?" tanya Airi.


"Setiap hari minggu pagi saja tante. Karena dihari lain, saya harus sekolah. Pulang sekolah masih harus les....." Airi sampai pusing mendengar banyaknya kegiatan yang diikuti gadis itu diluar jam sekolah. Gadis itu juga menjelaskan jika ibunya punya toko bunga didekat sini.


"Apa mamamu yang menyuruhmu berjualan?" tanya Mama Nuri.


"Tidak Tante, aku sendiri yang ingin jualan. Punya uang sendiri itu menyenangkan, aku bisa beli apapun yang aku mau." Papa Sabda makin kagum padanya. Setidaknya, disaat anak-anak lain hanya bisa meminta pada orang tua, dia sudah mengerti cara lain selain meminta, yaitu berusaha mencari uang sendiri.


White yang sejak tadi hanya diam, tampak mengibas ngibaskan telapak tangannya dileher. Cuaca pagi ini lumayan panas, jadi membuat dia kegerahan meski dia sudah memakai payung.

__ADS_1


"Mah, kalau mau beli, buruan dong, panas nih," gerutunya yang sudah tak sabar ingin segera ziarah lalu pulang.


"Bentar White," sahut Mama Nuri.


"White, nama Om ini White?" tanya Rose dengan antusias sambil mendongak menatap White.


"Iya, memang kenapa?" tanya Mama Nuri.


"Nama yang bagus, dan sangat unik. Mamaku sedang hamil sekarang. Nanti saat adikku lahir, aku akan ngasih dia nama White." Rose yang beberapa hari ini sibuk memikirkan nama untuk adiknya, akhirnya menemukan nama yang tepat. Yang menurutnya unik dan bagus.


"Jangan," ujar White. "Aku tidak suka namaku banyak yang nyamain. Kasih saja adik kamu nama putih, artinya samakan," lanjutnya dengan nada sedikit jutek.


"Heis, Om ini galak banget. Padahal bunga Rose aja gak marah namanya aku pakai," celetuk Rose. "Boleh ya Om," rengek gadis itu sambil memegangi lengan White.


White membuang nafas berat. Males juga harus debat dengan kecil. "Terserah kamu," pada akhirnya dia mengalah.


"Om White gak bisa melihat sayang," ujar Airi.


Rose langsung melongo, menatap White dari atas ke bawah. Sama sekali tak menyangka jika pria tampan berkaca mata hitam didepannya itu tak bisa melihat. Tadinya dia melihat White sosok yang sangat sempurna, tapi ternyata, dia tak sesempurna perkiraannya.


Rose memegang telapak tangan White lalu meletakkan setangkai mawar putih disana.


"Terimakasih," ujar White sambil mengangkat bunga tersebut lalu mencium aromanya yang wangi.


Papa Sabda membeli semua bunga dikeranjang Rose. Selain itu, dia juga memberi uang lebih sebagai bentuk apresiasi untuk Rose yang mau mencari uang disaat usianya masih sangat kecil.


Setelah mendapatkan bunga itu, mereka lanjut jalan menuju makam Mama Yulia dan Dennis.


"Tunggu Om," teriak Rose membuat mereka berempat berhenti dan menoleh. Gadis itu berlari kearah mereka lalu berhenti didepan White dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Airi.


Rose tak langsung menjawab, terlebih dulu dia mengatur nafasnya. "Karena Om White sudah mengizinkan aku memakai namanya untuk adikku. Akupun akan memberinya izin untuk memakai namaku pada anak Om nanti."


White seketika mengerutkan kening. Ternyata selain banyak omong, Rose terlalu kepedean, kayak namanya yang wow gitu. Siapa juga yang ingin memakai namanya. Sedangkan Mama Nuri dan Papa Sabda, langsung saling tatap sambil menahan tawa. Andai saja Rose anak yatim piatu, pasti sudah mereka adopsi agar tak kesepian dirumah.


"Rose, nama yang baguskan?" ujar Rose penuh percaya diri.


"Ya sayang, nama kamu sangat bagus," sahut Airi sambil membelai rambut panjang Rose yang tergerai indah. "Nanti tante akan kasih nama Rose jika tante dan Om White punya anak perempuan." Seketika, Rose langsung menganggkat jempolnya.


"Dada Om, tante, Opa," Rose pergi dulu. Gadis itu membalikkan badan lalu kembali berlari menuju tempat sepedanya diparkir.


"Opa? Apa aku udah kelihatan tua banget ya Mah?" Papa Sabda menyentuh rahang dan pipinya. Kenapa dia harus dipanggil Opa, sedang Mama Nuri dipanggil tante dari tadi.


"Masih muda," sahut Mama Nuri. "20 tahun yang lalu maksudnya," lanjutnya sambil menahan tawa sama seperti Airi dan White yang juga menahan tawa.


"Gak bener ini," gerutu Papa Sabda sambil lanjut jalan sambil menggandeng lengan Mama Nuri.


Pagi ini, pemakaman terlihat cukup ramai meski cuaca lumayan panas. Rata-rata membawa payung agar sedikit lebih teduh. Sesampainya disana, mereka mengambil posisi ditengah antara makan Mama Yulia dan Dennis. Mama Nuri membagi dua bunga yang tadi mereka beli lalu meletakkan dimakan Dennis dan Mama Yulia.


Sementara Airi, dia menuntun tangan White untuk menyentuh nisan.


"Ini makam ayah kamu," Papa Sabda memberitahu. White meletakkan setangkai mawar yang tadi diberi Rose dibawah nisan.


"Yah, maaf White baru bisa datang hari ini. Ini istrinya White, namanya Airi." White menarik kedepan genggaman tangan mereka. Seoalah sedang menunjukkan pada ayahnya. Tadi pagi, White sudah menceritakan tentang dirinya yang bukan anak kandung Papa Sabda.


"Ini makan ayah kandungnya White," terang Papa Sabda pada Airi. "Dan yang disebelah, makam neneknya White." Airi mengangguk paham karena White sudah cerita semuanya.


Mereka berempat lalu berdoa dengan khusyu' disana.

__ADS_1


__ADS_2