Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 53


__ADS_3

"Abang, Bang," Airi terus mencari White disetiap ruangan sambil berteriak. Tadi saat dia sedang mandi, White masih ada dikamar dan tampak sedang sibuk dengan ponselnya. Tapi saat selesai mandi, suaminya sudah tidak ada.


Ya, meski Airi sudah melarangnya memegang ponsel, White masih saja tak bisa lepas dari benda itu. Dia masih terus bertukar informasi dengan Felix yang sedang menangani kasus ini.


Menurut Felix, orang yang menyebarkan video itu sudah ditangkap. Ternyata dia adalah pacar Raya saat ini. Pria berkebangsaan US itu diam-diam mencuri laptop Raya lalu menjual koleksi video syur wanita itu ke situs dewasa. Video yang sudah tersebar lebih dulu, tidak ada yang melaporkan. Baru kali ini, keluarga White melapor. Dan kasus ini tengah ditangani kepolisian US. Raya tinggal di US, sepertinya kasus ini tak begitu berdampak padanya, tapi akun IG nya mendadak hilang.


"Abang!" Tak menemukan White didalam rumah. Airi akhirnya keluar, meski rasanya mustahil White ada diluar rumah, tapi tak menutup kemungkinan. Airi kaget melihat White dihalaman, pria itu sedang berjalan kearah teras. "Abang! Abang dari mana?" tanyanya sambil berjalan cepat menghampiri White. Dia kaget melihat lebam diwajah White. Tak hanya itu, ada sisa darah disudut bibirnya. "Ini kenapa Bang, kok bisa luka gini?" White meringis saat Airi menyentuh luka lebam didekat bibirnya.


"Jatuh tadi."


"Jatuh!" pekik Airi. "Ini bekas tonjokan," suara Airi sedikit meninggi karena kesal White berbohong. Dia bukan anak kecil yang bisa semudah itu dibohongi.


"Ayo kita masuk," ajak White sambil memegangi lengan Airi. Tak mau berdebat diluar, akhirnya Airi menuruti kemauan White untuk masuk kedalam rumah. Dia menuntun White sampai sofa ruang tengah.


"Ai ambil kompres dulu," White menahan lengan Airi saat wanita itu hendak pergi.


"Aku tidak butuh itu, aku hanya ingin dipeluk Ai."


Airi kembali duduk disofa lalu memeluk White. Membenamkan wajah White diceruk lehernya dan membiarkan pria itu menumpahkan air matanya disana. Meksi White tak cerita apa-apa, Airi yakin telah terjadi sesuatu barusan.


"Maafin aku Ai, maaf."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Bang." Airi mengusap punggung White agar suaminya itu lebih tenang. Dia jadi penasaran, dengan siapa White barusan bertemu. Siapa yang menyuruh pria itu keluar?

__ADS_1


Untuk beberapa saat, keduanya sama-sama diam sambil berpelukan. Yang terdengar hanya suara isakan. Disaat hati keduanya sama-sama rapuh, hanya pelukan ini yang bisa menguatkan mereka.


"Ai tidak tahu apa yang baru saja terjadi pada Abang. Tapi apapun itu," Airi menggenggam tangan White kuat. "Kita hanya perlu saling menguatkan. Jangan pernah dengarkan kata orang, karena yang paling tahu tentang diri kita, hanya diri kita sendiri. Kita yang menentukan, mau bahagia atau tidak, bukan orang. Kita yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita, dan lagi-lagi, bukan orang lain."


White melepas pelukannya. Meraba wajah Airi dan menyeka air matanya. "Boleh aku bertanya Ai?"


"Apa?"


"Kau yakin ingin terus bersamaku?"


"Kenapa Abang bertanya seperti itu?"


"Ini untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin kamu pikirkan baik-baik, apa yang kamu inginkan. Jika kau ingin lepas dariku, aku ikhlas melepasmu." Airi terisak, tak menyangka jika White akan memberikan dia pilihan seperti ini. "Tapi jika kau memilih bersamaku, aku tak akan mau melepaskanmu selamanya. Jadi pikirkan baik-baik pilihanmu. Tanyakan pada hatimu, apa yang kau mau. Aku tidak memaksamu memilih saat ini juga. Pikirkan dulu."


Airi menggeleng cepat. "Ai tidak butuh waktu lagi untuk memikirkannya Bang. Karena Airi tak pernah merasa jika hidup bersama Abang adalah sebuah pilihan. Allah telah menetapkan Abang untuk menjadi suami Ai. Dan Ai yakin, Allah tidak pernah salah. Abang adalah jodoh terbaik yang telah ditetapkan untuk Airi. Airi ingin selamanya bersama Abang." Airi menyeka air mata White lalu mencium bibirnya dengan lembut.


"Abang mau Ai?" tawar Airi.


"Apakah boleh pagi hari seperti ini?"


Airi langsung tergelak mendengar pertanyaan konyol itu.


"Emang ada aturan, mau nyari pahala nunggu malam dulu?" Keduanya tertawa bersama lalu kembali berciuman. Saling memberikan sentuhan-sentuhan yang bisa meningkatkan hormon endorfin untuk menghilangkan stres dan membuat tubuh menjadi rileks.

__ADS_1


"Apa kita perlu pindah ke kamar?" tanya White.


"Ai mau disini saja."


Airi ingin merasakan sensasi berbeda dengan melakukan ditempat yang bukan biasanya. Mungkin ranjang lebih luas dan lebih nyaman, tapi tak ada salahnya dengan sesekali mencoba disofa, toh mereka hanya tinggal berdua.


Sofa yang tadinya menjadi saksi kucuran air mata mereka, sekarang menjadi saksi keduanya berkeringat bersama.


Disofa sempit itu, keduanya tidur sambil berpelukan setelah menyelesaikan satu ronde panas yang membuat otak dan tubuh mereka langsung rileks.


"Apa Ai berat?" tanya Airi yang masih berbaring diatas tubuh White. Sofa tersebut tak muat menampung badan mereka jika tidur bersebelahan. "Apa kita pindah tidur dikamar saja?"


"Tidak berat sama sekali. Tidurlah, sepertinya kau sangat lelah." White jadi membayangkan andai saja dia bisa melihat, dia pasti bisa mengangkat tubuh Airi kedalam kamar.


Baru saja hendak terpejam, dering ponsel White membuat Airi kembali membuka mata. Dia hendak bangun tapi White menahan pinggangnya. "Sudah, biarin, kamu tidur aja."


"Takutnya penting, Bang."


"Baiklah." Akhirnya White membiarkan Airi bangun lalu mengambil ponsel miliknya yang ada diatas meja. Tadi White memang membawanya saat bertemu Ryu.


"Papa yang telepon Bang," ujar Airi.


"Kamu loudspeaker."

__ADS_1


Airi menjawab panggilan tersebut lalu mengaktifkan speaker. Ternyata Papa Sabda memberi tahu jika donor kornea mata untuk White sudah ada. Dan besok, dia harus kerumah sakit untuk persiapan operasi.


...----------------...


__ADS_2